Sabtu, 12 September 2009

CERPEN "Rumah Panggung di Kaki Bukit"

Catatan: Cerpen ini dimuat di Republika (Minggu, 13/09/2009).


RUMAH PANGGUNG DI KAKI BUKIT
Khrisna Pabichara


SAYA sudah kaya. Sudah berilmu. Dan, alim. Karena dengan tiga syarat itu aku sudah bisa menyuntingmu, besok pagi aku tiba di kampung halaman.

☼☼☼

“AKHIRNYA engkau pulang, Bori,” desis Kana perlahan-lahan. Kana membaca pesan pendek itu sekali lagi. Lalu, dia memasukkan handphone ke saku roknya. Pesan pendek itu diterimanya kemarin sore. Sudah berkali-kali dibacanya, tapi Kana tak pernah bosan. Wajahnya berseri. Matanya bercahaya. Di pucuk lontar, dia lihat wajah Bori tersenyum. Sangat menawan. Masih seperti senyumnya lima belas tahun silam. Dan, ketika Kana mengalihkan pandangan ke halaman rumah, senyum Bori kembali memenuhi semua ruang yang terlihat olehnya. Lalu, dicobanya membongkar ingatan. Bagaimana sesungguhnya mata Bori. Bagaimana alisnya, hidungnya, dahinya, dan bibirnya. Tapi, tak satu pun bisa diingatnya lagi dengan pasti. Semua samar. Lamur.

Sungguh, Bori itu lelaki idaman semua perempuan. Tiada nila-cela pada dirinya. Tegap badannya. Berwibawa penampilannya. Taat ibadahnya. Santun tutur-lakunya. Pandai membawa diri. Dan, tatapan matanya! Alamak! Maka, banyaklah perempuan menaruh hati padanya. Termasuk Kana. Tak disangka, Bori pun jatuh cinta padanya. Senang tiada terkira hati Kana.

Sayang, Bori bukan laki-laki keturunan bangsawan. Darahnya biasa, merah. Bukan darah biru. Meski demikian, mereka nekat. Diam-diam menjalin cinta. Ibarat lubuk, permukaan airnya tampak tenang. Tak beriak. Tapi di bawah, arusnya deras. Terus bergolak, terus bergerak.

☼☼☼

WAKTU itu, Kana baru kelas satu SMP, sedang Bori sudah kelas tiga. Sebenarnya sangat tidak nyaman menjalin cinta dengan terus sembunyi, tapi tak ada cara lain yang bisa mereka lakukan. Apalagi setelah ayahnya secara tersirat melarang hubungan mereka.

“Kaeng tahu hubungan kalian. Cinta memang tidak memandang martabat. Tapi, pikirkan kehormatan keluarga. Tak layak kamu bersanding dengan Bori, Nak.”

Sejak itu, mereka tidak lagi pacaran. Namun, mereka masih saling mencinta. Setamat SMP, Bori merantau ke Jakarta. Katanya, ia ingin melanjutkan sekolah, mengumpulkan uang, dan nyantri biar jadi orang alim. Jika Bori memiliki ketiga hal itu, barulah berhak Kana dilamarnya. Ya, begitulah adat orang Turatea. Adat yang dipiara turun-temurun. Adat yang meletakkan manusia berdasarkan derajat. Adat yang menakar harkat karena warna darah.

Kelas terendah disebut ata. Golongan rakyat biasa. Pada jaman dulu, mereka kaum pekerja atau budak para bangsawan. Di atas golongan ata, namanya daeng. Seperti ata, lelaki berdarah daeng tidak bisa menikahi perempuan berdarah karaeng. Kecuali mereka memenuhi tiga syarat. Pertama, kaya. Kedua, berilmu. Ketiga, alim. Dulu, Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar yang dibuang penjajah ke Afrika Selatan, pernah mengalami hal sama. Ia tidak bisa menikahi putri Sultan Gowa, maka ia merantau ke Banten. Namun, ketika ketiga syarat sudah dipenuhinya, Syekh Yusuf tidak kembali ke tanah Gowa.

Kelas tertinggi, karaeng namanya. Biasanya turunan raja atau bangsawan. Keistimewaan golongan ini, lelaki berdarah karaeng bisa menikahi perempuan mana saja yang mereka suka. Baik daeng maupun ata.

Kana sendiri merasa ada ketidakadilan adat dalam memperlakukan manusia. Bayangkan, orang dari kasta terendah ”tidak dibenarkan” menikahi golongan di atas mereka, sementara mereka yang berkasta lebih tinggi bisa dengan leluasa menikahi golongan di bawah mereka. Tapi Kana, juga Bori dan umat adat lainnya, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali tunduk dan menyerah pada ketentuan adat.

Tidak adil memang, tapi begitulah kenyataannya.

☼☼☼

HARI ini Bori pulang. Kana bangun pagi-pagi benar. Mandi sejenak, hanya satu-dua timba. Biasanya, Kana bisa mandi berjam-jam. Sampai-sampai pintu kamar mandinya sering diketuk ibunya. Tapi, hari ini ibunya tak perlu mengingatkannya. Sekarang Kana sudah berdiri di depan cermin. Mematut diri. Memoles pipi dan bibir dengan rupa-rupa kosmetik. Sudah tiga kali dia berganti baju. Namun belum juga bersua yang pantas. Selalu ada yang terasa kurang. Hingga dia memilih baju berwarna putih. Baju kiriman Bori ketika dia ulang tahun ke dua puluh. Lalu, disemprotkannya parfum ke tubuhnya. Bau harum segera tercium. Merebak ke pojok-pojok kamar. Kana tertawa girang. Mengangkat tangan kiri, menghidu ketiaknya. Memastikan yang tercium bau wangi, bukan wangi kecut tubuhnya.

Kana tak pernah membayangkan kalau Bori akan kembali, meskipun dia sering berharap lebih. Setiap hari dia menutup salat dengan doa yang sama, Tuhanku, jadikan hanya Bori sebagai jodohku. Doa sama, harapan sama. Doa dengan pembuka dan penutup yang sama. Begitu setiap hari. Dan, akhirnya Tuhan mengabulkan harapannya. Hari ini Bori pulang untuk meminangnya.

Jangan dikira Kana tidak banyak peminat. Sudah banyak lelaki datang melamarnya. Ada tentara, ada polisi. Ada dosen, ada guru. Ada pengusaha ternama dari ibukota. Bahkan keturunan kesultanan dari negeri jiran. Semuanya berdarah biru. Karaeng. Tapi Kana menampiknya. Kana tak silau oleh harta dan kegagahan fisik. Juga pada gelar dan tahta. Hingga kemudian tersiar kabar: Bori telah menjadi “orang kaya” di Jakarta. Menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka. Dan sering mengisi ceramah agama di televisi. Ya, Bori telah memenuhi tiga syarat untuk menaklukkan benteng tradisi ─ilmu, harta, dan alim. Karena itu, hanya Bori yang ditunggunya.

“Akhirnya engkau pulang, Bori.”

Kana meraih handphone di ujung meja riasnya. Lalu berjalan ke tempat tidur. Membaringkan tubuh. Dan, membaca kembali pesan pendek dari Bori, sekali lagi. Sepertinya kurang percaya, dia baca lagi. Benar. Tidak berubah, baik koma maupun titiknya. Kalau sms ini tidak bohong, hari ini Bori pulang. Berarti pula, hari ini kaeng bakal punya menantu. Tak perlu lagi kaeng mengeluh tentang usianya yang kian renta. Dan takut tak bisa menimang cucu hingga ajal keburu menjemput. Tak akan ada lagi gunjing tetangga, kasak-kusuk di belakang kupingnya, tentang hikayat perawan tua. Apalagi cibiran bahwa dia perempuan tak laku. Tidak lagi. Hari ini semuanya akan berubah.

Semua gonjang-ganjing itu akan terjawab sempurna: Bori.

Perempuan sekampung bakal iri padanya. Siapa yang tidak bangga disunting lelaki ternama. Bori sekarang kebanggaan orang-orang Turatea. Keluarga kerajaan telah menisbahkan gelar Karaeng Marewa, karena jasanya menggugah semangat pemuda dan remaja. Lelaki berdarah daeng, yang dulu ditampik adat hingga tak mungkin menyuntingnya, kini telah jadi idola. Harapan semua perempuan, dari karaeng hingga ata. Namun lelaki kebanggaannya itu tidak maruk pada ketenaran.

☼☼☼

TIBA-TIBA handphone Kana berdering. Sebuah isyarat pesan pendek telah diterima. Bergegas Kana membacanya: Saya sudah tiba di kampung tercinta, sebentar lagi ke rumahmu. Dada Kana serasa hendak pecah berantakan disesaki rasa bahagia. Air mata bahagia ingin meloncat keluar dari matanya. Tapi, dia tidak membiarkannya. Hidungnya yang mancung bergerak-gerak. Jodoh, jika sudah ditentukan, tak bakal ke mana. Begitulah yang Kana yakini. Sekali lagi Kana membaca pesan pendek itu.

Sekarang dia masih gadis, sebentar lagi dia bersuami. Menjadi milik Bori. Seutuhnya. “Akhirnya engkau pulang, Bori.”

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Lamat terdengar suara kaeng.

“Ada tamu mencarimu, Nak.”

Itulah kalimat yang paling ditunggunya.

Kana segera melompat dari pembaringan. Tergesa merapikan bajunya. Mematut diri di cermin. Lalu berjalan ke pintu kamar. Dia tak sempat melihat air muka kaeng-nya yang muram. Dia bahkan tak sempat menangkap bening air mata tergenang di mata kaeng-nya. Dia ingin segera bertemu cintanya, Bori. Langkahnya terasa ringan. Ringan sekali. Hingga akhirnya dia tiba di ruang tamu. Dan matanya menangkap sosok yang lama dirindunya.

Masih seperti dulu.

Ya, Bori tidak banyak berubah. Tetap ganteng. Bahkan sekarang terlihat lebih matang. Lebih dewasa. Makin membuat jantungnya berdetak tak beraturan.

Saya takkan melupakanmu, Kana. Hanya satu perempuan yang hendak kusunting jadi ibu dari anak-anakku, hanya kamu. Betapapun keras adat menentang cinta kita.

Tiba-tiba membayang kilap masa lalu, ketika Bori pamit hendak merantau, mengadu untung ke Jakarta. Waktu itu, Kana tak bisa berkata sepatah pun. Hanya air mata. Dan bayangan perpisahan yang mengerikan.

Jangan ragu, Kana. Tunggu saya pulang. Biar saya penuhi semua ketentuan adat. Baru kita tunaikan mimpi: rumah panggung di kaki bukit, dengan pelataran laut Makassar dan pemandangan menawan setiap senja.

Kala itu, Kana tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Bori. Ah, cinta terlarang. Dia rasakan geletar jemari Bori mengelus punggung dan rambutnya. Menenangkan hatinya.

Jangan lupa mimpi kita, Kana. Rumah panggung di kaki bukit, keluarga bahagia dan cinta sepanjang masa.

“Apa kabar, Kana?” Bori membuyarkan lamunan Kana.

Bori segera berdiri menyongsong Kana. Tangannya terulur. Kana tersenyum. Menyambut uluran tangan Bori, merasakan darah mengaliri telapaknya, dan terus menjalar memenuhi seluruh pori wajahnya. Ah, lama sekali aku rindukan pertemuan ini. Rasanya dadanya bakal pecah karena gelegak rasa bahagia.

Bori tidak sendirian. Ada juga ayah dan ibunya. Kana sangat akrab pada mereka. Pasti ini dalam rangka melamar saya, pikir Kana. Tidak pernah sebelumnya Bori bertandang bersama orangtuanya. Lalu, untuk apa jika bukan karena ingin meminangnya?

☼☼☼

TAPI, ah, siapa gadis yang duduk di sisi Bori? Kenapa tiba-tiba sembilu mengiris jantungnya? Duh, cemas menyergap dan memiuh-miuh uluhatinya. Siapa gadis itu, tanya Kana dalam hati. Wajahnya akrab di matanya. Seperti pemain sinetron. Atau, bintang iklan. Yang jelas, Kana merasa sering melihatnya. Tapi, di mana? Entah.

“Kenalkan, ini istri saya, Kayla.”

BUG! Jantung Kana bergetar-getar. Berdenyar tak karuan. Mata Kana langsung berkunang-kunang.

Jadi, apa maksud sms itu? Bukankah kedatangan Bori, hari ini, karena ingin melamar saya? Apa saya hendak dijadikan istri keduanya? Tidak! Tidak mungkin! Lalu, bagaimana dengan impian dan cita-cita masa lalu: rumah panggung di kaki bukit dengan pelataran laut Makassar dan pemandangan menawan setiap senja? Bagaimana dengan mimpi indah: keluarga penuh tawa, cinta, dan bahagia sepanjang masa?

Rasanya semua darah di tubuh Kana mengalir ke satu arah, ke wajahnya. Panas. Merah. Panas membara. Panas membakar. Tangannya mengeras, mengepal. Sia-sia penantian selama puluhan tahun. Penantian yang menyulut gelegak amarahnya. Yang membuatnya kalap dan gelap mata. Ingin rasanya dia cincang tubuh Bori. Juga, istrinya.

Tapi, Kana tak bergerak sama sekali. Hanya air matanya jatuh satu-satu.

Apa Bori sengaja ingin melunaskan amarah masa lalunya? Jika memang Bori mau menentang adat, mengapa harus saya yang dikorbankan? Jika ya, mengapa Bori balas dendam dengan cara sekeji ini? Biadab! Benar-benar lelaki biadab. Bisakah saya memaafkannya?

Sejak itu, Kana tak ingat apa-apa lagi.

☼☼☼

Catatan kaki:
Kaeng: Panggilan Bapak bagi kalangan karaeng di Jeneponto.
Turatea: Sebutan lain dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Ata: Kelas terendah di kalangan masyarakat Turatea. Pada jaman dulu, mereka kaum pekerja atau budak para bangsawan.
Daeng: Golongan di atas ata, terdiri dari laskar kerajaan (tubarani) dan kaum ahli (tupanrita)
Karaeng: Kelas tertinggi, biasanya golongan bagsawan dan keturunan raja.
Pammole cera': Syarat untuk memenuhi ketentuan adat penitahan gelar.

Jumat, 11 September 2009

ARTIKEL: Jangan Bilang Tidak Bisa!

ADA satu kalimat yang enteng, tapi akibatnya luar biasa. Kalimat itu adalah, “Saya tidak bisa!” Begitu kalimat ini melekat dalam benak Anda, menjadi stimulus yang setiap hari meracuni otak Anda, maka Anda akan menjelma sebagai pribadi yang tidak bisa melakukan apa saja. Karena itu, yakinkan diri Anda. Pastikan bahwa Anda bisa! Pastikan bahwa Anda memang menghendaki terjadinya perubahan. Anda memang mau mencapai tujuan hidup yang telah Anda canangkan sebelumnya. Baiklah, Anda hanya perlu merenung sejenak, lalu bertanya pada nurani Anda, “Benarkah saya ingin sukses?” Ingat: SUKSES, SUKSES, dan SUKSES.

Jangan tegang, santai saja. Menentukan tujuan hidup atau menuliskan visi yang hendak Anda raih tidak berarti harus dengan mengerutkan kening, apalagi sambil memeras otak. Buang jauh-jauh perasaan itu. Relaks, bro! Banyak yang bisa Anda lakukan, jika Anda berpikir Anda bisa melakukannya.

Reka atau susun ulang kembali tujuan hidup Anda. Apa sebenarnya yang ingin Anda capai? Dan, bagaimana Anda akan mencapainya? Juga, apa yang sudah Anda lakukan untuk mencapai tujuan itu? Kaji kembali tujuan hidup Anda. Coba renungkan sedalam-dalamnya. Jika perlu, ketik ulang di komputer, lalu cetak. Tempelkan pada dinding kamar, di meja kerja, atau pada tempat mana saja yang mudah Anda lihat setiap hari. Sehingga, setiap kali Anda melihatnya, setiap kali pula Anda akan membacanya, lalu termotivasi untuk terus mewujudkan tujuan tersebut.

Ingatlah, tidak ada yang bisa mengubah nasib Anda, kecuali Anda sendiri yang mengubahnya. Sekarang, coba telisik kembali diri Anda. Saya sarankan Anda membaca beberapa terapi berikut ini.

Benarkah Anda sudah merancang tujuan hidup Anda? Merancang tujuan hidup Anda memang bukan satu-satunya garansi yang dapat menjamin keberhasilan Anda. Namun, setidaknya, hal tersebut akan mengarahkan Anda pada 3 (tiga) hal, yakni (1) dari mana Anda akan memulai, (2) ke mana arah yang akan Anda tuju, dan (3) bagaimana Anda melakukannya.

Benarkah Anda sudah mengetahui potensi diri, terutama kelemahan dan kekuatan Anda? Jika belum, telisik kembali diri Anda. Baca dan terapkan kembali tindak latih sebelumnya, terutama tentang penelusuran kelemahan dan kekuatan. Jika Anda sudah mengetahui potensi Anda, berarti Anda telah melakukan lompatan besar dalam hidup Anda, dengan memetakan kekuatan dan kelemahan Anda. Karenanya, Anda akan mampu untuk, (1) memperdalam kekuatan, dan (2) memperkecil kelemahan.

Benarkah Anda telah siap menghadapi problematika kehidupan? Jika Anda memimpikan kesuksesan hidup, Anda harus selalu ceria dan tampak hidup. Pepatah menegaskan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadi, tak perlu mencemaskan kegagalan. Anda juga tak perlu merisaukan masalah yang menghadang. Bukankah jika kita tidak pernah mendapat masalah, kita tak akan pernah tumbuh dan berkembang?

Benarkah Anda berani mengatur jadwal hidup Anda secara sadar dan penuh disiplin? Jangan biarkan waktu mengatur Anda. Andalah yang seharusnya mengatur waktu. Para pengusaha ternama atau orang-orang yang sukses memiliki jatah waktu yang sama seperti jatah waktu yang Anda miliki. Sama-sama 24 jam dalam sehari. Hanya saja, mereka berhasil mengendalikan, mengatur, dan menguasai waktu.

Bagaimana dengan Anda? Tentu saja, Anda pun bisa. Ingatlah, jangan sampai Anda yang dikendalikan, diatur, apalagi dikuasai oleh waktu. Yang penting bagi kita adalah keyakinan. Dan keyakinan paling mendasar adalah percaya diri. Karena itu, jangan bilang tidak bisa.

Salam Cemerlang

ARTIKEL: Meramu Semangat Baru

SIAPA di antara kita yang tidak pernah men-dengar atau membaca kata semangat? Pasti kita semua pernah mendengarnya. Setidaknya, kita sering meneriaki diri sendiri dengan, “AYO, SEMANGAT!”

Ya, bagi seorang karyawan atau pekerja keras dan pekerja cerdas, semangat adalah hal yang niscaya. Setiap hari menghadapi tugas yang sama, menyelesaikan masalah yang sama, melihat suasana tempat kerja yang sama, dan melihat teman-teman kerja yang melulu sama, pasti bisa memicu bertumbuh-kembangnya rasa bosan. Dan obatnya hanya satu, semangat.

Setiap karyawan tentunya dituntut bertanggung jawab memberikan hasil yang baik dalam mengerjakan tugas-tugas yang diembannya. Pemilik perusahaan ataupun atasan langsung, pasti tidak akan menerima alasan “saya sedang tidak bersemangat” jika hasil pekerjaan Anda tidak memenuhi harapan.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan terus menyalakan bara semangat.

Bersikap rendah hati. Bersikap rendah hati itu adalah tantangan besar yang tidak semua orang mampu melakukannya. Apalagi jika orang-orang di sekitar kita dipenuhi oleh orang-orang yang gemar beternak prasangka, selalu memandang dengan tatapan curiga, berpandangan sempit, dan suka menggali kuburan bagi rekan kerjanya. Namun, Anda harus tetap berusaha rendah hati. Ketika Anda adalah seorang komandan yang memimpin beberapa anak-buah, tetaplah rendah hati. Jika bawahan Anda melakukan kesalahan, tidak perlu berkoar dan membuatnya malu. Ajaklah bicara, kalau perlu empat mata, tanyakan kenapa terjadi kesalahan. Dengan begitu, selain Anda tidak mendapat musuh baru dalam selimut, kinerja bawahan Anda pun bisa meningkat.

Sadarilah bahwa hidup ini persaingan. Di luar, banyak yang antri menunggu lowongan kerja. Sekali Anda tergelincir yang mengakibatkan Anda terpaksa diberhentikan, banyak yang siap menggantikan posisi Anda. Jadi, terus pelihara semangat bekerja Anda. Persaingan sering tidak bersahabat, siapa yang tanggap pasti lebih berpeluang. Sedang yang lebih memilih bersantai ria, malas-malasan, pasrah pada keadaan, tidak kreatif, pasti akan tergusur. Meyakini bahwa dunia kerja adalah persaingan yang dahsyat adalah modal awal untuk membangkitkan semangat.

Jangan suka menang sendiri. Mentang-mentang atasan, segalanya diputuskan sendiri. Sebaliknya, jangan karena Anda karyawan rendahan lalu enggan meminta saran pimpinan. Belajarlah untuk meminta pendapat, baik pada atasan maupun pada bawahan atau rekan kerja Anda. Ketika Anda bertemu masalah yang membuat Anda berdiri di simpang ragu, cepatlah meminta pendapat orang yang Anda percayai. Jangan memendam suka ataupun duka sendirian. Kadang Anda perlu teman curhat, tempat mencurahkan perhatian.

Hilangkan kebiasaan bekerja setengah hati. Jangan tunda pekerjaan sampai menumpuk. Jangan ambil risiko dengan menunda penyelasaian masalah. Petuah leluhur kita pantas menjadi dasar pijakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Segera tangani tugas dan tanggung jawab Anda. Segera selesaikan amanah yang Anda pikul.

Jika tidak yakin pada satu jalan, segera pindah ke jalan yang lain. Laksana memutar rekaman film, jika tidak suka, jangan paksa diri untuk terus menonton sampai selesai. Matikan saja, ganti filmnya. Mudah, kan? Hidup ini pilihan. Terkadang kita salah memilih jalan. Dan, ketika itu terjadi, tidak perlu menepak kening atau meratapi kesalahan. Cukup dengan satu langkah, cari jalan lain untuk dicoba. Pada setiap ke-putusan dan perubahan selalu ada risiko: sukses atau gagal. Itu saja!

Jaga wibawa memang perlu, tapi tak perlu berdusta. Dalam cerita Wiro Sableng, ada tokoh yang bernama Kakek Segala Tahu. Dalam kehidupan sehari-hari, ada tokoh bernama Seseorang Yang Sok Tahu. Jangan sampai saya, juga Anda, menjadi pemeran tokoh itu. Ada kalanya memang kita harus jaga wibawa. Namun, ketika teman kerja menanyakan sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak perlu sibuk menjaga wibawa, lalu menjadi sok tahu. Ingatlah, mengatakan tahu padahal tidak tahu akan merugikan diri sendiri, teman yang bertanya, bahkan perusahaan tempat Anda bekerja. Jadi, lebih baik berkata tidak tahu daripada pura-pura tahu, tapi membawa bencana.”

Atur pekerjaan Anda berdasarkan skala prioritas. Seringkali banyak orang yang bekerja berdasarkan apa yang mereka suka, bukan apa yang seharusnya segera diselesaikan. Padahal, setiap pekerjaan memiliki beban dan tanggung jawab yang berbeda. Karena itu, pilihlah pekerjaan yang lebih penting dan mendesak untuk lebih dahulu diselesaikan.

Usahakan tidak bergunjing. Tanpa Anda sadari, kerapkali pekerjaan kantor terabaikan karena rekan kerja yang datang tiba-tiba mengajak berbincang-bincang. Hal ini, bisa saja, membuat Anda larut hingga melupakan pekerjaan. Demikian halnya dengan internet jika ada di kantor, sering menjadi pemecah konsentrasi dan semangat kerja, terutama kebiasaan chatting atau main facebook pada jam sibuk. Sekali lagi, lebih baik Anda menghabiskan waktu dulu untuk menyelesaikan pekerjaan Anda daripada menggunjingkan sesuatu yang belum tentu jelas kebenaran dan manfaatnya.

Utamakan kejujuran dan loyalitas. Ada banyak cara untuk menggali kuburan sendiri. Di antaranya, berbuat curang dan tidak jujur. Namun, yakin saja, begitu seseorang ketahuan melakukan kecurangan, akibatnya akan sangat menyakitkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan. Jadi, mari kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga loyalitas dan kejujuran. Lebih baik mendapat sedikit tetapi halal dan jelas-jelas hak kita, daripada berbuat curang yang akibatnya sangat merugikan, baik bagi kita secara pribadi maupun bagi perusahaan.

Akhirnya, berilah waktu bagi tubuh Anda untuk istirahat. Ketika tubuh merasa lelah, tidak ada salahnya Anda meregangkan dan melemaskan otot. Ketika pekerjaan selesai, ada untungnya jika Anda coba mengendurkan ketegangan.

Ayo, tetap semangat!