Jumat, 13 Agustus 2010

[Review] Buku Kamus Nama Indah Islami

Catatan: Tulisan ini saya temukan setelah berjalan-jalan di dunia maya, tepatnya di http://luckty.wordpress.com/2010/07/07/review-kamus-nama-indah-islami/. Saya membacanya, merasa terharu, dan sangat bahagia karena buku yang saya tulisa bareng dengan sahabat, Bani Shahida, dibaca dan diapresiasi oleh Bung Lukcty Si Pustakawan. Terima kasih dan takzim selalu.


[Review] Buku Kamus Nama Indah Islami
Oleh Luckty Si Pustakawan 

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita dan bertanya pada diri sendiri, apakah arti nama kita? Err…saya pun pernah berpikir begitu. Di dalam nama islami tidak ada, di kamus bahasa Inggris pun tidak ada. Makanya saya pernah bertanya langsung pada mama. Jika ada pepatah bilang, apalah artinya sebuah nama. Oh, ternyata nama jangan dianggap remeh.

Nama itu doa. Sebuah harapan agar sang pemilik nama memiliki sifat, nasib, atau rezeki yang sama seperti nama yang disandangnya. Diyakini banyak orang, nama juga mempengaruhi wibawa, kemuliaan, dan kebahagiaan seseorang.

Nama-nama islami ini selain mencakup dari Arab, Persia, Turki dan Iran ternyata mencakup juga nama Asmaul Husna, Malaikat Allah, Nabi dan Rasul, putra-putri Rasulullah Saw, dan istri-istri nabi disertai arti dan penjelasannya.

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik dan bermakna dari orangtuanya. Maka, ketika memilih sebuah nama, orangtua harus menyadari dan meyakini bahwa nama yang dipilihnya itu akan membawa berkah bagi kehidupan anaknya kelak di kemudian hari.

Rasulullah bersabda, “Dari rahim siapa saja seorang bayi dilahirkan, ia harus diberi nama yang baik dan pendidikan yang memadai. Dan ketika dia sudah mencapai umur yang matang, ia mesti menikah.”

Guru agama sewaktu saya SMP pernah bercerita bahwa ada seorang kakak kelas bernama Musyrika. Mungkin orangtuanya mengira, nama Arab itu bagus. Padahal tidak semua nama Arab itu baik. Akhirnya digantilah namanya menjadi Musliha.

Selain memuat daftar nama indah pilihan, buku ini juga diperkaya dengan ulasan tentang rahasia dibalik nama, cara mudah merangkai nama penuh makna, akikah, fikih kelahiran bayi, bahkan bagaimana mendongkrak kecerdasan anak. Inilah buku tentang nama indah islami terlengkap dan terpopuler.

Buku ini saya persembahkan khusus buat sahabat saya yang baru saja melahirkan putra tercinta, yaitu pasangan Ima Khotimatunnisa dan Acep Muslim. Nama mereka sungguh islami, semoga anak mereka kelak menjadi anak yang soleh dan berbakti bagi agam, nusa dan bangsa. Amin.

Judul : Kamus Nama Indah Islami
Penulis : Bani Syahida & Khrisna Pabichara
Pewajah Isi : Nur Aly
Desain Sampul : Teguh B. Putro
Penerbit : Zaman
Terbit : Mei 2010
Tebal : 217 hal.

Rabu, 30 Juni 2010

KOLECER & HARI RAYA HANTU: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal

Catatan: Penulis yang anggitan ceritanya termuat di Kolecer & Hari Raya Hantu: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal masing masing Benny Arnas, Cessilia Ces, Gunawan Maryanto, Hanna Fransiska, Iwan Soekri, Khrisna Pabichara, Nenden Lilis A, Noena, Oka Rusmini, Sastri Bakry, Saut Poltak Tambunan.


Kolecer & Hari Raya Hantu: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal

BERANGKAT dari beragam latar belakang pendidikan, profesi, dan usia, buku ini diikat oleh satu simpul nilai yang menarik: Kearifan lokal. Penulis-penulis cerita pendek dalam buku ini membabar tema yang sama dengan sudut pandang dan gaya penceritaan berbeda. Lokalitas didaras dengan apik dan penuh pikat. Semua cerita seolah mengajak kita kembali ke dunia yang hangat, alam yang pernah diakrabi, dan suasana yang selalu ingin diputar-ulang tidak semata dalam kenangan.

Cerita-cerita yang disajikan adalah rangkain peristiwa yang mungkin asing bagi mereka yang lahir dan besar di kota besar, tetapi menjadi semacam "kunci pembuka" imajinasi yang dengan santun menuntun kita memasuki dunia "seolah-olah". Seolah-olah kita sendiri yang mendengar nyanyian khas kolecer, seolah-olah kita sendiri yang berjalan di atas pematang sawah, seolah-olah kita sendiri yang mendapati hantu di hari raya, seolah-olah kita sendiri yang rindu kampung halaman, dan pelbagai seolah-olah lainnya yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Sebagai salah seorang dari 11 penulis yang bersepakat membabar cerpen-cerpennya dalam buku ini, saya mengusung cerita dengan latar Sulawesi Selatan sebagai tempat segala ingatan dan kenangan mengalir. 

Ini pendapat DR. Free Hearty tentang cerpen-cerpen saya yang dimuat dalam buku ini.

Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang, dan Selasar. Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua. Ketika kekasih bisa direbut, maka bukan mistis yang bekerja, tetapi hati yang patah lebih menunjukkan kekuatan akan kehancuran atau untuk menghancurkan. Orang yang merasa diri hebat dan terhormat sering merasa pantas untuk membalas dendam demi kehormatan yang berbau gengsi tetapi kadang mengorbankan harga diri. Maka orang sering salah membedakan yang harus dipertahankan, Gengsi atau harga diri? Itulah yang ditampilkan Khrisna dalam Pembunuh Parakang.

Laduka berkisah tentang kerinduan perantau yang akhirnya memilih pulang, meski dengan tangan hampa. Karena kepulangan perantau biasa membawa kesuksesan. Tetapi kepulangan lelaki Laduka hanya membawa kerinduan yang akhirnya berakhir tragis dalam sebuah tragedi. Hanya arwah dirinya yang pulang. Tradisi pulang dengan sukses atau ketidaksuksesan harus diputus dengan berpulang?

Dalam Selasar, Khrisna menyuguhkan cinta yang tak lekang dan kukuh disetiai. Si lelaki patah tetap datang menunggu setiap hari di selasar kenangan rumah orangtua si gadis, kendati ia tahu itu sia-sia. Ia mencoba tak percaya bahwa Si Gadis yang dia cintai terkena doti—mantra ampuh penakluk perempuan—dari Rangka, lelaki kaya teman sepermainan masa kecil yang beristri dua beranak delapan itu. Nyatanya, si gadis meninggalkannya dan nekad dibawa silariang—kawin lari. 

Jadi, tunggu tanggal edarnya. Buku ini layak Anda miliki.

Salam takzim,
Khrisna Pabichara 

Jumat, 25 Juni 2010

Veronika Memutuskan Mati

Judul buku: Veronika Memutuskan Mati
Judul Asli: Veronika Decides to Die
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Lina Yusuf
Penyunting: Candra Gautama
Cetakan: Keenam, November 2009
Halaman: viii + 258 halaman, 11,5 cm x 19 cm
Penerbit: KPG (Kepustakaan Gramedia Populer)


VERONIKA MEMUTUSKAN MATI
Khrisna Pabichara


1

"ADA saat-saat di mana bertahan hidup saja sudah merupakan tindakan yang berani." Begitu petuah Lucius Annaeus Seneca dalam bukunya Epistulae Morales ad Lucilium (Clarendon, 1965). Ya, bertahan hidup itu tidaklah mudah. Butuh upaya, butuh usaha. Persaingan sengit--kadang saling sikut dan saling sikat--memaksa kita untuk bersikeras meneguhkan hati. Jika tidak, akan lahir putus asa, kekecewaan, dan kepedihan. Ujung-ujungnya: hasrat untuk mati.

Inilah yang dibabar Coelho dalam novel Veronika Memutuskan Mati. Seperti lumrahnya novel-novel Coelho lainnya, novel ini pun menghadirkan rupa-rupa pertanyaan yang menuntun kita dengan lembut ke ruang permenungan, yang dapat lebih mengayakan pemahaman kita ihwal hakikat kehidupan. Novel ini berkisah tentang Veronika yang merasa tak sanggup lagi menanggung beban kehidupan. Segala terasa amat berat baginya. Maka, ia putuskan bunuh diri. Alkisah, empat bungkus pil tidur yang dilahapnya sekali telan, ternyata belum cukup mengantarnya bertemu dengan Malaikat Maut. Takdir berkehendak lain. Ia diselamatkan seseorang. Begitu sadar, Veronika menemukan dirinya di tengah kerumunan orang-orang gila.

Ya, ia terlempar ke rumah sakit jiwa, bersama orang gila-orang gila lainnya--yang dicemooh masyarakat lainnya karena hasrat, impian, perilaku, dan sikap hidup mereka menyimpang dari yang dianggap kehidupan normal oleh masyarakat lainnya. Padahal, Veronika tidak merasa gila. Satu-satunya yang ia yakini hanyalah bahwa ia ingin mati.


2

TERSEBUT dalam sebuah riwayat, seorang tukang sihir dengan kesaktian mahaampuh bermaksud menghancurkan seluruh kerajaan. Ia masukkan ramuan ajaib ke dalam sumur tempat semua orang minum. Siapa pun yang meminum air itu akan menjadi gila. Keesokan harinya, semua penduduk kerajaan itu mengambil air di sumur itu dan meminumnya, kecuali Raja dan keluarganya yang minum dari sumur lain. Akibatnya, selain Raja dan keluarganya, seluruh penduduk kerajaan itu gila. 

Melihat kondisi rakyatnya, Raja berusaha mengendalikan keadaan. Aturan untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kesehatan umum mulai dimaklumatkan. Tetapi, polisi dan kepala polisi yang juga meminum air dari sumur bertulah itu menganggap aturan yang ditetapkan Raja sangatlah aneh dan musykil diterapkan. Rakyat pun menuding Raja telah gila karena membuat aturan yang tak bisa diterima oleh akal mereka. Lantas, rakyat pun meminta Raja segera turun tahta--karena mereka tak mau diperintah oleh orang gila. 

Raja putus asa dan berniat turun tahta. Namun, Ratu memintanya bersabar dan meminum air di sumur bertulah itu. Alhasil, setelah minum air sumur itu, Raja pun bersikap gila sama gilanya dengan rakyatnya.

Petikan kisah di atas dapat kita temukan dalam novel ini di halaman 42. Sepertinya Coelho hendak bertanya kepada kita, "Sebenarnya siapa yang gila?"


3

APA saja yang ditawarkan novel ini? Semula saya berpikir pastilah keindahan pembacaan yang ditawarkan Coelho sama seperti novel-novel sebelumnya. Ternyata, saya tenggelam dalam kenikmatan membaca. Setiap demi setiap lembar serasa menghadirkan kejutan yang menyenangkan, meneduhkan, dan menantang. Hati saya seolah diseret ke sebuah negeri misterius yang mencengangkan dan menakjubkan. 

Sebutlah kisah menggelitik seperti tertera pada bagian dua di atas. Apakah manusia yang dianggap normal adalah mereka yang patuh pada kelaziman, sementara mereka yangg bertingkah di luar kelaziman itu akan dicap gila? Benarkah yang gila itu Rakyat, Raja dan keluarganya, atau Sang Penyihir yang menyebabkan kegilaan itu? Bagaimanakah menentukan sesuatu disebut normal atau gila, baik atau buruk, mulia atau jahat? 

Tidak berhenti di sana, Coelho juga mengajak batin saya untuk menikmati perjalanan spiritual. Saya seolah diajak ke labirin indah tentang hakikat penciptaan manusia dan makrifat keberadaan saya sebagai manusia. Pun pergolakan psikologis yang menyingkap tabir keindahan di balik kegelapan, bahwa tak semua yang menyakitkan selalu harus disikapi dengan air mata. Dan, lebih mengejutkan lagi, Coelho juga mengajak saya menyaksikan pertarungan klasik antara kesadaran seksual dan cinta. 

Maka, setamat membacanya, saya yakin tak rugi menyempatkan diri membaca novel ini. 


4

APA pun yang terjadi dan menimpa kita di kehidupan ini, selalu ada hikmah dan rahasia yang kerap tak kita sadari. Seperti Veronika yang lebih memilih mati ketimbang menikmati hidup yang serba gelap, serba hitam. 

Dan, seperti pesan Seneca, bertahan hidup itu sulit. (*)

Jakarta, Juni 2010