Selasa, 19 Januari 2010

[TELISIK SASTRA] Napas Kepenyairan: Sebuah Epilog

Catatan: Epilog ini ditulis untuk menyertai penerbitan Antologi Puisi Lekas.




NAPAS KEPENYAIRAN: SEBUAH EPILOG
Oleh KHRISNA PABICHARA



I

TIDAK ADA jalan pintas menjadi penyair. Siapa saja yang berhasrat menjadi penyair, harus membangun intelegensia dan kepekaan. Harus rajin mengendapkan rasa dan membuka diri agar kecerdasan estetika masuk sebanyak-banyaknya. Harus disiplin dan berani mengambil risiko melatih kecerdasan gramatikal secara bertahap—setapak demi setapak. Harus bernyali untuk mematut gaya kepenyairan lewat beragam eksperimen. Tak boleh mengenal kata berhenti. Tak layak berpuas diri. Setiap hari mengasah pena. Biar lebih padat, lebih sarat. Biar bersua dengan kekhasan dan kesadaran estetika yang tidak semata menjadi epigon yang manut pada pendahulunya.

Terlepas dari hajat penciptaannya, setiap puisi menjadi pertaruhan bagi penyair untuk menawarkan kebermaknaan bagi khalayak pembacanya. Sebuah puisi seyogianya adalah sodoran tumpukan kata dengan kejernihan dan kedalaman makna. Semakin digali semakin bernilai. Bukan semata “makna kias” (makna yang bukan makna sebenarnya, melainkan mengiaskan sesuatu), tetapi juga “makna afektif” (makna yang berkenaan dengan emosi, perasaan, atau keadaan), dan “makna leksikal” (makna perlambangan benda atau peristiwa).

Dengan rendah hati saya menyatakan bahwa dari sanalah bermula keyakinan: Tidak mudah menjadi penyair. Ibarat dokter spesialis bedah, penyair harus memiliki kepekaan dan keahlian menyayat atau merobek kata demi kata, lalu merajutnya kembali dengan penuh pikat sembari meniupkan “ruh estetika” kepadanya, agar karyanya terbaca dan dapat dinamai puisi. Jika diamsalkan lari marathon, penyair adalah pelari yang piawai menjaga dan mengatur “napas kepenyairan”. Antologi atau pembukuan puisi bukanlah terminal akhir yang hendak dituju, melainkan tonggak awal yang menandai sejarah kepenyairannya. Tak ada kata “pensiun” bagi penyair selama nyawa masih menyatu dengan raganya. Ia selalu bertumbuh bersama kata. Selalu, dan selalu.

Jelaslah kiranya betapa beratnya beban yang dipikul para penyair. Ia mengemban amanat perubahan sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Seperti tutur Damhuri Muhammad, “Beban penyair sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat.” Ini bukan upaya menakut-nakuti. Ini semata ajakan agar kita—dan siapa saja—yang berhajat jadi penyair: serius melakoni lelaku kepenyairannya. Itu saja. Tak lebih, tak kurang.



II

Judul buku ini, Antologi Puisi Lekas. Selayaknya antologi lain, buku ini adalah kumpulan puisi beberapa “penyair” yang—pada mulanya menjadikan puisi sebagai kegemaran belaka, lalu—berniat menjadi penyair beneran. Terlepas dari kekuatan dan kelebihan puisi yang dirangkum dalam buku ini, tampak keseriusan para punggawa LEKAS dalam menggamit dan mengumpulkan puisi demi puisi. Wilayah mukim yang berjauhan, rentang usia dan latar pendidikan yang beragam, serta profesi yang tidak sama, menjadi titik-tolak keberagaman. Intensitas dan konsintensi berpuisi juga mengayakan warna buku ini. Tidak heran jika kita bersua puisi yang kuat—dari sudut intrinsik maupun ekstrinsik—setelah kita berlalu dari puisi yang “masih” butuh pengendapan dan pendalaman.

Lumrahnya, antologi puisi diikat oleh satu simpul tema. Atau, karakter penulisan yang selaras antarpuisi. Namun hal itu tidak tersua pada antologi ini. Tema garapan beragam. Karakter dan gaya berpuisi pun beragam. Dari keberagaman itulah saya memulakan silaturrahmi pembacaan.



III

KEGELISAHAN. Inilah undak pertama yang saya pijak dalam pembacaan antologi ini. Kesan pertama yang saya temukan ketika membaca buku ini adalah kegelisahan, rasanya seperti menyaksikan geliat tak berkesudahan dari seorang yang tak terpuaskan oleh keadaan. Tentu saja ini bukan sesuatu yang baru. Banyak penyair yang lebih dulu mendedahkan kegelisahan ke dalam puisi-puisinya. Dan, beberapa di antaranya memperlihatkan gejala keterpengaruhan. Meskipun ada juga yang berusaha menempatkan diri dalam bayang-bayang generasi terdahulu. Bagi saya, ini sah-sah saja. Tak ada seorang pun yang bisa lolos dari pengaruh orang lain.

Pada mulanya saya terkikik membaca puisi “pecicilan” khas Poncowae Lau. Dalam puisi Perintis Kemerdekaan misalnya.

perintis kemerdekaan?
; ya!
tinggal lurus saja
ketemu perempatan belok kiri
.


Luar biasa, dengan lugas Ponco meneguhkan kesan keterpinggiran para pahlawan “perintis kemerdekaan”. Nama-nama para pahlawan itu semata dipajang di setiap mulut jalan atau rahang gang. Bahkan, ada beberapa keluarga pahlawan itu yang hidup “senin-kamis”. Puisi ini reflektif, tapi menggelitik kesadaran kita dengan lembut dan santun.

Hal sama juga dikabarkan oleh Jejak Sandi. Melalui Malam Sepotong Harapan, Sandi merekam kegelisahan hatinya pada hitam—warna yang diyakininya sebagai perlambang malam pekat.

”aku takut, maria, aku takut!”
(dalam kegelapan betapa butanya aku
betapa kosongnya aku)



Dengan enteng ia mengakui ketakutannya pada gelap. Ada nada getir dan pahit dari cara Sandi memainkan imaji. Kata-kata yang ditautkannya mewakili ketakberdayaan, kelemahan, dan ketaksanggupan. Dengan unik, Sandi mengajak kita mengeja kegelisahan itu, menyeret kita masuk ke dalam pengalaman yang menyehari. Puisi-puisi Jejak Sandi yang lain pun menyiratkan keseriusan seorang “pendatang baru” di kancah perpuisian kita. Sebut misalnya puisi Kisah Sunyi.

dengan bulan aku berbagi
sisanya kubur sunyi
mencekik
.


Lantas, tersaji pula puisi-puisi MH Poetra. Dengan langgam tipografi yang tak lumrah, ia menganggit puisi Hujan dalam Doa. Huruf demi huruf ditata sedemikian rupa hingga membentuk sosok yang sedang bertelimpuh, asyik-masyuk mengumandangkan munajat hati.

maka beri aku tempat bernaung, di mana
Kau sendiri bernaung. sebelum nanti,
aku meninggi, antara kita tak terbatas
.


Poetra seakan menegaskan kebiasaan manusia (sebagai hamba) dalam melantunkan doa kepada Tuhannya (sebagai Tuan)—yang kerap sangat sulit dibedakan antara “meminta” atau “menyuruh”. Begitu pula dalam puisi Sepenggal Kisah Haru. Poetra menerang-jelaskan kegelisahan hatinya. Seolah memanggungkan keseharian kita yang sering mengecap luka dengan sengaja, lalu memintalnya sebagai kenangan yang tak lekang dari ingatan.

sehari ini kita bermuka-muka
bercakap-cakap lewat luka
aku ini karat, bukan pusaka
masih meminta diri, padamu punya hati
.


Ia membangun keliaran eksperimentasi bentuk dalam meneroka jalan kepenyairannya.

Demikian halnya dengan Tri Wahyuni. Ia membingkai kegelisahan hatinya dengan figura puisi yang “nakal”. Ia menyentil dengan takzim lewat puisi Kuciptakan Sajak Ini Untukmu. Ada napas Rendra dan Widji dalam “ruh” puisinya. Tetapi itulah pilihannya. Baginya kegelisahan itu harus diungkapkan, karena jika dierami berhari-hari bakal menjadi virus yang menggerogoti hati.

Kau bangun istana termegah
Pada lahan-lahan yang gersang
Lalu gedung menjulang
Menimbun petani bersama ladangnya
.


Apalagi yang tersisa jika sumber penghidupan dimatikan dengan sengaja? Begitulah kabar yang dideklarasikan oleh Yuni.

Dan, kegelisahan itu memuncak pada puisi Bolehkah Aku Menitip Bangkai? yang digubah oleh Arie Oktara. Ia dengan cergas menguarkan kegelisahannya menyaksikan rumah ibadat hanya menjadi panggung puja-puji semata, hanya sekadar upacara pengguguran kewajiban, dan kehilangan kekhidmatan dan kesakralannya.

Bolehkah aku titipkan bangkai?
Bangkai Tuhan
aku dapat dari surau,
sedang meratapi mimbar
.


Simbol-simbol diletakkannya dalam puisi ini: bangkai-Tuhan-surau-mimbar. Kesemuanya menisbahkan rutinitas upacara keagamaan.

Kegelisahan yang dikabarkan oleh Ponco, Sandi, Poetra, Yuni, dan Oktara adalah gambaran realitas kehidupan yang tampak sedemikian nyata.



IV

KEYAKINAN. Kesan kedua yang saya rasakan seusai pembacaan buku ini adalah keyakinan. Febimiss seolah menempatkan diri sebagai penyair romantik yang mengumandangkan puisinya sebagai “pusat” getaran jiwa terdalam, dengan keyakinan sebagai saripati imannya. Ia meyakini bahwa puisi tidak mengusung makna afektif yang bertautan dengan perasaan, tetapi juga sekaligus sebagai alat efektif untuk menelusupkan semangat, gairah, dan kepedulian. Pada puisi Bila misalnya, Febimiss mendedahkan kegigihannya menjaga keyakinan hidup.

Bila rawa bermuram durja
Sungai ‘kan setia dengarkan keluh kesah
.


Seperti halnya Febimiss, Damai Prasetyo pun menyampaikan pesan lewat kemasan yang “disamarkan”. Ia seolah mengajak kita untuk menemukan hakikat Cinta, ketika kegelisahan, kemarahan, keputusasaan, bahkan ketakberdayaan menerpa kita, Damai mengajak kita berpulang pada Cinta. Dengan Cinta: yang berat akan terasa ringan, yang rumit akan menjadi indah. Yakinlah, dengan cinta yang buram akan menjadi benderang. Begitulah ia sampaikan secara terselubung melalui puisi Cinta Pun Berpulang.

Cinta pun tetap berpulang
Bahkan ketika ia adalah satu-satunya alasan
.



Metafora adalah salah satu kelengkapan puisi. Eko Putra membingkai keteguhan hatinya lewat metafora. Ia beramsal tentang kegigihan yang tak boleh punah karena terjangan rintangan. Hal itu dianggitnya dalam puisi Lelaki Penunggu Sungai.

kucari lagi kearifan bersama musim dan pasang
tapi perahu tak lagi mendayung lajuku
ke muara
.


Kita tak boleh berhenti mencari dan menemukan hajat pribadi, impian yang kita dambakan. Kita harus terus bergerak, meski situasi paling sulit menerjang dari segenap peenjuru. Tak mengapa laju perahu terhenti, kita masih bisa terjun ke sungai, lalu berenang ke muara. Seperti itulah pesan tersirat yang hendak dikabarkan olehnya.

Sementara itu, Faradina Izdhihary mendaraskan keyakinan ke dalam puisinya, Takdirmu. Baginya, takdir itu terletak di tangan kita. Itulah mengapa sehingga ada istilah “suratan tangan” yang bisa diterjemahkan sebagai “sesuatu yang tersurat di tangan”. Dengan lirih Faradina mengungkapkan keyakinannya.

di tanganmu tulisan takdir
melebihi kepastian
betapa nelayan pasti pulang
menemu suluh
sehabis subuh
.


Ia menegaskan bahwa kitalah yang berkuasa atas “perjalanan” nasib kita. Dan, keyakinan itu pula yang akan menggerakkan hasrat untuk segera berbuat, bukan terus-menerus bertelekan tangan menunggu keajaiban.

Begitulah. Febimiss, Damai, Eko, dan Faradina mengawin-silangkan keyakinan dengan kecerdasan puitiknya. Meski masih agak tersendat—dalam keterbatasan pembacaan saya—tapi terlihat keseriusan dalam meracik metafora dan membangun tamsil.



V

KEBAHAGIAAN. Inilah kesan ketiga yang mengendap di benak saya. Setiap kita pasti merindukan kebahagiaan. Tak ada seorang pun yang menghendaki hidupnya didera rupa-rupa derita. Boleh jadi apa yang kita impikan belum tercapai, tidak berarti kita harus mencaci-maki diri sendiri. Boleh saja segala hal yang kita dambakan belum tercukupi, namun bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri. Bahkan dalam kegagalan kita bisa merasa bahagia. Setidaknya karena kita sudah berbuat.

Pada puisi Geliat, Delima Lestari Widya menyampirkan rasa bahagia secara eksplisit—gamblang, terang-terangan, dan tidak ditutup-tutupi.

pijar mataku oleh kenikmatan
tercapai apa yang belum kudapatkan
.


Pencapaian terbaik bukanlah pada hasil akhir, melainkan pada proses. Melalui proses itu pula kita belajar menemukan eksistensi diri. Dengan proses kita akan terus menggeliat, bergerak maju, dan belajar dari rangkaian kesalahan. Tanpa itu, kenikmatan rasa bahagia akan tereduksi.

Hakikatnya, puisi bisa menjadi apa saja. Ia bisa menjadi mesin pencatat, baik peristiwa penting maupun hal paling remeh. Ia bisa menjadi perekam ingatan, baik sejarah maupun lelaku keseharian. Begitulah yang didaras oleh Fatimah lewat puisi Keajaiban Cinta (2). Dengan penuh gelora ia menyatakan kebahagiaannya: laksana bayi yang ketemu mainan kegemarannya.

ajaib, begitu ajaib menggelorakan percik-percik impianku
hingga menjelma samudra harapan yang menjadi nyata
.


Dan, aku lirik dalam puisi ini meluapkan kegembiraannya setelah ketersisihan yang dijalaninya menemukan “mutiara”.

Lain halnya dengan Guswar. Coba kita simak petikan yang saya kutip dari puisinya, Ia Bergerak dalam Sebuah Bingkai.

apa yang jadi kemenangan kita
terhadap apa yang disebut diri
sejatinya kita hanyalah kekalahan
namun bergerak dikelilingi kemenangan
.


Kita boleh bersuka-ria merayakan kemenangan, tapi jangan sampai lupa diri. Kita tidak perlu menepuk dada atau mendongakkan kepala hanya karena kebahagian yang tumpah-ruah. Kita harus tetap mawas, betapa perjalanan masih teramat panjang.

Begitulah, puisi itu harus hidup. Ia harus mampu menerjemahkan kehidupan. Ia harus berdiri kukuh berdampingan dengan kenyataan, muasal puisi itu sendiri. Delima, Fatimah, dan Guswar telah berusaha keras agar puisi tidak terasing dari kenyataan kehidupan itu.



VI

KEGIGIHAN. Ini antonim dari ketakberdayaan. Begitulah kesan keempat yang menyapa jiwa saya. Kesan itu saya temukan ketika menyambangi puisi Nyanyi Sumbang Anak Pinggiran karya Imron Tohari. Ia tak menembukkan harapannya pada tembok beton, tapi menajamkan hatinya untuk terus mencari solusi.

Di engsel mana
Harus kurekat lagi cita-citaku
.


Semestinya begitulah sikap kita, tak berhenti mencoba jalan baru ketika semua jalan buntu. Saya sendiri meyakini bahwa ketika semua pintu tertutup, masih ada jendela sebagai alternatif jalan masuk. Artinya, selalu ada jalan selama kita berani mencoba. Dan, kepasrahan tidak dimaknai sebagai ketakberdayaan, melainkan sebagai penguat hati.

Setelah itu, sandingkan dengan puisi Retak yang dirangkai oleh Lany Sulystiawati. Seperti halnya Imron, Lany juga “tak berhenti mencari”. Hal ini tersirat dalam petikan puisinya.

dalam kaca yang retak jadi serpih
masih kukenali bayang itu
tetap berdiri di tempatnya
.


Meskipun agak “membingungkan” ketika saya membaca retak jadi serpih—berapa kali kaca retak dan jadi bubuk—namun saya tetap berusaha menelaah arah capaian makna yang hendak disasar oleh Lany. Jangan berhenti mencari, bahkan dalam cermin retak sekalipun bisa terlihat begitu nyata sosok yang kita cari.

Dengan sedikit ngebanyol, M. Kusuma Al-Franz menutup puisi Tik Tok Tik Tok. Katanya,

tik tok tik tok
Adakah hatimu terketuk?



Sebuah penutup puisi yang sederhana, tetapi di situlah letak kekuatan puisi ini. Di balik kesederhanaan itu tersimpan sebuah alegori tentang kegigihan “aku lirik” dalam memperjuangkan harapannya. Tak ada kata pasrah, tak ada kata menyerah. Sekali-dua kali tak terdengar jawaban, ketuk lagi. Lagi, dan lagi. Berkait dengan puisi di atas, Pandeka Minang pun menawarkan puisi yang beraroma kegigihan, Secangkir Kopi. Suatu saat, ketika kita menemukan secangkir kopi pahit yang tak sesuai dengan selera kita, tak perlu bermuram durja.

”kita tambah saja banyak gula.”


Begitu katanya. Ya, itu jelas. Hidup ini sederhana. Barulah menjadi rumit jika kita merumitkannya.

Dan, kegigihan itu dipuncaki oleh Yayan R. Triyansyah. Ia menyatakannya lewat puisi Perempuan Keberapa. Saya petikkan satu larik dalam puisi itu.

karena pekatnya secangkir kopi di setiap pagi, tak pernah basi
walau sudah malam hari
.


Artinya, jangan cemas. Selalu ada waktu untuk berbenah. Apa yang kita anggap sudah usai di siang hari, bisa saja kita perbaiki lagi ketika malam sudah tiba.

Begitulah. Imron, Lany, Franz, Pandeka, dan Yayan telah menggoreskan warna puisinya. Mereka mengusung optimisme dalam menghadapi kenyataan, termasuk yang paling getir, dan menjadikan puisi sebagai “menu spiritualitas” yang inspiratif.



VII

PADA AKHIRNYA, keempat kesan itu—kegelisahan-keyakinan-kebahagiaan-kegigihan—hanyalah bacaan semata. Dan setiap bacaan pastilah menyertakan keterbatasan. Namun, tetap saja kita perlu mencermati bahwa menjadi penyair tak lebih enteng daripada menjadi penyelam. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu berenang, kita harus melengkapi diri dengan peralatan selam. Termasuk di antaranya tabung oksigen, agar kita bisa tahan berjam-jam menikmati keindahan dasar laut. Tapi, itu saja belum cukup. Kita butuh nyali, kita harus berani melawan rasa takut. Selama perlengkapan dan nyali itu belum cukup, jangan berkecil hati, kita masih bisa jadi perenang yang rajin mencuri napas pada setiap ayunan tangan. Sebagai penyair, kita harus rajin membaca. Baik kitab sajak, maupun kitab terbuka di alam sekitar kita.

Lalu, kita camkan kembali fatwa Lao Tze, bahwa langkah ke-1.000 berawal dari langkah pertama. Dan, buku ini barulah langkah pertama.

Jakarta, Januari 2010.


Khrisna Pabichara, motivator kecakapan belajar dan penyuka sastra. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Jakarta, Komunitas Mata Aksara, dan Komunitas Planet Senen.

[ARTIKEL MOTIVASI] Katakan dengan Cinta

Catatan: Artikel sederhana ini dimuat dalam Rubrik Usrah, Tabloid Assalamu'alaikum, Edisi Januari 2010. Dedikasi untuk milis ayahbunda yang mengirimkan e-mail berisi cerita di bawah ini kepada saya, dan menjadi inspirasi artikel ini. Salam paling takzim.





KATAKAN DENGAN CINTA
Oleh Khrisna Pabichara


TERSEBUTLAH KISAH seorang putri sedang sibuk membantu Ibunya. Mengepel lantai, cuci piring, dan menjemur pakaian. Setelah semuanya selesai, ia segera ke kamar, menyalakan laptop dan segera berselancar di dunia maya. Pada mulanya ia membuka halaman facebook, lalu larut chating dengan beberapa temannya dari berbagai belahan dunia. Sesekali ia geli dan terbahak sendiri.

Lalu, terdengar teriakan lembut Ibunya dari arah dapur. Dengan tangkas ia menyahut. Ia tak pernah berdiam diri setiap kali ibunya memanggil atau membutuhkannya. Ia selalu ingin berbakti, meskipun merasa sedikit terganggu karena keasyikannya ber-facebook ria harus terhenti. Tiba di dapur, Ibunya memintanya membeli garam. Ia pun bergegas ke warung yang berjarak beberapa puluh meter saja dari rumahnya.

Sekembalinya dari warung, ia pun menyerahkan garam itu kepada Ibunya. Dan, seperti biasa, Ibunya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tulus dengan mata dipenuhi pendar cahaya. Sungguh kegembiraan tak terkira ketika melihat orangtua tercinta tersenyum bahagia. Begitulah yang dirasakan remaja putri itu. Tetapi terlintas dalam benaknya untuk sedikit berseloroh. Tak lama berselang, ia menyorongkan secarik kertas kepada Ibunya.

Ongkos Membantu Ibu:
1) Membantu belanja ke warung: Rp. 20.000
2) Menjaga adik: Rp. 20.000
3) Membuang sampah: Rp. 5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp. 10.000
5) Menyiram bunga: Rp. 15.000
6) Menyapu halaman: Rp. 15.00
Jumlah Utang Ibu: Rp. 85.000



Selesai membaca, sang Ibu tersenyum memandang wajah putrinya yang berseri-seri. Sang Ibu lalu mengambil pena lalu menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.

Biaya Cinta Ibunda:
1) Mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS.
2) Menjagamu dalam sakit dan sehat: GRATIS.
3) Mengasuh dan merawatmu: GRATIS.
4) Menyediakan makan dan minum: GRATIS.
5) Mendidikmu dengan penuh cinta: GRATIS.
Total Cinta Kasih Ibu Kepadamu: GRATIS.



Air mata gadis remaja itu pun mengalir di wajahnya. Sambil memeluk Ibunya, ia berkata dengan lirih, “Saya mencintai Ibu.” Lalu ia mengambil pena dari tangan Ibunya, dan menulis lagi, “Lunas, telah dibayar dengan sepenuh cinta.”

Begitulah. Semua Ibu pasti bakal berhadapan dengan ulah-laku anak-anaknya. Kadang menggemaskan, kadang menjengkelkan. Kadang sangat membahagiakan. Akan tetapi, ketika menjengkelkan, kita tak perlu mengumbar kesal, apalagi marah-marah dengan penuh caci-maki. Setiap ucapan yang keluar dari bibir kita akan tersimpan dalam memori anak. Karenanya, alangkah indah jika menghadapi sikap anak dengan sepenuh “cinta”. Dan menyampaikan apa pun perasan dengan “cinta”. Dengan demikian, rumah akan menjadi persinggahan idaman bagi setiap anak. Sekaligus menjadi sekolah paling unggul dalam mencetak generasi tangguh.

Seperti pesan Ibnu Shina, “Rumah adalah universitas tertinggi.” Maka, mari kita jadikan rumah kita sebagai “surga” paling menyenangkan bagi semua anggota keluarga.

Jakarta, Januari 2010.
Khrisna Pabichara, motivator dan penggiat sastra.

Kamis, 14 Januari 2010

[TELISIK SASTRA] Membincangkan Sepi Menyatakan Puisi

Catatan: Tulisan ini bisa juga Anda baca di http://www.facebook.com/note.php?note_id=285910186398



MEMBINCANGKAN SEPI MENYATAKAN PUISI
Oleh Khrisna Pabichara


I

PUISI, bagi saya, bukan semata setumpuk kata. Ia adalah kaca bening tempat saya bisa mengacakan hati. Setiap membaca kiriman puisi di facebook, saya seolah mendaki ke puncak hening, lalu ekstasi setelah menikmatinya. Karenanya, tidaklah aneh jika saya berani menyatakan bahwa puisi adalah sarana paling tepat untuk melembutkan hati dalam kerangka meningkatkan kecerdasan spiritual. Tentu saja pendapat ini bukanlah harga mati, melainkan ihwal yang dapat digugat setiap saat.

Sebagai bukti kecintaan saya pada puisi, saya berusaha tidak hanya “mengaji” setiap puisi yang mampir di beranda facebook saya, tetapi juga berusaha “mengkajinya”—sebagai upaya menafsirkan perasaan dari hasil pembacaan itu.

Maka, terdaraslah telisik ringan ini.


II

TAHUKAH Anda apa itu sepi? Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia(Edisi Daring), sepi berarti lengang atau sunyi. Dengan demikian, menyepi dapat kita maknai sebagai mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Kata ini bukanlah lema yang asing bagi kita. Setiap diri pasti pernah merasa sepi. Bahkan ada yang secara sengaja “mencari” sepi. Semacam alienasi, mengasingkan diri dari keramaian untuk menemukan sesuatu yang didambakan. Seniman mencari sepi demi meracik ilham. Pelaku bisnis mengayak sepi untuk mematangkan rencana. Dan, para Nabi memburu sepi demi menajamkan pemahaman terhadap larik demi larik wahyu.

Pada telisik ini, saya berhajat mendedahkan rupa-rupa rasa seusai membaca tiga puisi karya tiga “pepuisi” berbeda. Namanya juga telisik ringan, pastilah tidak dirumitkan dengan pelbagai teori. Namanya juga telisik sederhana, pastilah bebas dari rujukan referensi yang berat-berat. Seperti membaca “sepi”, hanya terasa ketika bening hening benar-benar singgah di hati.


III

KIAMAT. Itulah hal pertama yang terbetik di benak saya ketika membaca puisi Riwayat Sehelai Rambut Terbelah Tujuh Warna Pelangi yang dianggit dengan “serius” oleh Handoko F. Zainsam. Ihwal apa dan bagaimana kejadian setelah kiamat inilah yang didedahkan secara tersirat oleh Handoko. Ada semacam upaya menafsirkan sendiri lalu meniupkan “ruh” pemahamannya ke dalam sebuah puisi. Sehelai-Rambut-Terbelah-Tujuh-Warna-Pelangi adalah penerjemahan terhadap titian yang bakal dilewati manusia—dan segala makhluk yang pernah ada(?)—ketika dibangkitkan kembali, sebagaimana termakhtub dalam banyak kitab suci agama samawi. Lewat puisi ini, Handoko mencoba mereka-reka wajah manusia yang seolah tidak mempercayai kejadian yang baru saja mereka alami. Setelah diamuk mala paling petaka—bernama kiamat—mereka merasakan sepi paling sunyi. Manusia—ketika itu—hanya bisa jadi penyaksi atas segala peristiwa yang telah mereka perbuat dan harus dipertanggungjawabkan.

Mari kita tafsirkan sajak ini. Supaya lebih jelas, kita simak bait pertama. //Sehelai rambut seorang putri terbelah menjadi tujuh warna pelangi. Melayang dan rubuh berdebum mencipta jembatan ruang kebangkitan menuju kota sunyi.// Pilihan kata yang diletakkan dalam puisi ini berasa seolah bumbu penyedap yang dapat merangsang hajat pembacaan dan menyeret pembaca ke samudera tanda tanya. Saya pribadi memaknai tujuh warna pelangi sebagai penggolongan manusia berdasarkan lelakunya selama di dunia. Sementara menuju kota sunyi adalah tempat kelak manusia itu “diletakkan”.

Begitulah. Ada maklumat yang disampaikan secara tersirat oleh Handoko, sebuah ajakan untuk menyandera perilaku “buruk” lewat fasilitas akal yang dimiliki setiap manusia. Kita diajak menyeruput rasa sepi secara “terselubung”, tanpa harus merasa digurui, apalagi dihakimi.


IV

LAIN lubuk lain ikan. Begitu uar pepatah. Cara Handoko membincangkan sepi tentulah berlainan dengan pola Syaiful Alim meneriakkan hajat sunyi yang dirasanya. Melalui sajak Susu Sepi, Syaiful seolah menegaskan aroma “ketidakpuasan” terhadap perlakuan yang dialami “Sang Aku” dalam sajaknya—pengkhianatan, kepalsuan, kelabu-mengelabui—yang dilakukan oleh “yang dicintanya”. Bahwa kita kerap mendengar “susu sapi”, itu jelas. Tetapi tidak dengan "susu sepi". Coba kita simak. //susu sepi ini bagai susu sapi/ menguatkan tulang tangisku/ sehabis kau iris.// Pedih memang selalu menyisakan nyeri, tapi jika didaur-ulang dengan tepat, ia akan menjadi asupan berharga yang bisa menguatkan hati.

Pada penghujung puisinya, Syaiful seolah ingin memastikan kepada “khalayak pembaca”, bahwa semua manusia itu bertopeng. Baginya, manusia tidak bisa memaklumatkan apa-apa selain basa-basi, kepalsuan, dan kebohongan. Kalaupun ada sosok yang menawarkan kesetiaan dan kekukuhan cinta, itu semu dan palsu. Tetap menyertakan pamrih. Semacam isyarat: memberi karena ingin menerima. //aku kini penggembala kata. merawat sakit dan minum susu sepi/ sedikit demi sedikit supaya kumelupa gigit genitmu di leherku yang purba.// Tentulah ada argumen bagaimana dan kenapa puisi ini dilahirkan. Bagaimana pun, puisi ini mengajak kita merenung, menyapa sepi, lalu membaca diri. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia yang lalai pada lelaku sendiri.

Begitulah. Syaiful membincangkan sepi dengan takzim. Menuangkannya ke cawan puisi, agar bisa kita reguk setiap saat.


V

KETIKA Handoko menajamkan sepi pada akhir kehidupannya, dan Syaiful menisbahkan sepi sebagai aroma “ketidakpuasannya”, maka Yayan R. Triyansyah menanggungkan haru-biru rindu yang dirasanya ke dalam sepi. Sunyi baginya bukanlah musuh, layaknya ombak yang selalu dirindukan saat lidahnya menjilat pantai. Kerinduan baginya adalah “sari” dari Cinta. Ia menyatu, bukan berdiri sendiri. Semisal laut dan pantai, salah satunya tak bisa mengada, jika yang lainnya tiada. Maka, pengabaran lewat kombinasi cantik antara kecerdasan estetis dan etis dalam Cerita Cinta Laut, belumlah bermakna apa-apa sebelum kita letakkan kembali fitrah “mencinta” dan “dicinta”, lengkap dengan segala warna yang menyertainya—hitam atau putih, buram atau terang.

Itulah gagas-pikir yang didedahkan Yayan ke dalam sajaknya, Cerita Cinta Laut. Kita bisa menyimak bait pertamanya. //Aku ceritakan sedikit tentang laut tempatku tinggal; di sana ada sepasang kerinduan yang melukiskan tawa senyummu. Lalulewat debur ombak menyampaikan pesan langit pada pantai, karena ombak adalah cakrawala garis lengkung suatu cinta; jarak napas kerinduan yang nyata.//

Tak ada riuh di sana. Ombak pun bukanlah gemuruh, tapi semata debur yang menyampaikan pesan: jarak napas kerinduan yang nyata.

Lalu, pada bait kedua, Yayan dengan gesit menyatakan “rasa sepi” yang meripit di hatinya. Ia menyampaikan gundahnya dengan alegori lembut yang berkait mesra pada kata: gunung-muara-garam-asin-laut-setia-cinta. Hal ini bisa kita temukan pada bait kedua. //Kemudian ada pesan di bibir muara. Darinya, kabar tentang gunung tak terbendung, yang selalu mengirim garam untuk memberi rasa lautan, sebagai bukti kesetiaan. Begitulah sedikit cerita tentang laut, yang kini menelanku menjadikan satu dengan cintaku.//

Tidak perlu lagi kita pertanyakan kesetiaan gunung mengirim garam lewat sungainya yang bermuara pada laut. Seperti itulah “kesetiaan” yang diusung “Sang Aku” dalam puisi ini. Kesetiaan yang berwarna, meliuk di setiap kelok sungai, sesekali menderas atau tumpah sebagai air terjun. Namun, tetap saja ia akan mengalir menuju laut, seberapa pun jauh perjalanan “sepi” itu harus ditempuh.


VI

SEPI ketika dibincangkan dengan ringan dan dinyatakan lewat puisi, bisa menjadi teman yang asyik. Maka, jika tiba-tiba sepi menyeruak, tak perlu panik. Jadikan itu puisi. Selain mengayakan, juga bisa menenangkan hati. Dan facebook bisa menjadi sarana berbagi, menebar keindahan “sepi” itu ke segala penjuru. Pastilah banyak jempol, komentar basa-basi atau komentar sejati, bahkan puja-puji dan caci-maki. Tapi itu adalah proses pembelajaran. Seperti belajar “membaca sepi”.

Maka, mari bersulang: kita rayakan keriuhan sastra di ranah maya ini.


Mata Aksara, 14|01|2010