Minggu, 28 Juni 2009

[ARTIKEL] Mendongkrak Kinerja Otak Bag. 1

Oleh: KHRISNA PABICHARA


PERNAHKAH Anda membayangkan bagaimana cara otak bekerja? Pernahkah Anda memikirkan apa yang akan terjadi sekiranya tiba-tiba saja otak Anda “mogok kerja”? Pernahkah Anda mengalami otak Anda tiba-tiba terasa buntu, tidak mampu mengingat semua hapalan, padahal Anda sedang sibuk menyelesaikan soal ujian akhir? Pernahkah Anda merasa sangat tersiksa karena hapalan yang pernah Anda ingat di luar kepala, tiba-tiba lupa justru ketika Anda sangat membutuhkannya? Sebaliknya, alangkah kesalnya, ketika kita tidak membutuhkan ingatan itu lagi, kita malah dengan mudah melafalkan semua hapalan itu.

Mungkin Anda bertanya, apakah untuk menjadi ”guru yang baik” kita harus mengerti struktur otak? Apakah untuk menjadi siswa yang cerdas kita harus memahami anatomi dan jalur otak? Memang, untuk menjadi guru yang baik tidak harus menguasai segala hal menyangkut otak. Begitu pula untuk menjadi siswa berprestasi, Anda tidak mesti sibuk membuka buku demi buku yang menjelaskan anatomi dan struktur otak.
Namun, penting bagi Anda untuk mengetahui cara kerja otak. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan kecakapan belajar (learning skill). Selain itu, Anda juga perlu mengetahui bagaimana caranya mendongkrak kinerja otak, karena hal ini berkaitan dengan percepatan pembelajaran. Artinya, Anda membutuhkan informasi tentang cara kerja dan bagaimana meningkatkan kinerja otak. Setelah itu, manfaatkan informasi itu.

SEBELUM kita membincangkan beberapa trik cespleng untuk mendongkrak kinerja otak, ada baiknya kita ”bermain-main” dengan bagian tubuh kita yang bisa disimpan rapi di atas belahan telapak tangan kita. Otak, bobotnya hanya 1,5 kg. Meski hanya menggunakan 20% dari energi tubuh kita, tetapi beban yang ditanggungnya amat berat.

Bayangkan! Otak menanggung nyaris semua tanggung jawab kehidupan kita, seperti menciptakan peradaban, menghasilkan karya seni, ilmu, dan bahasa. Otak bertindak pula selaku pengendali perilaku kita, seperti tidur, bernafas, berkedip, mengatur irama jantung, menghangatkan tubuh, bahkan menyesuaikan kuasa indrawi dengan suhu atau cuaca. Selain itu, kita menumpukkan pikiran kita, emosi kita, harapan kita, hanya pada satu tempat: otak. Maka, bagaimana Anda bisa mengabaikan latihan rutin untuk pertumbuhan dan kemampuan otak Anda?

Oh ya, Profesor Marion Diamond, pernah meminta cuti kerja selama sehari pada Universitas California di Barkeley, hanya untuk menguraikan dengan tepat tentang cara kerja otak. Hal ini diungkapkan oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya Revolusi Cara Belajar. Diamond memulai penjelasannya dari bagian dasar otak. Namanya, medulla. Bagian itu, katanya, mengatur detak jantung dan proses respirasi. Makanya medulla, dengan panjang hanya beberapa inchi, sangat penting bagi kehidupan kita, karena berfungsi sebagai pengatur kedipan mata, menelan, pernapasan, dan kegiatan-kegiatan dasar kehidupan lainnya.

Selanjutnya, ilmuwan yang pernah membedah otak Einstein itu menerangkan bahwa di sisi medulla, ada otak kecil. Namanya, serebelum. Bagian otak inilah yang bertanggung jawab terhadap proses koordinasi dan keseimbangan. Belakangan, diketahui bahwa serebelum juga memiliki peran vital bagi kemampuan belajar dan berbicara.

Di bagian belakang kening Anda terdapat lobus frontal. Bagian ini berperan penting bagi pengembangan kepribadian Anda, pengurutan ide-ide, atau perencanaan masa depan. Itulah mengapa secara refleks jika berpikir, banyak orang suka memegang jidatnya. Bagian ini pula, lobus frontal, yang membedakan manusia dengan nenek moyangnya. Terutama dalam hal perkembangan daya pikir yang terus bertumbuh seiring pertumbuhan manusia. Di belakang kening, juga terdapat bagian yang disebut area pengendali ucapan. Nama kerennya, motor speach area. Sedangkan untuk memahami kata-kata, masih di bagian belakang kening, ada bagian otak-pendengar.

Sambil membedah otak, Diamond menjelaskan setiap area, nama dan fungsinya. Ia menunjukkan bagian otak yang mengendalikan perasaan, rasa sakit, tekanan, sentuhan, dan pendengaran. Juga area yang menggerakkan tungkai, lengan, dan jari-jari. Jadi, jika otak Anda lumpuh, kaki dan tangan Anda pun pasti lumpuh. Begitu pula jantung, mata, dan bagian tubuh lainnya.

Peneliti otak terkemuka itu, ketika sampai pada sistem limbik, mulai mengungkap rahasia yang lebih dalam: bagian otak yang berhubungan dengan kemarahan, ketakutan, emosi, cinta, gairah, dan seksualitas. Selain itu, ditegaskan bahwa otak memiliki daya untuk menunjukkan dan menghentikan rasa sakit.

”Saya dapat menunjukkan kenyataan kepada Anda,” kata Prefesor Diamond, ”bahwa otak dapat berubah pada usia berapa pun, sejak lahir sampai akhir kehidupan”. Artinya, otak dapat dikembangkan, sama seperti kemampuan tubuh lainnya. Otak dapat berubah secara positif jika dibiasakan pada lingkungan yang selalu terjadi rangsangan. Sebaliknya, otak akan menjadi negatif jika tidak mendapatkan rangsangan.

Nah, sekarang, bagaimana merangsang otak? Itulah gunanya Anda membaca tulisan ini.

BAIKLAH, simak dengan cermat beberapa trik berikut ini. Kalau perlu, catat. Simpan. Baca setiap Anda memiliki kesempatan. Saya yakin, sebagaimana saya, Anda juga membutuhkan trik cespleng ini.

1. Mulai pelajari mekanisme kerja otak. Otak kita memiliki kemampuan untuk menerima, mengatur, dan menempatkan memori. Untuk meningkatkan kinerjanya, rahasianya adalah pembiasaan mental. Ketika Anda mendapat pertanyaan, ”Jakarta adalah ibukota negara mana?” Dengan mudah Anda akan menjawab Indonesia. Mengapa? Karena Anda sudah biasa mendengarnya. Otak Anda sudah sering menerima informasi itu, sehingga bisa menempatkan dengan mudah ketika kita menginginkannya. Namun, berbeda jika Anda mendapat pernyataan yang tidak lazim. Misalnya, ”Arfi dan Amal suka biologi, sementara Kiky dan Rezky suka matematika. Selain itu, Arfi dan Kiky juga suka fisika. Siapa yang suka biologi dan fisika?” Saya yakin, Anda membutuhkan waktu lebih banyak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu, karena Anda belum terbiasa. Baiklah, saya berikan bocoran. Jawabannya adalah Arfi. Sekali lagi, kebiasaan dapat membentuk mental Anda untuk berpikir lebih kritis dan akurat.

2. Berlatihlah menggunakan daya pikir Anda. Periksalah beberapa kemungkinan dari sebuah situasi. Gunakan pertanyaan, ”Apa yang terjadi bila...?” Misalnya, ”Apa yang terjadi bila saya tidak lulus Ujian Nasional?” Cobalah Anda jawab pertanyaan itu. Sebanyak mungkin. Gunakan waktu sekitar sepuluh menit, setiap hari. Hanya sepuluh menit. Kembangkan pertanyaan dan situasi yang lain. Waktunya tetap, sepuluh menit. Sekali lagi, berlatihlah selama sepuluh menit setiap hari dengan situasi yang berbeda-beda. Saya yakin, jika Anda disiplin, dalam sebulan Anda akan terkesima melihat perkembangan kemampuan otak Anda. Selamat mencoba!

3. Biasakan berolahraga. Ingat, gerakan yang dilakukan secara rutin dan teratur dapat menjadi faktor penunjang pertumbuhan yang mendorong perpanjangan dendrit Anda. Bahkan, jika bisa, biasakanlah setiap hari senam otak. Bagi yang pernah mengikuti pelatihan Learning Revolution saya, pasti sudah lincah bersenam-otak setiap hari. Jika belum, olahraga saja. Jangan paksa diri Anda belajar dengan duduk berdiam diri selama berjam-jam. Berdirilah. Bergerak. Kalau perlu, belajar di luar kamar. Di teras, di halaman, atau di taman. Tapi, jangan di mal. Nanti malah mejeng dan ngerumpi.

4. Konsumsi makanan yang dapat menunjang kinerja otak
. Makanlah multivitamin. Penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang cukup adalah cara paling jitu memelihara otak. Tidak hanya itu, multivitamin juga dapat menunjang pertumbuhan kecerdasan emosional di semua tingkatan usia. Satu lagi, vitamin B sangat penting untuk merawat otak yang menua, mencegah demensia dan depresi pada usia tua. Jadi, segera konsumsi vitamin dan mineral secukupnya. Utamakan dari buah yang segar. Utamakan makanan yang mengandung vitamin B, C, dan E dalam jumlah yang cukup. Apalagi jika mengandung zat yang sangat dibutuhkan otak, seperti asam alfa lipoik dan koenzim Q10. Umumnya buah-buahan dan sayuran, yang mengandung antioksidan, dapat meremajakan otak. Jika cemilan Anda adalah anggur, apel, prem, dan kismis ─bukan keripik kentang─, Anda dapat meningkatkan kemampuan intelektual dan kecerdasan emosional Anda.

5. Ganti kopi dengan teh. Sekali lagi, minum teh. Bukan kopi. John Weisburger, peneliti di American Health Foundation, menegaskan bahwa minum teh adalah cara termudah dan tercepat untuk memasukkan antioksidan ke dalam tubuh dan otak. Simpanlah sekantung teh dalam secangkir air mendidih. Biarkan teh itu dicerap air panas sekitar lima menit. Lalu, minumlah. Dalam waktu singkat, Anda sudah memasukkan 1.200 ORAC antioksidan, seperempat dari jumlah yang disarankan untuk kebutuhan harian Anda. Es teh juga bisa. Tapi, jangan teh botol, karena menurut analisis Tufts, kandungan antioksidan dalam teh botol dan teh tepung sudah berkurang. Jadi, jika Anda sayang otak Anda, ganti kopi dengan teh. Sekarang juga.

DEMIKIAN. Saya yakin, artikel ini bermanfaat bagi Anda. Namun, tidak ada artinya, jika Anda semata membacanya, tetapi tidak bertindak apa-apa. Jadi, do it now!

KHRISNA PABICHARA
Penulis adalah trainer dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku, juga sering mengisi training Learning Revolution, Spiritual Power, dan Communixation Skills. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Silsilah Berahi, sedang dalam proses terbit.

E-mail : khrisnapabichara@ymail.com
Hp : 0858-8859-6468

Jumat, 26 Juni 2009

ESAI "Ladang, Asketisme Orang Kalah"

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 21 Juni 2009



LADANG, ASKETISME ORANG KALAH
Oleh Khrisna Pabichara


SEBERAPA tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan? Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.

Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.

Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.

Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.

Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari:

ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis
di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain
sesuatu yang asing

(Putus:71)



Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian:

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi
(Garis Ladang:50)



Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan:

lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung
menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali

(Kuala Lengang:53)



Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian:

bukan meminangmu kungerikan
tapi sepulau cinta yang bakal karam
sebab jalan hilang pijakan

(Pinangan:59)



Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.

Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu.

Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar
saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia
kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah
tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba?

(Penari Piring:88)



Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.

Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?

***

Khrisna Pabichara, penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 21 Juni 2009

Senin, 15 Juni 2009

ESAI "Bernaung di Rumah Hujan"

Tulisan ini dimuat di Jurnal Bogor (Minggu, 14/06/2009)



BERNAUNG DI RUMAH HUJAN
Oleh KHRISNA PABICHARA


NARPATI memasuki Rumah Hujan pertama kali saat usianya lima tahun. Saat itu hari kelima musim kemarau. Ibunya membangunkannya tepat di kokok pertama ayam jago. Ia tak mandi saat itu. Udara kering masih terlalu dingin. Ibunya hanya membilas wajahnya dengan air di bak yang tinggal setengah. Ayahnya pasti lupa menimba air di sumur kemarin sore. Berbaju putih dan berkuncir dua, Nurpati keluar dari rumah dengan mata terpejam dalam gendongan ibunya. Ayahnya tak ikut. Entah kenapa.

Demikian Dewi Ria Utari, selanjutnya kita sebut Dewi, membuka cerpen yang diberinya judul Rumah Hujan. Cerpen ini berhasil menembus Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006. Alkisah, Narpati ─yang suka hujan─ menyukai rumah Budenya karena melihat seolah rumah itu diselimuti selubung air. Dan, dari teritisan atap, air tercurah terus menerus. Sebelum Ayahnya pergi, Narpati punya banyak mainan yang sengaja dibuatkan oleh Ayahnya. Bahkan, kadang Narpati bisa bermain bersama Ayahnya. Narpati akhirnya kehilangan keindahan masa kecil, semenjak ayahnya pergi mencari kayu-kayu untuk membuat meja dan kursi pesanan. Sejak saat itu, Narpati menghabiskan banyak hari untuk mengenang Rumah Hujan. Narpati main sendiri. Ibunya tak suka bermain. Narpati merindukan kepulangan Ayahnya. Namun, setiap ia bertanya pada Ibunya, tak ada jawaban. Hingga Ibunya mengantarnya ke Rumah Hujan, lalu pergi mencari Ayahnya. Narpati tinggal di Rumah Hujan, bersama Budenya. Ibunya tak pernah kembali. Ayahnya juga.

Narpati lalu berkenalan dengan anak sebayanya. Pada mulanya, tak ada yang bisa melihat selubung hujan, seperti dirinya, hingga Budenya memintanya mengusap kepala teman-temannya. Mulai saat itu teman-temanya betah bermain sepanjang hari di Rumah Hujan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Bermula dari Wulan yang tertidur dan bermimpi aneh, hingga kemunculan sepasang sinar, teman-teman Narpati tak lagi datang ke Rumah Hujan. Narpati, tentu saja, mencari tahu musabab ketidakdatangan mereka. Dan, larangan orang tualah jawabannya. Terpaksa Narpati menyendiri lagi. Bermain air. Di Rumah Hujan.

BAYANGKAN! Apa yang akan kita lakukan seandainya anak kesayangan kita bermain di tempat yang ditengarai “sarang hantu”? Sikap apa yang akan kita pilih jika putra-putri kita keranjingan bermain di tempat yang dipenuhi “aura mistik”? Percaya atau tidak, itulah yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Ada budaya tabu-menabu.

Kekuatan Rumah Hujan tidak semata terletak pada kemampuan pencitraan suasana, melainkan juga pada daya giring imajinasi. Cekaman misteri pada beberapa kelok cerita, membuat Rumah Hujan dipenuhi ajakan untuk berimajinasi. Ketika Dewi bertutur tentang Narpati yang terlelap di ceruk pohon randu, ingatan saya tergiring pada kenang masa kanak. Lalu, berkait dengan tabu-menabu atau budaya pantang-memantang, yang jika dilanggar pastilah bakal menuai bala. Begitu pun ketika Dewi mendedahkan alasan teman-teman Narpati yang enggan bermain di halaman Rumah Hujan. Imajinasi kita langsung melayap. Menurut Rusdi, mereka dilarang orang dewasa untuk bermain di sana. Rusdi sendiri tak tahu alasannya.

Dominasi orang dewasa terhadap anak-anak telah mengkerangkeng kebebasan dan kemerdekan anak, bahkan untuk semata menentukan tempat bermain. Namun, tidak berarti sang anak akan manut begitu saja. Kerapkali mereka tunjukkan pemberontakan, bukan karena “semangat pembangkangan”, tapi tak lebih karena desakan rasa ingin tahu. Mereka nekat ingin mengenal Narpati karena sering melihat Narpati bercakap-cakap dengan pepohonan. Mereka pikir Narpati kesepian.

Dunia anak dunia bermain. Maka, kehilangan terbesar bagi seorang anak adalah kehilangan kegairahan bermain. Begitulah derita Narpati. Meski Rumah Hujan memberinya banyak fantasi. Selain itu, Dewi juga berusaha memotret sebuah peristiwa kehidupan keluarga. Seorang ayah yang meninggalkan rumahnya dengan alasan mencari nafkah, namun tidak pernah kembali. Pun seorang ibu yang berniat menyusul sang ayah, tapi tidak kunjung berkirim kabar. Sementara, sang anak dititip di rumah Budenya.

Setiap orang pasti pernah mengalami berbagai pergulatan. Mengenai keluarganya, pekerjaannya, perasaannya, dan sebagainya. Pergulatan hati seorang anak sembilan tahun yang ditinggal ayahnya, lalu ibunya, menjadi ajang perang berbagai pergulatan makna yang mendera hidupnya. Ditambah lagi: misteri yang melingkupi Budenya, ketakutan teman sepermainannya, dan kecemasan berlebihan orang tua teman-temannya. Tentu saja, Narpati merasa terasing. Hasilnya adalah keputusasaan (despair). Namun, alih-alih berusaha keluar dari keterasingan dan keputusasaannya, Narpati malah “terasing” dalam keputusasaannya.

Lewat Rumah Hujan, Dewi berusaha melawan pesan Hegel ─dengan filsafatnya berusaha menghilangkan daya sengat perasaan-perasaan eksistensial manusia, misalnya penderitaan, kemarahan, kecemasan, dan keputusasaan. Dalam hal ini, Dewi menunjukkan ketidaksepakatannya pada segala yang terjadi itu sudah seharusnya terjadi, sehingga perasaan marah karena ketidakpuasan dan perasaan cemas karena ketidakpastian, harus dimaafkan (Thomas Hidya Tjaya, 2004). Apalagi dilupakan. Setiap anak punya hak untuk hidup layak dan manusiawi. Sementara, setiap orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi hak “anak” itu. Begitu pula, setiap anak berhak tahu mengapa sesuatu tidak boleh dilakukan, sama seperti kebanyakan orang tua yang tanpa sadar mewajibkan diri untuk “mendidik” anaknya dengan pemberlakuan larangan.

ALEGORI Rumah Hujan adalah bukti kekuatan imajinasi Dewi. Dia, secara langsung, tidak merambah ranah pendidikan dan pengajaran. Namun, secara tidak langsung, Dewi berujar banyak tentang keteladanan sebagai salah satu unsur penting dalam transformasi moral. Di sini, terlihat kemampuan dan kematangan Dewi dalam berimajinasi. Meminjam istilah Damhuri Muhammad, Dewi berhasil mendedahkan gagasan besarnya tanpa kehilangan kekuatan bentuk dan isi.

Ini yang penting kita pelajari! Ya. Setiap pengarang harus mampu memanfaatkan “kekuatan imajinasi”. Untuk bercerita tentang perburuan kursi di masa Pemilu Legislatif, tidak harus digambarkan melalui tetek-bengek lelaku pungutan dan penghitungan suara, tapi bisa dialihkan ke dunia lain. Dunia berbeda. Dengan gagasan besar yang sama. Itulah alegori. Begitu pula halnya dengan Rumah Hujan. Jika yang membayang di benak kita adalah aura mistik dari cerpen ini, itu sah-sah saja. Jika yang tersimpan dalam ingatan kita adalah misteri rumah dan sosok Bude, itu pun sah-sah saja. Tapi ada kedalaman lain bernama imajinasi yang dikemas secara mumpuni lewat metafor, amsal dan tamsil. Dunia ibarat yang tidak akan kita temukan dalam sebuah berita.

Tanpa imajinasi dan kemasan yang mumpuni, cerita bisa terbaca sebagai berita.

KHRISNA PABICHARA

Penulis adalah penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.

Jumat, 12 Juni 2009

ESAI SASTRA: Sains Dalam Sajak

Catatan: Tulisan ini dimaksudkan untuk menelisik kumpulan puisi Atik Bintoro, "Rimba dalam Sains"



Sains Dalam Sajak
Khrisna Pabichara

Jika pengertian sajak atau puisi adalah karangan terikat yang mementingkan irama, larik, dan rima, seperti ditasbihkan Jus Badudu dan Sutan Muhammad Zein (1994) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, maka Atik Bintoro telah berhasil meracik sajak-sajaknya dalam Rimba Dalam Sains sehingga bisa dinikmati sebagai buah olah bahasa yang ’lezat’ dan ’nikmat’.

Sejatinya, sajak ditulis untuk dinikmati lewat tarian mata dan dipahami lewat kajian rasa. Pendapat seperti ini banyak dinyatakan para sarjana sastra, para kritikus, bahkan para penyair sendiri. Mereka melihat sajak dari banyak sudut pandang. Mereka dibekali rupa-rupa teori yang mendukung sudut pandang itu. Sementara, saya tidak termasuk bagian dari golongan itu. Bagi saya, sajak ditulis untuk dinikmati. Karena itu, saya bersentuhan dengan sajak sebagai penikmat, bukan selaku penafsir atau pemaham. Begitulah yang coba saya lakukan dalam menyelami sajak-sajak Atik Bintoro, yang kerap disapa Paman Atek oleh rekan-rekan milis dan komunitas sastranya.

Paman Atek adalah seorang yang sibuk bergelut dengan desain roket, misil, dan satelit dalam rutinitas sehari-hari selaku peneliti di LAPAN. Rumus-rumus kimia dan matematika menjadi sarapan pagi bagi pria kelahiran Banyuwangi ini. Namun, kesibukan itu tidak berarti mematikan birahi menulisnya. Setidaknya berdasarkan pengakuan sendiri, dalam sehari Paman Atek selalu berusaha menulis satu sajak. Paman Atek sudah merasakan nikmatnya menulis sajak, baik sebagai terapi bagi kejenuhan karena pekerjaan, maupun sebagai penyalur bakat dan kreativitas seninya.

Menikmati sajak-sajak Paman Atek bisa dengan mata telanjang, bisa juga dengan mata hati. Ada beberapa puisi yang ditulis lugas dengan bahasa sederhana, bahasa percakapan sehari-hari yang tidak perlu memaksa kita membuka-buka kamus dan mencari arti suatu kata. Namun, ada juga beberapa sajak yang memaksa saya mencari makna katanya dalam kamus karena saya tidak akrab dengan bahasa-bahasa kimia, fisika, dan matematika yang dipindahkan dengan cara ’indah’ dan ’luar biasa’ oleh Paman Atek ke dalam sajak-sajaknya.

Apakah kenyamanan saya dalam menikmati sajak-sajak Paman Atek terganggu karena penggunaan bahasa ’unik’ itu? Tidak. Saya tetap menikmatinya, sembari belajar mencari akar kata dan maknanya. Jadi, ketika saya menikmati sajak-sajak Paman Atek, ada dua buku yang saya pegang. Tangan kiri memegang kitab sajak Paman Atek yang diterbitkan Massma Sikumbang dan di tangan kanan Kamus Umum Bahasa Indonesia. Laksana kata pepatah, sambil menyelam minum air. Sembari menikmati sajak, ya belajar menelisik makna kata. Asyik, kan?

Seorang penyair, bagi Agus R. Sardjono (2008), menggunakan bahasa yang ada di masyarakat dan harus merebutnya menjadi bahasa miliknya pribadi. Oleh karena bahasa masyarakat mendapat isi dan nilai serta maknanya dari sejarah dan pengalaman berbagai rupa masyarakat bersangkutan, maka isi dan nilai bahasa seorang penyair juga ditentukan oleh sejarah dan pengalamannya sebagai pribadi. Bagi Paman Atek, memasukkan kata-kata ilmiah ke dalam sajak-sajaknya, seperti propelan (bahan bakar roket), poliuretan (jenis bahan baku propelan), nosel (pengarah semburan hasil pembakaran propelan), atau kinetik (energi akibat gerakan suatu benda), adalah hal yang biasa karena didukung oleh latar belakang sejarah keseharian sebagai peneliti roket. Akan berbeda hasilnya, jika saya atau akuntan lain yang menggeluti sajak melakukan hal yang sama, karena latar belakang pendidikan saya adalah akuntansi, bukan fisika atau kimia.

Tentu saja, kerja keras Paman Atek menulis sajak-sajak dengan bahasa yang tidak akrab dalam dunia kangouw persajakan, patut mendapat acungan jempol. Bukan semata karena unsur irama, larik, dan rima tetap terpenuhi, melainkan juga karena tidak kehilangan makna. Hal inilah yang sejatinya wajib dilakukan oleh setiap penyair. Pilihan kata harus tepat, bukan perca-perca sisa bahan pakaian yang ditata ulang hingga menghasilkan keset, melainkan potongan kata yang padu dan menyatu (Khrisna Pabichara, 2008).

Sains dalam Sajak

Bagi saya, sajak-sajak Paman Atek sangat mencerahkan. Mengapa? Karena saya mendapat banyak racikan baru dalam penulisan sajak. Saya jadi tertantang menulis sajak dengan memasukkan kata-kata lazim di dunia akuntansi seperti meng-audit rasa, membilang laba-rugi merindu, atau menakar neraca cinta. Tentu saja, Anda pun bisa melakukan hal sama, selama Anda berusaha total melakukannya. Karena pada hakikatnya, menurut Cecep Syamsul Hari (2008), puisi yang mencerahkan lahir karena totalitas yang diberikan penyairnya kepada puisi yang ditulisnya.

Coba kita nikmati beberapa sajak Paman Atek;

multimeter pengukur arus
multidistan pengukur curam
......
rasa dan makna tiada alat ukurnya
(Sajak Bagaimana Mengukurnya)

siapkan wadah, volume gega
penuh tak pernah luber
(Sajak Terjebak Isi)

menuntun jawab lewat jalan berliku
aljabar, seni hitug menghitung
fisika, bermain dengan fakta
kimia, mengenal larutan dan campuran
biologi, putaran pohon, hewan dan manusia
(Sajak Rimba Dalam Sains)

sains dan fantasi bisa berasal dari mimpi
(Sajak Legenda Yang Nyata)



Sajak-sajak ini memberi kenikmatan baru bagi saya, semoga juga bagi Anda, karena tidak merasa terjadinya aroma pemaksaan dalam penggunaan kata-kata ilmiah. Bayangan saya selama ini, sains adalah dunia yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia persajakan. Meski tidak sedikit saintis yang terjun ke rimba sajak, Taufik Ismail misalnya. Sajak-sajak di atas mengajak kita berfikir secara obyektif bahwa sains bukanlah sesuatu yang asing, kaku, dan tidak indah. Sains adalah dunia penuh makna, bukan semata hitung-menghitung aljabar atau campur-mencampur larutan kimia. Sains adalah dunia yang biasa, sama seperti dunia lainnya. Ada kecemasan, ketakutan, harapan, bahkan doa, yang mungkin dan sering terjadi pada dunia lainnya.

Setidaknya, ada harapan besar yang menggumpal di benak Paman Atek, bagaimana bangsa Indonesia tercinta ini menjadi bangsa yang tidak tertinggal dalam bidang sains. Hal ini bisa tercapai jika banyak anak bangsa yang tertarik dan berminat dengan serius untuk menekuni sains. Masalahnya, betapa banyak anak bangsa yang memandang sains sebagai dunia rumit, dunia segala rumus yang menjemukan, dunia yang tidak menjanjikan kenyamanan permainan. Padahal, tentu saja, anggapan itu salah besar.

Paman Atek tetap saja berharap, seperti ditulisnya dalam Cita-cita Seorang Anak Manusia:

rimba dalam sains
gagal sudah biasa
coba lagi, coba lagi, dan coba lagi
siapa tahu terkabul
siapa tahu ada pendoa
siapa tahu ada yang percaya


Demikian juga dalam Sajak Untuk Anakku:

darah bapakmu mengalir rupanya
menjelajah rimba dalam sains
temukan makna sejati bilangan biner
satu nol, satu nol, satu nol
bilangan biner tak pernah mengenal dua


Lebih nikmat lagi, Paman Atek tidak menafikan metafor dalam sajak-sajaknya. Meminjam istilah Jamal D. Rahman (2008), dengan metafor itulah puisi memiliki makna yang sangat kaya, sehingga setiap orang bisa menafsirkan puisi sesuai dengan pemahaman bahkan keperluannya sendiri. Mari kita simak puisi Pantai Wisata Uji Coba: meliuk gunung gelap, meluruh ke pantai. Tentu saja, kita tidak bisa menikmati potongan sajak itu secara leksikal. Meliuk gunung gelap tidak berarti bahwa gunung-gunung yang dilewati sepanjang perjalanan menuju pantai wisata, yang sekaligus pantai uji coba peluncuran roket, di Pamengpeuk. Kalimat itu pastilah mengacu pada makna atau pengertian lain, semisal jalan-jalan yang melewati gunung-gunung itu berliku-liku, meliuk-liuk.

Begitupun dalam sajak Amonium Perklorat Samudra Indonesia: terpendar sinar kristal harapan/ menjaga negeri lewat propelan. Tentu saja makna yang diharapkan lewat kalimat itu bukanlah sinar kristal yang berpendar berkilau di mata, melainkan harapan yang bersinar seperti kristal. Dan menjaga negeri tidak selayaknya TNI dan kewajiban bela negara seperti yang sering kita dapatkan dalam pelajaran PMP atau PPKn, melainkan menaikkan martabat bangsa lewat penemuan propelan sebagai hasil karya anak bangsa yang sangat membanggakan.

Pada Akhirnya

Paman Atek telah berhasil mewujudkan impinya: menghadirkan yang belum hadir, sebagaimana dituliskan pada sajak Kenapa Harus Puisi. Ya, Paman Atek berhasil menghadirkan sesuatu yang belum hadir, mengadakan sesuatu yang belum ada. Artinya, Paman Atek sukses menjadi pencipta.

Saya, juga Anda, bisa belajar banyak dari sajak-sajak Paman Atek. Dalam banyak hal, Indonesia membuat kita miris, seperti tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan, juga budaya korupsi. Namun ada sisi lain yang patut menjadi kebanggaan, yakni prestasi anak bangsa di dunia saintis. Kita adalah bangsa yang semakin maju di bidang teknologi, terbukti dengan keberhasilan saintis kita menemukan propelan, bahan bakar roket, dari garam.

Jadi, mari bangga sebagai anak bangsa. Dan, kebanggaan itu hendaknya bukan sesuatu yang melenakan, melainkan kejutan indah yang membangunkan kita untuk lebih maju lagi.

Bravo Paman Atek! Bravo saintis Indonesia!

Parung, 16/12/2008 08:49

Bahan Bacaan:

Badudu, Jus dan Sutan Muhammad Zain. 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta, Pustaka Sinar Harapan.

Hari, Cecep Syamsul. 2008. Dalam Puisi yang Mencerahkan. Majalah Sastra Horison, Edisi November 2008. h 20

Pabichara, Khrisna. 2008. Makalah Menulis Puisi Bagi Pelajar SD. Disampaikan pada Pelatihan Menulis Puisi, SDIT Darul Falah Depok pada 15-16 September 2008.

Rahman, Jamal D. 2008. Dalam Isyarat yang Kuterima dari Daun Senja, Majalah Sastra Horison, Edisi September 2008. h 25

Sarjono, Agus R. 2008. Dalam Puisi, Cek Kosong, dan Pengalaman. Majalah Sastra Horison, Edisi Oktober 2008. h 20

Rabu, 10 Juni 2009

ESAI SASTRA: Hikayat Mimpi Bamby Cahyadi


SUDAH LAMA saya ingin menulis tentang Bambang Cahyadi sebagai penulis cerpen, karena saya selalu terkesan dengan gaya penuturannya, dan sekaranglah kesempatan itu datang. Tanpa saya sadari, saya telah “terperangkap” kenikmatan membaca cerpen-cerpen Bamby, demikian panggilan akrabnya, terutama cerita-cerita 100 kata yang selalu “bernas” dan “bergizi”. Akan tetapi, kelezatan sebuah tulisan tidak akan terekam dalam jejak ingatan, sebelum kita mencoba lebih serius dari sekadar membaca.


Setiap kali saya membaca sebuah cerpen, ada beberapa pertanyaan yang pasti menjadi langganan, yaitu (1) cerita itu tentang siapa, (2) bagaimana cerita itu disampaikan, dan (3) apa yang diinginkan cerita itu (Khrisna Pabichara, 2004). Dan, kerapkali ditambahkan dengan (4) apakah konflik cerita benar-benar menegangkan, (5) apakah karakter penokohan sudah kuat, (5) apakah klimaks akan benar-benar mengejutkan pembaca, dan (6) apakah logika cerita akan benar-benar meyakinkan (Jamal D. Rahman, 2008).


Sebenarnya, sebagaimana pernah ditasbihkan Seno Gumira Adjidarma (2005), saya mencoba melepaskan diri dari penjara teori-teori pembacaan cerita yang terlanjur saya ketahui, meski memang terpertanyakan: mungkinkah berpendapat dan memaknai sesuatu tanpa teori? Oleh karena itu, saya tetap saja berkutat pada: apa sebenarnya yang memikat saya dari cerpen-cerpen Bamby ―dan mengapa? Kemudian, apa manfaat yang bisa saya rekam ke dalam jejak ingatan?


Biasanya, setiap saya membaca cerita baik cerpen maupun novel, saya menyimpan harapan semoga setelah halaman terakhir selesai saya baca, ada kesan yang bisa saya simpan. Kesan itu bisa sangat kuat, bisa kuat, bisa lemah, bahkan bisa sangat lemah. Dengan kata lain, saya berharap banyak dari cerpen Bamby, Bendera itu Tidak Berkibar Di Sini.


Semoga!


BANYAK ORANG yang ingin menulis cerita, baik pengalaman pribadi maupun endapan pemikiran yang bersumber dari luar dirinya. Akan tetapi, tidak banyak yang benar-benar bisa melakukannya. Sebagian alasannya adalah karena menulis cerita itu memerlukan waktu. Ya, banyak orang mengira menulis itu memerlukan alokasi waktu secara khusus (Marion Dane Bauer, 2005).


Mereka perlu waktu untuk melamunkan “ide cerita” yang membayang di dalam benak, perlu waktu untuk menuliskannya, dan perlu waktu untuk menggarapnya sehingga cerita itu siap untuk dibaca. Padahal, meminjam istilah Mulyadhi Kartanegara (2005), hari semua orang memiliki jam yang sama, sama-sama 24 jam.


Namun, Bambang Cahyadi, seorang manajer sebuah restoran rumah makan cepat saji ternama di kawasan Pondok Indah, berhasil melewati kungkungan waktu itu. Bamby termasuk produktif menulis cerpen di sela kesibukan sehari-harinya. Selain itu, cerita yang dihasilkannya pun bukan cerita asal jadi. Pengalaman sebagai “mantan” wartawan Majalah Pramuka Kwarnas Jakarta mungkin telah menjadi kawah candradimuka yang mengasah kemampuan menulisnya di sela tenggat waktu yang padat dan ketat.


Pada hakikatnya, sebuah cerita adalah pekerjaan media yang membangun kembali realitas (constructed reality) dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Oleh karena itu, sebuah cerita mempunyai peluang yang sangat besar untuk menuturkan makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas kehidupan yang dibangunnya. Bamby dengan piawai mampu membangun realitas itu dalam cerita-cerita yang ditulisnya. Di ujung pena Bamby, bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak disampaikan kepada publik (pembaca). Dalam peradaban yang kreatif, yang disampaikan dalam sebuah cerita bukan semata informasi tapi juga ideologi dari penulis (Khrisna Pabichara, 2008).


Karya sastra merupakan bentuk wacana yang dipengaruhi oleh individu pencipta karya tersebut dengan segala ideologi yang dimilikinya yang sangat berperan dalam melestarikan wacana nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Secara umum, empat cerpen karya Bamby yang saya telaah adalah penggambaran realitas yang memang nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam telisik kali ini, saya hanya akan mengupas cerpen Bendera Itu Tidak Berkibar Di sini.


Dalam cerpen ini, lewat tokoh Topo, Bamby dengan cerdas memotret proses gradasi nasionalisme orang-orang sekampungnya yang tidak mengibarkan bendera di halaman rumahnya pada tanggal 17 Agustus. Faktanya, begitulah yang terjadi dalam kehidupan nyata. Coba telisik dunia sekitar kita, dimana banyak di antara kita yang mengibarkan bendera hanya sebagai wujud rutinitas dan bukan karena kesadaran patriotik sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan bangsa.


Kita bisa mulai membaca dari tiga paragraf pembukanya:


Kelopak mata Topo belum sepenuhnya terbuka, kelopak matanya masih separuh terbuka. Ia mengucek matanya yang lengket akibat belek dengan punggung tangannya, tahi mata yang mengeras itu kemudian rontok seperti upil yang dikorek oleh jemari. Kini Topo tidak lagi merem-melek, kedua kelopak matanya sudah benar-benar terbuka. Sempurna.

Ia lalu menguap melenguh menuntaskan sisa kantuk yang masih menggantung, mulutnya mengeluarkan bunyi dan aroma yang tidak sedap, untuk didengar apalagi diendus. Topo bangkit dari ranjangnya meninggalkan suara deritan yang membuat ngilu pendengaran. Rupanya ranjang besi Topo perlu juga dilumeri gemuk atau oli, tapi ia tidak peduli. Ia masih bisa tidur nyenyak dan tidur lebih lama di ranjang berderit itu. Begitulah Topo, untuknya tidak penting tempat tidur yang bagus, yang penting kualitas tidurnya. Falsafah tidur yang cukup bermakna.

Topo bergeliat merenggangkan pinggangnya ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang, juga meninggalkan suara gemeretek, tanda tulang belulang Topo perlu juga dilumeri kalsium, bukan gemuk atau oli. Tapi pagi ini ia tidak butuh kalsium, apakah yang bersumber dari susu atau biji kedelai. Tidak penting baginya minum susu kalsium. Pagi ini, ia hanya ingin segelas kopi panas, pahit boleh, manis lebih mantap.


Pengalaman bangun tidur adalah pengalaman siapa saja. Artinya, semua orang pernah mengalaminya. Namun tidak semua orang piawai menerjemahkan kebiasaan itu lewat sebagian besar kata kerja (verba) dan kata benda (nomina). Seorang penulis, melalui berbagai kapasitas kemampuan yang dimilikinya, tidak bijak jika menyangka bisa mengelabui pembaca. Apalagi terhadap “sesuatu” yang dipahami setil dan selak-beluknya oleh pembaca, semisal proses bangun tidur.


Dan saya sangat terkesan pada bagaimana Bamby mengatur pemunculan tokoh Topo di awal cerita. Kelopak mata Topo belum sepenuhnya terbuka ―menunjukkan secara tegas bahwa Topo belum benar-benar terjaga dari tidurnya. Topo masih dalam kondisi antara sadar dan lena, separuh bangun separuh tidur. Dan, biasanya, kondisi seperti itu terjadi karena ada “benda” menghalangi pandangan dan memberatkan kelopak mata. Ia mengucek matanya yang lengket akibat belek dengan punggung tangannya, tahi mata yang mengeras itu kemudian rontok seperti upil yang dikorek oleh jemari ―setelah tahi mata yang mengeras itu terjatuh, barulah Topo benar-benar terjaga.


Setelah itu, Topo masih perlu memastikan agar rasa kantuknya hilang dengan cara menguap dan meregangkan badan. Tentu saja, ini pun merupakan hal biasa bagi semua pembaca. Akan tetapi, Bamby dengan cerdas menutup dua paragraf pembuka cerita dengan kalimat yang “bernyawa”: Begitulah Topo, untuknya tidak penting tempat tidur yang bagus, yang penting kualitas tidurnya. Falsafah tidur yang cukup bermakna. Dengan itu, bagi pembaca, tidur menjadi bermanfaat jika berkualitas, tidak semata dari durasinya, tapi juga dari kualitasnya.


Pembaca fiksi senang merangkai imajinasi sendiri dari cerita yang disajikan penulis, dan mereka akan lebih mudah memercayai dan meyakini kehebatan sebuah cerita jika ada sebagian yang bisa mereka imajinasikan. Carmel Bird dalam Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction mengatakan bahwa kekuatan fiksi terkandung sama besarnya dalam apa yang disiratkan dan dalam apa yang disuratkan, sama besarnya dalam ruang antarkata dan dalam kata-kata itu sendiri. Dan, Bamby berhasil meletakkan kekuatan fiksinya pada pembuka ceritanya. Contohnya pada kalimat: Topo bangkit dari ranjangnya meninggalkan suara deritan yang membuat ngilu pendengaran. Kalimat ini bisa merangsang imaji pembaca untuk segera membayangkan ketaknyamanan pendengaran ketika ranjang berderit. Bahkan, saya sendiri tidak perlu apa-apa setiap pagi selain teh, sama seperti Topo yang hanya butuh butuh kopi setiap pagi. Pahit boleh, manis juga boleh ―bahkan lebih mantap rasanya.


Sekarang, kita simak:



Sedikit berjalan malas, Topo mencapai meja makan. Tetapi tidak ditemukan segelas kopi panas yang ia inginkan, hatinya agak sedikit geram. Apa saja kerja istriku pagi ini, rutuknya, menyediakan segelas kopi panas saja tidak becus!

Namun Topo bukanlah tipe lelaki yang mudah mengeluarkan bentakan atau teriakan untuk perempuan, apalagi perempuan itu istrinya. Ia hanya ngedumel, itu pun dalam hati.

“Istriku kemana…?” tanyanya lirih.

Topo beranjak ke dapur, tidak ditemukan Narti istrinya di dapur. Topo kembali ke meja makan, lalu ke halaman depan rumah, Narti tidak ada juga di situ.

“Kemana istriku pagi-pagi begini…?” gerutunya sambil menggaruk kepala.


Tokoh Topo dalam kacamata Bamby adalah suami yang tidak suka mengumbar amarah lewat cacian, bentakan, atau teriakan. Ini merupakan awal yang menjanjikan. Saya semakin tertarik membaca cerita ini. Saya dicecar rasa ingin tahu: siapakah Topo itu, kenapa ia begitu butuh kopi, dan mengapa ia sangat memaksa diri mencari isterinya. Berbalik dengan penggambaran watak Topo sebagai suami “penyabar”, bukankah lebih baik ia menyeduh kopi sendiri daripada buang-buang waktu mondar-mandir mencari isteri? Akan tetapi, begitulah Bamby memainkan suasana, karakter Topo lebih berasa dengan pembelokan karakter secara “lembut”. Tentu saja, pengalihan suasana dan karakter membutuhkan kelihaian bercerita (Jamal D. Rahman, 2008). Bamby menunjukkan kelihaian itu, sehingga ceritanya terasa lincah dan mengalir.



Topo sejenak tertegun di bawah kusen pintu rumahnya. Pandangannya tertuju ke arah tiang bendera yang berdiri doyong ke kiri dari tempatnya berdiri. Akan tetapi perhatian Topo bukanlah tertuju kepada tiang bendera yang doyong ke kiri itu.


Mula-mula Topo mencari isterinya di dalam rumah. Karena tidak menemukannya, Topo pun mencarinya ke luar rumah. Namun, bukan isterinya yang ditemukan di halaman rumah, melainkan tiang bendera yang berdiri doyong ke kiri dari tempatnya berdiri. Akan tetapi, bukan tiang bendera doyong itu yang membuat Topo tertegun. Bamby menutup paragraf ini dengan kalimat menggantung, kalimat yang menumbuhkan tanda tanya baru. Lantas, apa yang membuat Topo tertegun?


“Walah…! Kemana benderanya?” teriak Topo terkejut sendiri.

Ternyata, kehilangan benderalah yang membuat Topo tertegun. Bagi Topo, bendera itu sangat berharga. Sekarang, coba kita perhatikan:



Topo lalu mendekati tiang bendera itu, dengan cermat diperhatikannya tanda-tanda di sekitar tiang bendera itu. Tidak ada tanda-tanda pencurian, bendera merah putih yang kemaren sore ia kibarkan di tiang bambu itu lenyap.

“Apa mungkin tali pengikatnya lepas…?” katanya bertanya dalam hati. “Tetapi kalau tali pengikatnya lepas terbawa angin, pasti masih ada sisa tali di ujung tiang ini,” batinnya.

Masih diliputi tanda tanya hilangnya bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumahnya, pandangan mata Topo mengedari halaman rumah tetangganya. Betapa terkejutnya ia, semua tiang bendera di rumah tetangganya pun tanpa kibaran merah putih.


Coba bandingkan dengan kutipan yang saya nukil dari cerpen “Sebuah Kisah Sedih” karya Puthut EA (2004).



Tak ada lagi yang bisa kita percakapkan. Aku pergi. Menutup pintu, menutup hati. Masih kuingat malam itu, bukan cuma dingin yang melabrak galak. Tapi masih kuingat bau yang kamu tinggalkan di penciumanku saat kamu geraikan rambutmu. Harumnya tersisa sampai sekarang. Kuingat pula saat itu, ada tangis yang tertahan, tapi bening air di pojok matamu, bunting oleh sedih yang sangat. Tak ada lagi yang bisa kita percakapkan. Esok adalah padang halimun yang membuat lamat bagaimana aku harus berbagi sedih, berbagi riang, berbagi resiko, berbagi kenangan. Sedih, selalu tak bisa dipercakapkan lebih panjang.


Simak pula bagaimana cara Apri Swan Awanti (2002) menggambarkan “dialog batin” dua tokoh perempuan dalam cerpennya “Dua Perempuan”.


Ada dua perempuan. Mereka berkenalan di bawah teritis hujan. Yang satu rambutnya panjang lurus, yang satu ikal pendek. Yang rambutnya lurus berhidung mancung dan bertubuh kurus. Sedangkan yang rambutnya ikal pendek bertubuh sedang dengan mata bulat penuh. Dua penampilan yang berbeda, tetapi nampaknya mereka saling cocok.

Mereka bicara tentang titik-titik air, tentang itik yang berenang di comberan, tentang orang yang lalu lalang sambil membuang ingus. Agak jorok, memang. Lalu mereka tertawa terkikik-kikik. Pembicaraan yang jorok-jorok dan menjijikkan kian berlanjut, dan mereka juga kian terkikik-kikik. Keduanya tampak senang, karena pembicaraan mereka tanpa beban.

Begitulah seharusnya, menurut yang berambut ikal pendek, kalau bisa jangan bicara yang berat-berat.


Bamby menggambarkan pengulangan Topo mencari isterinya untuk menguatkan ceritanya. Hal sama dilakukan Puthut EA dan Apri Swan Awanti. Demikian halnya dalam penggunaan kata dan penataan kalimat. Setiap demi setiap kata dan kalimat rasanya memiliki nyawa masing-masing. Sehingga, jika kita kehilangan satu saja kata atau kalimat, akan terasa aneh dan janggal. Begitulah semestinya kita bercerita, tidak membosankan dan penuh “kejutan”.


Ketika Topo tertegun melihat bendera merah-putih yang kemarin dibentangkannya hilang, ia tidak langsung mencak-mencak dan menuding ada oknum yang mencuri benderanya. Topo, dengan cerdas layaknya detektif, mengendus-endus petunjuk penyebab hilangnya bendera kebanggannya. Tentu saja, ada pesan moral yang ingin diembuskan Bamby lewat tokoh Topo: jangan mudah menuding orang lain telah melakukan kesalahan, sebelum menelaah masalah dan menemukan bukti penguat.


Oleh karena Topo tidak menemukan adanya tanda-tanda pencurian, Topo menelisik lingkungan sekitar rumahnya. Mencari jangan-jangan bendera merah-putih kebanggaannya itu telah berpindah tiang. Namun, yang ditemukan Topo lebih mengejutkan lagi, tak ada satu pun bendera berkibar di halaman rumah tetangganya. Tentu saja, benak Topo langsung ditangkup rerupa curiga. Lunturnya nasionalisme, pudarnya rasa bangga terhadap bangsa, tidak mensyukuri kemerdekan, dan lain-lain menari di benak Topo. Akan tetapi, Topo tetaplah Topo yang tidak mau menyalahkan orang lain.



“Apakah ada orang yang benci kepadaku karena aku satu-satunya warga yang memasang bendera di halaman rumahku?” katanya membatin wajah berubah muram.

Sebagaimana layaknya sebuah cerita, Bamby juga menciptakan tokoh lawan sebagai penguat. Seorang pemuda di rumah Pak RT Bandi dan seorang perempuan muda yang dikira Topo adalah isteri Pak Trisno. Keberadaan kedua tokoh ini menambah “hidup” cerita, terutama lewat dialog-dialog yang juga “hidup”. Dalam percakapan, bersama pemuda belasan tahun di rumah Pak Bandi, pembaca akan sampai pada simpang tanya bahwa Topo telah salah memasuki rumah orang, dan berkeras pada “kebenaran” pendapatnya.

“Maaf, Bapak ini siapa? Dan mau apa ke sini?” tanya Pemuda itu.

“Pak Bandi, mana Pak Bandi? Saya mau bertemu Pak Bandi!” jawab Topo sekenanya.

“Maaf, mungkin Bapak salah alamat,” kata pemuda itu singkat hendak menutup pintu rumah.

“Eeeit, jangan ditutup dulu. Pak Bandi mana?” kali ini nada bicara Topo agak sedikit tinggi. “Saya ini warga di sini, juga teman Pak Bandi. Mana beliau?” lanjut Topo sedikit menjelaskan. Mungkin pemuda ini sudah dititipkan pesan oleh Pak Bandi apabila ada tamu yang tidak dikenal atau orang asing agar jangan berlama-lama bercakap-cakap, bisa-bisa dihipnotis atau dirampok misalnya. Dan pemuda ini menjalankan tugasnya dengan baik.

“Maaf Pak, Bapak salah alamat!” kata pemuda itu ketus dan menutup pintu dengan keras.

“Kurang ajar anak muda itu!” batin Topo masih terpaku di depan pintu rumah Pak Bandi. Burung perkutut yang sedari tadi diam mulai berkicau karena kaget mendengar bunyi daun pintu yang ditutup keras.


Konflik yang ditimbulkan Topo ternyata belum selesai. Penasaran karena desakan rasa ingin tahu memaksa Topo mencari warga lain. Namun, perlakuan sama dialaminya, ketika akhirnya Topo bertemu dengan seorang perempuan muda keluar dari rumah Pak Trisno, temannya. Dan, dari percakapan dengan perempuan muda itu, Topo semakin kebingungan. Siapa sebenarnya yang salah: Topo atau pemuda belasan tahun dan perempuan muda itu?


Mana sebenarnya yang benar: bendera merah-putih atau bendera berwarna biru, kuning, hijau dan beberapa bulatan putih, polkadot?


Penutupan cerita ini selalu saya ingat, sederhana tapi bermakna ―dalam. Menyisakan rongga menganga dalam dada yang dipenuhi tanda tanya: masihkah kita bangga berbangsa Indonesia?


Tragis dan sangat reflektif.


BAGI SAYA, cerita adalah media yang sangat menarik dan sangat potensial sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan-gagasan baru, pesan-pesan moral, atau kritik sosial sekaligus. Berbeda dengan novel, cerita pendek harus disampaikan dengan kata-kata yang padat, tetapi memiliki pesan yang dalam. Bamby adalah seorang penulis cerita 100 kata yang hebat, ini menjamin pemilihan kata yang padat secara sadar dan ketat. Hanya saja, dalam cerpen ini, pilihan kata yang dikemas dalam bentuk dialog, masih perlu digali dan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menjadi penopang cerita (Khrisna Pabichara, 2001).


Percakapan-percakapan muncul dalam cerita, tentu saja, karena mereka juga muncul dalam kehidupan (Marion Dane Bauer, 2005). Memang, mungkin saja cerita ditulis berdasarkan khayalan semata, tetapi cerita selalu meniru kehidupan. Ada tiga fungsi strategis dialog yang harus terpenuhi dalam sebuah cerita. Pertama, dialog memberikan informasi kepada pembaca. Kedua, dialog mengungkapkan tokoh. Ketiga, dialog menggerakkan cerita. Kriteria pertama dan ketiga sudah dipenuhi dengan baik oleh Bamby dalam Bendera Itu Tidak Berkibar Di Sini. Namun, kriteria kedua, belum terpenuhi. Dialog, seyogyanya, harus bisa mengungkapkan karakter tokoh, sifat tokoh, bahkan kebiasaan tokoh. Clarissa Pinkola Estes berpesan dengan bijak, “Jika ingin mencipta, kita harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Kita harus menata wawasan kita yang paling kuat dan visi kita yang paling jauh.” Sementara itu, Nabokov juga meninggalkan fatwa ampuh, bahwa seniman sejati adalah orang yang tidak pernah menganggap remeh apa pun. Termasuk, tentu saja, dialog dan alur cerita.


Dalam pembacaan Bendera itu Tidak Berkibar Di Sini ternyata kita menemukan beberapa dimensi makna. Pagi hari ketika baru saja terbangun, Topo berniat mengawali hari seperti biasa, meski sebenarnya pada hari itu ada sesuatu yang istimewa, kemerdekaan bangsa. Namun, Topo berkeras mencari kopi. Lalu, ia malah menemukan tak ada lagi bendera merah-putih berkibar pada pucuk tiang benderanya. Dan Topo pun melakukan tindak pencarian, hingga bertemu dengan tetangga-tetangga yang asing. Hingga kemudian Topo berkhayal berdiri bersama Narti, isterinya, menghormat kepada merah-putih sebagai wujud rasa cinta dan bangga pada tanah air ―saya sangat terkesan dengan kandungan pesan ini. Keterasingan Topo seakan menguak potret buram penduduk negeri ini dimana seorang pencinta ibu pertiwi terlihat aneh, langka, dan asing, dan kesiapan Topo menanggungkan keterasingan selama ia tetap menjaga identitas kebangsaannya seakan menawarkan kebermaknaan baru terhadap wacana nasionalisme kita yang terkikis perlahan oleh pelbagai pernak-pernik kemajuan peradaban.


Padahal, nasionalisme dan keturunannya yang bernama patriotisme, tidak bisa diabaikan begitu saja, melainkan harus tetap tertanam dalam dada setiap demi setiap generasi.


Arkian, setelah menyelesaikan lembar terakhir Bendera itu Tidak Berkibar Di Sini, harapan berupa kesan yang kiranya tersimpan setelah usai membaca cerita ini, terpenuhi dan terpuaskan. Bahkan, saya sempat menohok batin: Ah, jangan-jangan saya sendiri sudah kehilangan bendera merah putih!


☼☼☼

Parung, 6 Desember 2008 05:02