Tampilkan postingan dengan label Saut Poltak Tambunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saut Poltak Tambunan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Bertualang di Meja Makan: Sebuah Epilog

Catatan: Tulisan ini dihajatkan sebagai epilog untuk kumpulan cerpen Ayahanda Saut Poltak Tambunan yang dijuduli "Sengkarut Meja Makan". Selamat datang buku baru!


Bertualang di Meja Makan: Sebuah Epilog
Oleh Khrisna Pabichara


Jika ingin dikenang sejarah, menulislah. Atau lakukan sesuatu yang layak ditulis.
Benjamin Franklin



(1)

Pesan pendek Saut Poltak Tambunan (selanjutnya kita sebut SPT)—yang kerap saya sebut sebagai Ayahanda—untuk memilihkan 15 dari 22 cerita anggitannya yang, konon, akan disampaikan ke khalayak pembaca dalam sebentuk buku, mengejutkan saya di satu pagi yang masih bergelimun embun. Menolaknya adalah sesuatu yang mustahil, sedangkan bersedia berarti pula menyatakan kesanggupan menyingkirkan tujuh cerita yang, bagi saya, sebenarnya juga menarik untuk disertakan. Tetapi, konsekuensinya adalah hanya 15 cerita yang bakal terangkum di buku yang sedang dalam genggaman Anda, “Sengkarut Meja Makan”.

Alhasil, saya pun berkenan menjadi pemilih. Ada tiga alasan dasar yang saya gunakan sebagai alat takar pemilihan cerita. Pertama, cerita terpilih haruslah memiliki intensi yang kuat untuk “membetot” hati pembaca. Kedua, cerita terpilih—semestinya—bisa dicerap oleh setiap pembaca. Ketiga, cerita terpilih memiliki keunikan yang khas. Subjektif memang, karena berangkat dari “rasa baca” yang saya miliki. Tapi demikianlah kewajiban seorang pemilih. Konsekuensinya, boleh jadi, pembaca disuguhi cerita yang kemungkinannya akan lebih seandainya yang jadi kurator bukan saya. Meski demikian, harapan saya—terlebih lagi karena kepiawaian dan kemahiran SPT meracik ide dan imajinya—Sengkarut Meja Makan dapat menghadirkan keriangan, kenyamanan, keindahan, dan ketakziman pembacaan.

Sesungguhnya, kepekaan gramatikal dan kemampuan estetis, seiring dengan perjalanan kepengarangan SPT, sangat terasa dalam setiap cerita terpilih. Memang pada satu-dua cerita masih kental aroma konvensional, tetapi keliaran dan kecerdikan kemasan membuat yang satu atau dua itu tetap memikat. Kemampuan menikam di awal cerita, lekukan indah di tengah peristiwa, dan kejutan di akhir cerita selalu berpotensi menghadirkan sesuatu yang lain; sesuatu yang menghadirkan penderitaan dan kesenangan, ilusi dan ironi, atau pertengkaran sengit antara harapan dan kenyataan.

Tak perlu saya tuturkan kenapa 15 cerita bisa terpilih—yang sekaligus berarti tujuh cerita dikembalikan ke dalam almari dokumentasi—karena akan menyita banyak ruang. Tapi, setidaknya, saya akan membabar kenapa dan bagaimana saya memilih. Lebih spesifik lagi, interpretasi yang berarti menafsirkan karya sastra. Sederhananya, interpretasi ini hanya sebentuk apresiasi yang bukan dikehendaki sebagai penjelasan makna atau kedalaman cerita terpilih. Saya menamainya keriangan pembacaan.

Karenanya, mari kita mulai tualang pembacaan.

(2)

Kita semua menyadari bahwa mengarang adalah profesi yang membutuhkan cinta tak tepermanai dan gairah tak berkesudahan. SPT telah membuktikan cinta dan gairah itu lewat ketekunan dan keseriusannya. Seolah tak hendak berhenti, cerita terus mengalir tanpa mengenal kata usai atau tetapi. Bahkan, hingga kini, usia tak bisa menahan ambisi dan laju kreatifnya.

Oleh karena karya sastra kerap sangat dekat dengan kenyataan, Kampung Tamim seolah menghadirkan teguran kepada kita semua tentang bagaimana semestinya memelihara kenangan atau malah sejarah. Ketika membaca Kampung Tamim, ingatan saya langsung berkelana ke Benteng Somba Opu di Makassar, artefak “kegemilangan” masa lalu, yang kini hendak disulap menjadi taman permainan berwajah modern. Di sekitar kita banyak pula kebun atau sawah yang tiba-tiba ditanami beton, atau hutan yang disihir menjadi lapangan golf, atau gunung indah yang dimaraki villa-villa berpenghuni sekali seminggu, atau ihwal lainnya. Dan, tidak banyak orang yang bisa sekuat Romli dalam usaha mempertahankannya.

Tak jauh berbeda, Tas untuk Pak Bakri menegaskan hal yang sama. Betapa banyak guru SD, yang semasa kecil bersentuhan langsung dengan kita, masih seperti dulu. Tetap bersahaja, tetap sederhana. Dan banyak juga di antara kita yang tergerak hatinya untuk memberikan sesuatu—yang sebenarnya belum tentu berterima—kepada pahlawan kita itu. Cerita ini seolah mengingatkan kita untuk berani menoleh ke belakang.

Lalu tibalah kita di Meja Makan. Bukan, bukan karena hendak menyantap suguhan yang telah disajikan, melainkan melahap kenangan dan ingatan terhadap orang tua. Pun tentang kepahitan yang lebih rendah memandang yang lebih tinggi, meskipun itu masih terhitung kerabat dekat. Atau, katakan saja, bagaimana perasaan yang miskin ketika harus berhadapan dengan saudara kandungnya yang kaya. Cerita ini tidak semata membabar intrik dalam sebuah negara kecil bernama keluarga, tetapi juga menyingkap tirai yang selama ini membatasi kekerabatan kita terhadap sesama, terutama ketika itu berhubungan dengan status, strata sosial, atau dominasi. Maka, tidaklah keliru jika cerita ini didapuk SPT sebagai judul buku.

Masih berkait dengan kedalaman cinta, Aku Punya Papa seperti cermin yang tak henti memantulkan cahaya cinta. Tersebutlah Maya Gempita yang sepanjang usianya belum pernah melihat apalagi dekat dengan bapaknya, tiba-tiba harus bertemu dengan “tokoh” yang selama ini dirindui sekaligus dibencinya, “tokoh” yang dinamainya sebagai aktor intelektual yang menyebabkan dirinya sering diciderai oleh lecehan teman-temannya karena tak berbapak. Sebaliknya, Sang Bapak, menjauh dari keluarganya bukan karena tak cinta kepada keluarganya, melainkan karena dipaksa menjauh tersebabkan alasan yang sama sekali musykil untuk dipahaminya: dakwaan tanpa pengadilan sebagai “tokoh komunis”. Kenyataan bahwa banyak tuduhan salah kaprah oleh penguasa Orde Baru yang dialamatkan kepada orang-orang tak berdosa adalah salah satu warisan sejarah yang harus ditanggung anak-cucu korban. SPT menyuguhkan cinta kepada kita lewat sebentuk ironi.

Lantas, apa yang kita pahami tentang masa depan? Tak teramal, tak terbaca. Begitulah sekiranya yang dituturkan SPT lewat Sebentar Lagi 2011. Tokoh Bonggar menjadi sosok yang dirindu sekaligus yang dibenci. Kedatangannya tetap dinantikan, dengan waswas bercampur harapan. Betapa banyak di sekitar kita “tokoh” yang berkuasa menjadi lebih arogan dibanding semasa masih sebagai orang biasa, dan uniknya banyak yang tetap “menyembahnya” dengan cibiran ketika berada di belakangnya. Dualitas yang terawat baik di negeri tercinta ini. Dan, masa depan, yang disebut SPT sebagai 2011, betul-betul tak teramal.

Begitulah, jika saya diminta menyelam lebih dalam, banyak yang bisa disingkap dari cerita-cerita anggitan SPT ini. Karenanya, khalayak pembaca lebih berwenang untuk menerjemahkan sendiri Sengkarut Meja Makan ini.

(3)

Akhirnya, sampailah buku ini ke hadapan pembaca. Suspensi dan intensi yang coba dihadirkan SPT, semoga bisa menjadi teman setia kita dalam menikmati waktu luang—atau malah waktu sengaja kita luangkan—sembari menikmati teh hangat dan makanan ringan di langkan atau di selasar rumah. (*)

Khrisna Pabichara, Pengarang buku laris Mengawini Ibu.

Rabu, 16 Februari 2011

Biodata Amburadul: Bukan untuk Melamar Pekerjaan

Catatan: Seandainya bukan karena diminta oleh Helga Inneke Worotitjan, mungkin biodata amburadul ini tak saya tulis. Dan, jujur saja, Cah Ndeso ialah sumber inspirasi terbesar sehingga saya menuliskannya dalam bentuk seperti ini. Selain terkesan unik, juga terasa lebih nyastra--oalah, kok malah bawa-bawa sastra--dan enteng nulisnya.


Biodata Amburadul: Bukan untuk Melamar Pekerjaan
Benar-benar ditulis sendiri oleh Khrisna Pabichara



Khrisna Pabichara lahir 10 November 1975 di Makassar. Sebenarnya lahir di Jeneponto, tapi tersebabkan semasa SD takut kalau Jeneponto tidak tampak di peta, maka ia ganti ketika mengajukan data sebelum ujian kelulusan. Untungnya, tidak perlu akikah ulang akibat perubahan tempat lahir dan tahun kelahiran yang lebih dimudakan setahun--sebenarnya lahir tahun 1974.

Putra kelima dari pasangan Yadli Malik Dg. Ngadele dan Shafiya Djumpa ini terlahir dengan cara yang ajaib, yakni dalam posisi sungsang dan menyelempangkan ari-ari. Lebih unik lagi, karena harus terpisah dari sang bunda, hanya sempat disusui selama tiga bulan. Yang pasti, sejak kecil dilimpahi bakat narsis yang luar biasa.

Semasa SMA mengakrabi tradisi Makassar, termasuk teater rakyat dan kesenian daerah lainnya, setelah memprakarsai terbentuknya Teater Tutur Jeneponto bersama Agus Sijaya Dasrum, Ahmarullah Sahran, dan Syarifuddin Lagu. Sempat pula menjadi penyiar di sebuah radio swasta, pengalaman yang membuatnya kerap gemetar ketika mendapat tugas mewawancarai tokoh yang diundang untuk mengudara. Beberapa kali tampil sebagai juru bicara untuk cerdas cermat antarsekolah atau kelompencapir--semasa jayanya Departemen Penerangan. Ia mendapat gelar singa podium setelah 3 tahun berturut-turut memenangkan Lomba Pidato Tingkat Pelajar SLTA se-Sulsel dari 1989-1991, Pelajar Cerdas karena kerap memenangi Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja tahun 1990, dan Wartawan Muda Berbakat setelah menggondol juara pada Lomba Mading Se-Sulsel Tahun 1990.

Pada 1996 sempat berbakti sebagai guru Matematika, Fisika, dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Tanetea setelah berhenti sebagai tenaga audit di sebuah lembaga perbankan swasta. Setelah itu hijrah ke Jakarta dengan niat mulia untuk menjadi penulis--karena hasutan guru SMA-nya, Asia Ramli Prapanca--yang dibuktikan secara serius dengan mencantumkan "penulis" di segala tanda pengenal kependudukannya. Tapi semuanya tak semudah membalik telapak tangan, manuskrip buku yang diajukannya ke sebuah penerbit ditolak mentah-mentah karena dianggap belum punya nama. Alhasil, malah terjun sebagai pamong desa di Desa Pangkal Jaya dan Desa Bantar Karet--di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Lepas dari masa pengabdian di tengah masyarakat (kesannya disetel lebih heroik), ia mulai mempelajari dunia neurologi secara serius dan menggeluti profesi sebagai trainer dan motivator semenjak 2000. Hajat menjadi penulis baru terwujud pada 2007 ketika Kolbu berkenan menerbitkan buku pertamanya, 12 Rahasia Pembelajar Cemerlang. Sejak itu, dunia perbukuan menjadi sesuatu yang tak bisa, atau tak akan, ditinggalkannya. Maka bersentuhanlah ia dengan para praktisi perbukuan semisal Bambang Trim, Hernowo, dan yang lainnya.

Kecelakaan terjadi ketika tahun 2008 berkenalan dengan Bamby Cahyadi, Aulya Elyasa, dan Atisatya Arifin. Kebiasaan menganggit puisi--yang ini karena pengaruh M. Aan Mansyur--terlecut kembali karena pengaruh ketiganya. Keinginan menjadi pengarang membuatnya "bersentuhan" dengan banyak pegiat sastra, terutama Gemi Mohawk, Damhuri Muhammad, Maman S. Mahayana, Putu Wijaya, Hanna Fransisca, Hudan Hidayat, Hasan Aspahani, Kurnia Effendi, Saut Poltak Tambunan, Endah Sulwesi, dan koleganya saat ini di Kayla Pustaka--Salahuddien Gz. Kecelakaan itulah yang menyebabkannya tercebur ke dunia prosa, dan mulai mengarang cerpen pada bulan Agustus 2009. Anehnya, kecelakaan itu pula yang membidani kelahiran bukunya, Mengawini Ibu: Senarai Kisah yang Menggetarkan.

Sempat menderita alergi yang tak terdata di dunia kedokteran, yakni alergi partai--tolong jangan diterjemahkan sebagai separuh kotoran--terutama karena pernah mengalami trauma politik ketika tidak mau memilih "partai" tertentu yang dianjurkan oleh Pak RT di wilayah kediamannya. Belakangan ia malah kerap bersentuhan dengan akademisi, pejabat, dan politisi, terutama yang berhubungan dengan dunia perbukuan. Sebut misalnya ketika terlibat sebagai tim penyunting buku Komaruddin Hidayat, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Anas Urbaningrum, Ahmad Nizar Shihab, Rokhmin Dahuri, Riza Shihbudi, dan yang lainnya. Sekarang ia sedang sibuk menggarap buku Terapi Ikhlas, Nuwun Sewu Pak Beye, dan The Dance of Parakang.

Satu-satunya mimpinya yang belum terwujud adalah membangun kafe baca, istana buku yang sekaligus diharapkannya menjadi rumah kreatif bagi siapa saja yang mencintai buku.

Jakarta, Februari 2011

Rabu, 30 Juni 2010

KOLECER & HARI RAYA HANTU: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal

Catatan: Penulis yang anggitan ceritanya termuat di Kolecer & Hari Raya Hantu: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal masing masing Benny Arnas, Cessilia Ces, Gunawan Maryanto, Hanna Fransiska, Iwan Soekri, Khrisna Pabichara, Nenden Lilis A, Noena, Oka Rusmini, Sastri Bakry, Saut Poltak Tambunan.


Kolecer & Hari Raya Hantu: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal

BERANGKAT dari beragam latar belakang pendidikan, profesi, dan usia, buku ini diikat oleh satu simpul nilai yang menarik: Kearifan lokal. Penulis-penulis cerita pendek dalam buku ini membabar tema yang sama dengan sudut pandang dan gaya penceritaan berbeda. Lokalitas didaras dengan apik dan penuh pikat. Semua cerita seolah mengajak kita kembali ke dunia yang hangat, alam yang pernah diakrabi, dan suasana yang selalu ingin diputar-ulang tidak semata dalam kenangan.

Cerita-cerita yang disajikan adalah rangkain peristiwa yang mungkin asing bagi mereka yang lahir dan besar di kota besar, tetapi menjadi semacam "kunci pembuka" imajinasi yang dengan santun menuntun kita memasuki dunia "seolah-olah". Seolah-olah kita sendiri yang mendengar nyanyian khas kolecer, seolah-olah kita sendiri yang berjalan di atas pematang sawah, seolah-olah kita sendiri yang mendapati hantu di hari raya, seolah-olah kita sendiri yang rindu kampung halaman, dan pelbagai seolah-olah lainnya yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Sebagai salah seorang dari 11 penulis yang bersepakat membabar cerpen-cerpennya dalam buku ini, saya mengusung cerita dengan latar Sulawesi Selatan sebagai tempat segala ingatan dan kenangan mengalir. 

Ini pendapat DR. Free Hearty tentang cerpen-cerpen saya yang dimuat dalam buku ini.

Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang, dan Selasar. Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua. Ketika kekasih bisa direbut, maka bukan mistis yang bekerja, tetapi hati yang patah lebih menunjukkan kekuatan akan kehancuran atau untuk menghancurkan. Orang yang merasa diri hebat dan terhormat sering merasa pantas untuk membalas dendam demi kehormatan yang berbau gengsi tetapi kadang mengorbankan harga diri. Maka orang sering salah membedakan yang harus dipertahankan, Gengsi atau harga diri? Itulah yang ditampilkan Khrisna dalam Pembunuh Parakang.

Laduka berkisah tentang kerinduan perantau yang akhirnya memilih pulang, meski dengan tangan hampa. Karena kepulangan perantau biasa membawa kesuksesan. Tetapi kepulangan lelaki Laduka hanya membawa kerinduan yang akhirnya berakhir tragis dalam sebuah tragedi. Hanya arwah dirinya yang pulang. Tradisi pulang dengan sukses atau ketidaksuksesan harus diputus dengan berpulang?

Dalam Selasar, Khrisna menyuguhkan cinta yang tak lekang dan kukuh disetiai. Si lelaki patah tetap datang menunggu setiap hari di selasar kenangan rumah orangtua si gadis, kendati ia tahu itu sia-sia. Ia mencoba tak percaya bahwa Si Gadis yang dia cintai terkena doti—mantra ampuh penakluk perempuan—dari Rangka, lelaki kaya teman sepermainan masa kecil yang beristri dua beranak delapan itu. Nyatanya, si gadis meninggalkannya dan nekad dibawa silariang—kawin lari. 

Jadi, tunggu tanggal edarnya. Buku ini layak Anda miliki.

Salam takzim,
Khrisna Pabichara