Makassar International Writers Festival (MIWF) 2011
Hari Ketiga (Rabu, 15 Juni 2011)
Dermaga Barrang Lompo dan Puisi
Rabu, 15 Juni 2011, pukul 10.25, pertama kalinya saya menyambangi pulau ini. Dulu, dulu sekali, semasa masih bermukim di tanah anging mammiri’, saya belum sempat bertandang ke pulau ini, meski Barrang Lompo tak asing di kuping saya. Pulau itu tidak terlalu luas. Hanya 0,49 km2. Tidak terlalu jauh dari Makassar. Cukup 45 menit dengan menggunakan perahu cepat. Dermaga sederhana menyambut rombongan peserta MIWF 2011
Tepat di seberang ujung jalan dermaga, seorang perempuan muda tersenyum ramah. Aminah. Matanya bercahaya, tubuhnya ramping, raut wajahnya ramah. Beberapa tombak di belakangnya, tampak sebuah plang kecil bertuliskan “Taman Baca Samudra Ilmu”. Sekar Chamdi, pegiat Forum Indonesia Membaca, ternyata ikut membacanya. Dan, seolah dikomando, kami memasuki ruang baca yang berada di kolong rumah panggung salah seorang penduduk. Ukurannya tidak terlalu lapang, mungkin 2 x 4 meter. Di sebelah kiri, 3 meja berderet rapat ke dinding, 6 kursi dan 3 rak buku tersusun dengan bentuk huruf L. Erni Alajai juga sudah ikut nimbrung, melihat-lihat koleksi bersama saya dan Sekar. Sungguh, saya sangat terharu.
“Dari mana koleksi buku-buku ini?” tanya Sekar.
“Bantuan Pemkot Makassar dan beberapa lembaga, Bu,” jawab Aminah.
Lalu, Erni pun bertutur tentang komunitas di Makassar yang bersusah payah mengumpulkan donasi buku, kemudian dikirim ke beberapa perpustakaan di pulau-pulau sekitar Makassar. Sempat pula saya ajukan kemungkinan untuk mengirimkan bantuan buku dari Jakarta.
“Ongkos kirimnya terlalu mahal, Khris. Lebih baik digalang gerakan donasi buku di Makassar. Kalau perlu, satu buku satu rumah,” tutur Sekar.
Begitulah. Anak-anak berdiri di pinggir jalan. Orang-orang dewasa berkerumun di kolong-kolong rumah. Iring-iringan semakin panjang, anak-anak pulau menyatu dengan rombongan penulis. Kamaruddin Azis—yang lebih intim dengan sapaan Makassarnya, Daeng Nuntung—menemani Mazaa dan Abeer berbincang dengan warga pulau. Mereka terkesima melihat semangat gotong royong yang masih terjaga.
Kuburan tua. Unik dan penuh pikat. Terapit di antara dua pohon besar—saya lupa catat nama pohonnya—yang akar-akarnya menyatu dengan bangunan cungkup makam. Bagi saya, ini langka. Atau, setidaknya, ajaib. Akar pohon menyesuaikan diri dengan bangunan yang ada, lambat laun menyusun di sela-sela bata. Rodhaan dan Abeer sangat mengagumi keganjilan itu, Mazaa sibuk foto-foto bersama anak-anak pulau.
Matahari makin tinggi. Ubun-ubun mulai panas. Rombongan kembali bergerak. Arak-arakan semakin panjang. Peserta-peserta MIWF dari mancanegara pastilah menjadi daya pikat bagi penduduk pulau. Di tepi pantai, di bawah terik matahari, seorang remaja sedang berjemur. Agus namanya. Konon, kakinya lumpuh setelah menyelam ke dasar laut mencari teripang. Risiko jadi penyelam, begitu tutur Daeng Sese, salah seorang warga pulau. Tak seberapa lama, rombongan kembali menyusuri pulau. Menyisir Lorong Janda, berbaur dengan perempuan-perempuan yang suami mereka meninggal karena disergap badai sewaktu melaut.
Akhirnya, makan bersama pun tiba.
Pukul 12.40. Kami harus segera kembali ke Makassar, ombak bisa menyulitkan perjalanan kami. Akan tetapi, perahu belum siap. Lily Yulianti Farid, Direktur MIWF 2011, mengusulkan agar Rodhaan baca puisi sambil menunggu perahu. Vlucht naar de zee segera mengalun di bibir Rodhaan, mengalahkan deru ombak. Setelah rampung, Rodhaan meminta Wildan—juru potret pribadinya—membacakan terjemahan puisi itu. Lebih unik lagi, setelah terjemahan Indonesianya usai dibacakan, Rodhaan meminta agar Wildan menerjemahkannya ke dalam bahasa Makassar. Tampaknya, Wildan kesulitan. Saya coba membantunya, kata per kata. Akibatnya, saya didaulat Rodhaan untuk menerjemahkannya. Aih, pengalaman pertama!
Orang-orang mulai berkerumun. Dermaga mulai padat. Kuli-kuli yang menurunkan muatan perahu, berhenti. Mereka menikmati simfoni kami. Alhasil, Kak Lily mengusulkan satu puisi lagi.
Alangkah!
Para Pengarang di Negeri Rantau
Pukul 16.15. Sudah banyak penghadir di lantai dua Museum Kota Makassar. Untung saya sudah mandi setiba di hotel, tadi. Kalau tidak, bisa merusak suasana. Ternyata, usut punya usut, banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas yang menghadiri sesi siang ini. Yakin, ini pasti karena dua pembicara adalah alumni Ilmu Komunikasi, Ryana Mustamin dan Fauzan Mukrim. Jadi, semacam reuni kecil-kecilan. Hehehe....
M. Aan Mansyur membuka acara Bincang Komunitas. Tema perbincangannya ialah Menulis Membuka Jalan. Pembicaranya adalah pengarang-pengarang kelahiran Makassar yang berkarya di perantauan: Ryana Mustamin, Fauzan Mukrin, dan Khrisna Pabichara. Mula-mula Kak Ana bertutur tentang proses kreatif kepengarangannya. Praktisi perbankan yang menganggit cerpen sejak SMP ini bertutur banyak: sejarah, manfaat, dan apa saja yang dialaminya semenjak menulis.
Peserta begitu antusias.
Tiba giliran saya membakar semangat untuk menulis. Tak ada yang sulit, bila kita tekun dan bersungguh-sungguh. Saya juga berkicau tentang pilihan saya menceburkan diri seutuhnya ke dunia kepenulisan. Terakhir, Fauzan Mukrim berbagi pengalaman. Ia berkisah tentang perjalanannya yang kemudian diabadikannya lewat tulisan, jadi buku, dan laris. Sekarang, ia masih tekun menulis, sembari menekuri dunia yang dicintainya, fotografi.
Namanya juga bincang komunitas, tentulah ada sesi tanya-jawab.
Dari enam orang penanya, ada satu yang tak terlupakan. Namanya, Maya.
“Mohon izin bertanya!” Begitu kalimat pembukanya dengan gaya sikap sempurna. Ia mengulangnya lagi, dan lagi, karena belum ada yang merespons permintaannya.
“Saya izinkan!” jawab saya.
Kontan saja, Maya segera menyampaikan apa yang hendak diutarakannya. Saya yakin, banyak penghadir yang merekam kejadian ini dalam ingatan mereka. Terutama Anzhu Amarah dan Mubarak. Lihat saja linikala mereka di twitter. Sesekali mereka berkicau dengan kalimat pembuka, “Mohon izin bertanya....”
Saking asyiknya, perbincangan sore itu seolah lebih laju dari waktu.
Antara Makassar, Irak, dan Belanda
Panggung bertingkat dengan warna merah menyala, gelar karpet merah, orang-orang berseliweran di Jalan Balaikota, dan satu demi satu “pengagum rahasia” yang minta ditandatangani buku programnya—mulai narsis—mengawali malam pembacaan karya.
Ketika Luna Vidya berkicau, seorang perempuan muda mendatangi saya, mengajak foto bareng. Sebenarnya saya malu menjadi pusat perhatian. Namun, demi membahagiakan hatinya, saya penuhi harapannya. Namanya, Anata Aulia Kautsar. Keren banget! Di buku kecilnya saya tulis, “Cinta tak mengenal kata tetapi!” Konon, ia menyukai suara saya. Halah!
Di panggung, Mazaa begitu ekspresif bertutur, sangat memikat. Gunduz juga tampil memukau, esainya yang sangat kritis membabar gonjang-ganjing politik. Lalu, Abeer mencekam penonton lewat kedalaman cerita pendeknya. Tiba giliran Rodhaan, gaya khas dan postur tubuhnya yang—sesekali saya bayangkan tubuh saya seperti tubuhnya—kukuh menyihir penonton.
“Saya minta Khrisna menemani saya di panggung,” kata Rodhaan.
Aih, sepertinya peristiwa di dermaga Barrang Lompo bakal terulang. Dalam hati, saya berharap, semoga hanya satu puisi. Sungguh, menerjemahkan sajak ke dalam bahasa Makassar secara spontan bukanlah sesuatu yang mudah, menguras tenaga. Apalagi, di sela penonton, ada beberapa orang yang saya kenal dan saya tahu sangat paham bahasa ibu saya. Tapi, pede aja! Rodhaan mulai beraksi. Suara beratnya yang sarat daya magis sangat membantu saya menemukan “rasa baca”.
Puisi pertamanya, Ik Heb je Nodig. Terjemah Indonesia-nya, Aku Membutuhkanmu. Saya alihkan ke bahasa Makassar, Sukku’ Kukellanu, Andi’. Begitu raampung kami bacakan satu puisi, tepuk tangan membahana. Bahkan, kata Kak Lily, beberapa pengendara motor menghentikan kendaraannya, menyimak takzim sajian kami. Lalu, Rodhaan membaca sajak kedua, Vlucht Naar de Zee (Tu Na Anyukanga Kalenna ri Tamparanga—Makassar). Langgam ratap ala Makassar jadi pilihan saya, appitoto. Sesudahnya, penonton bersuka cita.
Lalu, puisi ketiga. Lalu, puisi keempat. Saya yakin inilah puisi terakhir, maka saya tetap memberikan yang terbaik. Seperti Rodhaan yang tampaknya makin larut, makin yahud. Ternyata dugaan saya keliru, dan penonton pun tertawa. O ya, gaya saya seolah-olah sudah usai pertunjukannya. Padahal, masih ada satu puisi.
“Ini puncaknya,” kata Rodhaan, melirik saya dengan lengkung samar di bibirnya.
Ketika sepintas membaca terjemahan Indonesia di layar. Saya bayangkan gaya royong, gaya seorang ibu menidurkan buah hatinya atau gaya seseorang merindukan belahan hatinya. Saya reka-reka alun suara dan ekspresi yang akan saya gunakan. Saya pindahkan “ruh” Rodhaan ke dalam “rasa” saya, dan saya alihkan ke bahasa Makassar sebelum Rodhaan menyerahkan kertas yang masih di genggamannya. Ekstase!
Aku ingin berbaring di sisimu, seperti ombak di sisi ombak.
Aku ingin menyatu denganmu, seperti ombak dengan ombak.
Aku ingin lenyap dalam dirimu, seperti ombak dalam ombak.
Cinna sikaliya’, Andi’, attinro ri sa’ringnu
Sanrapang tinrona se’rea bombang ri bombang maraengannayya
Cinna sikaliya’, Andi’, lessa’ ri kalennu
Sanrapang lessa’na se’rea bombang ri bombang rioloangannayya
Cinna sikaliya’, Andi’, lannya’ ri atingnu
Sanrapang lannya’na se’rea bombang ri bombang najammengiya
Sungguh, Rodhaan sempat menangkap kristal yang menggantung di ujung kelopak mata saya, dan saya juga selintas melihat matanya berkaca-kaca. Bahasa boleh berbeda, tapi rasa kami saling luluh, saling leleh. Kami berpelukan, erat sekali. Terpampang di benak saya bayang-bayang seolah sayalah yang dikejar-kejar tentara Irak, bersembunyi dari satu semak ke semak lainnya, menahan napas setiap truk tentara melintas, dan tiba di negeri pelarian demi mempertahankan prinsip: menolak perintah wajib militer. Selintas saja pelukan itu, tapi rasanya berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Begitulah. Konon, Riri Reza dan Arman Dewarti pun menyukai duet kami. Bahkan Fauzan menggelari kami “duet maut”. Bahkan Anata pun berkaca-kaca matanya. Bahkan Abeer Soliman pun berat melepaskan genggaman tangannya.
Bahkan, letih seusai berjalan kaki dari Museum Kota ke Hotel Valentino tak berasa.
(Bersambung)
Tampilkan postingan dengan label MIWF 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MIWF 2011. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Juni 2011
Kamis, 23 Juni 2011
Makassar Tidak Kasar
Makassar International Writers Festival (MIWF) 2011
Hari Kedua (Selasa, 14 Juni 2011)
Berperang Melawan Rasa Enggan
Alarm yang sengaja saya setel pukul 07:00 ternyata tidak sanggup menyeret saya dari peluk mimpi. Sudah pukul 08:25 ketika saya terjaga, padahal hari ini rencana ikut program perjalanan penulis ke Galesong. Ya, hari kedua MIWF 2011. Mestinya pagi ini saya sudah berada di Galesong bersama Mazaa Mengiste (Ethiopia), Rodhaan Al Galidi (Irak), Gűndűz Vassaf (Turki), Abeer Soliman (Mesir), Ton Van De Langkruis dan Judith Uyterlinde dari Belanda, serta Wendy Miller dari Australia. Mestinya saya sudah bercengkerama dengan komunitas dan pelajar di pesisir Galesong bersama penulis Makassar yang saya kagumi, Hendragunawan S. Thayf, dan peteater yang namanya sudah lama intim di hati saya, Shinta Febriany. Mestinya saya sudah menyisir bibir pantai, bertukar sapa dengan penduduk pesisir bareng Hamran Sunu—novelis muda Makassar yang semalam suntuk dituturkan kepiawaiannya oleh M. Aan Mansyur—dan penulis muda Makassar lainnya, Erni Aladjai.
Faktanya, saya masih bertangkup selimut, belum sikat gigi, belum cuci muka, apalagi mandi. Ketika mata saya menoleh ke dipan Aan, tilamnya sudah kosong. Saya langsung teringat linikala Esha Tegar Putra di twitter yang menyebut Aan sebagai kurator plus LO.
AC yang disetel di angka 16 mulai terasa dinginnya. Matahari sudah menyelinap lewat gordin yang sedikit tersingkap. Yang pertama memikat hati saya, seperti biasa, adalah telepon genggam. Dan, di layarnya. Bujug! Ada 12 panggilan tak terjawab, 8 pesan pendek, dan akun twitter yang seolah melambai untuk segera disambangi. Handphone itu saya taruh kembali, lalu bergegas bangkit, bermalas-malasan meraih sebotol air mineral yang telah disediakan pihak manajemen hotel di sisi lemari pakaian. Terasa kesegarannya ketika air itu meniti tenggorokanku. Aih, lebay deh!
Baru saja berniat ke kamar mandi, handphone-ku menjerit. Ternyata Si Cantik dari Parung, Shahrena.
“Ayah lagi ngapain?”
“Mau mandi!”
“Idih, jorok. Penulis internasional kok malas mandi.”
“Eh, dilarang ceramahi orangtua, kualat.”
“Hehehe, Ayah diktator.”
Dan, tawa renyah bidadari kecilku berayun-ayun di telinga.
Begitu Rena menutup perbincangan, saya segera bergegas ke kamar mandi.
Makassar Tidak Kasar
Matahari sudah terasa teriknya begitu saya tiba di pelataran hotel Valentino. Tak ada taksi, tak ada pete-pete yang lewat. Tapi, di sudut kanan jalan, seorang tukang becak sedang mangkal. Segeralah tanganku melambai, begitu melihat ia menoleh kepadaku. Langkahku terayun begitu ringan. Dan setelah bertanya ongkos ke Museum Kota Makassar, saya segera duduk di joknya. Naik becak di Kota Makassar, lama nian tak merasakaannya. Dan, setelah perbincangan ringan dengan daeng becak, ternyata ia sekampung dengan teman SMP saya di Jeneponto. Nah, makin rindu kampung deh!
Begitulah. Makassar sudah terik sepagi ini.
Akhirnya tibalah saya di Museum Kota Makassar. Bisa ditebak, wajah yang langsung saya kenali adalah penyair kelahiran Bone yang selalu dirahasiakan tahun kelahirannya, Aan. Tanda pengenal dan buku program segera berpindah ke tanganku. Aan juga yang mengabarkan bahwa penyair kelahiran Surakarta, Sapardi Djoko Damono, sudah tiba lebih dahulu. Bersama istrinya, Prof Sapardi—begitu biasa saya menyapanya—sedang asyik mengamati koleksi museum. Sembari mengulurkan tangan, dengan lembut saya sapa penyair yang sajaknya kerap diterakan di kartu undangan pernikahan itu.
Ya, hari ini, saya akan duduk semeja dengan Prof Sapardi untuk berbincang soal kreativitas bersama komunitas di Makassar. Acara Bincang Komunitas ini terselenggara berkat kerja sama antara MIWF 2011 dengan Gerakan Makassar Tidak Kasar, gerakan yang selama ini hanya kerap saya baca di media maya. Yang menggembirakan adalah karena pagi ini saya juga bertemu dengan pemilik akun @SupirPete2 di twitter. Ternyata!
Pukul 10.00. Aan segera menyapa seluruh peserta dan mengajak mereka menempati kursi yang telah disediakan. O ya, salah satu keunikan pengemasan acara ini adalah becak yang berderet rapi, sengaja disediakan sebagai tempat duduk bagi para penghadir. Unik, selera unik yang menggelitik. Dan, Keyka pun mulai mengenalkan apa dan hendak mengapa Gerakan Makassar Tidak Kasar itu.
“Tidak bisa dimungkiri, media turut menanam saham, sehingga wajah Makassar yang kesohor di luar adalah wajah yang ‘sangar’ dan ‘kasar’. Berita yang dikabarkan pun selalu berkisar pada kekerasan. Mengingat berita memang membutuhkan hal-hal aneh, kita terpaksa memakluminya. Tapi, seandainya boleh berharap, setidaknya disampaikan secara berimbang, atau menuturkan pula muasal tindak kekerasan itu,” begitu kata Keyka saat dipersilakan Aan untuk memulai perbincangan.
Bagi saya, kritik semacam itu perlu. Tugas media bukanlah semata mencari sensasi, mereka juga wajib mengambil bagian dalam upaya “membangun kecerdasan bangsa”. Berita seputar Makassar, hingga saat ini, memang didominasi rekaman sedih dari hal-hal mengerikan yang mewarnai pertumbuhannya: perkelahian antar-gang, demonstrasi rusuh, dan tindak kekerasan lain, semua ini adalah potret buram Makassar yang menghiasi ruang media, terutama media televisi. Seolah asin dan garam, Makassar dan kekerasan seolah kembar identik yang tak terpisahkan. Akan tetapi, media kan memang gemar memburu sensasi.
Keyka juga berkisah tentang kegiatan yang selama ini telah dilakukan, termasuk kampanye menumbuhkan kreativitas kalangan muda Makassar. Mawar, seorang penyiar radio yang turut aktif dalam gerakan ini, juga memaparkan program Piknik Asyik, pelesir ke ruang-ruang publik—yang jumlahnya makin terbatas—dengan santai dan menyenangkan. Unjuk saran pula, Ancu Amarah, pegiat Kampung Buku, bertutur tentang program layar tancap. Semacam ajakan bagi kalangan muda untuk menonton film-film berkualitas. Konon, lewat @dewi_boelan, komunitas ini secara rutin menyajikan kutipan-kutipan inspiratif dari petikan dialog film.
Lalu, tiba giliran saya bertutur soal pengalaman menggiatkan Gerakan #koinsastra, gerakan yang bersama-sama teman-teman juga bermula dari kicauan di twitter. Bincang asyik itu pun diakhiri dengan gaya khas Prof Sapardi yang membabar pentingnya kreativitas dalam hidup ini.
Tradisi Massure’ dan Film Persembahan
Akhirnya, tibalah kita di malam pembukaan. Inilah salah satu di antara sekian banyak keunikan MIWF 2011. Sebenarnya, Sekar Chamdi dan Ana P. Diwayana sudah memulakan rangkaian program MIWF pada hari pertama (Senin, 13 Juni 2011) lewat program Creating Bookcraft bersama Forum Indonesia Membaca. Begitu pun Aan dan penulis Makassar yang telah mengangkasa lewat program Sastra di Udara, tepatnya di Selebes FM. Namun, secara resmi, pembukaan MIWF 2011 baru akan dilakukan malam ini.
Malam ini saya ditemani guru teater semasa di SMKI Negeri Ujung Pandang, Asia Ramli Prapanca. Menyasar Pantai Losari, lalu masuk ke Hotel Pantai Gapura. Dan, gila! Saya takjub—boleh juga disebut terkagum-kagum—melihat arsitektur restoran Balla’ Irate yang terapung di pinggir Laut Makassar. Betapa tidak, tiang-tiang penyangga terpacak kukuh ke tubuh laut. Alangkah!
Dan, sayat kesok-kesok, alat musik tradisional yang kerap mengiringi sinrilik—sastra tutur khas Makassar—menyambut tetamu. Sungguh, tak banyak orang yang kukenal. Hingga tampaklah Moch. Hasymi, esais yang dulu kerap saya baca karyanya di koran-koran. Lantas Arman Dewarti, peracik film. Yang lebih mengejutkan adalah perjumpaan saya dengan teman seangkatan di SMKI Negeri Ujung Pandang, Ancu Batara. Bayangkan, saya terpisah dengannya nyaris 16 tahun.
Setelah acara makan-makan (hiks, ada ikar bakar favorit saya!), malam pembukaan pun dimulai. Luna Vidya, jago monolog yang sudah melanglang buana, membuka ritual dengan celetukan-celetukan yang segar. Lagi-lagi, satu kejutan yang menggetarkan, Indo’ Masse tampil Massure’, sastra lisan Bugis yang kini jarang tertemukan. Mozaik tradisi yang memukau. Setiap lengkingnya adalah simfoni merdu membelai kalbu. Tak lama berselang, seperti lumrahnya ritual pembukaan acara, sambutan demi sambutan digelar. Bermula dari Direktur MIWF 2011, Lily Yulianti Farid, lalu Direktur Rumata’ yang juga sineas kelahiran Makassar, Riri Reza. Terakhir, sambutan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Ritual pembukaan ditandai dengan pemukulan 4 gong secara serentak oleh Lily, Riri, Walikota, dan Direktur Writers Unlimited de Hague Literatue Network, Ton Van De Langkruis.
Pada saat menuturkan sambutannya, Lily juga memperkenalkan 4 pendekar sastra Makassar yang dipilih kurator menjadi peserta MIWF 2011, yakni Hendragunawan S. Thayf, Shinta Febriany, Hamran Sunu, dan Erni Aladjai. Kemudian, Lily memperkenalkan pembicara tamu kelahiran Makassar, yakni Ryana Mustamin, Fauzan Mukrim, dan saya.
Tibalah giliran Ton menampilkan satu demi satu peserta dari mancanegara. Bermula dari Mazaa Mengiste. Novelis kelahiran Ethiopia ini kini bermukim di New York, Amerika Serikat. Lalu, Abeer Soliman. Penulis asal Mesir ini memulai debutnya lewat Diary of an Old Spinster. Konon, ia termasuk pegiat revolusi Mesir. Berikutnya, esais dari Turki, Gűndűz Vassaf. Terakhir, Rodhaan Al Galidi, penyair kelahiran Irak yang kini menetap di Belanda. Kelak, di catatan berikutnya, akan saya tuturkan kehebatan karya mereka, termasuk duet maut saya dengan Rodhaan dan kolaborasi cantik saya dengan Abeer.
Kejutan lain akhirnya tiba. Film persembahan untuk Muhammad Salim tayang di layar. Tampillah sosok sejarawan dan pejuang literasi yang dengan tekun menerjemahkan I La Galigo, karya sastra Bugis yang diamini banyak kalangan sebagai epik terpanjang di dunia. Tidak banyak sosok yang bisa setekun Salim dalam menceburkan dirinya secara menyeluruh ke dunia literasi. Maka, layaklah film ini dipersembahkan secara khusus kepadanya. Film dokumenter ini diracik oleh sutradara eksentrik, Arman Dewarti. Di ujung tayang film, tersaji lagi adegan yang memiuh-miuh hati: penyerahan film kepada istri almarhum Muhammad Salim. Apresiasi yang menggetarkan dari kalangan muda kepada pendahulunya. Salut!
Ritual pembukaan pun ditutup dengan parade pembacaan sajak Sapardi Djoko Damono yang dianggitnya dari terjemahan I La Galigo. Hamran, Erni, Shinta, Hendra, dan Aan tampil satu per satu, kemudian dipungkasi oleh Prof Sapardi.
Dan, berakhirlah acara pembukaan yang menggetarkan hati.
Sejam di Gedung Kesenian Makassar
Selepas acara pembukaan, saya tak bersegera ke hotel Valentino. Alih-alih merebahkan penat di kamar, saya malah bertandang ke Gedung Kesenian Makassar—yang hingga kini renovasinya tak kunjung rampung. Adalah kegembiraan bersejarah bisa kembali mencecap angin mammirik di pelataran gedung. Rupa-rupa tingkah ada di sana. Satu meja digelimuni anak-anak muda yang asyik main domino, satu meja sedang sibuk bercengkerama, satu meja lagi menyaksikan adu strategi catur. Sesekali terdengar gurauan khas Makassar.
Begitulah. Hari kedua MIWF. Tak terlupakan!
(Bersambung)
Hari Kedua (Selasa, 14 Juni 2011)
Berperang Melawan Rasa Enggan
Alarm yang sengaja saya setel pukul 07:00 ternyata tidak sanggup menyeret saya dari peluk mimpi. Sudah pukul 08:25 ketika saya terjaga, padahal hari ini rencana ikut program perjalanan penulis ke Galesong. Ya, hari kedua MIWF 2011. Mestinya pagi ini saya sudah berada di Galesong bersama Mazaa Mengiste (Ethiopia), Rodhaan Al Galidi (Irak), Gűndűz Vassaf (Turki), Abeer Soliman (Mesir), Ton Van De Langkruis dan Judith Uyterlinde dari Belanda, serta Wendy Miller dari Australia. Mestinya saya sudah bercengkerama dengan komunitas dan pelajar di pesisir Galesong bersama penulis Makassar yang saya kagumi, Hendragunawan S. Thayf, dan peteater yang namanya sudah lama intim di hati saya, Shinta Febriany. Mestinya saya sudah menyisir bibir pantai, bertukar sapa dengan penduduk pesisir bareng Hamran Sunu—novelis muda Makassar yang semalam suntuk dituturkan kepiawaiannya oleh M. Aan Mansyur—dan penulis muda Makassar lainnya, Erni Aladjai.
Faktanya, saya masih bertangkup selimut, belum sikat gigi, belum cuci muka, apalagi mandi. Ketika mata saya menoleh ke dipan Aan, tilamnya sudah kosong. Saya langsung teringat linikala Esha Tegar Putra di twitter yang menyebut Aan sebagai kurator plus LO.
AC yang disetel di angka 16 mulai terasa dinginnya. Matahari sudah menyelinap lewat gordin yang sedikit tersingkap. Yang pertama memikat hati saya, seperti biasa, adalah telepon genggam. Dan, di layarnya. Bujug! Ada 12 panggilan tak terjawab, 8 pesan pendek, dan akun twitter yang seolah melambai untuk segera disambangi. Handphone itu saya taruh kembali, lalu bergegas bangkit, bermalas-malasan meraih sebotol air mineral yang telah disediakan pihak manajemen hotel di sisi lemari pakaian. Terasa kesegarannya ketika air itu meniti tenggorokanku. Aih, lebay deh!
Baru saja berniat ke kamar mandi, handphone-ku menjerit. Ternyata Si Cantik dari Parung, Shahrena.
“Ayah lagi ngapain?”
“Mau mandi!”
“Idih, jorok. Penulis internasional kok malas mandi.”
“Eh, dilarang ceramahi orangtua, kualat.”
“Hehehe, Ayah diktator.”
Dan, tawa renyah bidadari kecilku berayun-ayun di telinga.
Begitu Rena menutup perbincangan, saya segera bergegas ke kamar mandi.
Makassar Tidak Kasar
Matahari sudah terasa teriknya begitu saya tiba di pelataran hotel Valentino. Tak ada taksi, tak ada pete-pete yang lewat. Tapi, di sudut kanan jalan, seorang tukang becak sedang mangkal. Segeralah tanganku melambai, begitu melihat ia menoleh kepadaku. Langkahku terayun begitu ringan. Dan setelah bertanya ongkos ke Museum Kota Makassar, saya segera duduk di joknya. Naik becak di Kota Makassar, lama nian tak merasakaannya. Dan, setelah perbincangan ringan dengan daeng becak, ternyata ia sekampung dengan teman SMP saya di Jeneponto. Nah, makin rindu kampung deh!
Begitulah. Makassar sudah terik sepagi ini.
Akhirnya tibalah saya di Museum Kota Makassar. Bisa ditebak, wajah yang langsung saya kenali adalah penyair kelahiran Bone yang selalu dirahasiakan tahun kelahirannya, Aan. Tanda pengenal dan buku program segera berpindah ke tanganku. Aan juga yang mengabarkan bahwa penyair kelahiran Surakarta, Sapardi Djoko Damono, sudah tiba lebih dahulu. Bersama istrinya, Prof Sapardi—begitu biasa saya menyapanya—sedang asyik mengamati koleksi museum. Sembari mengulurkan tangan, dengan lembut saya sapa penyair yang sajaknya kerap diterakan di kartu undangan pernikahan itu.
Ya, hari ini, saya akan duduk semeja dengan Prof Sapardi untuk berbincang soal kreativitas bersama komunitas di Makassar. Acara Bincang Komunitas ini terselenggara berkat kerja sama antara MIWF 2011 dengan Gerakan Makassar Tidak Kasar, gerakan yang selama ini hanya kerap saya baca di media maya. Yang menggembirakan adalah karena pagi ini saya juga bertemu dengan pemilik akun @SupirPete2 di twitter. Ternyata!
Pukul 10.00. Aan segera menyapa seluruh peserta dan mengajak mereka menempati kursi yang telah disediakan. O ya, salah satu keunikan pengemasan acara ini adalah becak yang berderet rapi, sengaja disediakan sebagai tempat duduk bagi para penghadir. Unik, selera unik yang menggelitik. Dan, Keyka pun mulai mengenalkan apa dan hendak mengapa Gerakan Makassar Tidak Kasar itu.
“Tidak bisa dimungkiri, media turut menanam saham, sehingga wajah Makassar yang kesohor di luar adalah wajah yang ‘sangar’ dan ‘kasar’. Berita yang dikabarkan pun selalu berkisar pada kekerasan. Mengingat berita memang membutuhkan hal-hal aneh, kita terpaksa memakluminya. Tapi, seandainya boleh berharap, setidaknya disampaikan secara berimbang, atau menuturkan pula muasal tindak kekerasan itu,” begitu kata Keyka saat dipersilakan Aan untuk memulai perbincangan.
Bagi saya, kritik semacam itu perlu. Tugas media bukanlah semata mencari sensasi, mereka juga wajib mengambil bagian dalam upaya “membangun kecerdasan bangsa”. Berita seputar Makassar, hingga saat ini, memang didominasi rekaman sedih dari hal-hal mengerikan yang mewarnai pertumbuhannya: perkelahian antar-gang, demonstrasi rusuh, dan tindak kekerasan lain, semua ini adalah potret buram Makassar yang menghiasi ruang media, terutama media televisi. Seolah asin dan garam, Makassar dan kekerasan seolah kembar identik yang tak terpisahkan. Akan tetapi, media kan memang gemar memburu sensasi.
Keyka juga berkisah tentang kegiatan yang selama ini telah dilakukan, termasuk kampanye menumbuhkan kreativitas kalangan muda Makassar. Mawar, seorang penyiar radio yang turut aktif dalam gerakan ini, juga memaparkan program Piknik Asyik, pelesir ke ruang-ruang publik—yang jumlahnya makin terbatas—dengan santai dan menyenangkan. Unjuk saran pula, Ancu Amarah, pegiat Kampung Buku, bertutur tentang program layar tancap. Semacam ajakan bagi kalangan muda untuk menonton film-film berkualitas. Konon, lewat @dewi_boelan, komunitas ini secara rutin menyajikan kutipan-kutipan inspiratif dari petikan dialog film.
Lalu, tiba giliran saya bertutur soal pengalaman menggiatkan Gerakan #koinsastra, gerakan yang bersama-sama teman-teman juga bermula dari kicauan di twitter. Bincang asyik itu pun diakhiri dengan gaya khas Prof Sapardi yang membabar pentingnya kreativitas dalam hidup ini.
Tradisi Massure’ dan Film Persembahan
Akhirnya, tibalah kita di malam pembukaan. Inilah salah satu di antara sekian banyak keunikan MIWF 2011. Sebenarnya, Sekar Chamdi dan Ana P. Diwayana sudah memulakan rangkaian program MIWF pada hari pertama (Senin, 13 Juni 2011) lewat program Creating Bookcraft bersama Forum Indonesia Membaca. Begitu pun Aan dan penulis Makassar yang telah mengangkasa lewat program Sastra di Udara, tepatnya di Selebes FM. Namun, secara resmi, pembukaan MIWF 2011 baru akan dilakukan malam ini.
Malam ini saya ditemani guru teater semasa di SMKI Negeri Ujung Pandang, Asia Ramli Prapanca. Menyasar Pantai Losari, lalu masuk ke Hotel Pantai Gapura. Dan, gila! Saya takjub—boleh juga disebut terkagum-kagum—melihat arsitektur restoran Balla’ Irate yang terapung di pinggir Laut Makassar. Betapa tidak, tiang-tiang penyangga terpacak kukuh ke tubuh laut. Alangkah!
Dan, sayat kesok-kesok, alat musik tradisional yang kerap mengiringi sinrilik—sastra tutur khas Makassar—menyambut tetamu. Sungguh, tak banyak orang yang kukenal. Hingga tampaklah Moch. Hasymi, esais yang dulu kerap saya baca karyanya di koran-koran. Lantas Arman Dewarti, peracik film. Yang lebih mengejutkan adalah perjumpaan saya dengan teman seangkatan di SMKI Negeri Ujung Pandang, Ancu Batara. Bayangkan, saya terpisah dengannya nyaris 16 tahun.
Setelah acara makan-makan (hiks, ada ikar bakar favorit saya!), malam pembukaan pun dimulai. Luna Vidya, jago monolog yang sudah melanglang buana, membuka ritual dengan celetukan-celetukan yang segar. Lagi-lagi, satu kejutan yang menggetarkan, Indo’ Masse tampil Massure’, sastra lisan Bugis yang kini jarang tertemukan. Mozaik tradisi yang memukau. Setiap lengkingnya adalah simfoni merdu membelai kalbu. Tak lama berselang, seperti lumrahnya ritual pembukaan acara, sambutan demi sambutan digelar. Bermula dari Direktur MIWF 2011, Lily Yulianti Farid, lalu Direktur Rumata’ yang juga sineas kelahiran Makassar, Riri Reza. Terakhir, sambutan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Ritual pembukaan ditandai dengan pemukulan 4 gong secara serentak oleh Lily, Riri, Walikota, dan Direktur Writers Unlimited de Hague Literatue Network, Ton Van De Langkruis.
Pada saat menuturkan sambutannya, Lily juga memperkenalkan 4 pendekar sastra Makassar yang dipilih kurator menjadi peserta MIWF 2011, yakni Hendragunawan S. Thayf, Shinta Febriany, Hamran Sunu, dan Erni Aladjai. Kemudian, Lily memperkenalkan pembicara tamu kelahiran Makassar, yakni Ryana Mustamin, Fauzan Mukrim, dan saya.
Tibalah giliran Ton menampilkan satu demi satu peserta dari mancanegara. Bermula dari Mazaa Mengiste. Novelis kelahiran Ethiopia ini kini bermukim di New York, Amerika Serikat. Lalu, Abeer Soliman. Penulis asal Mesir ini memulai debutnya lewat Diary of an Old Spinster. Konon, ia termasuk pegiat revolusi Mesir. Berikutnya, esais dari Turki, Gűndűz Vassaf. Terakhir, Rodhaan Al Galidi, penyair kelahiran Irak yang kini menetap di Belanda. Kelak, di catatan berikutnya, akan saya tuturkan kehebatan karya mereka, termasuk duet maut saya dengan Rodhaan dan kolaborasi cantik saya dengan Abeer.
Kejutan lain akhirnya tiba. Film persembahan untuk Muhammad Salim tayang di layar. Tampillah sosok sejarawan dan pejuang literasi yang dengan tekun menerjemahkan I La Galigo, karya sastra Bugis yang diamini banyak kalangan sebagai epik terpanjang di dunia. Tidak banyak sosok yang bisa setekun Salim dalam menceburkan dirinya secara menyeluruh ke dunia literasi. Maka, layaklah film ini dipersembahkan secara khusus kepadanya. Film dokumenter ini diracik oleh sutradara eksentrik, Arman Dewarti. Di ujung tayang film, tersaji lagi adegan yang memiuh-miuh hati: penyerahan film kepada istri almarhum Muhammad Salim. Apresiasi yang menggetarkan dari kalangan muda kepada pendahulunya. Salut!
Ritual pembukaan pun ditutup dengan parade pembacaan sajak Sapardi Djoko Damono yang dianggitnya dari terjemahan I La Galigo. Hamran, Erni, Shinta, Hendra, dan Aan tampil satu per satu, kemudian dipungkasi oleh Prof Sapardi.
Dan, berakhirlah acara pembukaan yang menggetarkan hati.
Sejam di Gedung Kesenian Makassar
Selepas acara pembukaan, saya tak bersegera ke hotel Valentino. Alih-alih merebahkan penat di kamar, saya malah bertandang ke Gedung Kesenian Makassar—yang hingga kini renovasinya tak kunjung rampung. Adalah kegembiraan bersejarah bisa kembali mencecap angin mammirik di pelataran gedung. Rupa-rupa tingkah ada di sana. Satu meja digelimuni anak-anak muda yang asyik main domino, satu meja sedang sibuk bercengkerama, satu meja lagi menyaksikan adu strategi catur. Sesekali terdengar gurauan khas Makassar.
Begitulah. Hari kedua MIWF. Tak terlupakan!
(Bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)