Selasa, 05 Oktober 2010

[ESAI] Kearifan Tukang Cerita

Kearifan Tukang Cerita
Oleh Khrisna Pabichara

Cerita pendek bagi saya lebih dari makanan bergizi. Tidak sekadar mengenyangkan dan merangsang imaji, tetapi juga menggiurkan dan menyehatkan. Sejak dahulu, saya selalu kagum pada tukang cerita—di antaranya ada yang dinamai sastrawan. Betapa tidak, setiap sastrawan dalam proses penciptaan karyanya tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia baru” dengan kekuatan daya kreatifnya. Karena itu, Aristoteles memandang dunia rekaan sastrawan itu sebagai sesuatu yang tinggi dan filosofis, bahkan menempati “maqam” yang melampaui karya sejarah (Luxemburg dkk, 1992). Artinya, potensi besar yang membedakan sastrawan dengan manusia lainnya adalah kuasa imajinasinya untuk membangun “dunia beradab”.
Setelah dewasa, saya sempat berkenalan dengan banyak sastrawan. Termasuk “empat sekawan”: Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedi, Agnes A. Majestika, dan Ryana Mustamin. Empat sekawan ini bersekutu membuhul cerita demi cerita dalam sebuah buku yang dijuduli, Tukang Bunga dan Burung Gagak.
Cerita pertama yang saya baca, Tukang Bunga dan Burung Gagak. Alasannya sederhana. Oleh karena cerita ini didapuk jadi judul buku, berarti ada argumen yang melatari keterpilihan cerita ini. Seusai membaca cerita anggitan Kurniawan Junaedhie itu, hati saya tertohok. Si Tukang Bunga, tokoh soliter yang “punya banyak bunga sehingga dibagikan gratis kepada siapa saja”, memilih sahabat-sahabat yang tak seperti orang lain memilih pertemanan. Ia bersahabat dengan Si Burung Gagak (tokoh imajiner pembawa berita kematian, yang selalu dinantikan kabarnya oleh Si Tukang Bunga), Si Penyiar (yang berhenti menguarkan maklumat kematian), dan Si Istri Pejabat (yang kehadirannya bak dicantolkan begitu saja). Si Tukang Bunga memilih kaum penyendiri yang lebih suka beralienasi atau riuh dengan diri sendiri, tokoh-tokoh yang dapat kita jumpai di mana dan kapan saja dalam kehidupan menyehari. Bukan karena ingin berbagi, tapi lebih karena ingin mendengar kabar “ada lagi yang mati”, agar bunganya terbeli.
Lalu saya pindah ke cerpen Langkah, yang dikemas oleh Agnes A. Majestika dari sesuatu yang biasa menjadi lebih dari biasa, seolah mereka-ulang (reconstitutions) realitas yang menyehari di sekitarnya, dan berupaya keras menyingkap dan membentuk-ulang (re-establish) tradisi keintiman antar-masyarakat yang mulai tergerus modernitas.
Kurnia Effendi, lewat Ikebana bagi Calon Mama, memotret wajah perempuan pemilik cinta yang dikagumi banyak orang. Cerpen ini begitu menyentuh. Kejutan di awal cerita, kelok di pertengahan, dan tikungan indah di akhir cerita. Saya seolah menonton sebuah film pendek tentang seorang duda yang setia pada mendiang istrinya tapi ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya, ihwal seorang lelaki yang ikhlas mencintai dan perempuan yang berkenan mengalahkan keinginan sendiri demi kebahagiaan orang lain. Amboi, seandainya di dunia kenyataan masih ada tokoh-tokoh sebersahaja ini. Alangkah!
Hingga tiba masa saya membabar Tenriawaru. Ryana Mustamin meracik cerita ini dengan apik. Bermula dari kisah perjalanan Sekar, kemudian beralih ke penokohan Tenriawaru—perempuan dengan gaya berpikir rasional bak laki-laki, akhirnya bersedia hidup seatap dengan lelaki yang benihnya tertanam di rahimnya tanpa ikatan yang bisa memberatkan di antara mereka. Ryana menawarkan “dunia imajinatif” yang didaraskan lewat cerpen ini—dengan nuansa lokalitas yang kental—dari ketaklaziman menjadi ramuan imajiner yang menampar. Berangkat dari kegelisahan tentang kesalahpahaman dan kesalahmaknaan selaput dara, sekaligus rupa-rupa tanya perihal ketergeseran—atau malah kehilangan—nilai-nilai kearifan lokal dan moralitas dalam masyarakat modern, seperti petuah Aristoteles.
Begitulah. Empat pengarang itu bertutur dengan langgam penceritaan yang khas. Yang berbeda dengan tukang cerita lainnya. (*)

Bogor, September 2010

[TULISAN RINGAN] Kisah Rusa Berkawan Anjing

Catatan: Tulisan ini terilhami oleh tanggapan Hanna Fransisca, Sahabat saya yang memiliki senyum tertulus, terhadap tulisan ringan saya sebelumnya, Elang Berperilaku Ayam. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat bagi kita semua, teruta bagi diri saya sendiri. Salam takzim.


KISAH RUSA BERKAWAN ANJING
Oleh Khrisna Pabichara


“Tidak ada orang yang begitu baik sampai-sampai tidak memiliki kekurangan, dan tidak ada orang yang begitu jahat sampai-sampai tidak memiliki kebaikan.”
—Napoleon Hill


TERSEBUTLAH dalam riwayat, seperti dulu dituturkan oleh Liu Zongyuan, ada seorang warga Lingjiang pergi berburu dan mendapat seekor anak rusa. Hatinya girang bukan kepalang. Anak rusa itu dia bawa pulang ke rumahnya untuk dipelihara. Ketika dia melangkah masuk ke rumah, anjing peliharaannya menyongsong kedatangannya dengan mulut meneteskan air liur dan ekor bergoyang-goyang. Orang ini sangat marah, dengan suara keras dia menghalau anjing-anjingnya.

Sejak itu dia selalu membawa anak rusa mendekati anjingnya, agar mereka terbiasa melihat anak rusa. Pelan-pelan anak rusa dan anjing menjadi akrab dan mau main bersama. Tidak perlu waktu yang lama, seperti lazimnya anjing lain yang selalu bisa patuh dan taat kepada tuannya, ternyata anjing itu juga dapat mengikuti keinginan tuannya.

Setelah agak besar, anak rusa jadi lupa bahwa dirinya adalah rusa, bukan anjing. Sang Rusa pun tumbuh seperti anjing. Dia menganggap anjing ialah dirinya atau, setidaknya, teman terbaiknya. Saling menjilat, saling mengejar, dan tidur bersama. Sebenarnya, Sang Anjing sangat takut pada tuannya, itulah mengapa sebhingga ia sangat ramah terhadap rusa. Meskipun, kadang-kadang, setiap melihat tubuh rusa yang gemuk, anjing itu masih juga melelehkan air liur.

Tiga tahun kemudian, rusa keluar rumah, dan dia melihat ada segerombolan anjing di sisi jalan. Dia pun berjalan mendekati gerombolan anjing itu karena hasrat ingin bermain bersama mereka. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gerombolan anjing itu sangat gembira dan menyeringai, ramai-ramai menyerang dan membunuh Sang Rusa. Daging rusa mereka makan bersama, tulang-belulangnya mereka tinggalkan di jalan.

Akhir kisah, Sang Rusa hingga mati juga tidak dapat mengerti dirinya.

***


KEHIDUPAN berlalu begitu cepat. Saking cepatnya, kita lebih sering tidak menyadarinya. Meskipun ada sebagian di antara kita memiliki kegemaran “berbincang dengan hatinya”, tapi masih ada juga yang kerap mengabaikan suara hatinya. Beberapa hari yang lalu seorang perempuan renta bernama Mak Enah bercerita kepada saya bahwa dia adalah perempuan yang sangat menikmati hidupnya. Dia memaknai kepahitan hidup bukan sebagai penderitaan—apalagi malapetaka—melainkan sebentuk ujian yang semakin mengayakan dan mencerahkan hidupnya. Dia disiplin mendengarkan kata hatinya dan berani mengikutinya. Secara harta, dia bukan siapa-siapa. Akan tetapi, matanya memancarkan kekayaan hati yang seolah tak pernah berhenti bercahaya. Sungguh menarik!

Lalu, saya pun mulai menyambangi hati. Apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup ini? Apa saja yang bisa membuat hidup saya lebih kaya dan lebih bahagia? Kelak, jika usia saya semakin uzur, apakah saya bisa menikmati kebahagian layaknya cahaya yang memancar dari mata Mak Enah? Setiap demi setiap pertanyaan seolah kunci pembuka gerbang utama “pencerahan”. Ternyata banyak hal yang belum saya pahami karena indra saya tersungkupi tabir kebiasaan-kebiasaan. Saya terperangkap dalam rutinitas dan penggambaran terhadap makna hidup yang keliru—seperti rusa dalam cerita di atas yang mengira dirinya bisa leluasa bermain dengan anjing mana saja.

Ketika saya berada di tengah situasi yang serba melilit, saya lebih nyaman mengambil langkah aman yang biasa saya lakukan. Saya tidak memiliki keberanian untuk berlama-lama, bahkan sekadar berpikir untuk mencoba solusi atau alternatif baru. Saya cederung lebih fokus pada masalah dan mengabaikan solusi. Padahal, saya tahu, W. Clement Stone pernah berpesan, “Emosi-emosi tidak selalu bergantung pada alas an, mereka selalu bergantung pada tindakan.” Dan tindakan yang saya pilih lebih condong pada “jalur kebiasaan”, jarang sekali mencoba menempuh “jalur yang tak lazim”. Saya sangat takut menjadi Sang Rusa yang terperangkap mengira dirinya adalah “anjing”, sehingga ketika memutuskan untuk bergaul dengan sesama “anjing”, kematian malah menjemputnya.

Di tempat bekerja pun kerap seperti itu. Saya memilih menjadi “anjing yang manis”. Yang serba patuh dan selalu taat. Anjing yang diam-diam memendam hasrat, harapan, keinginan gila, atau pembangkangan terpendam. Pendek kata, saya lebih suka memilih menjadi “anjing” yang melelehkan air liur secara diam-diam, ketimbang berterus terang kepada Sang Tuan bahwa kehadiran Sang Rusa sungguh-sungguh bisa membuat saya lupa diri. Alhasil, saya pun tidak berbuat apa-apa—termasuk menjelaskan kepada Sang Rusa siapa dirinya yang sebenarnya, agar ketika dia bertemu dengan anjing selain dirinya akan tetap selamat—dan membiarkan kesalahan, penyelewengan, atau penyalahgunaan jabatan berlangsung gemilang di depan mata.

Tapi, jangan kuatir, itu terjadi pada diri saya. Bukan Anda!

***


KEHIDUPAN selalu berlalu begitu cepat. Sebutlah, hanya tiga tahun setelah bertumbuh bersama Sang Anjing, Sang Rusa akhirnya mati mengenaskan. Begitulah pula kehidupan memperlakukan kita—saya dan Anda. Pada suatu ketika, kita lebih memilih dikendalikan oleh segala yang dari luar diri kita, seperti Sang Anjing yang dikendalikan Tuannya dan Sang Rusa yang berperilaku layaknya Sang Anjing. Kita gagal menafsirkan apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang sejatinya kita kehendaki, dan apa yang semestinya kita lakukan. Kita lebih banyak membiarkan diri kita diatur oleh keadaan.

Padahal, kitalah yang semestinya menunggangi hidup kita, bukan sebaliknya. Di sinilah letak pentingnya sikap dan pikiran positif. Ya, betapapun, pikiran dan tindakan kitalah yang menentukan apakah kita ini seorang penunggang atau seekor kuda. Mak Enah, misalnya, adalah contoh hidup yang layak menjadi cermin bagi kita bagaimana semestinya berpikir dan bertindak. Dia memilih apa pun yang diinginkannya, mengetahui risiko atas semua pilihannya, dan siap bertanggung jawab atas hidup yang dilakoninya. Ya, bagaimanapun, tentulah kita tak menghendaki sepanjang hidup kita hiasa dengan pelbagai penyesalan.

Memang, untuk menjalani hidup seperti Mak Enah tidaklah mudah. Coba kita renungkan. Bukan perkara mudah mendisiplinkan diri untuk mendengarkan suara hati. Yang lebih tidak gampang lagi adalah memberanikan diri untuk mengikuti bisikan hati kita. Lalu, cobalah sebelum menengok orang lain di sekitar kita lebih dahulu kita melongok ke dalam bilik hati sendiri. Bagaimana perilaku kita sehari-hari? Apakah sudah mencerminkan bisikan hati? Jika “ya”, bersyukurlah, itu langkah cemerlang yang layak kita rayakan. Akan tetapi, jika jawabannya “belum”, kita tak perlu berkecil hati, masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Yang utama adalah keinginan kita untuk menuju ke yang lebih baik. Dan, kesadaran hakiki bahwa kemauan saja belumlah cukup. Kita—Anda dan saya—butuh tindakan nyata.



***

KEHIDUPAN pasti selalu berlalu begitu cepat. Dan, yang bijak bagi kita adalah tidak menjadi Sang Rusa yang salah langkah atau Sang Anjing yang tak memahami hakikat kepatuhan dan ketaatannya. Memang, kesalahan menentukan pilihan adalah hal yang manusiawi. Namun, yang terbaik bagi kita adalah kemampuan memilih secara tepat. Seperti memilih patuh atau taat setelah memahami untuk apa dan mengapa kita harus melakukan kedua hal itu: kepatuhan dan ketaatan.

Maka, berpikir dan bertindak adalah hal niscaya bagi kita. []


Bogor, Oktober 2010

Selasa, 28 September 2010

[TULISAN RINGAN] Elang Berperilaku Ayam

Catatan: Tulisan ini semata untuk bahan perenungan saja. Tidak ada niat untuk menghujat atau mengugat, apalagi menghakimi seseorang. Terima kasih atas perkenan Anda membaca tulisan ini. Semoga berfaedah adanya.

Elang Berperilaku Ayam
Oleh Khrisna Pabichara 

”Kecantikan abadi bukan terletak pada wajah rupawan atau pakaian menawan, melainkan pada keelokan budi dan ketinggian ilmu.”
—Buya Hamka.


TERSEBUTLAH kisah, seperti pernah dituturkan Anthony de Mello, seorang petani menemukan telur burung elang di ladangnya. Karena rasa kasih yang dimilikinya, petani membawa telur itu pulang ke rumahnya, lalu meletakkan telur elang itu diantara tumpukan telur ayam yang sedang dierami oleh induknya. Tak lama berselang, telur itu menetas bersama telur-telur ayam lainnya. Sejak itu, elang kecil hidup tumbuh dan hidup laksana ayam, berjalan meniru induknya, mematuk-matuk makanan seperti saudaranya—anak-anak ayam—dan berperilaku sama seperti ayam-ayam yang lainnya. Hanya saja, ia terlihat lebih elegan dari ayam lainnya.

Ia terus bertumbuh hingga usianya mulai tua. “Ayam” itu tak pernah mencoba terbang apalagi meliuk di udara, ia hanya bisa berjalan seperti yang dipelajarinya sejak kecil. Meskipun ia tak bisa bertelur layaknya ayam betina atau birahi seperti ayam jantan. Hingga suatu ketika, “ayam” yang mulai tua itu bermain di ladang bersama ayam-ayam lainnya. Ketika melongok ke udara, ia melihat seekor burung melayang-layang dengan gagah mengintai mangsa. Ayam-ayam lain mengajak “ayam” itu segera mencari tempat yang aman untuk berlindung.

“Kenapa kita harus lari bersembunyi?” tanya “ayam”.

 “Kalau tidak, kita akan dimangsa burung perkasa itu,” jawab ayam lainnya.

“Makhluk apa itu?” cecar “ayam”.

Ayam lainnya menjawab, “O, itu burung paling perkasa. Namanya burung elang. Selain jago terbang, ia juga suka menunggu kita lengah agar bisa memangsa kita.”

“Kita juga punya sayap, kenapa tidak terbang saja?” sergah “ayam” itu.

“Kamu ada-ada saja,” jawab ayam yang lain, “kita ini hanya seekor ayam, tidak mungkin bisa terbang seperti itu.”

Karena penasaran, “ayam” itu keluar dari persembunyiannya. Ia abaikan peringatan saudara-saudaranya. Akibatnya, ia mati diterkam burung elang. Akhir kisah, “ayam” itu benar-benar mati sebagai ayam.

***

KELEMAHAN terbesar kita sebagai manusia adalah pikiran kita. Banyak orang cenderung menganggap dirinya lemah, bersikap apatis, dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang “kenyamanan” seperti yang lazim ia lakukan. Alhasil, orang-orang seperti itu menjadi “ayam” yang tak bisa terbang menari dengan gagah di angkasa, padahal ia memiliki kapasitas itu sejak ia dilahirkan. Hebatnya, banyak di antara kita yang betah berlama-lama memelihara paradigma yang salah itu, tak ubahnya “sang ayam” yang akhirnya mati sebagai ayam, bukan sebagai elang yang perkasa.

Jadi, tepatlah petuah Buya Hamka, seperti tertera di awal tulisan ini,”Kecantikan abadi bukan terletak pada wajah rupawan atau pakaian menawan, melainkan pada keelokan budi dan ketinggian ilmu.” Dengan berbekal ketinggian ilmu, kita akan lebih mudah meninggalkan paradigma salah, dan memilih pikiran yang lebih sehat memasuki benak kita secara lebih leluasa. Setiap mendapat kesulitan, kita akan menyaring pikiran, memilih pikiran-pikiran positif dan mengabaikan—bahkan menolak dan membuang jauh-jauh—pikiran-pikiran negatif. Dengan berbekal keelokan budi, kita akan memahami apa yang seharusnya kita lakukan, termasuk kapan dan bagaimana melakukannya.

Hanya saja, ketinggian ilmu dan keelokan budi itu tidak serta-merta terbawa bersama kelahiran kita, melainkan harus diusahakan, dilatih, dan dibiasakan.

Begitulah aturan hidup yang mesti kita jalani.

***

KEKUATAN terbesar kita sebagai manusia adalah pikiran kita. Orang-orang yang berhasil mengubah dunia adalah orang-orang yang berhasil keluar dari penjara mentalnya, yang sukses menyaring pikirannya—dengan memilih hanya yang positif—dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Sekadar menyebut nama, Thomas Alva Edison, Wright bersaudara, Soichori Honda, Bill Gates, atau yang lainnya adalah orang-orang yang memilih jadi ”elang” seutuhnya walaupun mereka hidup di lingkungan ”ayam”. Mereka berusaha optimal untuk keluar dari zona nyaman atau wilayah aman yang biasa mereka jalani. Bahkan mereka ikhlas dituding ”gila”. Hasilnya, mereka berhasil mewujudkan apa yang mereka impikan dan memberi faedah sebesar-besarnya bagi sesama manusia.

Maka, sebaiknya kita camkan nasihat Stephen R. Covey, “Kalau Anda menginginkan perubahan kecil, garaplah perilaku Anda. Jika menginginkan perubahan besar, garaplah paradigma Anda.” Sejatinya, ”ayam” sudah mencoba melakukan perubahan kecil dalam hidupnya, yakni memilih keluar dari persembunyiannya. Tapi ia belum sukses melakukan perubahan besar, mencoba terbang seperti layaknya elang yang lain. Dalam hidup ini, perubahan kecil saja belumlah cukup. Kita harus berani melakukan perubahan besar, dan prasyarat utamanya adalah mengubah paradigma.

Banyak di antara kita memiliki gagasan hebat, ide cemerlang, atau mimpi brilian, tetapi tidak membawanya ke tataran nyata. Itulah mengapa kita butuh mengubah perilaku. Mimpi saja belum cukup, kita butuh upaya keras dan usaha cerdas yang lebih nyata. Ketika gagasan-ide-mimpi itu tidak kita rancang lebih optimal, berarti kita telah melakukan kesalahan mendasar dalam hidup ini, yakni mengabaikan aset besar yang kita miliki. Sungguh, Mahatma Gandhi sudah pernah mengingatkan kita, ”Seseorang tidak dapat melakukan hal yang besar di satu sisi kehidupan, sementara ia sibuk melakukan kesalahan di sisi lain.” Jadi, tunggu apa lagi?

Sebenarnya, setiap hari, kita disuguhi banyak pelajaran berharga. Sayangnya, tidak banyak yang bisa kita serap. Setiap hari kita mendapatkan inspirasi, entah dari mana saja asalnya. Sayangnya, kita tidak melakukan apa-apa. Inilah paradigma, inilah perilaku. Tak ada bedanya dengan ”sang ayam” yang punya harapan berbuat lebih dari sesama ayam, tetapi ia tidak melakukan apa-apa kecuali keluar dari sarangnya.  Alhasil, pelajaran dan inspirasi berharga itu berlalu begitu saja, seperti mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang hanya terus mengendap dalam pikiran.

Anehnya, kita kerap mengeluhkan kebiasaan buruk dan menyesali diri manakala satu peluang telah kita biarkan lewat begitu saja, tanpa mengubah perilaku dan paradigma. Sungguh, malang nian nasib kita bila lebih memilih berkubang di zona nyaman dan tak kunjung meng-instal nyali agar bisa keluar dari penjara mental.

***

BETAPAPUN, kekuatan dan kelemahan kita, sejatinya, terletak di pikiran kita. Karena itu, hal mendasar yang seyogianya kita lakukan bila menginginkan perubahan adalah dengan menata, mengelola, dan mengatur pikiran itu. Apa pun yang terjadi, tak layak pikiran yang negatif berkuasa atau menguasai benak kita. Pilihan terbaik bagi kita adalah memutar pikiran positif berulang-ulang sampai terekam dengan baik dalam pikiran alam bawah sadar kita. Tak layak pula bagi kita untuk ”mati” terlebih dahulu baru menyadari betapa kita telah melakukan kesalahan besar sepanjang hidup, seperti yang dialami ”sang ayam” dalam petikan kisah di atas.

Pilihan terbaik bagi kita adalah memilih menjadi “elang sejati” daripada hidup sepanjang hayat sebagai “ayam”. Karena itu, mari kita mulai dengan menggarap perilaku dan paradigma. []

Bogor, September 2010