Selasa, 29 September 2009

ARTIKEL BAHASA "Ibadat atau Ibadah?"

CATATAN: Tulisan ini karya seorang munsyi, Jos Daniel Parera, disebarluaskan pertama kalo oleh Kompas (Jumat, 23/11/2007) di Rubrik Bahasa Halaman 15. Saya sebar luaskan kembali dalam rangka Bulan Bahasa, Oktober 2009.


IBADAT ATAU IBADAH?

ADA apalagi dengan judul ini? Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kata bahasa Arab. Salah satu masalah dalam penyerapan kata-kata Arab ke dalam bahasa Indonesia ialah pengalihan aksara Arab ke dalam aksara Latin, karena ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin. Nah, muncul pengalihaksaraan huruf ta aksara Arab ke dalam aksara Latin. Huruf ta yang disebut ta marbutah itu pada akhir kata dialihaksarakan ke huruf latin dengan huruf h dan dengan huruf t. Bagaimana kisah dan sejarahnya kita serahkan kepada para pakar linguistik Arab dan Indonesia.

Yang menjadi masalah bagi pemakai bahasa Indonesia ialah terjadi penggunaan huruf h dan t pada akhir kata serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif. Mari kita perhatikan contoh-contoh berikut ini.

Kita temukan ungkapan jemaah haji dan jemaat Kristen, rumah ibadah dan rumah ibadat, ibadah umroh dan ibadat sabda. Ketika Amien Rais membentuk PAN, saya kira muncul pilihan. Apakah kepada partai itu akan diberi nama Partai Amanah Nasional atau Partai Amanat Nasional? Jika kepada partai itu diberi nama Partai Amanah Nasional, maka partai itu diterima sebagai partai yang eksklusif. Ternyata para pendiri PAN memilih amanat, lalu jadilah Partai Amanat Nasional yang bersifat inklusif. Ternyata, Harian Kompas pun mempunyai judul bawahan Amanat Hati Nurani Rakyat.

Dalam dunia perguruan tinggi yang bersifat badan hukum terdapat sebuah lembaga bernama Majelis Wali Amanah atau Majelis Wali Amanat (WMA). Untuk rasa aman, mungkin redaktur surat kabar lebih sering menuliskan singkatan WMA karena ragu-ragu menuliskan amanah atau amanat. Penulisan ejaan yang bersifat kembar ini tentu membawa berkah atau berkat. Masalahnya adalah soal pilihan yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif.

Penggunaan bahasa Indonesia yang bersifat eksklusif dan inklusif ini juga terjadi pada ucapan salam pembuka dalam seminar dan pertemuan, dan lebih-lebih lagi dalam sambutan-sambutan resmi pemerintah dengan ungkapan “Assalamu’alaikum dan salam sejahtera [dulu lain] bagi kita semua.” Dua ungkapan ini bersifat eksklusif, sepertinya sudah dibakukan dan berterima begitu saja.

Ada sinetron berjudul “Hidayah”. Kata hidayah tak dijumpai di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam edisi kedua KBBI, bentuk hidayah dirujuk kepada hidayat. Ada orang yang bernama Hidayat (laki-laki), tetapi tidak terdapat nama dalam bentuk Hidayah, melainkan dalam bentuk Hidayati.

Ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf h tanpa kembaran dengan t, misalnya mukadimah, musyawarah, majalah, masalah, nafkah, khazanah, dan ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf t, seperti umat, rakyat, istirahat, hakikat, dan beberapa yang lain (baca dan periksa kamus). Akan tetapi terdapat Majelis Permusyawaratan Rakyat dan bukan Majelis Permusyawarahan Rakyat.

Semoga penulisan ta marbutah dengan h dan t tidak mengarah kepada penggunaan yang bersuasana eksklusif dan inklusif. Mari kita musyawarahkan dan bukan musyawaratkan.

JOS DANIEL PARERA, Munsyi

Minggu, 27 September 2009

ARTIKEL "Mengemas Tujuan Belajar"

Catatan: Tulisan ini dimuat di Jurnal Bogor (Jumat, 18/09/2009)



Mengemas Tujuan Belajar
Oleh Khrisna Pabichara


TAHUKAH ANDA apa tujuan Anda belajar selama ini? Kadang-kadang, tujuan belajar kita tampak jelas, seperti “ingin menambah wawasan”, “memperluas cakrawala pengetahuan”, atau “menjadi lebih cerdas”. Namun, kerap pula, tujuan belajar kita tampak samar-samar dan membingungkan. Kita belajar tanpa tujuan dan arah yang jelas. Kita selalu membela diri dengan kalimat, “Biarlah mengalir seperti air.”

Jika kita menginginkan hasil terbaik, kita harus mengemas tujuan belajar. Secara bahasa, kata “kemas” berarti (1) teratur rapi, dan (2) rapi; beres; bersih. Maka, “mengemas” dapat diartikan sebagai (1) mengatur rapi, (2) menata agar beres dan bersih. Sedangkan kata “tujuan” bermakna (1) arah (yang hendak dicapai atau ditempuh), dan (2) maksud (mengapa melakukan sesuatu). Merujuk dari makna kata tersebut, mengemas tujuan belajar bisa kita maknai sebagai “tindakan sadar untuk menata arah yang hendak dicapai dan bagaimana mencapainya”. 


Ya, tujuan belajar memang harus dikemas. Benar, dengan kemasan yang rapi dan menarik, tujuan bisa merangsang kesungguhan. Sebab, tujuan belajar yang jelas dan spesifik bukan hanya dapat mengarahkan seseorang ke jalan yang mudah ditempuh, melainkan juga dapat merangsang tumbuhnya motivasi untuk habis-habisan dan sungguh-sungguh dalam belajar.


   Coba simak secara saksama kata habis-habisan dan sungguh-sungguh di atas. Kata-kata inilah yang kita butuhkan. Kata-kata ini memiliki makna penting dan strategis bagi kita dalam usaha menjadikan proses belajar sebagai upaya untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik. 


Tujuan yang jelas akan merangsang motivasi kita untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu. Apabila tidak, tentu saja, kita tidak akan mendapatkan proses belajar yang efektif dan berkualitas. 



Tujuan yang spesifik akan menuntun kita, secara otomatis, untuk lebih memacu diri dengan menjalani proses belajar benar-benar dalam keadaan bersungguh-sungguh. Dan, pada gilirannya, kesungguhan dalam belajar akan menuntun kita untuk mementingkan proses, bukan hasil akhir.



Sebelum kita memasuki bagaimana mengemas tujuan belajar dengan baik, marilah kita memastikan apa yang sudah kita peroleh dari prolog tulisan ini. Pertama, kita telah berhasil menafsirkan dan memahami makna kata “mengemas tujuan belajar”. Kedua, kita juga sudah mengetahui pelbagai manfaat mengemas tujuan belajar. Dan, ketiga, kita telah berhasil menggugah diri untuk segera mengemas tujuan belajar kita.


Apabila ketiga tahap tersebut sudah kita lalui, tentulah kita ingin menjadikan diri kita sebagai sosok yang lebih baik, yang lebih berdaya. Caranya? Ya, segera merancang dan mengemas tujuan belajar itu. 


Mari kita mulai dengan mulai menggali diri kita, terutama soal (1) arah yang hendak dituju, (2) maksud yang hendak dicapai, (3) potensi apa saja yang kita miliki, dan (4) apa saja yang bisa menjadi aral perintang.


Sebagai kita menjadi manusia pembelajar yang memiliki tujuan yang jel;as dan spesifik dalam belajar.

☼☼☼

KHRISNA PABICHARA, motivator pembelajaran dan penyuka sastra, tinggal di pinggiran Jakarta.

Khrisna Pabichara di Harian Global Medan

Catatan: Sajak-sajak ini dimuat di Harian Global Medan (Sabtu, 06/09/2009)


Berkubang di Genang Kenang


Aku tidak bisa begitu saja berhenti memeram segala jenis kenangan dalam rabun ingatan. Pada ilalang kering tempat duka berbaring, di setiap gerimis, kita racik geletar hati yang selalu ngilu. Hawa dingin dengan sempurna merekam jejak tempias hujan pagi, kelindan rindu yang mengendap dalam bulir harapan. Rasanya, tak mudah melangkah pergi, meninggalkan tumpak-tumpak sejarah.

Aku lebih suka sendiri di lubuk sepi, seperti saat pertama kali dilahirkan dan merapal isak-tangis: sesak perkabungan. Ada beruk mabuk berayun-ayun, memanjat pohon-pohon purba. Ada hikayat seludang menolak mayang. Ada sendu sirih meminang perih. Ada desir doa parau kemarau. Ada mantra jerih batang ilalang. Ada selasar sunyi daun cemara. Ada gurinda luka daun kelapa. Dan, ah, aku seorang lajang yang belum siap mengecap pedas lada.

Aku ingin, sejenak saja, menurunkan gerimis: membangun jembatan lengang ke masa lalu, menjemputmu yang tenang berdiang dalam lipatan kenang. Tapi, aku seperti ikan yang asing di lubuk, atau belalang yang berang di padang.

Aku cuma sanggup mengenang hujan, terus menyisir landai sungai: berkubang di genang kenang.

Bogor, Desember 2008


Perjalanan Rindu


Rindu berdiri di halaman hari. Matahari masih mengepul di mata sepinya. Mata pengap: menjerang air mata dan senyap. Kupu dan serangga berloncatan: melenting, menggelinding. Dukanya tanak, mengepul di cangkir kopi: menguapi cinta yang sederhana.

Rindu sekarang berjalan di beranda senja. Langkahnya ringan menapak pucuk rumputan sunyi. Wajahnya masih sama: tenang-terang, hening-bening. Detik dan menit berlomba-melaju: melompat, menjingkat. Rindu yang sepi menimang-nimang kenangan: menjaga cinta yang sederhana.

Rindu pulang ke pangku malam. Matahari sampirkan letih di kening bulan. Rindu gemeretak menahan gigil, berderit di telikung pilu. Malam ini ingin sekali dia menangis. Sudah lama dia tidak menangis: terakhir dia menangis ketika pacarnya pergi selepas merampok selembar selaput dara. Dan dia tercatat sebagai bekas perawan: meratapi cinta yang tidak sederhana.

Bogor, November 2008


Lelaki Paling Puisi


Aku, lelaki paling sepi, menyelam ke perut laut. Memetik ingatan mencari kenang yang dulu karam di cangkang karang. Mengeruk arus. Menandai wajah ibu: ada rindu terdampar di pantai. Berkali-kali.

Hari ini, kubangun rumah pasir. Membayangkan ibu duduk tenang di salah satu lengang ruang, menyulam rabuk perahu yang lapuk ditulah usia. Tapi gelombang selalu menyapu rumah itu, bahkan sebelum aku usai memasang atapnya.

Aku, lelaki paling puisi, melepas matahari ke rahim laut. Agar tak ada lagi senja atau camar yang riang mengajak pulang. Sepanjang siang aku menjala kenangan: ibu, dulu dirimbun bakau, aku selalu membuang risau. Sekarang, sunyi:

Menghitung sesak.

Depok, Pebruari 2009


Dan Pias Menahan Laju Kenangan
—Untuk Atisatya Arifin


Lagi-lagi aku terseok sepanjang gigil ingatan. Jalan setapak di sebelah rumahmu, lagu-lagu yang selalu menumbuhkan rindu, kelecer yang bergerak searah gelinjang daun ketapang, ayah-bundamu yang selalu datang memecah angan dengan tutur-sapa yang selalu bisa menyalakan senyuman. Dan, ah, jantungmu berdetak terburu-buru. Tanpa rima, tanpa irama.

Masih pagi waktu kuseruput wajahmu lewat secangkir teh hangat, mengundang kenangan melindap di jantung pagi. Seperti adam yang tak henti menyasar bumi hingga arafah mempertemukannya dengan hawa.

Langit keburu pecah pagi ini, memuntahkan rupa-rupa sungkawa purba. Apalagi yang melambai dari arah barat laut, jika bukan tembangmu dengan pelan menidurkan ombak. Tanpa riak, tanpa sesak.

Beranjak siang aku masih di beranda, ongkang-ongkang kaki mengaji rindu. Bunga ketapang, kembang bulan, dan sepi rumput teki: semua bersepakat menyeret-nyeret ingatan. Mengapa aku tak pernah bisa menggulung ingatan? Ya, rasanya aku tak bisa beranjak pergi, selangkah saja, melarung luka dari celah-celah jiwa ketika senja mulai hamil tua. Sepanjang pandang, bayangmu merupa lukisan. Tanpa senyuman, tanpa harapan.

Parung, November 2008