Sabtu, 03 Oktober 2009

ARTIKEL BAHASA "Kata Sambung 'di mana'"

CATATAN: Tulisan ini karya seorang penelisik bahasa, Suhatri Ilyas, disebarluaskan pertama kali oleh Suara Karya (Sabtu, 1/08/2009) di Rubrik Bahasa dan Kita. Saya unggah di catatan ini dalam rangka Bulan Bahasa, Oktober 2009.


KATA SAMBUNG "DI MANA"
Oleh Suhatri Ilyas


Frase preposisional di mana sering pula digunakan di luar arti kata yang membentuk frase tersebut, yakni “di” dan “mana”. Soalnya, berdasarkan arti kata di dan mana, frase tersebut sesungguhnya berarti interogatif tentang tempat, yakni di "mana suatu itu (misalnya) berada": di mana dia tinggal, alamatnya di mana, dan lain-lain.

Namun, tak jarang frase ini ditemukan dalam kalimat-kalimat dengan arti lain sebagai berikut: (1) Negeri di mana dia dibesarkan; (2) Pihak Kejaksaan Sumatera Barat di Padang dewasa ini menggarap puluhan perkara tidak pidana korupsi, di mana sebagian di antaranya sudah dalam tahap penuntutan; dan (3) Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, di mana secara tidak langsung telah memengaruhi usaha-usaha pemerintah. Dalam kalimat-kalimat yang sepenuhnya dikutip dari koran ini jelas bahwa frase di mana kurang atau malah tidak sesuai dengan arti sesungguhnya.

Dalam kalimat contoh pertama (1), meski menunjuk "tempat", tidaklah ada sifat interogatifnya, tidak mengandung pertanyaan, tetapi hanya informatif. Dengan demikian, seyogianya saja digunakan kata tempat itu sebagai penggantinya, dan itu jauh lebih lugas dan luwes. Lihat saja jadinya: Negeri tempat dia dibesarkan. Ya, kan?

Pada contoh kedua (2), frase di mana lebih pada fungsi sebagai konjungsi, berfungsi sebagai penyambung satu klausa dengan klausa lain untuk membentuk kalimat majemuk. Maka, frase di mana tersebut sebaiknya diganti dengan fungsi sebenarnya itu, yakni sebagai konjungsi, penyambung, dalam hal ini bisa kata yang, sehingga jadinya sebagai berikut: Pihak Kejaksaan Sumatra Barat di Padang dewasa ini menggarap puluhan perkara tidak pidana korupsi, yang sebagian di antaranya sudah dalam tahap penuntutan.

Kalau kita bicara dalam konteks bahasa jurnalistik, yang membutuhkan kalimat-kalimat yang jelas dan lugas, yang biasanya diwujudkan dalam kalimat-kalimat pendek, maka frase di mana bisa juga dihilangkan dan menjadikan kalimat majemuk itu dua kalimat tunggal. Dan ini jadinya memang jauh lebih jelas dan lugas. Lihat saja: Pihak Kejaksaan Sumatra Barat di Padang dewasa ini menggarap puluhan perkara tidak pidana korupsi. Sebagian di antara perkara itu sudah dalam tahap penuntutan. Ya, kan?

Contoh ketiga (3) kasusnya mirip dengan contoh kedua (2). Hanya saja kalimatnya lebih panjang. Pemecahannya juga sama, bisa dijadikan dua bentuk, yakni mengganti "di mana" dengan yang, atau menjadikannya dua kalimat tunggal. Jadi, kalimat tersebut menjadi: Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, yang secara tidak langsung telah memengaruhi usaha-usaha pemerintah. Atau: Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu. Itu secara tidak langsung telah memengaruhi usaha-usaha pemerintah.

Jadi, dalam hal ini kita menggunakan kalimat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, baik sesuai makna leksikal (arti kata-kata) pembentuk struktur satuan bahasa (dalam hal ini frase) itu maupun makna struktural dalam kaitannya dengan kata-kata lain dalam struktur yang lebih besar.

Namun, bahasa kita sering direcoki persepsi-persepsi yang tidak berkaitan dengan aspek bahasa atau hanya sekadar meniru kaidah bahasa lain (untuk tujuan "kegayaan" atau berkesan "orang berpendidikan atau terpelajar") sehingga ketika diterapkan dalam bahasa kita, meski tampak benar, penggunaan itu jadi rancu. Itulah yang terjadi pada penggunaan di mana (atau juga yang mana) ini. Frase itu hanya terjemahan kata bahasa Inggris, yaitu which, yang dalam kamus memang berarti "di mana".

Penulis adalah penilik bahasa media massa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar