Minggu, 28 Juni 2009

[ARTIKEL] Mendongkrak Kinerja Otak Bag. 1

Oleh: KHRISNA PABICHARA


PERNAHKAH Anda membayangkan bagaimana cara otak bekerja? Pernahkah Anda memikirkan apa yang akan terjadi sekiranya tiba-tiba saja otak Anda “mogok kerja”? Pernahkah Anda mengalami otak Anda tiba-tiba terasa buntu, tidak mampu mengingat semua hapalan, padahal Anda sedang sibuk menyelesaikan soal ujian akhir? Pernahkah Anda merasa sangat tersiksa karena hapalan yang pernah Anda ingat di luar kepala, tiba-tiba lupa justru ketika Anda sangat membutuhkannya? Sebaliknya, alangkah kesalnya, ketika kita tidak membutuhkan ingatan itu lagi, kita malah dengan mudah melafalkan semua hapalan itu.

Mungkin Anda bertanya, apakah untuk menjadi ”guru yang baik” kita harus mengerti struktur otak? Apakah untuk menjadi siswa yang cerdas kita harus memahami anatomi dan jalur otak? Memang, untuk menjadi guru yang baik tidak harus menguasai segala hal menyangkut otak. Begitu pula untuk menjadi siswa berprestasi, Anda tidak mesti sibuk membuka buku demi buku yang menjelaskan anatomi dan struktur otak.
Namun, penting bagi Anda untuk mengetahui cara kerja otak. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan kecakapan belajar (learning skill). Selain itu, Anda juga perlu mengetahui bagaimana caranya mendongkrak kinerja otak, karena hal ini berkaitan dengan percepatan pembelajaran. Artinya, Anda membutuhkan informasi tentang cara kerja dan bagaimana meningkatkan kinerja otak. Setelah itu, manfaatkan informasi itu.

SEBELUM kita membincangkan beberapa trik cespleng untuk mendongkrak kinerja otak, ada baiknya kita ”bermain-main” dengan bagian tubuh kita yang bisa disimpan rapi di atas belahan telapak tangan kita. Otak, bobotnya hanya 1,5 kg. Meski hanya menggunakan 20% dari energi tubuh kita, tetapi beban yang ditanggungnya amat berat.

Bayangkan! Otak menanggung nyaris semua tanggung jawab kehidupan kita, seperti menciptakan peradaban, menghasilkan karya seni, ilmu, dan bahasa. Otak bertindak pula selaku pengendali perilaku kita, seperti tidur, bernafas, berkedip, mengatur irama jantung, menghangatkan tubuh, bahkan menyesuaikan kuasa indrawi dengan suhu atau cuaca. Selain itu, kita menumpukkan pikiran kita, emosi kita, harapan kita, hanya pada satu tempat: otak. Maka, bagaimana Anda bisa mengabaikan latihan rutin untuk pertumbuhan dan kemampuan otak Anda?

Oh ya, Profesor Marion Diamond, pernah meminta cuti kerja selama sehari pada Universitas California di Barkeley, hanya untuk menguraikan dengan tepat tentang cara kerja otak. Hal ini diungkapkan oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya Revolusi Cara Belajar. Diamond memulai penjelasannya dari bagian dasar otak. Namanya, medulla. Bagian itu, katanya, mengatur detak jantung dan proses respirasi. Makanya medulla, dengan panjang hanya beberapa inchi, sangat penting bagi kehidupan kita, karena berfungsi sebagai pengatur kedipan mata, menelan, pernapasan, dan kegiatan-kegiatan dasar kehidupan lainnya.

Selanjutnya, ilmuwan yang pernah membedah otak Einstein itu menerangkan bahwa di sisi medulla, ada otak kecil. Namanya, serebelum. Bagian otak inilah yang bertanggung jawab terhadap proses koordinasi dan keseimbangan. Belakangan, diketahui bahwa serebelum juga memiliki peran vital bagi kemampuan belajar dan berbicara.

Di bagian belakang kening Anda terdapat lobus frontal. Bagian ini berperan penting bagi pengembangan kepribadian Anda, pengurutan ide-ide, atau perencanaan masa depan. Itulah mengapa secara refleks jika berpikir, banyak orang suka memegang jidatnya. Bagian ini pula, lobus frontal, yang membedakan manusia dengan nenek moyangnya. Terutama dalam hal perkembangan daya pikir yang terus bertumbuh seiring pertumbuhan manusia. Di belakang kening, juga terdapat bagian yang disebut area pengendali ucapan. Nama kerennya, motor speach area. Sedangkan untuk memahami kata-kata, masih di bagian belakang kening, ada bagian otak-pendengar.

Sambil membedah otak, Diamond menjelaskan setiap area, nama dan fungsinya. Ia menunjukkan bagian otak yang mengendalikan perasaan, rasa sakit, tekanan, sentuhan, dan pendengaran. Juga area yang menggerakkan tungkai, lengan, dan jari-jari. Jadi, jika otak Anda lumpuh, kaki dan tangan Anda pun pasti lumpuh. Begitu pula jantung, mata, dan bagian tubuh lainnya.

Peneliti otak terkemuka itu, ketika sampai pada sistem limbik, mulai mengungkap rahasia yang lebih dalam: bagian otak yang berhubungan dengan kemarahan, ketakutan, emosi, cinta, gairah, dan seksualitas. Selain itu, ditegaskan bahwa otak memiliki daya untuk menunjukkan dan menghentikan rasa sakit.

”Saya dapat menunjukkan kenyataan kepada Anda,” kata Prefesor Diamond, ”bahwa otak dapat berubah pada usia berapa pun, sejak lahir sampai akhir kehidupan”. Artinya, otak dapat dikembangkan, sama seperti kemampuan tubuh lainnya. Otak dapat berubah secara positif jika dibiasakan pada lingkungan yang selalu terjadi rangsangan. Sebaliknya, otak akan menjadi negatif jika tidak mendapatkan rangsangan.

Nah, sekarang, bagaimana merangsang otak? Itulah gunanya Anda membaca tulisan ini.

BAIKLAH, simak dengan cermat beberapa trik berikut ini. Kalau perlu, catat. Simpan. Baca setiap Anda memiliki kesempatan. Saya yakin, sebagaimana saya, Anda juga membutuhkan trik cespleng ini.

1. Mulai pelajari mekanisme kerja otak. Otak kita memiliki kemampuan untuk menerima, mengatur, dan menempatkan memori. Untuk meningkatkan kinerjanya, rahasianya adalah pembiasaan mental. Ketika Anda mendapat pertanyaan, ”Jakarta adalah ibukota negara mana?” Dengan mudah Anda akan menjawab Indonesia. Mengapa? Karena Anda sudah biasa mendengarnya. Otak Anda sudah sering menerima informasi itu, sehingga bisa menempatkan dengan mudah ketika kita menginginkannya. Namun, berbeda jika Anda mendapat pernyataan yang tidak lazim. Misalnya, ”Arfi dan Amal suka biologi, sementara Kiky dan Rezky suka matematika. Selain itu, Arfi dan Kiky juga suka fisika. Siapa yang suka biologi dan fisika?” Saya yakin, Anda membutuhkan waktu lebih banyak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu, karena Anda belum terbiasa. Baiklah, saya berikan bocoran. Jawabannya adalah Arfi. Sekali lagi, kebiasaan dapat membentuk mental Anda untuk berpikir lebih kritis dan akurat.

2. Berlatihlah menggunakan daya pikir Anda. Periksalah beberapa kemungkinan dari sebuah situasi. Gunakan pertanyaan, ”Apa yang terjadi bila...?” Misalnya, ”Apa yang terjadi bila saya tidak lulus Ujian Nasional?” Cobalah Anda jawab pertanyaan itu. Sebanyak mungkin. Gunakan waktu sekitar sepuluh menit, setiap hari. Hanya sepuluh menit. Kembangkan pertanyaan dan situasi yang lain. Waktunya tetap, sepuluh menit. Sekali lagi, berlatihlah selama sepuluh menit setiap hari dengan situasi yang berbeda-beda. Saya yakin, jika Anda disiplin, dalam sebulan Anda akan terkesima melihat perkembangan kemampuan otak Anda. Selamat mencoba!

3. Biasakan berolahraga. Ingat, gerakan yang dilakukan secara rutin dan teratur dapat menjadi faktor penunjang pertumbuhan yang mendorong perpanjangan dendrit Anda. Bahkan, jika bisa, biasakanlah setiap hari senam otak. Bagi yang pernah mengikuti pelatihan Learning Revolution saya, pasti sudah lincah bersenam-otak setiap hari. Jika belum, olahraga saja. Jangan paksa diri Anda belajar dengan duduk berdiam diri selama berjam-jam. Berdirilah. Bergerak. Kalau perlu, belajar di luar kamar. Di teras, di halaman, atau di taman. Tapi, jangan di mal. Nanti malah mejeng dan ngerumpi.

4. Konsumsi makanan yang dapat menunjang kinerja otak
. Makanlah multivitamin. Penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang cukup adalah cara paling jitu memelihara otak. Tidak hanya itu, multivitamin juga dapat menunjang pertumbuhan kecerdasan emosional di semua tingkatan usia. Satu lagi, vitamin B sangat penting untuk merawat otak yang menua, mencegah demensia dan depresi pada usia tua. Jadi, segera konsumsi vitamin dan mineral secukupnya. Utamakan dari buah yang segar. Utamakan makanan yang mengandung vitamin B, C, dan E dalam jumlah yang cukup. Apalagi jika mengandung zat yang sangat dibutuhkan otak, seperti asam alfa lipoik dan koenzim Q10. Umumnya buah-buahan dan sayuran, yang mengandung antioksidan, dapat meremajakan otak. Jika cemilan Anda adalah anggur, apel, prem, dan kismis ─bukan keripik kentang─, Anda dapat meningkatkan kemampuan intelektual dan kecerdasan emosional Anda.

5. Ganti kopi dengan teh. Sekali lagi, minum teh. Bukan kopi. John Weisburger, peneliti di American Health Foundation, menegaskan bahwa minum teh adalah cara termudah dan tercepat untuk memasukkan antioksidan ke dalam tubuh dan otak. Simpanlah sekantung teh dalam secangkir air mendidih. Biarkan teh itu dicerap air panas sekitar lima menit. Lalu, minumlah. Dalam waktu singkat, Anda sudah memasukkan 1.200 ORAC antioksidan, seperempat dari jumlah yang disarankan untuk kebutuhan harian Anda. Es teh juga bisa. Tapi, jangan teh botol, karena menurut analisis Tufts, kandungan antioksidan dalam teh botol dan teh tepung sudah berkurang. Jadi, jika Anda sayang otak Anda, ganti kopi dengan teh. Sekarang juga.

DEMIKIAN. Saya yakin, artikel ini bermanfaat bagi Anda. Namun, tidak ada artinya, jika Anda semata membacanya, tetapi tidak bertindak apa-apa. Jadi, do it now!

KHRISNA PABICHARA
Penulis adalah trainer dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku, juga sering mengisi training Learning Revolution, Spiritual Power, dan Communixation Skills. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Silsilah Berahi, sedang dalam proses terbit.

E-mail : khrisnapabichara@ymail.com
Hp : 0858-8859-6468

Jumat, 26 Juni 2009

ESAI "Ladang, Asketisme Orang Kalah"

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 21 Juni 2009



LADANG, ASKETISME ORANG KALAH
Oleh Khrisna Pabichara


SEBERAPA tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan? Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.

Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.

Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.

Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.

Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari:

ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis
di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain
sesuatu yang asing

(Putus:71)



Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian:

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi
(Garis Ladang:50)



Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan:

lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung
menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali

(Kuala Lengang:53)



Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian:

bukan meminangmu kungerikan
tapi sepulau cinta yang bakal karam
sebab jalan hilang pijakan

(Pinangan:59)



Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.

Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu.

Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar
saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia
kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah
tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba?

(Penari Piring:88)



Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.

Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?

***

Khrisna Pabichara, penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 21 Juni 2009

Senin, 15 Juni 2009

ESAI "Bernaung di Rumah Hujan"

Tulisan ini dimuat di Jurnal Bogor (Minggu, 14/06/2009)



BERNAUNG DI RUMAH HUJAN
Oleh KHRISNA PABICHARA


NARPATI memasuki Rumah Hujan pertama kali saat usianya lima tahun. Saat itu hari kelima musim kemarau. Ibunya membangunkannya tepat di kokok pertama ayam jago. Ia tak mandi saat itu. Udara kering masih terlalu dingin. Ibunya hanya membilas wajahnya dengan air di bak yang tinggal setengah. Ayahnya pasti lupa menimba air di sumur kemarin sore. Berbaju putih dan berkuncir dua, Nurpati keluar dari rumah dengan mata terpejam dalam gendongan ibunya. Ayahnya tak ikut. Entah kenapa.

Demikian Dewi Ria Utari, selanjutnya kita sebut Dewi, membuka cerpen yang diberinya judul Rumah Hujan. Cerpen ini berhasil menembus Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006. Alkisah, Narpati ─yang suka hujan─ menyukai rumah Budenya karena melihat seolah rumah itu diselimuti selubung air. Dan, dari teritisan atap, air tercurah terus menerus. Sebelum Ayahnya pergi, Narpati punya banyak mainan yang sengaja dibuatkan oleh Ayahnya. Bahkan, kadang Narpati bisa bermain bersama Ayahnya. Narpati akhirnya kehilangan keindahan masa kecil, semenjak ayahnya pergi mencari kayu-kayu untuk membuat meja dan kursi pesanan. Sejak saat itu, Narpati menghabiskan banyak hari untuk mengenang Rumah Hujan. Narpati main sendiri. Ibunya tak suka bermain. Narpati merindukan kepulangan Ayahnya. Namun, setiap ia bertanya pada Ibunya, tak ada jawaban. Hingga Ibunya mengantarnya ke Rumah Hujan, lalu pergi mencari Ayahnya. Narpati tinggal di Rumah Hujan, bersama Budenya. Ibunya tak pernah kembali. Ayahnya juga.

Narpati lalu berkenalan dengan anak sebayanya. Pada mulanya, tak ada yang bisa melihat selubung hujan, seperti dirinya, hingga Budenya memintanya mengusap kepala teman-temannya. Mulai saat itu teman-temanya betah bermain sepanjang hari di Rumah Hujan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Bermula dari Wulan yang tertidur dan bermimpi aneh, hingga kemunculan sepasang sinar, teman-teman Narpati tak lagi datang ke Rumah Hujan. Narpati, tentu saja, mencari tahu musabab ketidakdatangan mereka. Dan, larangan orang tualah jawabannya. Terpaksa Narpati menyendiri lagi. Bermain air. Di Rumah Hujan.

BAYANGKAN! Apa yang akan kita lakukan seandainya anak kesayangan kita bermain di tempat yang ditengarai “sarang hantu”? Sikap apa yang akan kita pilih jika putra-putri kita keranjingan bermain di tempat yang dipenuhi “aura mistik”? Percaya atau tidak, itulah yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Ada budaya tabu-menabu.

Kekuatan Rumah Hujan tidak semata terletak pada kemampuan pencitraan suasana, melainkan juga pada daya giring imajinasi. Cekaman misteri pada beberapa kelok cerita, membuat Rumah Hujan dipenuhi ajakan untuk berimajinasi. Ketika Dewi bertutur tentang Narpati yang terlelap di ceruk pohon randu, ingatan saya tergiring pada kenang masa kanak. Lalu, berkait dengan tabu-menabu atau budaya pantang-memantang, yang jika dilanggar pastilah bakal menuai bala. Begitu pun ketika Dewi mendedahkan alasan teman-teman Narpati yang enggan bermain di halaman Rumah Hujan. Imajinasi kita langsung melayap. Menurut Rusdi, mereka dilarang orang dewasa untuk bermain di sana. Rusdi sendiri tak tahu alasannya.

Dominasi orang dewasa terhadap anak-anak telah mengkerangkeng kebebasan dan kemerdekan anak, bahkan untuk semata menentukan tempat bermain. Namun, tidak berarti sang anak akan manut begitu saja. Kerapkali mereka tunjukkan pemberontakan, bukan karena “semangat pembangkangan”, tapi tak lebih karena desakan rasa ingin tahu. Mereka nekat ingin mengenal Narpati karena sering melihat Narpati bercakap-cakap dengan pepohonan. Mereka pikir Narpati kesepian.

Dunia anak dunia bermain. Maka, kehilangan terbesar bagi seorang anak adalah kehilangan kegairahan bermain. Begitulah derita Narpati. Meski Rumah Hujan memberinya banyak fantasi. Selain itu, Dewi juga berusaha memotret sebuah peristiwa kehidupan keluarga. Seorang ayah yang meninggalkan rumahnya dengan alasan mencari nafkah, namun tidak pernah kembali. Pun seorang ibu yang berniat menyusul sang ayah, tapi tidak kunjung berkirim kabar. Sementara, sang anak dititip di rumah Budenya.

Setiap orang pasti pernah mengalami berbagai pergulatan. Mengenai keluarganya, pekerjaannya, perasaannya, dan sebagainya. Pergulatan hati seorang anak sembilan tahun yang ditinggal ayahnya, lalu ibunya, menjadi ajang perang berbagai pergulatan makna yang mendera hidupnya. Ditambah lagi: misteri yang melingkupi Budenya, ketakutan teman sepermainannya, dan kecemasan berlebihan orang tua teman-temannya. Tentu saja, Narpati merasa terasing. Hasilnya adalah keputusasaan (despair). Namun, alih-alih berusaha keluar dari keterasingan dan keputusasaannya, Narpati malah “terasing” dalam keputusasaannya.

Lewat Rumah Hujan, Dewi berusaha melawan pesan Hegel ─dengan filsafatnya berusaha menghilangkan daya sengat perasaan-perasaan eksistensial manusia, misalnya penderitaan, kemarahan, kecemasan, dan keputusasaan. Dalam hal ini, Dewi menunjukkan ketidaksepakatannya pada segala yang terjadi itu sudah seharusnya terjadi, sehingga perasaan marah karena ketidakpuasan dan perasaan cemas karena ketidakpastian, harus dimaafkan (Thomas Hidya Tjaya, 2004). Apalagi dilupakan. Setiap anak punya hak untuk hidup layak dan manusiawi. Sementara, setiap orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi hak “anak” itu. Begitu pula, setiap anak berhak tahu mengapa sesuatu tidak boleh dilakukan, sama seperti kebanyakan orang tua yang tanpa sadar mewajibkan diri untuk “mendidik” anaknya dengan pemberlakuan larangan.

ALEGORI Rumah Hujan adalah bukti kekuatan imajinasi Dewi. Dia, secara langsung, tidak merambah ranah pendidikan dan pengajaran. Namun, secara tidak langsung, Dewi berujar banyak tentang keteladanan sebagai salah satu unsur penting dalam transformasi moral. Di sini, terlihat kemampuan dan kematangan Dewi dalam berimajinasi. Meminjam istilah Damhuri Muhammad, Dewi berhasil mendedahkan gagasan besarnya tanpa kehilangan kekuatan bentuk dan isi.

Ini yang penting kita pelajari! Ya. Setiap pengarang harus mampu memanfaatkan “kekuatan imajinasi”. Untuk bercerita tentang perburuan kursi di masa Pemilu Legislatif, tidak harus digambarkan melalui tetek-bengek lelaku pungutan dan penghitungan suara, tapi bisa dialihkan ke dunia lain. Dunia berbeda. Dengan gagasan besar yang sama. Itulah alegori. Begitu pula halnya dengan Rumah Hujan. Jika yang membayang di benak kita adalah aura mistik dari cerpen ini, itu sah-sah saja. Jika yang tersimpan dalam ingatan kita adalah misteri rumah dan sosok Bude, itu pun sah-sah saja. Tapi ada kedalaman lain bernama imajinasi yang dikemas secara mumpuni lewat metafor, amsal dan tamsil. Dunia ibarat yang tidak akan kita temukan dalam sebuah berita.

Tanpa imajinasi dan kemasan yang mumpuni, cerita bisa terbaca sebagai berita.

KHRISNA PABICHARA

Penulis adalah penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.