Rabu, 06 Oktober 2010

[TULISAN RINGAN] Kisah Perempuan Pendoa

Catatan: Tulisan ringan ini hanyalah refleksi belaka. Tak ada niat menghujat, menggugat, apalagi menggurui. Kebahagiaan tak terperi bagi saya bila Anda berkenan singgah dan membacanya. Tak perlu mengerutkan kening, tak perlu menekurkan kepala. Santai saja. Semoga berfaedah!


KISAH PEREMPUAN PENDOA
Oleh Khrisna Pabichara

Orang bijak tahu apa yang harus dia lakukan, orang bestari benar-benar melakukannya.
David John Star

TERSEBUTLAH kisah perempuan renta yang hidup sebatang kara. Tanpa sanak kerabat, tanpa siapa-siapa. Sendiri. Bergelut melawan ganasnya sepi, bertarung menantang kemiskinan. Setiap hari dia cukupi kebutuhan hidupnya dengan mengumpulkan kayu bakar, lalu menjualnya kepada penduduk lain di kampungnya. Begitu selalu. Saban malam, dia tenggelamkan diri ke dalam samudra doa. Tak ada satu malam pun berlalu tanpa lantunan doanya yang miris dan mengiris. Ya, baginya, doa adalah ritual hati yang teduh dan meneduhkan, yang tenang dan menenangkan. Baginya, doa adalah upacara jiwa untuk menguatkan dan menyabarkan hati.

Namun karena kebiasaannya itu pula, tetangga sebelah rumahnya merasa sangat terganggu. Maklum, rumah reyot mereka hanya terpisahkan oleh dinding dari bambu yang dianyam ala kadar saja. Maka, tidak heran jika suara dari satu rumah pasti terdengar di rumah lainnya, apalagi di tengah keheningan malam. Sebenarnya sudah beberapa kali Sang Tetangga mengingatkan Sang Perempuan Renta untuk merendahkan suaranya ketika berdoa, namun Sang Perempuan Renta tidak mengacuhkannya.

Akhirnya, suatu ketika, saat matahari baru sepenggalah, Sang Tetangga menyambangi Sang Perempuan Renta—yang sedang bersiap-siap mencari kayu bakar.

“Mak, hargailah tetanggamu. Biarkan kami tidur dengan nyenyak. Cukuplah hari-hari kami dibayangi penderitaan. Jangan ditambah lagi dengan rengekan doa Emak setiap malam,” tegur Sang Tetangga.

Sang Perempuan Renta tertegun. “Maaf. Saya tidak bermaksud mengganggu ketenanganmu, Nak. Tapi saya memang tidak akan berhenti berdoa, sebelum doa saya dikabulkan oleh-Nya.”

“Tidak mungkin, Mak. Mustahil berharap uang jatuh dari langit!”

“Mustahil atau tidak, itu urusan saya dengan Dia!”

“Tapi apa yang Mak lakukan mengusik ketenangan keluarga saya.”

“Baiklah, Nak. Saya akan merendahkan suara dan berharap sebentar malam doa yang saya panjatkan tidak mengganggu kalian.”

Sang Tetangga pun berlalu. Sang Perempuan Renta, seperti hari-hari sebelumnya, mencari kayu-kayu kering di tepi hutan. Dan, malam kembali tiba. Tak ada yang berbeda dari malam sebelumnya. Doa Sang Perempuan Renta kembali membelah malam. Suaranya melesat ke sela-sela bilik.

“Duhai Tuhanku Pemilik Segalaharta, limpahkan segala yang masih tersembunyi untukku di langit lapis ketujuh atau segala yang masih terpendam untukku di tanah lapis ketujuh. Amin!”

Doa itu dilafalkannya berulang-ulang. Kadang sangat nyaring, kadang sangat lirih. Alhasil, karena merasa terganggu, Sang Tetangga bangkit dari peraduannya. Berjalan ke luar rumah, sebelum terlebih dahulu menyambar karung yang sering dia gunakan untuk mengumpulkan rumput hasil sabitannya. Lalu, dia isi karung itu dengan beling, pecahan genting, dan kerikil. Tak lupa diikatnya karung itu agar isinya tidak berhamburan ketika dijatuhkan. Sambil membayangkan muslihat yang sedang dirancangnya akan membungkam doa-doa Sang Perempuan Renta, dia tersenyum puas.

Sang Tetangga pun naik ke bubungan atap rumahnya, melemparkan karung itu tepat ke arah kamar tempat Sang Perempuan Renta sedang khusyuk berdoa. Karung itu meninggalkan lubang menganga, setelah menghantam genteng dan kayu bubungan atap. Sang Perempuan Renta terkejut melihat sebuah karung berdebum beberapa jengkal saja di hadapannya. Segera saja tali pengikat karung itu dilepaskan olehnya, dan alangkah! Karung itu ternyata berisi setumpuk uang dan emas batangan. Mata Sang Tetangga terbeliak, seolah tak percaya pada penglihatannya.

Sejak itu, Sang Perempuan Renta rajin bersedekah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diterimanya. Dan, Sang Tetangga mulai rajin berdoa, siapa tahu ada yang berkenan melemparkan sekarung uang dan emas batangan ke hadapannya.

***

BERBURUK sangka kepada Sang Mahasegala adalah salah satu sifat yang kadang menghinggapi diri kita. Uniknya, sering tidak kita sadari. Benarlah kiranya seperti ditandaskan banyak kitab suci bahwa manusia memang memiliki kecenderungan suka berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tapi lalai bersyukur manakala mereka dilimpahi banyak anugerah. Akan tetapi, naïf juga rasanya bila yang kita tumbuh-kembangkan dalam hati adalah “gugatan” kepada Tuhan karena tak kunjung mengabulkan doa-doa kita.

Ya, tanpa disadari, kita gemar memelihara syak-wasangka, bahkan jauh sebelum doa kita lantunkan. Ada yang meragukan kasih sayang dan cinta-Nya. Ada pula yang menyangsikan Tuhan berkenan memenuhi permintaannya. Bahkan ada yang menggugat kuasa Tuhan yang dianggapnya hanya menimpakan kesedihan dan penderitaan saja kepadanya.

Padahal, sejatinya, banyak rahasia besar yang tersimpan dari segala ketetapan dan kehendak Tuhan. Boleh jadi, apa yang kita minta, semisal harta duniawi, dapat merugikan dan menggelincirkan “hati” kita. Mungkin juga permohonan untuk memperoleh kemuliaan lewat kedudukan atau jabatan tinggi berpeluang meruntuhkan “keteguhan keyakinan” kita, hingga kita lalai—seperti menyalahgunakan wewenang, korupsi, berbuat semena-mena, dan sebagainya—dan lupa pada hakikat keberadaan kita sebagai manusia. Mungkin pula harapan-harapan lain yang kita tuturkan pun membuat kita serba lupa—lupa diri, lupa daratan, lupa segalanya.

Belum lagi kita suka mengabaikan betapa nikmat yang kita terima sebenarnya adalah jawaban dari doa yang kita panjatkan. Hanya saja, ada yang dilimpahkan sekaligus, ada yang bertahap, bahkan ada yang sedikit demi sedikit. Kadang pula jawaban doa itu tidak dalam bentuk persis seperti yang kita dambakan, melainkan jalan lain agar kita lebih mudah meraih apa yang kita impikan. Laksana petuah bijak, “Meminta ikan, diberi kail.” Begitulah. Kita hanya dilimpahi kuasa meminta, sedangkan wewenang mengabulkan tetap ada pada-Nya.

Maka, bijaklah kiranya jika kita becermin pada keteguhan Sang Perempuan Renta yang tak pernah putus pengharapan. Dan, barulah akan bestari jika kita tidak meneladani lelaku Sang Tetangga yang piawai meledek dan meremehkan ritual spiritual orang lain, dan baru membuka akalnya ketika keajaiban terjadi di depan mata.

***

BERBAIK sangka kepada Sang Mahasegala mestinya menjadi pilihan terbaik bagi kita. Sama baiknya dengan berbaik sangka kepada sesama. Buruk sangka mengalirkan energi negatif, sementara baik sangka memastikan energi positif merasuki tubuh kita. Buruk sangka melahirkan putus asa, sedangkan baik sangka menularkan pengharapan tak berhingga. Oleh karena kita diberkahi akal, maka yang baik mestinya keniscayaan untuk diraih, dan yang buruk seharusnya langsung kita jauhi.

Sang Perempuan Renta adalah sosok yang bersikukuh pada keyakinannya dan selalu berbaik sangka. Meskipun bertahun-tahun doa yang dilantunkannya menunjukkan gejala tidak bakal makbul, dia tetap meneguhkan hati. Tak goyah barang sekejap, tak goncang barang sedetik. Bermalam-malam, berbulan-bulan, bertahun-tahun.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah pribadi yang berkelimpahan hati seperti Sang Perempuan Renta, atau malah berkekurangan hati layaknya Sang Tetangga? Benarkah doa yang kita panjatkan adalah buah dari kerendahan hati atau akibat dari kekesalan hati? Yakinkah kita bahwa kita benar-benar meminta atau malah sebenarnya sedang memerintah? Mari kita menyelam ke dasar hati, mencari hakikat kenapa, bagaimana, dan untuk apa selama ini kita berdoa. Jangan tunggu sampai kita terjerumus ke dalam lembah “pendoa berdosa”.

Suatu ketika, Mark Twain berpetuah, “Yang menjadi dengan akal sehat adalah tidak semua orang memilikinya.” Boleh pula kita camkan nasihat Ibnu Khaldun, “Doa bukan sekadar memejamkan mata atau menengadahkan kepala, tapi lebih pada mengasah hati.” Inilah sejatinya karakter pendoa. Di balik tumpukan harapan, hati dan akal harus tetap bekerja secara harmonis. Yang satu tidak boleh berjalan lebih cepat dan meninggalkan yang lainnya. Harus seiring, harus sejalan. Ketika hati bersikukuh, otak mestilah bersiteguh. Hati—sebagai pusat rasa—harus selalu sarat ketaatan, dan otak—sebagai pusat pikiran—harus selalu sarat keyakinan.

Dengan kecerdasan akal—bersama sekian keturunannya berupa rupa-rupa kecerdasan badaniah—kita belajar membilang berapa banyak anugerah yang telah terima. Meskipun, sejatinya, menghitung nikmat adalah pelajaran yang paling sulit untuk kita terapkan. Sementara itu, dengan kecerdasan hati—bersama keturunannya berupa kecerdasan emosional dan spiritual—kita belajar bersyukur atas segala anugerah yang telah kita terima.

Akal dan hati ibarat dua sisi mata uang. Yang satu melengkapi yang lainnya, yang lain menggenapi yang satunya.

***

PASANGAN sejati doa adalah bersyukur. Kita harus berupaya sekuat tenaga dan menikmati hidup dengan sepenuh hati. Artinya, daripada sibuk mengeluh dan menyumpahi harga yang terus melambung, lebih baik kita mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan untuk mengusahakan agar yang mahal itu tetap bisa terbeli. Dengan kata lain, tak perlu kita pusingkan kekacauan di luar diri kita dan mengabaikan kekacauan di dalam diri kita. Betapapun, mustahil membetulkan kekacauan di luar diri manakala hati sendiri masih berantakan.

Bersyukur pun adalah anak tangga pertama menuju gedung megah bernama Doa Mustajab. Dari sana kita mulakan apa yang hendak dituju dan bagaimana mencapainya. Dari sana kita tempatkan diri sebagai yang meminta untuk mendatangi dengan takzim yang dimintai. Dari sana kita pastikan bahwa segala yang kita terima di dunia tidaklah berarti, sebelum apa yang kita tinggalkan di dunia memberi arti bagi sesama. Dari sana kita camkan bahwa untuk mendapat lebih banyak, kita harus memberi lebih banyak. Dengan keyakinan seperti itu, gedung megah bernama Doa Mustajab, bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Pendek kata, doa dan bersyukur adalah jembatan untuk mencerahkan dan mengayakan kecerdasan spiritual kita. Karenanya, jadilah pendoa yang “meminta”, bukan “memerintah”. []

Jakarta, Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar