Catatan: Tulisan ini termuat di Kumpulan Cerpen "Tangan untuk Utik" karya Bamby Cahyadi.
"Kabar Sederhana Seorang Pengarang"
1
BAMBY CAHYADI, manajer sebuah restoran cepat saji di kawasan Jakarta ini, memiliki ciri dan karakter khas dalam menulis cerita. Ia menyuguhkan pergumulan kekuatan pikiran, terutama kekuatan pemaknaan atas ihwal remeh dan sederhana dalam keseharian kita, namun kita sering abai menyikapinya. Pergumulan itu disampaikannya secara sederhana, tapi sarat kejutan. Memang ada celah pada keterampilan bertutur—kadang tercium aroma tersendat dalam penceritaan. Namun, itu tidak mengurangi kegairahan saya dalam pembacaan cerpen demi cerpen. Mengapa? Karena setiap cerpen dihiasi kejutan, kelokan, bahkan tikungan tajam.
Kelebihan Bamby dalam bercerita adalah kesanggupannya menyuguhkan akhir cerita yang ”mengagetkan”. Rasa kaget yang membidani lahirnya ”keheranan”, bahkan ”ketakjuban”. Kumpulan cerita pendek Tangan untuk Utik menisbahkan kekuatan Bamby dalam bercerita. Sebagai pengarang yang meneruka jalan kepengarangan lewat ”dunia maya”, dunia yang dicap sebagai alam lain oleh banyak sastrawan, ia menawarkan hal remeh yang sederhana. Hal yang biasa. Seperti mimpi. Ya. Bukankah mimpi adalah hal biasa bagi kita?
Mimpi itu yang dikuak dengan cerdas oleh pengarang kelahiran Manado ini. Mimpi yang menyuguhkan keperihan, ketegangan, dan kemalangan. Sesekali hadir keindahan, kepuasan, dan kebahagiaan.
Semula, menulis cerita menjadi terapi hati bagi Bamby. Merupakan kebahagiaan baginya ketika cerpen yang ditulisnya terbaca, dan mendapat apresiasi dari orang lain. Dari sana lelaku kepengarangannya bermula. Ada gairah meletup setiap ia menerima tanggapan pembaca cerpennya. Komentar pedas, kritik tajam, bahkan caci maki sesama Kemudianers—sebutan bagi anggota situs penulis Kemudian.com—tidak lantas membuat nyalinya ciut. Malah menyulut gairahnya untuk belajar lebih keras dan lebih cerdas.
Hasilnya, kita bisa temukan kejutan demi kejutan dalam kumpulan cerpen perdananya ini.
2
APA yang bisa Anda lakukan jika Anda terlahir tanpa sepasang tangan? Bagaimana cara Anda menyuap makanan? Seberapa terampil Anda menunaikan hajat pribadi—semisal mengelap keringat di alis mata, membersihkan kuping, menutup hidung ketika mencium aroma tak sedap, atau ritus remeh lainnya—jika Anda tak memiliki sepasang tangan? Dalam realitas yang menyehari, tangan memiliki fungsi strategis dalam melakukan apa saja. Kehilangan tangan, berarti kehilangan peluang dan potensi untuk berbuat banyak hal. Tak soal bila Anda hanya memiliki otak standar, Anda masih bisa merasa sejajar dan bergaul dengan banyak orang. Tak soal ketika kemampuan berbicara Anda sering gagap, Anda masih leluasa menyelesaikan banyak tugas. Tapi, apa jadinya jika cacat bawa lahir yang Anda miliki adalah tidak memiliki sepasang tangan?
Inilah gagas-pikir sederhana yang didedahkan Bamby Cahyadi ke dalam cerpen unggulan, Tangan untuk Utik. Ketika pertama kali membaca cerpen itu, yang mengendap di memori saya adalah kenyataan bahwa cerita ini sebentuk ”karib-intim” persahabatan yang menyertakan perhatian mendalam dan tulus. Saya membaca cerpen ini dengan tiga hal mendasar—dengan mata terbuka dan membayangkannya, dengan pikiran terbuka dan memercayainya, serta dengan hati terbuka dan merasakannya. Tidak mudah melakoni hidup dengan cacat bawaan lahir. Namun, lebih tidak mudah lagi menjadi sahabat ”lahir-batin” dari seorang penderita cacat.
Alkisah, Udin berhasrat menyerahkan sepotong tangannya bagi Utik, sahabatnya yang yatim piatu dan cacat semenjak rahim. Pada mulanya, kisah ini berasa sederhana. Namun mulai pelik ketika Udin tak mampu lagi membendung hasratnya untuk membantu Utik. Maka, diambilnya gergaji lalu dipotongnya tangan kirinya. Potongan tangan itu disambungkan pada lengan kiri Utik dan diikat dengan tali plastik. Tapi, alangkah kecewanya Udin, ketika tersadar dari lamunannya, ternyata tangan kirinya masih utuh dan sepasang tangan Utik tetap buntung di pangkal lengannya.
Begitulah Bamby Cahyadi sebagai seorang pengarang mengajak kita memaknai secara utuh hakikat persahabatan. Empati itu keniscayaan dalam menjalin persahabatan. Tidak ada persahabatan tulus tanpa disertai rasa empati. Baik dalam gelimang air mata, maupun ketika riuh tertawa bahagia. Sahabat sejati, dalam bayangan Bamby, selalu bisa memberi dan menerima. Dengan tulus, dengan ikhlas. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.
3
LEWAT Televisi Ibu, Bamby menampilkan suasana intim antar-ibu-dan-anak dari titik tolak sederhana. Pada cerpen ini, Bamby menuturkan kisah tiga orang anak yang silih berganti mencoba membelikan televisi bagi ibunya, sebagai tanda bakti, untuk mengganti televisi ibunya yang makin usang digerogoti jaman dan menjadi langganan tukang servis. Uniknya, semua pemberian anaknya itu ditolak dan dikembalikan oleh sang ibu. Aku—tokoh utama dalam cerita ini—lantas dicecar penasaran. Maka bergegas ”aku” mencari tahu penyebab kegigihan ibunya mempertahankan televisi tua peninggalan bapaknya.
Kenapa ibu begitu setia dengan televisi peninggalan almarhum ayah yang sering rusak itu? Apakah ibu sering memintal serat-serat kenangan setiap kali melihat televisi itu? Apakah ibu selalu merindukan sosok ayah dan bisa membentang ingatan tentang ayah lewat televisi itu? Mengapa ibu selalu mengembalikan televisi baru yang kami belikan untuknya?
Demikian tanda tanya yang merasuki benak ”Aku”. Setiap hari. Maka, ”Aku” dan keluarganya bertandang ke rumah ibunya. Selain melepas kangen, juga untuk sebuah misi rahasia: menyibak misteri televisi ibu. Cerita menjadi tidak sederhana ketika ”Aku” diajak ibunya menonton televisi tepat pada jam sembilan. Dari layar kaca memancar kilau dengan warna-warni cahaya. Seketika ”Aku” merasa berada di sebuah ruangan luas. Tak bertepi. Dan, secara ajaib, ”Aku” melihat dan merasakan kedatangan ayahnya yang tersenyum hangat.
Tak ada yang istimewa dari cerita ini. Hanya kisah tentang anak yang ingin membahagiakan ibunya. Kita pasti sering menjumpai hal sama dalam keseharian. Tetangga kita pasti banyak yang pernah melakukan hal seperti itu. Bahkan, kita pun pernah melakukannya. Tapi, menjadi ”luar biasa” ketika Bamby menggiring kita pada ”penutup cerita” yang khas dan mengejutkan. Saya seperti membaca cerpen Danarto atau Putu Wijaya, dengan karakter berbeda dalam mengakhiri ceritanya dengan penuh kejutan. Mengherankan, sekaligus menakjubkan.
4
JIKA Nabi Sulaiman dikabarkan memiliki kesaktian menguasai segala jenis bahasa, termasuk bahasa binatang, dalam Percakapan dengan Bayi, Bamby berkisah tentang Kinar yang menguasai bahasa bayi. Bukan hanya itu, Kinar malah mampu bercakap-cakap dengan semua bayi. Kapan dan di mana saja. Pada mulanya, cerita ini pun bertolak dari gagasan sederhana, perihal bagaimana semestinya orang dewasa memasuki dunia bayi, agar terjalin komunikasi yang laras dan harmoni. Namun, menjadi unik dan tidak sederhana ketika Kinar mengetahui dirinya memiliki kemampuan luar biasa: bercakap dengan bayi.
Mengapa saya menyebut cerita ini bertolak dari hal sederhana? Lihat sekeliling kita, bayi ada di mana-mana. Setiap hari ada bayi dilahirkan. Setiap hari banyak orang berkomunikasi dengan bayi. Namun, tidak banyak orang yang bisa memahami bahasa bayi. Apalagi menguasainya. Lebih rumit lagi, ketika Kinar bertemu dengan Andrea, bayi yang menolak menjadi dewasa. Mengapa? Bagi Andrea, dunia orang dewasa adalah dunia palsu. Dunia kemunafikan. Dunia kebohongan. Dan Andrea enggan tenggelam atau terseret arus kepalsuan, kemunafikan dan kebohongan itu.
Gagasan yang diusung Bamby lewat cerita ini, juga sederhana. Semata mengajak kita menjalin keintiman dengan anak-anak kita. Semacam permintaan sederhana agar orang dewasa mencoba memasuki dunia bayi dari sisi berbeda, bukan malah memaksa sang bayi untuk memasuki dunia mereka, dunia orang dewasa. Selain itu, ada pesan etis yang disampaikan secara estetis: mari belajar menghentikan kebohongan.
Masalahnya, apakah kita sanggup menghentikan pembelajaran ”kebohongan-kepalsuan-kemunafikan” agar generasi sesudah kita lebih bermoral?
Ini yang tidak sederhana.
5
MENARIK membaca pemikiran pengarang tentang rasa kebangsaan. Melalui Bendera itu Tidak Berkibar Di Sini, pengarang seakan mengabarkan keprihatinan mendalam karena menipisnya nasionalisme kita. Bermula dari kejutan yang dialami Topo ketika terlelap dan bermimpi. Ia terkejut ketika terbangun dari tidurnya, dan mendapati istrinya tidak menyiapkan kopi seperti pagi-pagi sebelumnya. Lebih kaget lagi, ia tidak melihat satu pun warga mengibarkan bendera merah putih. Padahal, hari itu hari kemerdekaan. Biasanya selalu ramai. Jika tidak dihiasi keramaian rutin tujuh-belasan—semisal panjat pinang, balap karung, bahkan menangkap bebek berkalung gambar teroris—setidaknya ada kibaran bendera negara. Tapi, hari itu, tak ada satu pun bendera menghiasi halaman rumah tetangganya. Bahkan, bendera merah putih yang dikibarkannya satu hari sebelumnya, juga raib. Topo makin bingung.
Sekali lagi, ide yang diusung Bamby pada cerpen ini, juga sederhana. Hal rutin yang setiap tahun kita lakukan, perayaan tujuh-belasan. Tentu saja kita sudah sering mengalaminya. Namun, menjadi tidak sederhana jika ditarik pada ranah ”rasa memiliki”. Bamby seakan menyentil haru-biru kebangsaan kita. Coba tengok lelaku negeri tetangga yang suka pamer kapal perang di perairan kita. Belum lagi kepongahan mendaku budaya kita sebagai budaya mereka. Reog, batik, lagu Rasa Sayange, lanun, dan paling mutakhir Tari Pendet. Konon, mereka juga sedang bersiap mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka, dengan sedikit polesan baru, bahasa Melayu.
Hal menggelitik dari cerpen ini, seberapa tebal nasionalisme yang masih kita miliki? Ayo, kita telisik diri kita masing-masing. Cerita ini alegorik. Sindiran telak.
6
KABAR sederhana yang diuarkan Bamby, juga dapat kita simak pada cerpen lain dalam Kumpulan cerita pendek Tangan untuk Utik. Ia menegaskan gunjingan metaforis lewat Mimpi dalam Stoples Kaca. Sebuah totalitarianisme kekuasaan yang mengabarkan penderitaan akibat perburuan mimpi. Mimpi berkuasa, mimpi menguasai. Kabar sederhana ini, sebenarnya, berpijak dari sebuah gagasan besar, semacam amsal tentang keserakahan.
Melalui Tameng untuk Ayah, kita bakal bersua dengan etos kepahlawanan seorang anak, Jamal Ahmad Fayyad, dalam melindungi ayahnya dari keganasan pucuk bedil serdadu Israel. Juga mimpi sederhana seorang Surip, seorang anak yang selalu dikejar mimpi aneh tentang berbakti pada orang tua, dalam Hadiah untuk Ibu. Surip, yang tidur dan awasnya selalu menawarkan kegelisahan, akhirnya bisa membahagiakan ibunya dengan memenangkan sebuah sayembara berhadiah uang. Dan, piagam.
Tak kalah dahsyatnya dengan cerpen lainnya, Koran Minggu berkabar tentang hajat sederhana seorang suami untuk membahagiakan istrinya. Namun, kenyataan hidup tidak sesederhana itu, pilihan menjadi penulis atau pengarang, seperti tutur Putu Wijaya, adalah pilihan yang tidak menjanjikan. Dunia gelap tanpa harapan. Hal itu dianggit dengan gesit oleh Bamby. Pada akhirnya, tidak cukup kegembiraan saya, sebelum menuntaskan pembacaan kumpulan cerpen ini. Sejumlah kisah sederhana yang menjadi ”teror indah” dan membahagiakan. Bamby berhasil mendedahkan konflik di alam bawah sadar (baca: mimpi), sekaligus mengabarkan masalah sosial dengan penceritaan yang bermula pada ”hulu sederhana”, tapi bisa mengecoh pembaca karena ”hilir penuh kejutan”.
Bagaimana dengan Anda? Saya yakin, Anda akan temukan kejutan menakjubkan, sama seperti yang saya alami.
7
TANGAN untuk Utik menjadi pintu masuk bagi Bamby Cahyadi ke dunia sastra. Ia datang dengan kunci rahasia sebagai ”juru kabar” yang andal dan menjanjikan. Ia mengantar amsal, tamsil, dan umpama yang sederhana. Ia mengusung metafora dan alegori, ajakan untuk merujuk-bandingkan antara kemasan penceritaan dengan kenyataan kehidupan. Ia membawa ”kabar baik” bagi semua ”umat sastra”.
Meski demikian, ini harus jadi batu loncatan dan monumen bersejarah baginya untuk membuktikan kapasitas lebih yang dimiliki sebagai seorang pengarang ”masa depan”.
Selamat datang mimpi sederhana. Selamat datang, Bamby Cahyadi.
Khrisna Pabichara,
penyair dan penyuka cerpen, tinggal di pinggiran Jakarta.
Jumat, 11 September 2009
Rabu, 09 September 2009
ARTIKEL: Robohkan Penjara Mental
Catatan: Sebuah tulisan sederhana untuk sekadar mengukuhkan kembali "semangat" dan "gairah" hidup kita.
ROBOHKAN PENJARA MENTAL
Khrisna Pabichara
HAL TERBURUK yang paling sering kita lakukan adalah tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Padahal, logikanya, jika kita saja tidak percaya diri sendiri, lantas siapa yang bisa memercayai bakat atau talenta yang kita miliki?
Apalagi jika kita sedang dalam kondisi tertekan, tanpa sengaja kita membelenggu diri sendiri dan memenjara keyakinan diri. Meragukan diri sendiri. Bahkan, ada yang cenderung menghakimi diri sendiri dengan cap pecundang atau si bodoh seperti katak di bawah tempurung.
Pada saat Anda merasa kaya dan sukses, kemampuan berpikir Anda akan berbeda sekali dengan ketika Anda merasa miskin dan gagal. Ketika Anda baru diterima bekerja pada sebuah perusahaan, perasaan Anda akan sangat berbeda dengan ketika Anda di PHK atau diberhentikan. Begitu pula, pada saat Anda merasa depresi dan sangat tertekan, imajinasi dan ide Anda akan berbeda sekali dengan ketika Anda sedang gembira dan sangat bahagia.
Jadi, intinya, kita sendiri yang menciptakan kondisi mental kita. Al-Gazhali berpesan, "Kita menjadi seperti apa yang kita yakini."
Ya, jika kita merasa sebagai seorang pecundang, jangan harap kita akan bisa menjadi pemenang, karena perilaku dan usaha kita adalah perilaku dan usaha pecundang. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa respons fisiologis dapat diubah dengan sengaja. Artinya, jika kita bisa memilih menjadi lebih baik, mengapa harus memilih menjadi lebih buruk?
Ada dua prinsip kuat, meminjam istilah Prescott Lecky, yang dapat mengubah kepercayaan dan mengatasi ketakutan, hal yang hampir menimpa semua orang.
Pertama, keyakinan bahwa kita mampu mengerjakan tanggung jawab kita sehingga kita cukup mampu menunjukkan kemandirian kita. Dan, kedua, keyakinan bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang membuat kita sejajar dengan orang lain dalam hal bakat dan kemampuan, dan bahwa kita tidak semestinya meremehkan diri sendiri atau membiarkan diri kita merasa terhina.
Ada beberapa contoh penjara mental yang sering kita bangun sendiri. Semisal:
“Saya terlanjur kecewa, tidak mungkin berubah lagi...”
“Menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan...”
“Hanya ada satu cara...”
“Saya tidak akan mencoba lagi, sudah gagal satu kali...”
“Masalah ini sangat berat, tidak ada solusi yang tepat...”
“Saya merasa tidak nyaman dengan si B...”
“Ini bukan kesalahan saya, ini rekayasa, sabotase...”
Sesuatu yang kita pikirkan, katakan atau lakukan, sangat memengaruhi kondisi mental kita. Sekarang, bagaimana jika kita merobohkan penjara mental tadi, dengan menanamkan tekad yang teguh dalam hati.
Coba kita ubah kalimat negatif dalam mental kita.
“Saya dapat pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa.”
“Jika memang harus menunggu, saya akan melakukannya dengan sabar...”
“Selalu ada cara lain untuk melakukan hal yang sama...”
“Kegagalan itu terjadi karena ada proses yang tidak tepat, maka saya akan melakukannya lagi dengan membenahi kekurangan itu...”
“Semua masalah selalu bisa dipecahkan...”
“Banyak hal yang bisa saya pelajari dari si B...”
“Ada beberapa hal yang belum optimal, segera saya perbaiki...”
Hubungan antara kecerdasan hati dengan kemampuan berpikir mirip dengan hubungan antara mobil dengan pengendaranya. Seorang pengendara andal, bisa jadi, tidak bisa berbuat apa-apa, jika mobil yang dikendalikannya “tidak hebat”. Sebaliknya, sebuah mobil hebat pun tidak berguna sama sekali, jika pengendaranya tidak bisa mengendalikan kendaraan dengan baik.
Kecerdasan hati, ibarat seorang sopir, adalah pengendali. Keterampilan berpikir, laksana sebuah mobil, adalah potensi. Keduanya laksana dua sisi uang logam, saling mendukung dan saling melengkapi, layaknya mobil dan pengendaranya.
Dan, kita semua, jika berharap sukses dalam hidup ini, harus bisa memiliki keduanya, kecerdasan hati dan kemampuan berpikir. Karena itu, robohkan penjara itu! Sekarang!
Jangan tunggu keajaiban datang untuk mengubah hidup Anda.
ROBOHKAN PENJARA MENTAL
Khrisna Pabichara
HAL TERBURUK yang paling sering kita lakukan adalah tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Padahal, logikanya, jika kita saja tidak percaya diri sendiri, lantas siapa yang bisa memercayai bakat atau talenta yang kita miliki?
Apalagi jika kita sedang dalam kondisi tertekan, tanpa sengaja kita membelenggu diri sendiri dan memenjara keyakinan diri. Meragukan diri sendiri. Bahkan, ada yang cenderung menghakimi diri sendiri dengan cap pecundang atau si bodoh seperti katak di bawah tempurung.
Pada saat Anda merasa kaya dan sukses, kemampuan berpikir Anda akan berbeda sekali dengan ketika Anda merasa miskin dan gagal. Ketika Anda baru diterima bekerja pada sebuah perusahaan, perasaan Anda akan sangat berbeda dengan ketika Anda di PHK atau diberhentikan. Begitu pula, pada saat Anda merasa depresi dan sangat tertekan, imajinasi dan ide Anda akan berbeda sekali dengan ketika Anda sedang gembira dan sangat bahagia.
Jadi, intinya, kita sendiri yang menciptakan kondisi mental kita. Al-Gazhali berpesan, "Kita menjadi seperti apa yang kita yakini."
Ya, jika kita merasa sebagai seorang pecundang, jangan harap kita akan bisa menjadi pemenang, karena perilaku dan usaha kita adalah perilaku dan usaha pecundang. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa respons fisiologis dapat diubah dengan sengaja. Artinya, jika kita bisa memilih menjadi lebih baik, mengapa harus memilih menjadi lebih buruk?
Ada dua prinsip kuat, meminjam istilah Prescott Lecky, yang dapat mengubah kepercayaan dan mengatasi ketakutan, hal yang hampir menimpa semua orang.
Pertama, keyakinan bahwa kita mampu mengerjakan tanggung jawab kita sehingga kita cukup mampu menunjukkan kemandirian kita. Dan, kedua, keyakinan bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang membuat kita sejajar dengan orang lain dalam hal bakat dan kemampuan, dan bahwa kita tidak semestinya meremehkan diri sendiri atau membiarkan diri kita merasa terhina.
Ada beberapa contoh penjara mental yang sering kita bangun sendiri. Semisal:
“Saya terlanjur kecewa, tidak mungkin berubah lagi...”
“Menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan...”
“Hanya ada satu cara...”
“Saya tidak akan mencoba lagi, sudah gagal satu kali...”
“Masalah ini sangat berat, tidak ada solusi yang tepat...”
“Saya merasa tidak nyaman dengan si B...”
“Ini bukan kesalahan saya, ini rekayasa, sabotase...”
Sesuatu yang kita pikirkan, katakan atau lakukan, sangat memengaruhi kondisi mental kita. Sekarang, bagaimana jika kita merobohkan penjara mental tadi, dengan menanamkan tekad yang teguh dalam hati.
Coba kita ubah kalimat negatif dalam mental kita.
“Saya dapat pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa.”
“Jika memang harus menunggu, saya akan melakukannya dengan sabar...”
“Selalu ada cara lain untuk melakukan hal yang sama...”
“Kegagalan itu terjadi karena ada proses yang tidak tepat, maka saya akan melakukannya lagi dengan membenahi kekurangan itu...”
“Semua masalah selalu bisa dipecahkan...”
“Banyak hal yang bisa saya pelajari dari si B...”
“Ada beberapa hal yang belum optimal, segera saya perbaiki...”
Hubungan antara kecerdasan hati dengan kemampuan berpikir mirip dengan hubungan antara mobil dengan pengendaranya. Seorang pengendara andal, bisa jadi, tidak bisa berbuat apa-apa, jika mobil yang dikendalikannya “tidak hebat”. Sebaliknya, sebuah mobil hebat pun tidak berguna sama sekali, jika pengendaranya tidak bisa mengendalikan kendaraan dengan baik.
Kecerdasan hati, ibarat seorang sopir, adalah pengendali. Keterampilan berpikir, laksana sebuah mobil, adalah potensi. Keduanya laksana dua sisi uang logam, saling mendukung dan saling melengkapi, layaknya mobil dan pengendaranya.
Dan, kita semua, jika berharap sukses dalam hidup ini, harus bisa memiliki keduanya, kecerdasan hati dan kemampuan berpikir. Karena itu, robohkan penjara itu! Sekarang!
Jangan tunggu keajaiban datang untuk mengubah hidup Anda.
Label:
khrisna pabichara,
motivasi,
spiritual power
ESAI "Esensi Puisi Pagar Kenyataan"
Catatan: Tulisan ini dimuat di Jurnal Bogor, (Minggu, 06/09/2009) dan Harian Fajar (Minggu, 27/09/2009)
ESENSI PUISI PAGAR KENYATAAN
Oleh Khrisna Pabichara
KAMI tahu kami makhluk yang kekal. Kami hanya lupa di mana menaruh kunci pagar. Demikian pernyataan TS Pinang—sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya—dalam sajak Kekal (h. 51).
Jika Chairil Anwar menyebut dirinya sebagai “binatang jalang” yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka TS Pinang menisbahkan diri sebagai makhluk kekal. Hanya saja, kekekalan itu terhambat oleh dua hal, kunci dan pagar. Jika pagar adalah sekat nilai guna baginya, maka kunci merupakan ruang lapang untuk memanfaatkan nilai guna itu. Dengan demikian, pagar lebih daripada sekadar yang dapat kita pandang sebagai pembatas, seperti kunci yang semestinya berfungsi tidak sebagai pembuka-penutup belaka.
Kunci dan kami, simbol yang digunakan penyair, berfungsi sebagai pemampat jarak, semisal kejauhan dan kedekatan. Sebutan “Kami” mengandung muatan “kita”, dengan “aku” dan “dia” di dalamnya. Bahkan, boleh jadi, “kamu”. Sebutan kami tidak berciri personal, melainkan kolektif. Menyangkut jarak antara kelompok dan kelompok: antara mereka dan kami. kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua makhluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa (Sajak “Kunci”, 14). Tafsir kita terhadap “gerbang langit” bakal beragam, namun keragaman itu tetap menggunakan kunci yang sama, kunci tempaan “bijih cinta”.
“Kami” adalah rumah atau tubuh ego dengan ruang-ruang lapang, yang tidak secara gamblang menghadirkan koherensi yang mudah dikenali. Kami, baik dalam Kunci, maupun sajak lainnya, menjadi narasi yang bersifat sangat prosaik dengan tidak menaruh “penderitaan” ke kedalaman maknanya. Melainkan, meminjam istilah Sartre, terinspirasi oleh penderitaan-penderitaan dan harapan-harapan itu. Dari penderitaan dan harapan itulah TS Pinang membangun rumah sajaknya.
Sebanyak 62 sajak dalam antologi ini merupakan ajakan sistemis yang mampu membangkitkan hasrat berpikir kita. Begitu penyair “amatir” kelahiran Pati ini membuka antologinya dengan sajak Sumur, kita langsung dijamu dengan sajian khas: ayo kita lihat realitas kehidupan. kami masih bercakap panjang dengan timba dan tambang, hingga lupa berapa kali kami telah pergi dan pulang (h. 1).
Ia juga menyuguhkan pergumulan kekuatan pikiran, terutama kekuatan pemaknaan atas ihwal penting dalam hidup, seperti hak asasi, atau hak milik pribadi. Pergumulan itu disampaikannya lewat tampilan arsitektural yang menarik, kombinasi cantik antara sajak, kritik, dan filsafat. Pergumulan pikiran yang bisa menjebak kita ke dalam semesta yang penuh tanda tanya, terutama tentang realitas. Coba kita simak: lalu kami akan segera pulang ke kampung tempat kami berladang. membawa mentari kembali, ke negeri yang lama kehilangan siang (Sajak Arkade, 7).
Kampung dan ladang langsung menguak kesadaran kita tentang negara agraris, Indonesia, namun terhentak ketika tiba pada negeri yang lama kehilangan siang. Bagaimana rasanya negeri tanpa matahari, tanpa siang? Pasti gelap, karena terus diselubungi malam. Ini alegori. Semacam simile, bahkan sindiran telak, tentang rebaknya pengangguran di negeri ini.
Menarik membaca pandangan penyair tentang negerinya. selamat datang di negeri kami. di sinilah asal mula senyuman dan tangis, ditemukan oleh seorang penyair fakir dalam singgah kembaranya. di sini kami menanam biji tawa dan air mata, lalu menjualnya sebagai hasil bumi ke negeri tetangga (Sajak Jendela, 9).
Negeri rempah-rempah yang tenar karena kesuburan tanahnya dan keragaman hayatinya, ternyata hanya mampu mengekspor tenaga kerja murah ke negeri-negeri tetangga, kemudian mendapat perlakuan “tak senonoh” dari majikan tempat “kami” (TKI) bekerja. “Kami” dikirim ke Malaysia, Timur Tengah, Asia Timur, kemudian “kami” pulang dengan tubuh babak belur dan gaji yang dikebiri. “Kami” menghasilkan banyak devisa, tapi kami kehilangan banyak “hak asasi”. Tetap saja, kami akan pulang, ke negeri ini: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat (Sajak Kakus, 11).
Arsitek jebolan UGM ini memiliki nyali berlebih untuk menerabas batas-batas, melanggar tabu-menabu, dan membangkitkan gairah berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam timbunan mental “inlander”, tidak percaya diri, laksana katak yang terperangkap di bawah tempurung. kami tak secerdas yang kami inginkan, tapi pustaka kami memang bukan untuk mencerdaskan, cukuplah asal membuat kami takut tuhan (Sajak Bibliotek, 13).
Buku baginya, juga alam semesta, tidak berfungsi lebih banyak dalam mengayakan wawasan, malah lebih sering memaksanya berputar pada labirin doktrin: ajakan untuk takut pada tuhan. Lantas, jika “kami” takut pada tuhan, kepada siapa “kami” bisa berteman? Kepada setan?
Masih di sajak yang sama, penyair menohok kita dengan santun: kami tidur dan bercinta di atas buku-buku, majalah kaum lelaki, juga kamasutra versi playboy. “Kamasutra” dan “playboy” yang lazim digunakan sebagai simbol erotik atau panduan strategi perang di atas ranjang, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan untuk melabrak penabuan seks, sesuatu yang hanya bisa diobrolkan di ruang sempit tempat tidur, yang cukup dipraktekkan saja, tanpa perlu dibincangkan, apalagi diseminarkan.
Selain itu, seperti dicatat dalam sajak Lampu (h. 16), penyair merancang sajaknya secara guyon dengan kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan: lampu di bilik kami suka mati sendiri, lalu hidup lagi. sebentar, lalu mati lagi. kami memang bukan penggemar api, tapi masih sering terpana oleh lampu kami yang agak sakti: hidup mati sendiri. lampu kami tak lagi patuh pada sakelar atau sekering. mungkin ia sedang mencoba makar, atau cuma humor yang garing. Sajak ini, mengingatkan kita pada kinerja PLN.
Sekarang, coba kita simak. kami menggoreng menumis. menggoreng menumis rempah amarah, merica cinta, bumbu cemburu: gairah yang memburu. begitulah kami memasak pagi, siang, malam, dengan api yang kecil atau besar, dengan nyala yang jinak atau liar. begitulah kami memasak pagi, siang, malam (Sajak Memasak, 57).
Juga, kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa air mata (Sajak Merebus Kesedihan, 36).
Setiap pergeseran waktu, kita dihadapkan pada banyak rintangan dan ketegangan, juga kemalangan. Kita selalu ingin beristirahat dari sergapan rintangan, ketegangan, atau kemalangan itu. Namun, jika itu terjadi, kita malah diburu-buru kebosanan. Maka, tidak heran jika Blaise Pascal (1623-1663) menyatakan bahwa kebesaran manusia adalah karena mengetahui dirinya malang. Segala rintangan-ketegangan-kemalangan-kebosanan itulah yang memproduksi kecemasan dan ketakutan. Sehingga, ada saat-saat di mana bertahan hidup saja sudah merupakan tindakan yang berani.
Bagi TS Pinang, sajak bukan semata membagus-baguskan bahasa dan makna. Sajak tidak hanya merintis jalan penemuan kosakata untuk mewakili kenyataan. Ada nilai lebih yang diburunya. Sajak harus rela merayakan penamaan dan penandaan pergerakan semesta. Segala bentuk pagar yang selama berkurun-kurun telah menyempitkan makna dan keberadaan sajak, harus selekasnya dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “kaum sajak”.
Memang, pendapat ini sangat terbuka untuk kita perdebatkan. Stéphane Mallarmé, misalnya, menegaskan bahwa puisi diracik dari bahasa, bukan gagasan. Bagi Mallarmé, puisi adalah soal bahasa dan bukan sesuatu yang diwakilinya, entah itu gagasan tentang dunia, narasi, ataupun ekspresi perasaan. Karena itu, sergah Mallarmé, bahasa puitis membangun dunianya sendiri.
Namun, bagi banyak orang, bahasa menjadi medium penyingkapan, sekaligus penyampaian. Bahasa adalah “sangkar kenyataan”, dan tugas penyair adalah merawat “sangkar-sangkar kenyataan” itu. Maka, tidaklah berlebihan jika banyak orang mengamini, bahwa puisi merupakan sesuatu yang membuat manusia menemukan dunia penghayatan semiotisnya untuk bertahan hidup. Selain itu, dunia puisi menjadi medium penyingkapan kenyataan. Atau, “pagar kenyataan”.
Itulah yang dilakoni TS Pinang. ternyata, siapa saja yang terbang dalam puisi, tak pernah turun kembali (Sajak Terbang, 61). Setiap kali ia berlari menjauh dari puisi, semakin dekat ia pada “maqam-kepenyairannya”.
Ia, juga kita, tidak bisa mengingkari puisi, itulah kuncinya.
KHRISNA PABICHARA, Penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta
ESENSI PUISI PAGAR KENYATAAN
Oleh Khrisna Pabichara
KAMI tahu kami makhluk yang kekal. Kami hanya lupa di mana menaruh kunci pagar. Demikian pernyataan TS Pinang—sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya—dalam sajak Kekal (h. 51).
Jika Chairil Anwar menyebut dirinya sebagai “binatang jalang” yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka TS Pinang menisbahkan diri sebagai makhluk kekal. Hanya saja, kekekalan itu terhambat oleh dua hal, kunci dan pagar. Jika pagar adalah sekat nilai guna baginya, maka kunci merupakan ruang lapang untuk memanfaatkan nilai guna itu. Dengan demikian, pagar lebih daripada sekadar yang dapat kita pandang sebagai pembatas, seperti kunci yang semestinya berfungsi tidak sebagai pembuka-penutup belaka.
Kunci dan kami, simbol yang digunakan penyair, berfungsi sebagai pemampat jarak, semisal kejauhan dan kedekatan. Sebutan “Kami” mengandung muatan “kita”, dengan “aku” dan “dia” di dalamnya. Bahkan, boleh jadi, “kamu”. Sebutan kami tidak berciri personal, melainkan kolektif. Menyangkut jarak antara kelompok dan kelompok: antara mereka dan kami. kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua makhluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa (Sajak “Kunci”, 14). Tafsir kita terhadap “gerbang langit” bakal beragam, namun keragaman itu tetap menggunakan kunci yang sama, kunci tempaan “bijih cinta”.
“Kami” adalah rumah atau tubuh ego dengan ruang-ruang lapang, yang tidak secara gamblang menghadirkan koherensi yang mudah dikenali. Kami, baik dalam Kunci, maupun sajak lainnya, menjadi narasi yang bersifat sangat prosaik dengan tidak menaruh “penderitaan” ke kedalaman maknanya. Melainkan, meminjam istilah Sartre, terinspirasi oleh penderitaan-penderitaan dan harapan-harapan itu. Dari penderitaan dan harapan itulah TS Pinang membangun rumah sajaknya.
Sebanyak 62 sajak dalam antologi ini merupakan ajakan sistemis yang mampu membangkitkan hasrat berpikir kita. Begitu penyair “amatir” kelahiran Pati ini membuka antologinya dengan sajak Sumur, kita langsung dijamu dengan sajian khas: ayo kita lihat realitas kehidupan. kami masih bercakap panjang dengan timba dan tambang, hingga lupa berapa kali kami telah pergi dan pulang (h. 1).
Ia juga menyuguhkan pergumulan kekuatan pikiran, terutama kekuatan pemaknaan atas ihwal penting dalam hidup, seperti hak asasi, atau hak milik pribadi. Pergumulan itu disampaikannya lewat tampilan arsitektural yang menarik, kombinasi cantik antara sajak, kritik, dan filsafat. Pergumulan pikiran yang bisa menjebak kita ke dalam semesta yang penuh tanda tanya, terutama tentang realitas. Coba kita simak: lalu kami akan segera pulang ke kampung tempat kami berladang. membawa mentari kembali, ke negeri yang lama kehilangan siang (Sajak Arkade, 7).
Kampung dan ladang langsung menguak kesadaran kita tentang negara agraris, Indonesia, namun terhentak ketika tiba pada negeri yang lama kehilangan siang. Bagaimana rasanya negeri tanpa matahari, tanpa siang? Pasti gelap, karena terus diselubungi malam. Ini alegori. Semacam simile, bahkan sindiran telak, tentang rebaknya pengangguran di negeri ini.
Menarik membaca pandangan penyair tentang negerinya. selamat datang di negeri kami. di sinilah asal mula senyuman dan tangis, ditemukan oleh seorang penyair fakir dalam singgah kembaranya. di sini kami menanam biji tawa dan air mata, lalu menjualnya sebagai hasil bumi ke negeri tetangga (Sajak Jendela, 9).
Negeri rempah-rempah yang tenar karena kesuburan tanahnya dan keragaman hayatinya, ternyata hanya mampu mengekspor tenaga kerja murah ke negeri-negeri tetangga, kemudian mendapat perlakuan “tak senonoh” dari majikan tempat “kami” (TKI) bekerja. “Kami” dikirim ke Malaysia, Timur Tengah, Asia Timur, kemudian “kami” pulang dengan tubuh babak belur dan gaji yang dikebiri. “Kami” menghasilkan banyak devisa, tapi kami kehilangan banyak “hak asasi”. Tetap saja, kami akan pulang, ke negeri ini: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat (Sajak Kakus, 11).
Arsitek jebolan UGM ini memiliki nyali berlebih untuk menerabas batas-batas, melanggar tabu-menabu, dan membangkitkan gairah berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam timbunan mental “inlander”, tidak percaya diri, laksana katak yang terperangkap di bawah tempurung. kami tak secerdas yang kami inginkan, tapi pustaka kami memang bukan untuk mencerdaskan, cukuplah asal membuat kami takut tuhan (Sajak Bibliotek, 13).
Buku baginya, juga alam semesta, tidak berfungsi lebih banyak dalam mengayakan wawasan, malah lebih sering memaksanya berputar pada labirin doktrin: ajakan untuk takut pada tuhan. Lantas, jika “kami” takut pada tuhan, kepada siapa “kami” bisa berteman? Kepada setan?
Masih di sajak yang sama, penyair menohok kita dengan santun: kami tidur dan bercinta di atas buku-buku, majalah kaum lelaki, juga kamasutra versi playboy. “Kamasutra” dan “playboy” yang lazim digunakan sebagai simbol erotik atau panduan strategi perang di atas ranjang, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan untuk melabrak penabuan seks, sesuatu yang hanya bisa diobrolkan di ruang sempit tempat tidur, yang cukup dipraktekkan saja, tanpa perlu dibincangkan, apalagi diseminarkan.
Selain itu, seperti dicatat dalam sajak Lampu (h. 16), penyair merancang sajaknya secara guyon dengan kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan: lampu di bilik kami suka mati sendiri, lalu hidup lagi. sebentar, lalu mati lagi. kami memang bukan penggemar api, tapi masih sering terpana oleh lampu kami yang agak sakti: hidup mati sendiri. lampu kami tak lagi patuh pada sakelar atau sekering. mungkin ia sedang mencoba makar, atau cuma humor yang garing. Sajak ini, mengingatkan kita pada kinerja PLN.
Sekarang, coba kita simak. kami menggoreng menumis. menggoreng menumis rempah amarah, merica cinta, bumbu cemburu: gairah yang memburu. begitulah kami memasak pagi, siang, malam, dengan api yang kecil atau besar, dengan nyala yang jinak atau liar. begitulah kami memasak pagi, siang, malam (Sajak Memasak, 57).
Juga, kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa air mata (Sajak Merebus Kesedihan, 36).
Setiap pergeseran waktu, kita dihadapkan pada banyak rintangan dan ketegangan, juga kemalangan. Kita selalu ingin beristirahat dari sergapan rintangan, ketegangan, atau kemalangan itu. Namun, jika itu terjadi, kita malah diburu-buru kebosanan. Maka, tidak heran jika Blaise Pascal (1623-1663) menyatakan bahwa kebesaran manusia adalah karena mengetahui dirinya malang. Segala rintangan-ketegangan-kemalangan-kebosanan itulah yang memproduksi kecemasan dan ketakutan. Sehingga, ada saat-saat di mana bertahan hidup saja sudah merupakan tindakan yang berani.
Bagi TS Pinang, sajak bukan semata membagus-baguskan bahasa dan makna. Sajak tidak hanya merintis jalan penemuan kosakata untuk mewakili kenyataan. Ada nilai lebih yang diburunya. Sajak harus rela merayakan penamaan dan penandaan pergerakan semesta. Segala bentuk pagar yang selama berkurun-kurun telah menyempitkan makna dan keberadaan sajak, harus selekasnya dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “kaum sajak”.
Memang, pendapat ini sangat terbuka untuk kita perdebatkan. Stéphane Mallarmé, misalnya, menegaskan bahwa puisi diracik dari bahasa, bukan gagasan. Bagi Mallarmé, puisi adalah soal bahasa dan bukan sesuatu yang diwakilinya, entah itu gagasan tentang dunia, narasi, ataupun ekspresi perasaan. Karena itu, sergah Mallarmé, bahasa puitis membangun dunianya sendiri.
Namun, bagi banyak orang, bahasa menjadi medium penyingkapan, sekaligus penyampaian. Bahasa adalah “sangkar kenyataan”, dan tugas penyair adalah merawat “sangkar-sangkar kenyataan” itu. Maka, tidaklah berlebihan jika banyak orang mengamini, bahwa puisi merupakan sesuatu yang membuat manusia menemukan dunia penghayatan semiotisnya untuk bertahan hidup. Selain itu, dunia puisi menjadi medium penyingkapan kenyataan. Atau, “pagar kenyataan”.
Itulah yang dilakoni TS Pinang. ternyata, siapa saja yang terbang dalam puisi, tak pernah turun kembali (Sajak Terbang, 61). Setiap kali ia berlari menjauh dari puisi, semakin dekat ia pada “maqam-kepenyairannya”.
Ia, juga kita, tidak bisa mengingkari puisi, itulah kuncinya.
KHRISNA PABICHARA, Penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)