Sabtu, 30 Januari 2010

[ARTIKEL MOTIVASI] Paksa, Cinta, dan Pe-De

Catatan: Tulisan ini disajikan untuk mengisi Rubrik Okelearning di www.inioke.com.


PAKSA, CINTA, DAN PE-DE
Oleh Khrisna Pabichara


SUATU KETIKA, Henry Ford berkata, “Berpikir itu pekerjaan yang paling berat, itulah sebabnya hanya sedikit orang yang menyenanginya.” Akan tetapi, tidak mengapa, selama di antara orang yang sedikit itu: Kamu ada. Artinya, kamu termasuk yang senang berpikir. Dan, senang belajar.

Ada dua kekayaan besar dalam dirimu. Apabila keduanya digunakan dengan tepat secara maksimal, akan “mengejutkan” kamu. Bahkan, boleh jadi, kamu tidak menduga bisa melakukannya. Kedua kekayaan itu adalah otak dan hati. Pertanyaan pertama yang perlu kamu ajukan: Bagaimana mendayagunakan (empowerment) kedua kekayaan itu? Jawabannya sederhana: paksa dan cinta. Paksa otakmu untuk terus berpikir dengan cara yang menyenangkan. Dan, tanamkan cinta pengetahuan di hatimu. Itulah rahasianya.

Jangan harap kamu bisa disiplin tanpa keberanian memaksa dirimu untuk mematuhi jadwal atau rencana belajar yang sudah ditetapkan. Jangan bermimpi kamu dapat menguasai pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran, jika kamu tidak mencintai pelajaran itu.


Tanamkan Rasa Percaya Diri

APAKAH kamu pernah membayangkan dirimu berdiri di atas panggung, mengikuti acara pengalungan medali, karena kamu saat itu menjadi salah satu pemenang Olimpiade Matematika? Pernahkah kamu berharap nilai-nilai Ujian Nasional sangat baik dan “mencengangkan”, sehingga kamu diterima di Perguruan Tinggi idaman? Apakah kamu berharap mendapat “kejutan” berupa hadiah dambaan dari orangtuamu, karena prestasimu yang “luar biasa” di sekolah?

Dengan dua rahasia besar di atas, paksa dan cinta, kamu bisa menggali potensi kekayaanmu—otak dan hati— untuk mewujudkan impian-impian di atas. Jangan mengerdilkan dirimu dengan kalimat-kalimat negatif, seperti: “Ah, aku cuma ini anak petani, tidak mungkin jago biologi.” Itu salah besar. Justru karena kamu anak petani, yang setiap hari bergelut di dunia hayati, kamu memiliki peluang lebih besar menjadi ahli biologi. Mengapa? Kamu bisa melakukan banyak hal, seperti praktek pencangkokan tanaman, pembuatan kompos, uji-coba pakan ternak, dan praktek-praktek lain yang dapat melapangkan jalanmu.

Ingat, selalu terbuka beragam peluang yang dapat memudahkan kamu meraih apa pun yang kamu inginkan.

Mulai sekarang, singkirkan semua pikiran-pikiran negatif yang menghambat laju prestasimu. Jangan terpengaruh pada cibiran atau cemoohan orang-orang di sekitarmu. Thomas Alva Edison dicap “idiot” oleh teman-teman sekolah dan guru-gurunya, bahkan dikeluarkan dari sekolahnya. Apakah Edison putus asa? Tidak! Ia tetap percaya diri. Lalu, ia giat belajar dan melakukan banyak percobaan. Berat memang, tapi akibat yang diterimanya pun “luar biasa”. Edison berhasil memegang ribuan hak paten sebagai “buah” dari keyakinan hatinya itu.

Kamu memiliki “segala syarat” yang dibutuhkan untuk menjadi pembelajar cemerlang. Kamu memiliki “semua kapasitas” untuk menjadi Sang Juara. Sekarang, semuanya bergantung pada bagaimana kamu melihat diri sendiri, memperlakukan diri sendiri, dan memanfatkan talenta “bawaan lahir” yang kamu miliki. Inti dari semuanya adalah “percaya diri”. Ya. Kamu harus percaya pada diri dan kemampuanmu. Jika Anda sendiri tidak percaya, bagaimana orang lain mau memercayai kemampuanmu?

Jadi, setelah paksa dan cinta, Anda harus percaya diri.


Jakarta, Januari 2010

[SAJAK] Lelaki Paling Puisi

Lelaki Paling Puisi


Aku, lelaki paling sepi, menyelam ke perut
laut. Memetik ingatan mencari kenang yang dulu
karam di cangkang karang. Mengeruk arus. Menandai
wajah ibu: Ada rindu terdampar di pantai. Berkali-kali. Hari ini,
kubangun rumah pasir. Membayangkan Ibu duduk tenang di salah
satu lengang ruang, menyulam rabuk perahu yang lapuk ditulah usia.
Tapi gelombang selalu menyapu rumah itu, bahkan sebelum aku usai
memasang atapnya.

Aku, lelaki paling puisi, melepas matahari ke rahim
laut. Tak ada lagi senja atau camar yang riang mengajak pulang.
Sepanjang siang aku menjala kenangan: Ibu, dulu dirimbun bakau,
aku selalu membuang risau. Sekarang, sunyi: Menghitung sesak.


Bogor, Agustus 2008
khrisna pabichara


Sajak ini hasil daur ulang pada tipografi

Sabtu, 23 Januari 2010

[TELISIK SASTRA] Kuasa Cinta Penari Brittany

Catatan: Tulisan ini dimuat di Jurnal Bogor [Minggu, 24/01/2010]



KUASA CINTA PENARI BRITTANY
Oleh Khrisna Pabichara



PADA MULANYA benak saya digayuti syak-wasangka saat pertama kali membaca novel The Music Box of Love. Betapa tidak, bagaimana mungkin pengarang yang tak pernah bermukim dalam rentang waktu lama di Britania Raya, bisa menuliskan mitos di kawasan Eropa Utara dengan sangat fasih? Tapi semuanya menguap bersama tuntasnya hajat pembacaan novel anggitan Rizu Hanika itu. Saya disuguhi kisah klasik Britania—legenda Arthur—dengan racikan konflik dan benturan alur yang sarat daya kejut.

Cerita bermula dari hasrat Ivory hengkang dari “kuasa lalim” nenek tirinya, Mrs. Maeve Wuningwell. Kejahatan sistemik berbalut cinta-kasih dilakukan neneknya untuk menguasai warisan keluarganya. Namun, waktu akhirnya menjawab segalanya. Satu demi satu selubung rahasia tersingkap. Misteri kematian ayah dan ibunya mulai bersua celah terang. Nenek yang semula “Nenek Sang Sahabat” menjadi “Nenek Sang Musuh”. Tapi hasrat membebaskan diri tidaklah mudah dilakoninya. Neneknya adalah seorang cenayang yang piawai memainkan segala jenis tipu-muslihat.

Kasih sayang yang melingkupi masa kecil Ivory semuanya bersumber dari Sang Nenek. Ia pun terjebak dalam pergulatan batin antara kuasa cinta dan hajat merdeka. Jika ingin lepas dari jerat sihir neneknya, ia harus berani melenyapkan perempuan misterius yang telah mengasuh dan membesarkannya sejak masa kanak. Dan, itu mustahil. Meski akhirnya hasrat merdeka bisa mengalahkan kuasa cinta itu. Ivory pun bertualang memburu benda keramat—kotak musik berisi Boneka Penari Brittany. Petualangan itu menyeret Ivory ke Muara Kesumba, kampung kecil di Kalimantan Timur. Di sana ia bersua dengan Varuna, tokoh lain yang pernah menggunakan jasa Boneka Brittany untuk menghabisi keluarganya.

Kisah pun bergerak dinamis memilin kepingan-kepingan peristiwa yang seolah lepas berdiri sendiri, tidak terkait antara peristiwa satu dengan yang lainnya. Kenikmatan pembacaan itu memuncak saat Ivory memutuskan kembali ke Kastil Rhuneborough demi menuntaskan hajat melenyapkan kesuraman hidupnya. Namun Kuasa Cinta meluluhkan hatinya. Boneka Brittany pun tak sempat menjalankan aksinya. Padahal, setiap kotak musik terbuka, satu nyawa mesti disiapkan sebagai tumbal.

Begitulah, Rizu—alumnus Sastra Jepang UI, menciptakan tokoh dengan pelbagai karakter dan latar budaya berbeda. Penamaan tokohnya pun tidak dilakukan serampangan. Ivory bermakna gading, Baruna—dari bahasa Sansekerta—berarti penguasa samudra, begitupun tokoh lain yang dinamai khas dan unik. Selain itu, kecerdasan meracik-ulang legenda Arthur—kisah cinta tragis Tristan dan Iseult—yang kerap didedahkan sastrawan, semisal Thomas Malory yang menulis Le Morte d’Arthur (1469), menjadi warna lain novel ini. Seperti dikabarkan Maman S. Mahayana, alur novel ini tertata dengan apik. Namun, ihwal itu berpeluang “menyesatkan” atau “menyenangkan” pembaca. Menyesatkan karena alur yang digunakan tidak lazim—lebih mirip novel terjemahan. Menyenangkan karena novel ini menyajikan nilai-nilai spiritual yang didaras secara samar di sela ketegangan demi ketegangan yang “menyihir”.

Bilamana lelaku pengarangnya hanya memindahkan wajah legenda sebagaimana yang tersurat saja—dan mengabaikan yang tersirat—maka novel ini pastilah menjemukan. Tapi Rizu cergas menyelusupkan pesan inspiratif yang “menggugah” sebagai sebuah ikhtiar mengajak pembaca memasuki lorong permenungan. Sebut misalnya ajakan memaknai amarah agar tidak lagi disembuhkan melalui serentet pembalasan dendam belaka. Atau cara keluar dari penjara kepasrahan dan kungkungan ketakberdayaan. Juga hikmah ihwal bagaimana berguru pada pengalaman—membaca gejala dan peluang—sehingga kita mampu meletakkannya sebagai cermin kesadaran.

Kuasa Cinta yang ditawarkan Rizu adalah hajat emosional—di sampul depan tertulis: membunuh adalah bagian dari cinta—yang dapat membantu kita melepaskan diri dari nafsu membunuh itu sendiri. Ya, Cinta tetap harus dikaitkan dengan dorongan hidup, baik untuk sekadar “bertahan hidup” maupun untuk “hidup lebih baik”. Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, Rizu berhasil menata kepingan peristiwa dengan laras di penghujung cerita. Di tangannya, jelajah prosaik yang "asing" tergarap dengan laku penuturan yang mudah dicerna. Alhasil, novel ini tidak melulu bisa dinikmati penyuka sastra belaka, tapi juga dapat digandrungi peminat cerita fiksi umumnya. Maka, ujaran Bamby Cahyadi bahwa Rizu bisa bertumbuh menjadi tandingan Shidney Sheldon dan Tolkien, suatu ketika bisa menjadi “sesuatu” yang tidak mengada-ada.

Dengan demikian, menjawab syak-wasangka saya di awal tulisan ini, tidaklah mesti kita ke bulan jika kita ingin menuliskan sesuatu tentang bulan. Begitulah. Riset serius dan lelaku mengamati selama dilakoni dengan tekun, dapat membantu kita melahirkan cerita yang “memikat” dan “menyihir”.

Khrisna Pabichara, bergiat di Kosakata, Komunitas Mata Aksara, dan Komunitas Planet Senen.