Jumat, 18 Desember 2009

[Artikel] Keteladanan dan Kemerdekaan Anak

Catatan: Tulisan ringan ini dimuat di Tabloid Assalamu'alaikum, Rubrik Usrah, Edisi Desember 2009.


KETELADANAN DAN KEMERDEKAAN ANAK
OLEH KHRISNA PABICHARA


SUATU ketika, seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran, berpesan kepada kita, “Anak kita bukanlah milik kita, melainkan milik kehidupan.” Petuah itu layak jadi landasan bagi setiap orangtua dalam membesarkan anaknya. Orangtua seyogianya memahami bahwa setiap anak dilahirkan bersama hak paling asasi; kemerdekaan. Kewenangan orangtua adalah “mengarahkan” agar hak paling asasi itu berjalan di atas rel kemanusiaan.


Pada hakikatnya, setiap anak bukanlah “jajahan” ayahnya ataupun “koloni” ibunya. Hanya saja, pada mulanya kemerdekaan itu masih harus bergantung pada kasih sayang orangtua. Meski demikian, jika kasih sayang orangtua itu ikhlas tanpa berharap apa-apa, maka nilai-nilai kemerdekaan sang anak tidak akan tercemari oleh rasa ketergantungan. Di balik kemerdekaan itu terdapat batasan yang harus diindahkan. Batasan itu adalah penyeimbang agar setiap anak mengerti, bahwa selain mempunyai hak, mereka juga memiliki kewajiban. Mereka harus bisa “memberi” sekaligus “menerima”. Artinya, harus ada keseimbangan.


Ketidakseimbangan kerap terjadi di muka bumi. Sejarah mencatat, sejak manusia mengenal peradaban, terjadilah peras-memeras, tindas-menindas, paksa-memaksa, dan kuasa-menguasai. Semuanya terjadi karena manusia lalai menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima, keseimbangan antara hak dan kewajiban. Sebagian besar manusia selalu ingin menerima dalam jumlah yang banyak, tetapi enggan banyak memberi.


Di sinilah posisi orangtua dibutuhkan. Melalui keteladanan, prinsip kemerdekaan bisa diterapkan. Fred G. Gosman, seorang peneliti dunia anak, mengatakan, “Seorang anak yang tidak diberi batasan akan tumbuh menjadi pembenci kebebasan.” Dalam hal ini, kemerdekaan tidaklah bermakna kebebasan mutlak, tetapi kebebasan yang disertai batasan. Maka tidak berlebihan jika Rasulullah Saw. berpesan, “Setiap anak dilahirkan fitrah, orangtualah yang membuat mereka jadi Majusi atau Yahudi.”


Sekarang, coba kita teropong kondisi aktual. Dewasa ini, ibu-ibu sibuk berdebat tentang pola asuh anak yang tepat di facebook atau lewat seminar di hotel-hotel mewah, sementara anaknya dibiarkan bersama pengasuhnya. Bapak-bapak bersilang pendapat hingga larut malam tentang metode merawat anak, setibanya di rumah mereka tidak sempat lagi mengecup kening anaknya, apalagi memberinya kasih sayang.


Tentu saja tak ada yang salah jika kaum ibu memilih bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Pun, tak salah jika kaum bapak banting-tulang menghidupi keluarganya. Yang salah jika mereka lebih memilih kemegahan harta ketimbang menumbuhkan cinta kasih bersama keluarga. Padahal, alangkah indahnya, jika keduanya bisa diraih tanpa harus mengorbankan salah satunya. Anak boleh dijejali dengan harta, tetapi cinta jangan sampai terlupa.


Anehnya, banyak orangtua yang menganggap anaknya bagai burung piaraan; disediakan sangkar yang bagus, dan diberi pakan yang cukup. Akibatnya, sang anak kehilangan kemerdekaan dan kebebasan yang dilimpahkan Allah kepadanya bersama kelahirannya. Mereka dilimpahi kemewahan, tetapi mereka tidak merasakan indahnya berbagi cerita, menemukan jawaban pada masa ”penuh pertanyaan”, dan mendapat ”perhatian” ketika mereka butuh ”diperhatikan”.


Hal remeh yang paling sering orangtua lakukan, ketika menerapkan nilai-nilai kejujuran. Tidak banyak orangtua yang sanggup berbesar hati menerima kenyataan ketika mendapati anaknya “berbohong”. Padahal mereka sendiri yang tanpa sadar menerapkan “kurikulum kebohongan” dalam kehidupan yang menyehari. Semisal pada saat menjawab telepon, sang anak diminta menjawab: orangtuanya sedang tidak di rumah. Jika itu terjadi, semestinya orangtua tidak menuntut lebih pada anaknya, karena merekalah yang menciptakan “tradisi berbohong” itu.

KHRISNA PABICHARA, penyuka sastra dan motivator pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar