Sumber: Harian Fajar Makassar, Minggu (11/10/2009)
Sajak Perempuan Pesolek
Oleh Khrisna Pabichara
Aduhai perempuan pesolek yang berkaca setiap tiga menit sekali, berikan aku hari-hari lain. Siapa tahu kelak bisa kusulam sebagai ingatan. Mungkin dalam syair nyanyian. Mungkin serupa sajak-sajak bersayap. Mungkin lewat rapal perih doa. Bahkan, siapa tahu, lewat mimpi basah sebelum sengketa pagi.
Aku letih membenci, katanya.
Aduhai perempuan pesolek yang berkaca setiap tiga menit sekali, berikan aku pekan-pekan yang lain. Siapa tahu kelak bisa kukenang sebagai sejarah. Mungkin bersama derai air mata. Mungkin pada setiap jeda tawa. mungkin di beranda mantra bahagia. Bahkan, siapa tahu, birahi bulan sepotong membawanya pulang.
Aku letih mencari cinta, katanya, yang bertemu semata derita.
Depok, Desember 2008
Sabtu, 30 Januari 2010
[ARTIKEL MOTIVASI] Paksa, Cinta, dan Pe-De
Catatan: Tulisan ini disajikan untuk mengisi Rubrik Okelearning di www.inioke.com.
PAKSA, CINTA, DAN PE-DE
Oleh Khrisna Pabichara
SUATU KETIKA, Henry Ford berkata, “Berpikir itu pekerjaan yang paling berat, itulah sebabnya hanya sedikit orang yang menyenanginya.” Akan tetapi, tidak mengapa, selama di antara orang yang sedikit itu: Kamu ada. Artinya, kamu termasuk yang senang berpikir. Dan, senang belajar.
Ada dua kekayaan besar dalam dirimu. Apabila keduanya digunakan dengan tepat secara maksimal, akan “mengejutkan” kamu. Bahkan, boleh jadi, kamu tidak menduga bisa melakukannya. Kedua kekayaan itu adalah otak dan hati. Pertanyaan pertama yang perlu kamu ajukan: Bagaimana mendayagunakan (empowerment) kedua kekayaan itu? Jawabannya sederhana: paksa dan cinta. Paksa otakmu untuk terus berpikir dengan cara yang menyenangkan. Dan, tanamkan cinta pengetahuan di hatimu. Itulah rahasianya.
Jangan harap kamu bisa disiplin tanpa keberanian memaksa dirimu untuk mematuhi jadwal atau rencana belajar yang sudah ditetapkan. Jangan bermimpi kamu dapat menguasai pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran, jika kamu tidak mencintai pelajaran itu.
Tanamkan Rasa Percaya Diri
APAKAH kamu pernah membayangkan dirimu berdiri di atas panggung, mengikuti acara pengalungan medali, karena kamu saat itu menjadi salah satu pemenang Olimpiade Matematika? Pernahkah kamu berharap nilai-nilai Ujian Nasional sangat baik dan “mencengangkan”, sehingga kamu diterima di Perguruan Tinggi idaman? Apakah kamu berharap mendapat “kejutan” berupa hadiah dambaan dari orangtuamu, karena prestasimu yang “luar biasa” di sekolah?
Dengan dua rahasia besar di atas, paksa dan cinta, kamu bisa menggali potensi kekayaanmu—otak dan hati— untuk mewujudkan impian-impian di atas. Jangan mengerdilkan dirimu dengan kalimat-kalimat negatif, seperti: “Ah, aku cuma ini anak petani, tidak mungkin jago biologi.” Itu salah besar. Justru karena kamu anak petani, yang setiap hari bergelut di dunia hayati, kamu memiliki peluang lebih besar menjadi ahli biologi. Mengapa? Kamu bisa melakukan banyak hal, seperti praktek pencangkokan tanaman, pembuatan kompos, uji-coba pakan ternak, dan praktek-praktek lain yang dapat melapangkan jalanmu.
Ingat, selalu terbuka beragam peluang yang dapat memudahkan kamu meraih apa pun yang kamu inginkan.
Mulai sekarang, singkirkan semua pikiran-pikiran negatif yang menghambat laju prestasimu. Jangan terpengaruh pada cibiran atau cemoohan orang-orang di sekitarmu. Thomas Alva Edison dicap “idiot” oleh teman-teman sekolah dan guru-gurunya, bahkan dikeluarkan dari sekolahnya. Apakah Edison putus asa? Tidak! Ia tetap percaya diri. Lalu, ia giat belajar dan melakukan banyak percobaan. Berat memang, tapi akibat yang diterimanya pun “luar biasa”. Edison berhasil memegang ribuan hak paten sebagai “buah” dari keyakinan hatinya itu.
Kamu memiliki “segala syarat” yang dibutuhkan untuk menjadi pembelajar cemerlang. Kamu memiliki “semua kapasitas” untuk menjadi Sang Juara. Sekarang, semuanya bergantung pada bagaimana kamu melihat diri sendiri, memperlakukan diri sendiri, dan memanfatkan talenta “bawaan lahir” yang kamu miliki. Inti dari semuanya adalah “percaya diri”. Ya. Kamu harus percaya pada diri dan kemampuanmu. Jika Anda sendiri tidak percaya, bagaimana orang lain mau memercayai kemampuanmu?
Jadi, setelah paksa dan cinta, Anda harus percaya diri.
Jakarta, Januari 2010
PAKSA, CINTA, DAN PE-DE
Oleh Khrisna Pabichara
SUATU KETIKA, Henry Ford berkata, “Berpikir itu pekerjaan yang paling berat, itulah sebabnya hanya sedikit orang yang menyenanginya.” Akan tetapi, tidak mengapa, selama di antara orang yang sedikit itu: Kamu ada. Artinya, kamu termasuk yang senang berpikir. Dan, senang belajar.
Ada dua kekayaan besar dalam dirimu. Apabila keduanya digunakan dengan tepat secara maksimal, akan “mengejutkan” kamu. Bahkan, boleh jadi, kamu tidak menduga bisa melakukannya. Kedua kekayaan itu adalah otak dan hati. Pertanyaan pertama yang perlu kamu ajukan: Bagaimana mendayagunakan (empowerment) kedua kekayaan itu? Jawabannya sederhana: paksa dan cinta. Paksa otakmu untuk terus berpikir dengan cara yang menyenangkan. Dan, tanamkan cinta pengetahuan di hatimu. Itulah rahasianya.
Jangan harap kamu bisa disiplin tanpa keberanian memaksa dirimu untuk mematuhi jadwal atau rencana belajar yang sudah ditetapkan. Jangan bermimpi kamu dapat menguasai pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran, jika kamu tidak mencintai pelajaran itu.
Tanamkan Rasa Percaya Diri
APAKAH kamu pernah membayangkan dirimu berdiri di atas panggung, mengikuti acara pengalungan medali, karena kamu saat itu menjadi salah satu pemenang Olimpiade Matematika? Pernahkah kamu berharap nilai-nilai Ujian Nasional sangat baik dan “mencengangkan”, sehingga kamu diterima di Perguruan Tinggi idaman? Apakah kamu berharap mendapat “kejutan” berupa hadiah dambaan dari orangtuamu, karena prestasimu yang “luar biasa” di sekolah?
Dengan dua rahasia besar di atas, paksa dan cinta, kamu bisa menggali potensi kekayaanmu—otak dan hati— untuk mewujudkan impian-impian di atas. Jangan mengerdilkan dirimu dengan kalimat-kalimat negatif, seperti: “Ah, aku cuma ini anak petani, tidak mungkin jago biologi.” Itu salah besar. Justru karena kamu anak petani, yang setiap hari bergelut di dunia hayati, kamu memiliki peluang lebih besar menjadi ahli biologi. Mengapa? Kamu bisa melakukan banyak hal, seperti praktek pencangkokan tanaman, pembuatan kompos, uji-coba pakan ternak, dan praktek-praktek lain yang dapat melapangkan jalanmu.
Ingat, selalu terbuka beragam peluang yang dapat memudahkan kamu meraih apa pun yang kamu inginkan.
Mulai sekarang, singkirkan semua pikiran-pikiran negatif yang menghambat laju prestasimu. Jangan terpengaruh pada cibiran atau cemoohan orang-orang di sekitarmu. Thomas Alva Edison dicap “idiot” oleh teman-teman sekolah dan guru-gurunya, bahkan dikeluarkan dari sekolahnya. Apakah Edison putus asa? Tidak! Ia tetap percaya diri. Lalu, ia giat belajar dan melakukan banyak percobaan. Berat memang, tapi akibat yang diterimanya pun “luar biasa”. Edison berhasil memegang ribuan hak paten sebagai “buah” dari keyakinan hatinya itu.
Kamu memiliki “segala syarat” yang dibutuhkan untuk menjadi pembelajar cemerlang. Kamu memiliki “semua kapasitas” untuk menjadi Sang Juara. Sekarang, semuanya bergantung pada bagaimana kamu melihat diri sendiri, memperlakukan diri sendiri, dan memanfatkan talenta “bawaan lahir” yang kamu miliki. Inti dari semuanya adalah “percaya diri”. Ya. Kamu harus percaya pada diri dan kemampuanmu. Jika Anda sendiri tidak percaya, bagaimana orang lain mau memercayai kemampuanmu?
Jadi, setelah paksa dan cinta, Anda harus percaya diri.
Jakarta, Januari 2010
Label:
khrisna pabichara,
motivasi,
www.inioke.com
[SAJAK] Lelaki Paling Puisi
Lelaki Paling Puisi
Aku, lelaki paling sepi, menyelam ke perut
laut. Memetik ingatan mencari kenang yang dulu
karam di cangkang karang. Mengeruk arus. Menandai
wajah ibu: Ada rindu terdampar di pantai. Berkali-kali. Hari ini,
kubangun rumah pasir. Membayangkan Ibu duduk tenang di salah
satu lengang ruang, menyulam rabuk perahu yang lapuk ditulah usia.
Tapi gelombang selalu menyapu rumah itu, bahkan sebelum aku usai
memasang atapnya.
Aku, lelaki paling puisi, melepas matahari ke rahim
laut. Tak ada lagi senja atau camar yang riang mengajak pulang.
Sepanjang siang aku menjala kenangan: Ibu, dulu dirimbun bakau,
aku selalu membuang risau. Sekarang, sunyi: Menghitung sesak.
Bogor, Agustus 2008
khrisna pabichara
Sajak ini hasil daur ulang pada tipografi
Aku, lelaki paling sepi, menyelam ke perut
laut. Memetik ingatan mencari kenang yang dulu
karam di cangkang karang. Mengeruk arus. Menandai
wajah ibu: Ada rindu terdampar di pantai. Berkali-kali. Hari ini,
kubangun rumah pasir. Membayangkan Ibu duduk tenang di salah
satu lengang ruang, menyulam rabuk perahu yang lapuk ditulah usia.
Tapi gelombang selalu menyapu rumah itu, bahkan sebelum aku usai
memasang atapnya.
Aku, lelaki paling puisi, melepas matahari ke rahim
laut. Tak ada lagi senja atau camar yang riang mengajak pulang.
Sepanjang siang aku menjala kenangan: Ibu, dulu dirimbun bakau,
aku selalu membuang risau. Sekarang, sunyi: Menghitung sesak.
Bogor, Agustus 2008
khrisna pabichara
Sajak ini hasil daur ulang pada tipografi
Langganan:
Postingan (Atom)