Minggu, 04 April 2010

[Artikel Ringan] Mengapa Kita Sulit Belajar?

Catatan: Tulisan ini dimuat di Rubrik OkeLearning, www.inioke.com. Semoga bermanfaat.
Sila diklik juga tautan ini, http://www.inioke.com/?mod=konten&id=955, dan Anda akan menemukan tulisan ringan lainnya tentang kinerja otak. 

Mengapa Kita Sulit Belajar?

DIAN adalah murid sebuah sekolah menengah di Makassar. Ia mengalami kesulitan belajar. Guru dan orangtuanya juga mengeluhkan kemampuan daya ingatnya. Selain itu, Dian juga sulit konsentrasi dan mudah putus asa. Itu sebabnya mengapa dia kurang bersemangat belajar dan mengerjakan tugas sekolah.  Hari ini guru atau orangtuanya mulai mengajarkan sesuatu, lima belas menit kemudian Dian sudah lupa. 
Hal lain menimpa Alfi, siswa sebuah madrasah di Parung, Bogor. Dia sulit fokus, perhatiannya mudah terganggu. Matanya selalu melirik ke mana-mana. Tubuhnya tak mau diam, selalu ingin bergerak. Setiap diingatkan, dia diam sejenak, sesudah itu kumat lagi. Kondisi seperti itu berlangsung terus-menerus. Bukan itu saja, kadang dia juga suka usil mengganggu temannya yang sedang asyik belajar.
Apa yang menimpa Dian dan Alfi banyak dialami oleh siswa yang lainnya. Potensi belajar mereka akan menurun karena kerap mengalami gangguan atau kesulitan belajar (learning disability). Kesulitan belajar ini biasanya terjadi pada saat mereka juga mengalami hambatan sosial emosional. Akibatnya, mereka (1) tidak teliti, tidak semangat, (3) tidak konsentrasi, (4) bersikap masa bodoh, (5) tidak menyelesaikan tugas, (6) mudah menyerah, (7) sulit beradaptasi, dan (8) suka mengganggu. Dan, buahnya adalah (9) prestasi belajar anjlok.
Pada sebuah seminar tentang Merangsang Minat Belajar di Kerinci (Januari 2010), Makmur Maradona, seorang pemerhati pendidikan, bertanya tentang faktor-faktor penyebab gangguan belajar. Baiklah, kita simak bersama beberapa virus penyebab gangguan belajar itu.
1.     Faktor Genetik. Pepatah mengingatkan kita, “Buah jatuh tak jauh dari batangnya.” Begitu pula dengan riwayat kesulitan belajar itu. Jika orangtuanya memiliki riwayat “kesulitan belajar”, maka anaknya pun memiliki kecenderungan yang sama. Pendek kata, jika dulu orangtuanya menderita virus “sulit belajar”, maka tidak perlu panik jika anaknya mengalami hal yang sama. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengobati dan menyembuhkan penyakit itu.
2.     Faktor Perkembangan Kematangan. Setiap anak memiliki tingkat perkembangan kematangan yang berbeda, meskipun usianya sama. Ada yang cakap di satu bidang, namun lemah di bidang lainnya. Ada malah yang cenderung “lemah” di semua bidang pengetahuan. Ada anak yang sudah lancar lari di usia 14 bulan, sementara anak yang lainnya masih sulit berdiri di usia yang sama. Jadi, butuh kesabaran yang khas dan khusus.
3.     Pengaruh Emosi. Suasana hati sangat mempengaruhi tingkat konsentrasi. Ketika hati kita sedang sedih, kecewa, marah, atau suasana hati lain yang tidak stabil, akan sulit bagi kita untuk fokus atau berkonsentrasi.
4.     Metode Belajar. Nah, faktor ini yang paling kerap kita abaikan. Padahal, ketika kita tidak menyukai satu metode belajar, maka berat bagi kita untuk “menyukai” apalagi larut dalam suasana belajar. Kita selalu membutuhkan suasana belajar yang “menyenangkan” dan “menantang”. Yang berbeda dari biasanya. Jadi sesekali, cari belajar dengan gaya yang baru.
5.     Tingkat Inteligensi. Pengaruh tingkat inteligensi juga ada dalam proses belajar. Pada prinsipnya, tingkat inteligensi dibagi tiga, yakni (1) di bawah rata-rata, (2) rata-rata, dan (3) di atas rata-rata. Lazimnya lagi, yang kerap mengalami gangguan belajar adalah mereka yang memiliki tingkat inteligensi di bawah atas di atas rata-rata. Sementara itu, perkembangan inteligensi juga banyak dipengaruhi oleh perkembangan emosional. Jadi, jangan semata memikirkan untuk mengisi otak, tetapi juga harus memperhatikan ihwal mengisi “asupan hati”.
Begitulah. Setiap kita pasti pernah mengalami gangguan ketika belajar. Namun, cara kita menyikapi dan mengatasi gangguan itu yang semestinya kita perhatikan. Bukan sibuk mengeluh atau berputus asa.
Sekarang saatnya bangkit![*]

Jakarta, Maret 2010
Khrisna Pabichara

Sabtu, 03 April 2010

Cerpen "ULU BADIK ULU HATI"

Catatan: Cerpen ini dimuat di Rebana, Analisa Medan, edisi Minggu (04/04/2010).

Sila diklik juga tautan ini: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49980:ulu-badik-ulu-hati&catid=113:cerita-pendek&Itemid=122



Ulu Badik Ulu Hati
Khrisna Pabichara

1

GEGER. Hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan situasi kampung Ciguha. Sebuah kampung berhawa sejuk di kaki Gunung Pongkor, ketika silang sengketa petang dan malam, mulai terjadi. Betapa tidak, sosok Hasan -jawara yang ditakuti dan disegani- ditemukan sedang terkapar bermandi darah di mulut kampung, dengan sebilah badik tertancap tepat di ulu hatinya.

Badik berulu elok itu, milik Sampara, jagoan lain yang juga sangat ditakuti dan disegani dan dikenal sebagai sahabat dekat Hasan. Kenapa Hasan bisa mati? Bagaimana bisa Sampara menghabisi sahabatnya sendiri? Begitulah kasak-kusuk yang merebak sore itu.

2

Dulu, jauh sebelum memutuskan kisah ini akan kami ceritakan padamu. Matanya selalu bercahaya. Ya, matanya sungai misteri yang tak mengenal muara, selalu tenang mengalir dari hulu ke hilir, hingga getir kehilangan meredupkan cahaya itu. Malam ini, kami merasa dia sangat asing seolah belum pernah bertemu atau mengenalnya.

Supaya kamu tahu latar ceritanya, baiklah kami sampaikan siapa sebenarnya lelaki yang sedang kita bincangkan. Namanya Sampara. Bukan nama yang lumrah bagi orang Sunda atau Jawa. Dia seorang perantau, tapi bukan orang baru bagi kami.

Sudah puluhan tahun dia hidup beranak-pinak di kampung kami. Konon, dia pelarian dari Jakarta, tapi tak pernah ada yang berani bertanya dari mana asal-usulnya. Kami tahu, dia jago berkelahi. Kulitnya keling tubuhnya ceking. Ototnya biasa saja. Kenyal, alot dan licin. Kamu jangan menduga dia kebal senjata, parut di pelipis dan codet di lehernya, bukti dia bisa terluka.

Kami pernah berpikir, setiap orang Makassar pasti berperangai kasar. Ternyata, tidak! Dia sangat santun, jauh dari kesan arogan atau jagoan. Dia rendah hati, lembut budi dan gemar berbagi. Meski jarang bicara, kata-katanya bijak. Dia selalu punya berangkai kata yang hidup, yang bernyawa. Dia bukan tukang kibul, apalagi tukang bual, meskipun dia mahir menebarkan semangat agar kami lebih sigap bertahan hidup.

Ketika tambang emas--atas nama Negara--dijaga ketat oleh polisi-polisi sangar, dia berdiri paling depan mengeruk diam-diam emas itu lewat lubang tikus. Dari sana lahir istilah gurandil, gelar bagi penambang emas liar. Dari sana pula nasib kami berubah. Rumah-rumah jadi lebih mewah. Motor dan mobil mulai marak. Parabola menjamur. Gaya berpacaran anak muda pun makin berani dan terbuka, seperti yang dicontohkan acara janggal di televisi.

Tiba masa suram, gurandil ditangkapi. Gelundung--tempat mengolah emas tradisional--ditutup paksa. Dia lenyap tiba-tiba. Kami kira dia telah mati. Ternyata belum. Dia muncul lagi, kali ini bersama teman-temannya. Katanya, mereka berasal dari pelbagai daerah. Lantas meletup lagi gairah kami mencari emas di tanah kelahiran. Sejak itu, polisi-polisi sangar itu kewalahan lagi.

Pada subuh yang dingin, seorang perempuan belia terbujur kaku di mulut kampung. Kelaminnya koyak, tubuh dan kepalanya tak terkenali. Dia yakin itu putrinya, anak semata wayangnya. Sepasang baju berwarna hitam teronggok tak jauh darinya. Ia kenali itu baju Hasan, temannya dari Lebak. Dia bergegas balik ke rumah, pasti mencari Hasan. Tak ada sesiapa. Bahkan semua temannya yang dari Banten bak lenyap di telan bumi.

Gempar itu belum juga bersudah. Sore harinya, Hasan ditemukan terbujur kaku di ujung kampung. Seperti telah kami ceritakan padamu, badik Sampara tertancap di ulu hatinya. Kamu menduga dia pelakunya? Kami juga. Tak ada pemilik senjata tajam jenis badik berulu elok di kampung kami, selain milik Sampara. Tak heran jika segala curiga bermuara padanya. Akan tetapi, maaf, kami tak mau banyak bicara.

3

Malam ini cuaca sangat buruk. Bukan karena kabut, udara dingin atau hujan. Kematian Hasan pemicunya. Kerabatnya tak bisa terima. Mereka telah berkirim kabar akan segera balas dendam. Dari sana bermula kami dicekam ngeri, seolah maut mengintai setiap demi setiap detik. Jauh sebelum gelap tiba, rumah-rumah sudah sepi. Mencekam. Mengerikan.

Sebelumnya kami sadar, cuaca sedang tidak peduli jeritan kulit-kulit telanjang. Maaf, kami merasa lebih baik dikoyak dingin ketimbang harus lebih lama berdiam di rumah menyaksikan aroma ketakutan memancar dari mata istri dan anak-anak.

Bertemulah kami di warung Mang Mista, kedai kopi paling ramai di kampung kami. Seperti biasa, kami termangu melihatnya berbicara dengan gaya orang yang sedang mencicitkan amarah. Emas membuat kita jadi boneka mainan yang tak henti mengunyah pedih, katanya.

Seperti biasa pula, kami hanya mengangguk. Bukannya kaya raya, kita malah jadi tikus yang sekarat di lumbung emas, katanya lagi. Kali ini dengan suara meninggi. Kami menyimak dengan takzim dan kehilangan alasan untuk menoleh. Matanya menatap kami satu-satu. Dingin. Mengalahkan dingin cuaca. Emas telah membuat desa teduh ini mendidih. Seperti kawah, diam tapi bergolak. Seperti kuburan, riuh isak tapi senyap, katanya dengan suara makin tinggi, makin dingin. Tak ada yang menyela. Semua sepakat menjadi pendengar setia. Kemudian dia berkicau tentang wasangka yang membiak di benaknya.

Baginya, putrinya tidak wafat karena kebiadaban Hasan. “Ini adu domba. Aku kenal Hasan. Dia setia.”

“Lalu, siapa yang membunuh putrimu, daeng?” tanya seseorang, lirih. Bagi kami adalah harga mati, bahwa Hasan pembunuh putrinya. Sudah cukup bukti. Mungkin saja dia menduga lain karena Hasan sahabat sejatinya. Aneh jika menduga bukan Hasan pelakunya.

“Baju Hasan ada di sana. Itu fakta!” sela seseorang.

“Bisa saja baju Hasan hanya pengalih…” sergahnya agak ragu. Tiba-tiba kami merasa pendapatnya juga benar. Bisa saja ini buah adu domba. Hasil rekayasa. Siapa dalang yang menjadi otak segala muslihat ini? Apa gunanya? Bagaimana menurut kamu? Jangan-jangan Hasan memang hanya korban fitnah.

“Bagaimana dengan badik yang menancap di tubuh Hasan?” tanya seseorang.

Dia menarik napas. Merah di wajahnya semakin nyala. “Aku tidak bodoh. Jika benar aku membantai Hasan, sangat naif meninggalkan barang bukti. Sama saja bunuh diri…”

“Dari mana mereka curi badik daeng?” sergah yang lainnya. Dia menggeleng, lalu mendesis.

“Aku tahu siapa pelakunya. Aku sudah tahu. Salah besar jika mereka menduga aku jerih. Sampara bin Lappasa dilahirkan tanpa rasa takut. Aku sudah tahu siapa yang harus bertanggung jawab!”

Kemudian dia pergi meninggalkan kami. Lantas, siapa gerangan biang keladi yang ada di benaknya? Kamu tahu?

4

Malam lambat berjalan, pukul setengah tiga, seakan sengaja tak henti menyiksa kami. Hawa dingin membuat suasana makin mencekam. Tiba-tiba gelegar salak pistol mengoyak sunyi. Suaranya bergema, menambah amuk rasa takut.

Kami bergegas ke arah tembakan. Kami yakin itu berasal dari Pos Polisi di ujung kampung. Oh, kamu harus tahu, setibanya di sana, mata kami terbeliak. Lima orang polisi bersimbah darah. Mati dalam posisi berbeda-beda. Di tubuh mereka sama-sama tertancap panah beracun. Sementara dia, oh, dia telah tiada. Delapan butir peluru mengoyak tubuhnya.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Jakarta, Maret 2010

Kamis, 01 April 2010

[Artikel Ringan] Jihad dan Keluarga

Catatan: Tulisan ini dimuat di Tabloid Assalamu'alaikum, di Rubrik Usrah, Edisi April 2010.



JIHAD DAN KELUARGA
Oleh Khrisna Pabichara


RIWAYAT MENCATAT, seorang sahabat bernama Jahimah pernah menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihat.” Ketika itu, Rasulullah Saw. menjawab, “Apakah Ibumu masih hidup?” Jahimah menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah Saw. menegaskan, “Teguhlah berbakti kepadanya, karena surga berada di telapak kakinya!”

Melalui seloroh ringan dalam sebuah seminar “Keluarga Samara” di Kerinci (7 Januari 2010), saya menjawab pertanyaan Ibu Fadilah, peserta seminar, bahwa berpijak dari pernyataan Rasulullah, jika Anda ingin menikmati “hidup di dunia” layaknya di surga, maka berbaktilah kepada Ibu. Sederhana sekali. Syaratnya pun ringan dan mudah. Tidak perlu ada garansi berupa sertifikat tanah atau BPKB kendaraan bermotor. Juga tidak harus menjaminkan SK Pegawai berikut lampiran slip gaji. Kebahagiaan—dalam hal ini dilambangkan dengan surga—sangat dekat dengan kita, di hati Ibu yang ikhlas dan ridha. Sementara Ibu ialah simbol dari sebuah keluarga. Maka, jelaslah bahwa keluarga adalah unit terkecil dari sebuah “jihad”, tapi merupakan pusat dari “jihad” itu sendiri.

Begitulah. Tak dapat disangkal, bahwa jihad membela Agama atau Negara itu penting, bahkan mahapenting, tapi jangan sampai kita lupakan jihad “kecil” yang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari kita: Jihad membahagiakan keluarga. Keluarga yang di dalamnya tertanam kukuh nilai-nilai kemanusiaan, akan saling menghargai-menghormati-mengasihi. Keluarga yang senantiasa mengedepankan cinta-kasih akan meletakkan manusia pada harkat yang sama, dan memperlakukan orang lain layaknya memperlakukan diri sendiri. Jika kondisi ini tercipta, tidak akan terjadi silang-sengketa, perang, pembunuhan, penipuan, korupsi, atau hal yang merugikan orang lain.

Akan tetapi, tidak mudah menciptakan kondisi ideal sebuah keluarga. Karena itu dibutuhkan “jihad”. Masalahnya, kita sering meremehkan kepentingan keluarga—bahkan mengalahkannya—demi kepentingan lain, semisal kepentingan bisnis, pertemanan, atau hura-hura. Kecerdasan intelektual menjadi target utama, sedangkan kecerdasan emosional kerap diabaikan—otak terus diisi, hati dilupakan. Tidak heran jika generasi yang lahir lebih banyak “besar kepala” daripada “besar hati”.

Bagaimanapun, membangun keluarga yang ideal selalu menuntut kesungguhan. Dan, itu “jihad”.


DARI RIWAYAT Jahimah di atas, kita bisa becermin mengacakan diri. Sejauh mana kita paham makna “bakti” itu? Bahwa Ibu jadi “tokoh utama” tempat segala bakti bermuara, memang benar. Akan tetapi, jika kita mau sejenak saja bermenung, maka kita akan paham bahwa Ibu hanyalah tamsil, pengandaian, atau ibarat. Yang ditekankan oleh Rasulullah, boleh jadi, adalah keluarga.

Pertanyaannya sekarang, seberapa penting arti keluarga bagi Anda? Jika jawaban Anda adalah “paling penting”, maka berbahagialah. Anda adalah seorang mujahid paling gemilang. Kenapa? Keluarga—dengan rumah sebagai markas besarnya—adalah kawah paling menentukan dalam penggodokan generasi sejati. Ma’ruf Musthafa Zurayq, psikolog ternama dari Damaskus, menegaskan, “Seorang manusia tidak akan menjadi manusia sejati, jika pada masa kanak-kanaknya dia tidak menjadi seorang anak sejati.”

Maka, apabila keinginan berjihad demikian menggebu di hati Anda, ayo kita mulai berjihad dari arena perjuangan yang paling dekat dengan kita, keluarga.

Jakarta, Maret 2010
Khrisna Pabichara, motivator dan penyuka sastra