Catatan: Tulisan ini dimuat di Tabloid Assalamu'alaikum, di Rubrik Usrah, Edisi April 2010.
JIHAD DAN KELUARGA
Oleh Khrisna Pabichara
RIWAYAT MENCATAT, seorang sahabat bernama Jahimah pernah menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihat.” Ketika itu, Rasulullah Saw. menjawab, “Apakah Ibumu masih hidup?” Jahimah menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah Saw. menegaskan, “Teguhlah berbakti kepadanya, karena surga berada di telapak kakinya!”
Melalui seloroh ringan dalam sebuah seminar “Keluarga Samara” di Kerinci (7 Januari 2010), saya menjawab pertanyaan Ibu Fadilah, peserta seminar, bahwa berpijak dari pernyataan Rasulullah, jika Anda ingin menikmati “hidup di dunia” layaknya di surga, maka berbaktilah kepada Ibu. Sederhana sekali. Syaratnya pun ringan dan mudah. Tidak perlu ada garansi berupa sertifikat tanah atau BPKB kendaraan bermotor. Juga tidak harus menjaminkan SK Pegawai berikut lampiran slip gaji. Kebahagiaan—dalam hal ini dilambangkan dengan surga—sangat dekat dengan kita, di hati Ibu yang ikhlas dan ridha. Sementara Ibu ialah simbol dari sebuah keluarga. Maka, jelaslah bahwa keluarga adalah unit terkecil dari sebuah “jihad”, tapi merupakan pusat dari “jihad” itu sendiri.
Begitulah. Tak dapat disangkal, bahwa jihad membela Agama atau Negara itu penting, bahkan mahapenting, tapi jangan sampai kita lupakan jihad “kecil” yang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari kita: Jihad membahagiakan keluarga. Keluarga yang di dalamnya tertanam kukuh nilai-nilai kemanusiaan, akan saling menghargai-menghormati-mengasihi. Keluarga yang senantiasa mengedepankan cinta-kasih akan meletakkan manusia pada harkat yang sama, dan memperlakukan orang lain layaknya memperlakukan diri sendiri. Jika kondisi ini tercipta, tidak akan terjadi silang-sengketa, perang, pembunuhan, penipuan, korupsi, atau hal yang merugikan orang lain.
Akan tetapi, tidak mudah menciptakan kondisi ideal sebuah keluarga. Karena itu dibutuhkan “jihad”. Masalahnya, kita sering meremehkan kepentingan keluarga—bahkan mengalahkannya—demi kepentingan lain, semisal kepentingan bisnis, pertemanan, atau hura-hura. Kecerdasan intelektual menjadi target utama, sedangkan kecerdasan emosional kerap diabaikan—otak terus diisi, hati dilupakan. Tidak heran jika generasi yang lahir lebih banyak “besar kepala” daripada “besar hati”.
Bagaimanapun, membangun keluarga yang ideal selalu menuntut kesungguhan. Dan, itu “jihad”.
DARI RIWAYAT Jahimah di atas, kita bisa becermin mengacakan diri. Sejauh mana kita paham makna “bakti” itu? Bahwa Ibu jadi “tokoh utama” tempat segala bakti bermuara, memang benar. Akan tetapi, jika kita mau sejenak saja bermenung, maka kita akan paham bahwa Ibu hanyalah tamsil, pengandaian, atau ibarat. Yang ditekankan oleh Rasulullah, boleh jadi, adalah keluarga.
Pertanyaannya sekarang, seberapa penting arti keluarga bagi Anda? Jika jawaban Anda adalah “paling penting”, maka berbahagialah. Anda adalah seorang mujahid paling gemilang. Kenapa? Keluarga—dengan rumah sebagai markas besarnya—adalah kawah paling menentukan dalam penggodokan generasi sejati. Ma’ruf Musthafa Zurayq, psikolog ternama dari Damaskus, menegaskan, “Seorang manusia tidak akan menjadi manusia sejati, jika pada masa kanak-kanaknya dia tidak menjadi seorang anak sejati.”
Maka, apabila keinginan berjihad demikian menggebu di hati Anda, ayo kita mulai berjihad dari arena perjuangan yang paling dekat dengan kita, keluarga.
Jakarta, Maret 2010
Khrisna Pabichara, motivator dan penyuka sastra
Tampilkan postingan dengan label tabloid assalamu'alaikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tabloid assalamu'alaikum. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 April 2010
Selasa, 19 Januari 2010
[ARTIKEL MOTIVASI] Katakan dengan Cinta
Catatan: Artikel sederhana ini dimuat dalam Rubrik Usrah, Tabloid Assalamu'alaikum, Edisi Januari 2010. Dedikasi untuk milis ayahbunda yang mengirimkan e-mail berisi cerita di bawah ini kepada saya, dan menjadi inspirasi artikel ini. Salam paling takzim.
KATAKAN DENGAN CINTA
Oleh Khrisna Pabichara
TERSEBUTLAH KISAH seorang putri sedang sibuk membantu Ibunya. Mengepel lantai, cuci piring, dan menjemur pakaian. Setelah semuanya selesai, ia segera ke kamar, menyalakan laptop dan segera berselancar di dunia maya. Pada mulanya ia membuka halaman facebook, lalu larut chating dengan beberapa temannya dari berbagai belahan dunia. Sesekali ia geli dan terbahak sendiri.
Lalu, terdengar teriakan lembut Ibunya dari arah dapur. Dengan tangkas ia menyahut. Ia tak pernah berdiam diri setiap kali ibunya memanggil atau membutuhkannya. Ia selalu ingin berbakti, meskipun merasa sedikit terganggu karena keasyikannya ber-facebook ria harus terhenti. Tiba di dapur, Ibunya memintanya membeli garam. Ia pun bergegas ke warung yang berjarak beberapa puluh meter saja dari rumahnya.
Sekembalinya dari warung, ia pun menyerahkan garam itu kepada Ibunya. Dan, seperti biasa, Ibunya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tulus dengan mata dipenuhi pendar cahaya. Sungguh kegembiraan tak terkira ketika melihat orangtua tercinta tersenyum bahagia. Begitulah yang dirasakan remaja putri itu. Tetapi terlintas dalam benaknya untuk sedikit berseloroh. Tak lama berselang, ia menyorongkan secarik kertas kepada Ibunya.
Ongkos Membantu Ibu:
1) Membantu belanja ke warung: Rp. 20.000
2) Menjaga adik: Rp. 20.000
3) Membuang sampah: Rp. 5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp. 10.000
5) Menyiram bunga: Rp. 15.000
6) Menyapu halaman: Rp. 15.00
Jumlah Utang Ibu: Rp. 85.000
Selesai membaca, sang Ibu tersenyum memandang wajah putrinya yang berseri-seri. Sang Ibu lalu mengambil pena lalu menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.
Biaya Cinta Ibunda:
1) Mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS.
2) Menjagamu dalam sakit dan sehat: GRATIS.
3) Mengasuh dan merawatmu: GRATIS.
4) Menyediakan makan dan minum: GRATIS.
5) Mendidikmu dengan penuh cinta: GRATIS.
Total Cinta Kasih Ibu Kepadamu: GRATIS.
Air mata gadis remaja itu pun mengalir di wajahnya. Sambil memeluk Ibunya, ia berkata dengan lirih, “Saya mencintai Ibu.” Lalu ia mengambil pena dari tangan Ibunya, dan menulis lagi, “Lunas, telah dibayar dengan sepenuh cinta.”
Begitulah. Semua Ibu pasti bakal berhadapan dengan ulah-laku anak-anaknya. Kadang menggemaskan, kadang menjengkelkan. Kadang sangat membahagiakan. Akan tetapi, ketika menjengkelkan, kita tak perlu mengumbar kesal, apalagi marah-marah dengan penuh caci-maki. Setiap ucapan yang keluar dari bibir kita akan tersimpan dalam memori anak. Karenanya, alangkah indah jika menghadapi sikap anak dengan sepenuh “cinta”. Dan menyampaikan apa pun perasan dengan “cinta”. Dengan demikian, rumah akan menjadi persinggahan idaman bagi setiap anak. Sekaligus menjadi sekolah paling unggul dalam mencetak generasi tangguh.
Seperti pesan Ibnu Shina, “Rumah adalah universitas tertinggi.” Maka, mari kita jadikan rumah kita sebagai “surga” paling menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
Jakarta, Januari 2010.
Khrisna Pabichara, motivator dan penggiat sastra.
KATAKAN DENGAN CINTA
Oleh Khrisna Pabichara
TERSEBUTLAH KISAH seorang putri sedang sibuk membantu Ibunya. Mengepel lantai, cuci piring, dan menjemur pakaian. Setelah semuanya selesai, ia segera ke kamar, menyalakan laptop dan segera berselancar di dunia maya. Pada mulanya ia membuka halaman facebook, lalu larut chating dengan beberapa temannya dari berbagai belahan dunia. Sesekali ia geli dan terbahak sendiri.
Lalu, terdengar teriakan lembut Ibunya dari arah dapur. Dengan tangkas ia menyahut. Ia tak pernah berdiam diri setiap kali ibunya memanggil atau membutuhkannya. Ia selalu ingin berbakti, meskipun merasa sedikit terganggu karena keasyikannya ber-facebook ria harus terhenti. Tiba di dapur, Ibunya memintanya membeli garam. Ia pun bergegas ke warung yang berjarak beberapa puluh meter saja dari rumahnya.
Sekembalinya dari warung, ia pun menyerahkan garam itu kepada Ibunya. Dan, seperti biasa, Ibunya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tulus dengan mata dipenuhi pendar cahaya. Sungguh kegembiraan tak terkira ketika melihat orangtua tercinta tersenyum bahagia. Begitulah yang dirasakan remaja putri itu. Tetapi terlintas dalam benaknya untuk sedikit berseloroh. Tak lama berselang, ia menyorongkan secarik kertas kepada Ibunya.
Ongkos Membantu Ibu:
1) Membantu belanja ke warung: Rp. 20.000
2) Menjaga adik: Rp. 20.000
3) Membuang sampah: Rp. 5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp. 10.000
5) Menyiram bunga: Rp. 15.000
6) Menyapu halaman: Rp. 15.00
Jumlah Utang Ibu: Rp. 85.000
Selesai membaca, sang Ibu tersenyum memandang wajah putrinya yang berseri-seri. Sang Ibu lalu mengambil pena lalu menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.
Biaya Cinta Ibunda:
1) Mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS.
2) Menjagamu dalam sakit dan sehat: GRATIS.
3) Mengasuh dan merawatmu: GRATIS.
4) Menyediakan makan dan minum: GRATIS.
5) Mendidikmu dengan penuh cinta: GRATIS.
Total Cinta Kasih Ibu Kepadamu: GRATIS.
Air mata gadis remaja itu pun mengalir di wajahnya. Sambil memeluk Ibunya, ia berkata dengan lirih, “Saya mencintai Ibu.” Lalu ia mengambil pena dari tangan Ibunya, dan menulis lagi, “Lunas, telah dibayar dengan sepenuh cinta.”
Begitulah. Semua Ibu pasti bakal berhadapan dengan ulah-laku anak-anaknya. Kadang menggemaskan, kadang menjengkelkan. Kadang sangat membahagiakan. Akan tetapi, ketika menjengkelkan, kita tak perlu mengumbar kesal, apalagi marah-marah dengan penuh caci-maki. Setiap ucapan yang keluar dari bibir kita akan tersimpan dalam memori anak. Karenanya, alangkah indah jika menghadapi sikap anak dengan sepenuh “cinta”. Dan menyampaikan apa pun perasan dengan “cinta”. Dengan demikian, rumah akan menjadi persinggahan idaman bagi setiap anak. Sekaligus menjadi sekolah paling unggul dalam mencetak generasi tangguh.
Seperti pesan Ibnu Shina, “Rumah adalah universitas tertinggi.” Maka, mari kita jadikan rumah kita sebagai “surga” paling menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
Jakarta, Januari 2010.
Khrisna Pabichara, motivator dan penggiat sastra.
Jumat, 18 Desember 2009
[Artikel] Keteladanan dan Kemerdekaan Anak
Catatan: Tulisan ringan ini dimuat di Tabloid Assalamu'alaikum, Rubrik Usrah, Edisi Desember 2009.
KETELADANAN DAN KEMERDEKAAN ANAK
OLEH KHRISNA PABICHARA
SUATU ketika, seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran, berpesan kepada kita, “Anak kita bukanlah milik kita, melainkan milik kehidupan.” Petuah itu layak jadi landasan bagi setiap orangtua dalam membesarkan anaknya. Orangtua seyogianya memahami bahwa setiap anak dilahirkan bersama hak paling asasi; kemerdekaan. Kewenangan orangtua adalah “mengarahkan” agar hak paling asasi itu berjalan di atas rel kemanusiaan.
Pada hakikatnya, setiap anak bukanlah “jajahan” ayahnya ataupun “koloni” ibunya. Hanya saja, pada mulanya kemerdekaan itu masih harus bergantung pada kasih sayang orangtua. Meski demikian, jika kasih sayang orangtua itu ikhlas tanpa berharap apa-apa, maka nilai-nilai kemerdekaan sang anak tidak akan tercemari oleh rasa ketergantungan. Di balik kemerdekaan itu terdapat batasan yang harus diindahkan. Batasan itu adalah penyeimbang agar setiap anak mengerti, bahwa selain mempunyai hak, mereka juga memiliki kewajiban. Mereka harus bisa “memberi” sekaligus “menerima”. Artinya, harus ada keseimbangan.
Ketidakseimbangan kerap terjadi di muka bumi. Sejarah mencatat, sejak manusia mengenal peradaban, terjadilah peras-memeras, tindas-menindas, paksa-memaksa, dan kuasa-menguasai. Semuanya terjadi karena manusia lalai menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima, keseimbangan antara hak dan kewajiban. Sebagian besar manusia selalu ingin menerima dalam jumlah yang banyak, tetapi enggan banyak memberi.
Di sinilah posisi orangtua dibutuhkan. Melalui keteladanan, prinsip kemerdekaan bisa diterapkan. Fred G. Gosman, seorang peneliti dunia anak, mengatakan, “Seorang anak yang tidak diberi batasan akan tumbuh menjadi pembenci kebebasan.” Dalam hal ini, kemerdekaan tidaklah bermakna kebebasan mutlak, tetapi kebebasan yang disertai batasan. Maka tidak berlebihan jika Rasulullah Saw. berpesan, “Setiap anak dilahirkan fitrah, orangtualah yang membuat mereka jadi Majusi atau Yahudi.”
Sekarang, coba kita teropong kondisi aktual. Dewasa ini, ibu-ibu sibuk berdebat tentang pola asuh anak yang tepat di facebook atau lewat seminar di hotel-hotel mewah, sementara anaknya dibiarkan bersama pengasuhnya. Bapak-bapak bersilang pendapat hingga larut malam tentang metode merawat anak, setibanya di rumah mereka tidak sempat lagi mengecup kening anaknya, apalagi memberinya kasih sayang.
Tentu saja tak ada yang salah jika kaum ibu memilih bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Pun, tak salah jika kaum bapak banting-tulang menghidupi keluarganya. Yang salah jika mereka lebih memilih kemegahan harta ketimbang menumbuhkan cinta kasih bersama keluarga. Padahal, alangkah indahnya, jika keduanya bisa diraih tanpa harus mengorbankan salah satunya. Anak boleh dijejali dengan harta, tetapi cinta jangan sampai terlupa.
Anehnya, banyak orangtua yang menganggap anaknya bagai burung piaraan; disediakan sangkar yang bagus, dan diberi pakan yang cukup. Akibatnya, sang anak kehilangan kemerdekaan dan kebebasan yang dilimpahkan Allah kepadanya bersama kelahirannya. Mereka dilimpahi kemewahan, tetapi mereka tidak merasakan indahnya berbagi cerita, menemukan jawaban pada masa ”penuh pertanyaan”, dan mendapat ”perhatian” ketika mereka butuh ”diperhatikan”.
Hal remeh yang paling sering orangtua lakukan, ketika menerapkan nilai-nilai kejujuran. Tidak banyak orangtua yang sanggup berbesar hati menerima kenyataan ketika mendapati anaknya “berbohong”. Padahal mereka sendiri yang tanpa sadar menerapkan “kurikulum kebohongan” dalam kehidupan yang menyehari. Semisal pada saat menjawab telepon, sang anak diminta menjawab: orangtuanya sedang tidak di rumah. Jika itu terjadi, semestinya orangtua tidak menuntut lebih pada anaknya, karena merekalah yang menciptakan “tradisi berbohong” itu.
KHRISNA PABICHARA, penyuka sastra dan motivator pembelajaran.
KETELADANAN DAN KEMERDEKAAN ANAK
OLEH KHRISNA PABICHARA
SUATU ketika, seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran, berpesan kepada kita, “Anak kita bukanlah milik kita, melainkan milik kehidupan.” Petuah itu layak jadi landasan bagi setiap orangtua dalam membesarkan anaknya. Orangtua seyogianya memahami bahwa setiap anak dilahirkan bersama hak paling asasi; kemerdekaan. Kewenangan orangtua adalah “mengarahkan” agar hak paling asasi itu berjalan di atas rel kemanusiaan.
Pada hakikatnya, setiap anak bukanlah “jajahan” ayahnya ataupun “koloni” ibunya. Hanya saja, pada mulanya kemerdekaan itu masih harus bergantung pada kasih sayang orangtua. Meski demikian, jika kasih sayang orangtua itu ikhlas tanpa berharap apa-apa, maka nilai-nilai kemerdekaan sang anak tidak akan tercemari oleh rasa ketergantungan. Di balik kemerdekaan itu terdapat batasan yang harus diindahkan. Batasan itu adalah penyeimbang agar setiap anak mengerti, bahwa selain mempunyai hak, mereka juga memiliki kewajiban. Mereka harus bisa “memberi” sekaligus “menerima”. Artinya, harus ada keseimbangan.
Ketidakseimbangan kerap terjadi di muka bumi. Sejarah mencatat, sejak manusia mengenal peradaban, terjadilah peras-memeras, tindas-menindas, paksa-memaksa, dan kuasa-menguasai. Semuanya terjadi karena manusia lalai menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima, keseimbangan antara hak dan kewajiban. Sebagian besar manusia selalu ingin menerima dalam jumlah yang banyak, tetapi enggan banyak memberi.
Di sinilah posisi orangtua dibutuhkan. Melalui keteladanan, prinsip kemerdekaan bisa diterapkan. Fred G. Gosman, seorang peneliti dunia anak, mengatakan, “Seorang anak yang tidak diberi batasan akan tumbuh menjadi pembenci kebebasan.” Dalam hal ini, kemerdekaan tidaklah bermakna kebebasan mutlak, tetapi kebebasan yang disertai batasan. Maka tidak berlebihan jika Rasulullah Saw. berpesan, “Setiap anak dilahirkan fitrah, orangtualah yang membuat mereka jadi Majusi atau Yahudi.”
Sekarang, coba kita teropong kondisi aktual. Dewasa ini, ibu-ibu sibuk berdebat tentang pola asuh anak yang tepat di facebook atau lewat seminar di hotel-hotel mewah, sementara anaknya dibiarkan bersama pengasuhnya. Bapak-bapak bersilang pendapat hingga larut malam tentang metode merawat anak, setibanya di rumah mereka tidak sempat lagi mengecup kening anaknya, apalagi memberinya kasih sayang.
Tentu saja tak ada yang salah jika kaum ibu memilih bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Pun, tak salah jika kaum bapak banting-tulang menghidupi keluarganya. Yang salah jika mereka lebih memilih kemegahan harta ketimbang menumbuhkan cinta kasih bersama keluarga. Padahal, alangkah indahnya, jika keduanya bisa diraih tanpa harus mengorbankan salah satunya. Anak boleh dijejali dengan harta, tetapi cinta jangan sampai terlupa.
Anehnya, banyak orangtua yang menganggap anaknya bagai burung piaraan; disediakan sangkar yang bagus, dan diberi pakan yang cukup. Akibatnya, sang anak kehilangan kemerdekaan dan kebebasan yang dilimpahkan Allah kepadanya bersama kelahirannya. Mereka dilimpahi kemewahan, tetapi mereka tidak merasakan indahnya berbagi cerita, menemukan jawaban pada masa ”penuh pertanyaan”, dan mendapat ”perhatian” ketika mereka butuh ”diperhatikan”.
Hal remeh yang paling sering orangtua lakukan, ketika menerapkan nilai-nilai kejujuran. Tidak banyak orangtua yang sanggup berbesar hati menerima kenyataan ketika mendapati anaknya “berbohong”. Padahal mereka sendiri yang tanpa sadar menerapkan “kurikulum kebohongan” dalam kehidupan yang menyehari. Semisal pada saat menjawab telepon, sang anak diminta menjawab: orangtuanya sedang tidak di rumah. Jika itu terjadi, semestinya orangtua tidak menuntut lebih pada anaknya, karena merekalah yang menciptakan “tradisi berbohong” itu.
KHRISNA PABICHARA, penyuka sastra dan motivator pembelajaran.
Rabu, 16 Desember 2009
[Artikel] Mendidik Anak dengan Cinta
Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Assalamu'alaikum edisi November 2009.
MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA
Oleh Khrisna Pabichara
SUATU ketika, seorang psikolog ternama dari Damaskus, Ma’ruf Mushthafa Zurayq, berpesan kepada kita, “Jika cinta tidak diajarkan di dalam rumah, jangan harap anak kita akan menemukannya di luar.” Pendapat itu benar adanya. Rumah adalah sekolah terfavorit untuk mencetak generasi masa depan yang tangguh. Rumah adalah universitas terbaik untuk menyiapkan intelektual gemilang di masa datang. Dan, seperti pesan Ma’ruf, mustahil menemukan generasi yang memiliki kepekaan rasa dan kecerdasan emosi yang andal, jika di rumah mereka tidak mendapatkan ‘asupan kurikulum’ yang bisa mengasah kekuatan hatinya.
Dari sanalah tulisan ini bermula. Setiap orangtua pasti berhasrat agar anaknya kelak menjadi anak cerdas yang shaleh. Kecerdasan dan keshalehan itu bukan tanggung jawab lembaga pendidikan semata. Melainkan tanggung jawab bersama, termasuk orangtua. Karenanya, setiap orangtua ‘wajib’ memiliki kemampuan; (1) mendidik, (2) mengajar, dan (3) melindungi.
Keunggulan orangtua dalam mendidik, jelas merupakan aset vital, karena setiap orangtua pasti mengetahui karakter, bisa menakar batas maksimal kemampuan, serta mengetahui kelebihan dan kekurangan setiap anaknya. Ilustrasi yang bisa kita gunakan, seorang guru dalam kelas mendidik setidaknya 30-40 siswa. Setiap siswa memiliki karakter, kemampuan, dan daya serap berbeda. Tentu saja butuh kemampuan ekstra untuk mendidik siswa dengan latar beragam itu. Tapi tidak demikian halnya bagi orangtua di rumah. Dengan demikian, intensitas pertemuan, kedekatan emosional, ikatan batin yang kuat, seyogianya menjadi modal dasar dalam mendidik anak.
Hal sama berlaku dalam upaya mengajar anak. Oleh karena setiap orangtua memahami gaya dan daya serap anaknya, maka tidaklah susah untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan. Jika sang anak lebih suka gaya belajar visual, langkah yang tepat tentulah dengan sesekali mengajak anak rekreasi ke kebun binatang ketimbang sibuk menjejalkan teori-teori tentang jenis-jenis hewan. Jika sang anak cenderung kinestetik, maka memberikan kesempatan ‘mencoba’ jauh lebih menjanjikan daripada memaksa mereka menggumuli angka-angka agar bisa menguasai matematika, misalnya. Jika sang anak termasuk jago menyerap bahan ajar dengan mendengarkan, tentu saja orangtua bisa mengajari anaknya lewat mendongeng atau bercerita.
Sementara itu, kemampuan melindungi, lebih condong pada kemampuan orangtua dalam memberikan “rasa nyaman” selama proses pembelajaran. Ketika anak berprestasi, penghargaan (reward) harus diberikan. Tentu saja, hadiah yang tidak berlebihan dan tidak memanjakan. Pada saat melakukan kesalahan, hukuman harus dilakukan. Bukan dalam kerangka menunjukkan kesalahan, tapi lebih pada pembiasaan “bertanggung jawab” atas segala hal yang telah dilakukan. Sehingga yang tumbuh bukanlah rasa bersalah saja, tapi sekaligus sebuah “pelajaran” untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Ketiga kemampuan itu—mendidik, mengajar, dan melindungi—adalah sarat mutlak yang harus dimiliki setiap orangtua. Namun, ketiga kemampuan itu akan semakin dahsyat jika kita melakukannya dengan sepenuh cinta. Ya, hanya dengan cinta, bukan pemaksaan kehendak, yang mampu mewujudkan impian mencetak anak sejati, generasi sejati. Dan, kita tidak akan menjadi “manusia sejati”, jika pada masa kanak-kanak kita tidak pernah menjadi “anak sejati”.
Karena itu, mari mendidik anak dengan cinta. Bukan karena desakan ambisi agar anak kita kelak menjadi “ini” atau “itu”.
Khrisna Pabichara,
Sastrawan dan motivator pembelajaran, bermukim di pinggiran Jakarta
MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA
Oleh Khrisna Pabichara
SUATU ketika, seorang psikolog ternama dari Damaskus, Ma’ruf Mushthafa Zurayq, berpesan kepada kita, “Jika cinta tidak diajarkan di dalam rumah, jangan harap anak kita akan menemukannya di luar.” Pendapat itu benar adanya. Rumah adalah sekolah terfavorit untuk mencetak generasi masa depan yang tangguh. Rumah adalah universitas terbaik untuk menyiapkan intelektual gemilang di masa datang. Dan, seperti pesan Ma’ruf, mustahil menemukan generasi yang memiliki kepekaan rasa dan kecerdasan emosi yang andal, jika di rumah mereka tidak mendapatkan ‘asupan kurikulum’ yang bisa mengasah kekuatan hatinya.
Dari sanalah tulisan ini bermula. Setiap orangtua pasti berhasrat agar anaknya kelak menjadi anak cerdas yang shaleh. Kecerdasan dan keshalehan itu bukan tanggung jawab lembaga pendidikan semata. Melainkan tanggung jawab bersama, termasuk orangtua. Karenanya, setiap orangtua ‘wajib’ memiliki kemampuan; (1) mendidik, (2) mengajar, dan (3) melindungi.
Keunggulan orangtua dalam mendidik, jelas merupakan aset vital, karena setiap orangtua pasti mengetahui karakter, bisa menakar batas maksimal kemampuan, serta mengetahui kelebihan dan kekurangan setiap anaknya. Ilustrasi yang bisa kita gunakan, seorang guru dalam kelas mendidik setidaknya 30-40 siswa. Setiap siswa memiliki karakter, kemampuan, dan daya serap berbeda. Tentu saja butuh kemampuan ekstra untuk mendidik siswa dengan latar beragam itu. Tapi tidak demikian halnya bagi orangtua di rumah. Dengan demikian, intensitas pertemuan, kedekatan emosional, ikatan batin yang kuat, seyogianya menjadi modal dasar dalam mendidik anak.
Hal sama berlaku dalam upaya mengajar anak. Oleh karena setiap orangtua memahami gaya dan daya serap anaknya, maka tidaklah susah untuk mengajarkan beragam ilmu pengetahuan. Jika sang anak lebih suka gaya belajar visual, langkah yang tepat tentulah dengan sesekali mengajak anak rekreasi ke kebun binatang ketimbang sibuk menjejalkan teori-teori tentang jenis-jenis hewan. Jika sang anak cenderung kinestetik, maka memberikan kesempatan ‘mencoba’ jauh lebih menjanjikan daripada memaksa mereka menggumuli angka-angka agar bisa menguasai matematika, misalnya. Jika sang anak termasuk jago menyerap bahan ajar dengan mendengarkan, tentu saja orangtua bisa mengajari anaknya lewat mendongeng atau bercerita.
Sementara itu, kemampuan melindungi, lebih condong pada kemampuan orangtua dalam memberikan “rasa nyaman” selama proses pembelajaran. Ketika anak berprestasi, penghargaan (reward) harus diberikan. Tentu saja, hadiah yang tidak berlebihan dan tidak memanjakan. Pada saat melakukan kesalahan, hukuman harus dilakukan. Bukan dalam kerangka menunjukkan kesalahan, tapi lebih pada pembiasaan “bertanggung jawab” atas segala hal yang telah dilakukan. Sehingga yang tumbuh bukanlah rasa bersalah saja, tapi sekaligus sebuah “pelajaran” untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Ketiga kemampuan itu—mendidik, mengajar, dan melindungi—adalah sarat mutlak yang harus dimiliki setiap orangtua. Namun, ketiga kemampuan itu akan semakin dahsyat jika kita melakukannya dengan sepenuh cinta. Ya, hanya dengan cinta, bukan pemaksaan kehendak, yang mampu mewujudkan impian mencetak anak sejati, generasi sejati. Dan, kita tidak akan menjadi “manusia sejati”, jika pada masa kanak-kanak kita tidak pernah menjadi “anak sejati”.
Karena itu, mari mendidik anak dengan cinta. Bukan karena desakan ambisi agar anak kita kelak menjadi “ini” atau “itu”.
Khrisna Pabichara,
Sastrawan dan motivator pembelajaran, bermukim di pinggiran Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)