Jumat, 24 September 2010

[TULISAN RINGAN] Antara Nelayan dan Pengusaha

Catatan: Jika Anda punya waktu senggang, bacalah tulisan ringan ini. Tulisan sederhana, bahasa yang mudah dicerna, semoga bisa jadi teman bermenung bagi Anda walau hanya sekejap. Terima kasih apresiasinya, Sahabat!


ANTARA NELAYAN DAN PENGUSAHA
Oleh Khrisna Pabichara

Tersebutlah kisah seorang pengusaha sukses yang bertemu seorang nelayan yang sedang santai duduk di pinggir pantai, membiarkan perahunya terapung sembari menikmati debur ombak menjilat lekuk pantai. Nelayan itu tampak begitu menikmati kesendiriannya. Pengusaha itu pun mendekatinya.

“Mengapa kamu asyik bermenung dan tak pergi menangkap ikan?” tanya pengusaha itu.

“Karena ikan yang kutangkap kemarin masih cukup untuk hari ini,” jawab nelayan itu dengan tenang.

“Bukankah kamu akan mendapat lebih banyak lagi jika tetap melaut?”

“Untuk apa?” nelayan itu balas bertanya.

“Agar kamu bisa mendapat uang lebih banyak,” jawab pengusaha, “dengan begitu kamu bisa mendapat hasil lebih banyak, lalu membeli jala dan perahu yang lebih besar agar mendapatkan hasil lebih banyak lagi. Dengan begitu, kamu akan kaya seperti saya.”

“Sesudah itu, apa yang harus saya lakukan?” tanya si nelayan.

“Kamu bisa beristirahat, bersantai, dan menikmati hidup dengan tenang.”

Nelayan itu tersenyum lembut. Lalu bertanya, “Menurutmu apa yang sedang saya lakukan sekarang?”


Siapakah di muka bumi ini yang tidak menginginkan kebahagiaan dan kekayaan? Siapakah di antara kita yang tidak menghendaki ketenangan dan menikmati hidup dengan nyaman? Si Pengusaha, seperti tersirat dari cerita di atas, adalah seseorang yang bergelimang harta dan menjadikan kekayaan sebagai takaran kebahagiaan. Sebaliknya, Si Nelayan adalah orang yang bersahaja yang menjadikan kebahagiaan sebagai ukuran kekayaan. Karakter Pengusaha dan Nelayan itu bertebaran di muka bumi. Ada yang sibuk menumpuk harta tapi tak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, ada pula yang hidup bersahaja tapi begitu berbahagia menikmati hidupnya. Ada yang hanya sibuk memburu kemegahan duniawi, ada yang menjadikan dunia sebagai jembatan semata. Tapi yang terbaik adalah mereka yang punya banyak harta dan berbahagia hidupnya. Tentu saja, tak ada yang lebih benar di antara Pengusaha atau Nelayan itu. Masing-masing bisa salah atau benar.

Di posisi manakah kita berada? Apakah seperti Pengusaha yang tak berhenti mencari harta atau seperti Nelayan yang hidup bersahaja? Ataukah kita malah berada di antara keduanya, gesit mencari harta sembari menikmati hidup mengalir semestinya?

Tentulah masih lekat dalam ingatan kita tentang Ramadhan yang baru saja berlalu. Jika tubuh kita laksana Pengusaha yang terus menerus berusaha tiada henti, maka Ramadhan adalah masa istirahat yang memberikan kesempatan bagi kita untuk menikmati harta itu dengan cara yang semestinya, semisal berbagi kepada sesama—lewat zakat, sedekah, atau infak. Ramadhan menjadi bulan istimewa, di mana kita bisa mensyukuri limpahan nikmat tanpa harus kehilangan waktu-waktu berharga dalam kehidupan. Menyitir nasihat Winston Churchill, “Kita hidup dari apa yang kita dapatkan dan kita bahagia dari apa yang kita berikan.”

Dengan demikian, hikmah yang bisa petik dari Ramadhan adalah keseimbangan. Hidup membutuhkan harmoni. Dan harmoni terindah bagi orang-orang kaya adalah ketika mereka ikhlas memberi kepada yang membutuhkan. Memberi sepenuh cinta, seperti ditamsilkan oleh Rasulullah, memberi dengan tangan kanan yang tangan kiri sama sekali tak mengetahuinya. Dengan cara seperti ini, kondisi yang tercipta di tengah masyarakat adalah harmoni antara si kaya dan si miskin. Alangkah!

Kita pun bisa menjadikan pola hidup Nelayan sebagai cermin dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, hidup memang tidak sekadar sibuk setiap hari. Melainkan, apa sebenarnya yang sedang kita sibukkan. Kemampuan memaknai hidup bukanlah kecerdasan yang bisa datang begitu saja, melainkan buah dari pengalaman dan kesigapan bersyukur. Jika takaran kemampuan kita sudah mencapai limit, bukankah tak bijaksana apabila kita harus memaksa diri? Ramadhan, sejatinya, bukanlah bulan berlapar-berhaus semata. Ramadhan adalah bulan pelatihan, waktu yang tepat bagi kita untuk menyadari diri, tujuan hidup, dan hakikat penciptaan. Selama 30 hari kita menjalani ritual puasa haruslah menghadirkan pencerahan bagaimana semestinya kita berperang melawan hawa nafsu. Bukankah setelah menahan haus dan lapar sepanjang hari, meskipun halal melahap apa saja setelah berbuka, kita tetap harus menahan diri untuk menikmati segala hidangan secara berlebihan?

Pandangan hidup Nelayan, seperti tersirat dalam cerita di awal tulisan ini, adalah petuah yang patut kita renungkan. Di dalamnya termaktub pula pelajaran tentang bersyukur, berserah diri, dan bertanya pada nurani. Dengan bekal itu, cukuplah bagi kita mengarungi kerasnya hidup dan persaingan kehidupan. Tak perlu kita sikut kiri-kanan demi kebahagian semu—harta duniawi—dan melalaikan kebahagiaan sejati. Tak perlu kita memaksa diri lebih besar pasak dari tiang demi memuaskan ambisi duniawi—lantas gelap mata melahap yang bukan hak.

Jika pelajaran itu bisa kita terapkan dalam kedupan sehari-hari, pastilah posisi teratas sebagai negara terkorup bisa kita tinggalkan. Insya Allah!


Setelah itu, kita patut merayakan Lebaran. Berbagi penganan, berbagi permaafan. Yang sempit kita lapangkan, yang tersumbat kita lancarkan, yang tersimpan kita berikan. Inilah kebersamaan yang patut kita lestarikan sepanjang masa. Kemampuan berbagi, keseimbangan memberi dan menerima, keindahan memaafkan dan dimaafkan, semuanya adalah pelajaran terbesar yang kita dapatkan dari tirakat sepanjang Ramadhan.

Sejatinya, selepas Ramadhan kita kembali dalam kondisi fitri. Akan tetapi, bukan berarti kita leluasa untuk menodai kefitrian itu lagi. Kita boleh memilih jalan hidup seperti Si Pengusaha atau Si Nelayan. Tapi kita juga bisa menjadi di antara keduanya. Nah… (*)

Bogor, September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar