Senin, 03 Januari 2011

[PUISI] Ziarah Sunyi

Ziarah Sunyi


Aku ingin bergelap-gelap di matamu
menanam benih-benih kehangatan
sesuatu yang dulu kamu sebut rindu

Aku ingin berlama-lama di hatimu
menanting ranting-ranting kedekatan
sesuatu yang kini kamu namai semu

Bogor, Pebruari 2009

Minggu, 02 Januari 2011

[PUISI] Hujan Pemantik Kenangan

Hujan Pemantik Kenangan

Alangkah damai menari di sela-sela sulur kenangan menyeruput hujan dan mereguknya bersama asin air mata, membayangkan sepedih ini perasaan Sawerigading ketika Tenriabeng menetakkan luka di tiang layar perahunya. Baru dua minggu kamu lalai berkirim kabar, tapi rasanya sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun. Aku belum siap berpisah secepat ini, benar-benar belum siap. Dan rinai, ya, rinai mulai membuka kitab
Kenangan. Betapa menggairahkan berenang-renang di kubangan kenangan, seperti bersenang-senang di telaga lengang. Tak ingin berhenti, bahkan hingga rembulan mulai mengirimkan cahayanya yang keperakan. Aku terus berharap akan datang satu malam saja—setelah sekian lama menjauh—anganku tak perlu bersusah-payah menjangkaumu. Malam ini, kamu ketuk pintu rinduku dan hujan merampungkan ingatan. Lihat, hujan dan malam mulai berkemas menutup riwayat
Pertemuan. Ah, pertemuan.
Pondok Indah, Maret 2009

Sabtu, 01 Januari 2011

[PUISI] Ruh Cinta

Ruh Cinta


Rindu dan Benci adalah sepasang sayap yang mendekatkan ruhku pada ruhmu. Setiap melayah, ruhku hanya mengenal satu arah, menuju kamu. Tenaga semesta bersetia menemani perjalanan ruhku itu menuju kecamuk pertempuran inti cinta: Air dan Api. Aku punya keduanya: untukmu!   

Jakarta, Oktober 2010