Kamis, 27 Januari 2011

[ESAI RINGAN] Nurdin Halid dan Budaya Malu

Nurdin Halid dan Budaya Malu
Oleh Khrisna Pabichara

Tutuki rikana-kana, inga’ ki ripanggaukang
Jai tau panra’, battu ri kana gau'na
(Hati-hati saat bicara, waspada saat bertindak
Banyak orang merugi, karena kata dan tindakannya)
Pepatah Makassar


Tahukah Anda kenapa Timnas Indonesia bisa kalah agregat melawan Timnas Malaysia beberapa hari yang silam? Jawabannya sederhana: Karena Alfred Riedl terlalu egois dan tak mendengarkan harapan penonton yang bergema sepanjangleg kedua di Senayan. Ya, waktu itu penonton meminta agar Riedl “menurunkan” Nurdin Halid. Alih-alih mengiya, Riedl malah “menurunkan” Arif Suyono.

Seloroh di atas saya cantumkan di status Facebook saya pada Jumat, 21 Januari 2011, pukul 18.51. Sebut saja itu semata gurauan, bukan sesuatu yang pantas dibaca sambil mengerutkan kening. Seloroh itu hanya racauan kegalauan saya terhadap Nurdin Halid—sosok yang nyaris tak tergantikan di Istana PSSI—dan makmun-makmun yang setia mengamini segala tindak-tanduknya. Seloroh itu cuma sebentuk kekecewaan dari seseorang yang selalu rindu Timnas Indonesia masuk ke jajaran persepakbolaan dunia.

Akan tetapi, seandainya saya yang jadi objek teriakan penonton sepanjang laga, langkah pertama yang akan saya lakukan adalah introspeksi diri. Saya akan memilih tempat paling sepi—yakni hati—untuk merenungkan apa gerangan, kenapa bisa, dan untuk apa penonton serempak menyanyikan koor “Nurdin Turun” sepanjang pertandingan. Langkah kedua, saya akan menilik untung-rugi jika saya tetap bertahan sebagai Ketua Umum PSSI, dan apabila “turun takhta” adalah langkah terbaik, saya akan melakukannya dengan legowo. Demi Garuda, demi Indonesia.

Sayangnya, saya bukan Nurdin. Di negeri bernama kenyataan, Nurdin dan konco-konconya menggunakan Statuta PSSI sebagai tameng yang seolah tak bisa disentuh oleh siapapun. Tiga klub yang transmigrasi ke LPI langsung dipecat—bukan semata karena tudingan berkhianat, tapi juga strategi jitu meredam lawan—dan dicabut status keanggotaannya dari PSSI. Padahal, sejatinya, keputusan pencabutan hak keanggotan hanya bisa dilakukan lewat Kongres, bukan karena “kebakaran jenggot”-nya pengurus PSSI melihat pembangkangan anggotanya.

Inilah negeri, yang seolah-olah, dalam dongeng itu.

Budaya Malu
Apakah yang akan Anda rasakan jika Anda yang diteriaki nyaris 80.000 orang? Di depan Presiden dan petinggi negara pula? Di hadapan ratusan juta pencinta Garuda—yang menonton lewat layar kaca? Saya yakin, Anda akan merasa “malu”, sama seperti yang saya rasakan. Tetapi itu tidak terjadi pada diri Nurdin Halid. Bahkan dengan bangga ia bertitah bahwa kesuksesan Timnas adalah karena jasanya dan “jaket kuning” yang dikenakannya.

Ini sungguh memalukan. Terlepas dari aksi heroik para punggawa Timnas kita,runner-up Piala AFF bukanlah prestasi baru—atau benar-benar baru—karena Timnas sudah pernah meraih prestasi itu sebelumnya. Lantas apa jasa Nurdin? Apa pula peran “jaket kuning” yang ia kenakan? Mengapa sepak bola diseret ke ranah politik? Apakah tidak cukup poster-poster memalukan dipajang di Bukit Jalil?

Amboi, ke mana “rasa malu” itu disembunyikan?

Ketika tulisan ini dirampungkan, saya terperangah melihat semakin susutnya “budaya malu” di negeri tercinta ini. Betapa tidak, koruptor melenggang gemulai di layar kaca seolah tak bersalah telah mengemplang uang rakyat; wakil rakyat yang tak betah bekerja di ruang statis sehingga ruang kerjanya harus direnovasi setiap tahun—agar bisa tidur di kamar kerja dan terhindar dari “rasa malu” karena tertangkap kamera memproduksi liur saat sidang—dengan biaya yang bisa menyekolahkan puluhan ribu anak jalanan; petinggi negara yang tak puas dengan gaji bulanannya, padahal gajinya sangat “wah” dibanding kepala rumah tangga yang sibuk cari upah harian; ada pengemplang pajak yang tiba-tiba berhasrat jadi penasihat di sebuah lembaga anti-korupsi; ada banyak lagi yang bikin mual jika semua saya ingat.

Meskipun demikian, saya masih bersyukur karena saat ini sedang digalakkan pembangunan “karakter” bangsa lewat dunia pendidikan. Dan, saya harap, Kemendiknas menyisipkan “kurikulum malu” agar bangsa ini lebih berbudaya.

Arogansi Nurdin Halid
Benarkah Nurdin Halid itu sosok tak tersentuh, sehingga upaya memaksanya turun dari takhta PSSI takkan berhasil? Tampaknya, demikianlah adanya. Coba saja Anda baca tabloid Bola edisi Kamis-Jumat, 27-28 Januari 2011. Hasil wawancara dengan Nurdin Halid dijuduli dengan puitis oleh Bola, Tak Ada yang Bisa Menyuruh Saya Berhenti. Sebutlah Ketua Umum PSM Makassar bermasalah secara pribadi dengannya, tapi taklah pantas hal seperti itu jadi konsumsi publik, seperti yang ditegaskan Nurdin Halid. Mestinya ada upaya berpikir, setidaknya mempertanyakan muasal penyebab hengkangnya PSM Makassar ke liga sebelah.

Bahkan, pandangan pribadi Nurdin Halid terhadap Arifin Panigoro—tokoh penggagas LPI—pun disampaikan di wawancara itu. Ketika ditanya apakah Nurdin Halid mengenal Arifin Panigoro, Nurdin menjawab, “Kenal dan tahu saat masih bersama-sama di DPR. Yang pasti saya dan dia pernah menjadi tersangka pada saat yang bersamaan. Tapi, mungkin dia lebih kuat dibandingkan saya. Makanya saya lanjut ke pengadilan, dia tidak.”

Saya langsung teringat pada “tembakan” Gayus ke Denny Indrayana, atau “bom” yang dikirim Dipo Alam kepada Din Syamsuddin. Andai pun benar Arifin lebih kuat, bagi saya, tak penting mengungkapkan hal seperti itu karena tidak menyentuh esensi pertanyaan, malah tak lebih dari “rasa sirik” ketika yang lain bebas dan ia terjerat. Sepertinya Nurdin harus bergaul dengan anak muda zaman sekarang, agar ia dengar istilah “sirik tanda tak mampu”.

Sementara pada hasil wawancara yang dijuduli “Mosi Tak Percaya Dihargai Rp 25 Juta”, Nurdin kembali mengejutkan saya dengan kalimat, “Ini soal sepak bola, jangan dibawa ke hal yang lain.” Sungguh, siapa sebenarnya yang memanfaatkan? Apakah sepak bola nasional yang memanfaatkan kemampuan Nurdin memimpin PSSI, ataukah PSSI dan sepak bola yang ditunggangi Nurdin untuk kepentingan politiknya?

Pulau Bintan dan Harapan Baru
Meskipun peluangnya sangat kecil, saya sangat berharap kongres PSSI di Pulau Bintan nanti akan menghasilkan perubahan, setidaknya muka-muka lama yang itu-itu juga di tubuh kepengurusan PSSI bertemu pengganti yang layak. Saya juga berharap ada tokoh bola yang bersedia mencalonkan diri menjadi pesaing Nurdin Halid, agar kongres tidak berjalan layaknya opera yang sudah diatur oleh seorang sutradara tunggal. Sebutlah pada masanya Nurdin tetap terpilih, setidaknya Nurdin akan tahu bahwa bukan hanya dia yang peduli pada sepak bola nasional.

Pada akhirnya, saya berharap Pulau Bintan akan menghasilkan “kitab baru” bagi kemajuan sepak bola kita. Meminjam istilah Ian Situmorang, “Semoga peserta kongres memilih berdasarkan ‘bisikan hati’, bukan karena ‘bisikan materi’.”

Semoga, semoga, semoga!

Ragunan, Januari 2011

Rabu, 26 Januari 2011

[ESAI RINGAN] Curhat SBY, Buku SBY

Curhat SBY, Buku SBY
Oleh Khrisna Pabichara

Sejarah yang Berulang
Ada dua hal menarik seputar Presiden SBY minggu ini. Pertama, curhat tentang gajinya yang tidak naik selama 7 tahun, meskipun dana taktisnya terus membengkak setiap tahun. Kedua, buku seri profilnya, Lebih Dekat dengan SBY,direkomendasikan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional sebagai bahan pengaya bagi siswa SMP/SMA, yang berpotensi memantik pengkultusan. Amboi!

Dari sanalah tulisan ini bermula. Tentu masih lekang dalam ingatan, terutama generasi yang lahir 1980-1990, bagaimana Soeharto menjejali siswa sekolah menengah dengan kisah kepahlawanan dan kebesarannya. Saat itu, Soeharto kerap menghiasi lembar pelajaran PSPB sebagai pahlawan pembela Pancasila, yang taklah bisa “bertahan” Pancasila sebagai spirit bangsa jika bukan Soeharto yang mempertahankannya. Dengan motif berbeda, sekarang sedang beredar di beberapa daerah, serial profil SBY yang direkomendasi tim independen atas persetujuan Kemendiknas untuk menjadi bahan baca pengaya bagi siswa sekolah menengah.

Sungguh, sesuatu yang naif jika Presiden yang masih aktif dianjurkan untuk dibaca profilnya oleh generasi kita. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi dampak perkembangan kejiwaan siswa yang mengarah pada pengkultusan individu. Uniknya, saya yakin, penulisan buku ini pastilah dirampungkan setelah mendapat “restu” Pak SBY. Hanya saja, serial berisi 10 buku ini seolah lepas dari amatan orang-orang di lingkar istana.

Curhat yang Salah Kaprah
Belum lagi polemik seputar buku itu reda, Pak SBY kembali menghadirkan lelaku tidak simpatik lewat curhat ihwal gajinya yang tidak pernah naik selama 7 tahun. Apa pun alasannya, rakyat akan membaca “kemarukan” Pak SBY sebagai upaya mencari simpati seperti yang kerap dilakukan olehnya. Sayangnya, rakyat sudah semakin cerdas. Tidak berlebihan jika kemudian banyak bermunculan protes dari masyarakat luas, terutama di dunia maya, atas “keluhan” kurangnya gaji Presiden itu. Hal ini terwujud dalam gerakan Koin untuk Presiden. Semestinya, setelah berkali-kali salah curhat, Presiden bisa bersikap lebih arif, terutama bila itu terkait dengan perasaan 220 juta rakyat yang dipimpinnya.

Bayangkan, pada saat Presiden curhat, gencar berita tentang tewasnya satu keluarga karena keracunan tiwul. Bukan “tiwul”-nya yang jadi masalah, tapi realitas pahit dari peristiwa itu. Bagaimana bisa Presiden bernyanyi tentang gajinya yang jalan di tempat, sementara rakyatnya pusing mencari warung yang bersedia meminjamkan beras barang setengah liter? Bagaimana mungkin Presiden sanggup berkoar tentang minimnya pendapatan dibanding tanggung jawab yang diembannya selaku Kepala Negara, tepat ketika banyak kepala keluarga sibuk mencari lapangan kerja atau kelimpungan ketika anaknya butuh biaya pendidikan atau biaya berobat?

Semestinya Presiden lebih peka membaca kondisi rakyat yang dipimpinnya. Jangankan meminta kenaikan gaji, mendapatkan pekerjaan layak saja susahnya minta ampun. Belum lagi bila hal ini dikaitkan dengan risiko. Pada saat berniat maju menjadi Presiden, sejatinya yang dipikirkan adalah hakikat melayani, bukanmakrifat dilayani. Sejatinya, Presiden yang baik adalah yang sibuk memperjuangkan keberlangsungan “rumah tangga rakyatnya”, bukan malah kelimpungan mengurus “kemewahan rumah tangga”-nya.

Di sinilah perlunya Presiden SBY kembali merenungi amanat yang diembannya, yakni yang melayani dan bukan yang dilayani.

Pada Akhirnya
Kembali ke ihwal buku, tim independen yang menilai layak tidaknya satu buku dijadikan bahan pengaya—mestinya—tidak hanya mempertimbangkan kelayakan materi buku tertentu, tetapi juga dampak yang bisa ditimbulkannya, sebut misalnya kemungkinan pengkultusan individu. Dan itu sangat berbahaya bagi keberlangsungan bangsa. Akan berbeda jika yang ditawarkan adalah biografi para mantan Presiden; Presiden Soekarno—dengan muatan nasionalismenya, Presiden Habibie—dengan kandungan cinta pengetahuannya, atau Presiden Gus Dur—dengan materi kemampuannya menerima seluruh lapisan masyarakat.

Sedangkan ihwal “gaji buruk” yang dikeluhkannya—meskipun Anas Urbaningrum membantah bahwa itu bukan keluhan—Presiden bisa bersikap lebih legowo.Cukuplah dana taktis Rp 2 miliar untuk menjaga “asap dapurnya”, dan tidak memantik kecemburuan rakyat dengan hasratnya yang berlebihan. Bahkan, akan lebih kesatria apabila Presiden SBY mengeluhkan kinerja “pasukan” yang dipimpinnya, termasuk mengganti “pembantunya” yang bekerja di bawah ekspektasi rakyat.

Semoga Pak SBY bisa berbesar hati.

Ragunan, Januari 2011

Selasa, 25 Januari 2011

[RESENSI NOVEL] Ketika Entrok Bicara

Ketika Entrok Bicara
Oleh Khrisna Pabichara


Bermula dari Entrok
PERNAHKAH Anda sekejap saja membayangkan bagaimana “nikmatnya” ditindas, diperas, dan “digagahi” oleh rezim diktator? Sudikah Anda menjadi bulan-bulanan gosip, ditikam dari belakang, atau dituduh melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan? Tahukah Anda betapa mengerikan hidup di tengah masyarakat yang hukumnya ditentukan oleh siapa yang berkuasa?

Entrok, novel anggitan Okky Mandasari, akan menemani Anda dalam perjalanan psikologis yang mengaduk-aduk perasaan—lebih tepatnya memilin-milin ulu hati—dan membabar buramnya perjalanan negara dalam “memesrai” warganya. Pembantaian yang terlupakan, penculikan yang terabaikan, bahkan perkosaan massal atas nama “perubahan” menjadi mozaik yang membuat Entrok lebih bernas. Belum lagi pergulatan batin lewat “perang saudara” antara Sumarni dan putrinya yang ialah pemindahan kenyataan menyehari ke dalam keindahan prosa—lebih tepatnya pertarungan antara yang bodoh melawan yang pintar, antara yang tertinggal dengan yang modern—melalui alur waktu yang jumpalitan tanpa harus kehilangan daya pikat estetisnya.

Begitulah. Alih-alih berkeras mendaras sejarah, pengarang muda kelahiran Magetan ini malah menyajikan dampak peristiwa sejarah bagi warga negara yang tak bisa apa-apa, tak pernah berniat macam-macam, tapi terus-menerus menjadi korban atau akibat dari sebab yang tidak dia lakukan.

Potret Sejarah atau Potret Muram?
Damhuri Muhammad menyatakan, sejarah adalah “dunia sesungguhnya” sementara sastra adalah “dunia seandainya”.[1] Pada konteks ini, tegas Damhuri, sejarah dipancangkan atas dasar kepastian epistimologis (benar-salah, terjadi atau tak terjadi) sedangkan teks sastra digubah atas dasar pencapaian estetika sastrawi.

Di sinilah Entrok bisa didudukkan dengan benderang bahwa, ia tetaplah karya sastra dengan berbagai capaian estetika dan bukan kepastian sejarah yangbenar-benar pernah terjadi. Entrok adalah dunia seandainya, bukan dunia nyata—meskipun ada kemungkinan dibangun dari “kenyataan”. Di sini pula saya bersepakat dengan Radhar Panca Dahana bahwa, sejarah sudah memberi kita banyak tragedi.[2] Karena itu, kita harus banyak belajar darinya.

Bertolak dari sana, kita akan mendapati kecerdasan Okky dalam mendaraskan pikiran dan perasaannya. Dia tidak bermain di wilayah “buram” peristiwa berdarah, G 30 S/PKI. Dia meliuk-liuk di areal akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa berdarah itu. Bayangkan, alangkah perihnya kehidupan ketika antek-antek negara yang seharusnya hadir sebagai pelindung, malah berdiri sebagai lawan yang begitu leluasa mengintimidasi, menekan, bahkan “memperkosa” hak asasi rakyatnya.

Melalui tokoh Sumarni, Okky bertutur ihwal perempuan yang berhasrat keluar dari perangkap kemiskinan. Bermula dari gairah sederhana memiliki entrok (kutang) seperti Tinah, sepupunya, agar dadanya nyaman saat berlari atau melompat. Dari sana hidupnya berubah. Sumarni menjadi perempuan pertama yang mendobrak kemapanan—dewasa itu, kuli identik sebagai profesi kaum laki-laki—menjadi kuli angkut di Pasar Ngranget. Perlahan Sumarni mampu melepaskan diri dari belitan kemiskinan. Pada mulanya dia membeli televisi yang tak semua orang di kampungnya memilikinya, hingga yang paling membanggakan: membeli tanah berhektar-hektar dan perkebunan tebu. Semua bermula dari entrok.

Terceritakan pula ihwal bagaimana Sumarni jadi bulan-bulanan tentara, polisi, dan pejabat “negara” di kampungnya;. harus menyiapkan upeti setiap empat belas hari bagi tentara; menyetor “sumbangan wajib” bagi kampanye partai yang harusdidukungnya; dan menyerahkan “bayaran” bagi polisi agar kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa Bejo, supirnya, bisa diselesaikan tanpa harus meringkuk di penjara atas tuduhan “melawan hukum”. Belum lagi teror warga sekampung: tudingan tidak beragama, pesugihan, pemelihara tuyul, dan gunjingan lain yang memerahkan kuping.

Lewat tokoh Rahayu, Okky menghadirkan wajah perempuan masa kini yang lebih berpendidikan. Pertarungan batinnya bermula dari kebiasaan ibunya, Sumarni, menyediakan sesaji bagi sesembahannya—yang bukan Allah—Rahayu mengobarkan perlawanan dengan cara yang ekstrem. Sampai akhirnya dia tinggalkan “kejahiliyahan” orangtuanya dan memilih kuliah di Jogjakarta. Perlawanan belum bersudah. Dia langgar kelaziman di kampungnya dengan bersuamikan lelaki yang sudah beranak-beristri. Akan tetapi, akhirnya Rahayu pun bergelimang derita: dipenjara karena keterlibatannya membela tanah para korban penggusuran.

Sungguh. Seolah tak hendak bersudah, Okky juga menciptakan tokoh Ndari—bocah kelas enam SD—yang jadi korban perkosaan pamannya dan ditugaskan ayahnya untuk menjajakan tubuhnya bagi tentara-tentara “penjaga keamanan” demi kemungkinan tanahnya terbebaskan. Perempuan-perempuan tak bahagia. Betapa!

Demokrasi Minus Nurani
Apa yang dilakukan alumni Jurusan Hubungan Internasional UGM ini, sejatinya, adalah upaya untuk menggugah kesadaran kolektif rakyat Indonesia agar lebih berani berharap kembali bahwa, akhirnya, negeri ini harus diselenggarakan sebagaimana layaknya negara yang beradab. Suatu negara di mana pejabat betul-betul pelayan bagi rakyat; militer tidak berada di atas hukum; wakil rakyat benar-benar perpanjangan lidah rakyat; lapangan pekerjaan menyediakan sebanyak-banyaknya kesempatan bekerja; pendidikan dan layanan kesehatan terjangkau bagi semua; pun harapan-harapan lain yang tak terhingga.

Dalam konteks ini, keberadaan Entrok bukan sekadar teks sastra, tapi sekaligus “kitab” berisi “ayat-ayat inspiratif” agar kita bangkit dari kematirasaan psikis (psychic numbing), penyakit yang kita derita akibat teror bertubi-tubi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama—seperti nasib Sumarni, Rahayu atau Ndari. Kematirasaan psikis pemicu kebangkrutan jiwa yang membuat manusia siap untuk menerima dan membiarkan segala macam kebejatan berlangsung di hadapannya tanpa munculnya rasa marah, sedih, atau benci, seolah-olah dunia batinnya tertidur lelap atau mati suri. Ini dampak lain dari atmosfer refresif rezim Orde Baru. Filsuf Kierkegaard menyebut kondisi seperti ini sebagai the corruption of the will yang bisa meluluhlantakkan semangat, bahkan kemanusiaan itu sendiri.[3] Artinya, di tangan kitalah terletak ihwal menciptakan iklim berdemokrasi yang berulu pada nurani.

Pada akhirnya, upaya serius Okky untuk memindahkan peristiwa ke dalam ceritaadalah lelaku estetik yang layak mendapat acungan jempol. Dia seorang “juru kabar” yang dengan cergas mengabarkan rentetan kemalangan dan ketakbahagiaan yang dialami banyak rakyat di negeri tercinta ini. Dia mengusung pelbagai kritik dengan cara yang samar, santun, dan menyentuh. Dia menyuguhkan langgam penceritaan yang khas, walaupun bukan sesuatu yang baru di ranah kesusastraan kita.

Dan, semoga Entrok bukan awal yang merangkap sebagai akhir. Semoga!

Bogor, September 2010


[1] Damhuri Muhammad (2010). Romantika Pasca-Enam Lima dalam Darah-Daging Sastra Indonesia. Jalasutra.
[2] Radhar Panca Dahana (2007). Keserakahan Intelektual dalam Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia. Resist Book.
[3]  A. Malik Giswar (2010). Kewarganegaraan dan Kebangsaan Pasca-Mei 1998dalam Revolusi Setengah Matang. Hikmah (Mizan Grup).

Senin, 24 Januari 2011

[RESENSI NOVEL] Yang Dicinta, Yang Dibenci

Yang Dicinta, Yang Dibenci
Oleh Khrisna Pabichara

“Mereka yang kita cintai—dan mereka yang kita benci—hanyalah cermin dari diri kita sendiri.”
—Kamran Pasha


Bermula dari Ironi
Kamran Pasha membuka novel Kilatan Pedang Tuhan dengan menyeret pembaca untuk menyelami hati Mariam, gadis Yahudi yang menjadi korban keganasan kesatria Conrad dari Montferrat. Lalu, Pasha menyuguhkan narasi menarik tentang Maimonides sang Rabi yang selalu terkenang petuah ayahnya, “Konon, Tuhan itu menyukai ironi. Mungkin itu sebabnya kota-Nya, yang dinamai perdamaian, selama ini hanya mengenal peperangan dan kematian.” Ya, novel ini memang bermula dari ironi, pertarungan antara “iman” dan “nafsu”, pertempuran antara “cinta” dan “benci”.

Setelah itu, Pasha mulai menghadirkan sosok mengagumkan sepanjang sejarah Perang Salib, Shalahuddin Al-Ayyubi. Kegemilangan dalam kisah penaklukan kembali Yerusalem dari kuasa Reginald si Hati Keji dibabar dengan narasi yang indah. Lalu, melompatlah Pasha ke masa-masa genting ketika Richard si Hati Singa menjadi Raja Inggris setelah hanya dalam hitungan detik memanipulasi titah ayahnya yang menghendaki adiknya, Pangeran John, sebagai pewaris takhta. Ambisi membuatnya menghabisi prajurit muda yang juga menyaksikan titah terakhir Raja Henry. Dari sudut ini, Pasha menggambarkan karakter dua tokoh utama Perang Salib III ini dengan penuh pikat. Seolah ini benar-benar (pernah) terjadi—karena hingga tulisan ini saya rampungkan, saya tidak berhasil menemukan referensi tentang intrik besar dibalik mangkatnya Raja Henry. Saya jadi merindukan novel ini dalam versi asli, Shadow of the Swords, and Epic Novel of the Crusades, karena pukauan terjemahan dan suntingan dalam versi Indonesia ini.

Jangan menduga novel ini melulu menyingkap tragedi Perang Salib. Ada banyak kejutan yang ditawarkan Pasha bagi khalayak pembaca. Selain sosok Mariam, ada sosok lain—yang diakui Pasha sebagai sosok imajiner rekaannya—seperti Ratu Yasmin dan Sir Willim, meskipun untuk nama terakhir terinspirasi oleh tokoh Lord William Marshal. Keluhuran Shalahuddin pun dibumbuinya dengan intrik Ratu Yasmin dan para selirnya, terutama ketika berupaya menjegal Mariam menuju peraduan Shalahuddin dan kisah percintaan “haram” Ratu Yasmin dengan pelayan perempuannya yang membuatnya dikenai hukuman mati. Pun huru hara yang melanda batin Maimonides karena cinta terlarang yang terjalin antara keponakannya, Mariam, dengan pemimpin pasukan muslim, Shalahuddin, yang masyhur itu. Bahkan, merasa belum cukup, Pasha mengabarkan kisah tertangkapnya Mariam oleh pasukan Richard dan betapa “cinta” (atau malah “nafsu”) memaksa Mariam melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi penting demi belahan jiwanya—termasuk merelakan malamnya di pembaringan Richard si Hati Singa.

Teguran dari Masa Lalu
Apabila sejarah, meminjam istilah Damhuri Muhammad, dipancang dari tiang kokoh bernama “benar-salah” atau “terjadi-tak terjadi”, tentulah Kilatan Pedang Tuhanbukan novel sejarah yang utuh karena beberapa penggalan di dalamnya merupakan “dunia seolah-olah” dan bukan “dunia sesungguhnya”. Akan tetapi, novel ini memang dibangun dari realitas sejarah yang benar-benar pernah terjadi, Perang Salib III. Pasha mengusung cara pandang lain dalam mengisahkan kembali perang demi perang yang banyak menelan korban dari pelbagai kalangan—Yahudi, Kristen, Islam—dan mendedah sisi lain yang jarang dibincangkan, terutama karena Shalahuddin dan Richard telah banyak dianggap sebagai legenda oleh para pengagumnya.

Selain itu, saya menemukan beberapa hal yang membuat hati saya bergetar.Pertama, kenyataan bahwa peperangan memang bukan jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Selalu ada yang harus “siap” atau “dipaksa” dikorbankan, sebut misalnya tragedi pembantaian sekitar tiga ribu tahanan tidak berdosa di Akko oleh Richard. Kedua, kekerasan atas nama tuhan yang diimani malah mengaburkan cinta-kasih yang dianjurkan oleh agama itu sendiri. Penderitaan batin Mariam dan pergolakan hati William adalah contoh yang disuguhkan oleh Pasha. Ketiga, ketakziman dan keluhuran budi taklah mengenal kawan atau lawan. Saya terperenyak membaca bagaimana Pasha menggambarkan kelembutan Shalahudin ketika mengirimkan tabib untuk mengobati lawannya, kesediaan William menundukkan harga dirinya demi keselamatan tuannya, pengorbanan Mariam demi “secuil” informasi—yang ternyata menentukan akhir pertempuran, dan keikhlasan Richard untuk menerima tawaran perdamaian dari seteru abadinya.

Begitulah, saya menemukan banyak hal dari novel ini, terutama jika dikaitkan dengan situasi hari ini yang semakin “tak menentu”. Bagi saya, novel ini adalah teguran dari masa lalu, semacam cermin bening yang mengingatkan agar kesalahan yang sama tak terulang lagi. Meskipun sejarah mencatat Perang Salib tak berhenti sampai di sana.

Keriangan pembacaan saya terus bergerak liar pada entakan demi entakan yang dipantik oleh petualangan hasrat, nafsu, dan kegilaan. Betapa tipisnya sekat antara yang dibenci dan yang dicinta—seperti tergambar pada sosok Mariam, William, dan Maimonides. Betapa pampatnya jarak antara iman dan nafsu—sampai-sampai menghabisi nyawa sesama dianggap sebagai sesuatu yang “layak” dilakukan. Betapa dekatnya batas antara laknat dan hikmat—sehingga yang mustahil pun bisa terjadi demi memenuhi hajat, yang banyak dilabeli “atas nama agama”, itu—yang membuat kita kerap mengabaikan pesan Immanuel Kant tentang “kebaikan yang masuk akal” (sensible good) dan “kebaikan moral” (moral good). Betapa pemujaan berlebihan terhadap kekuasaan—seperti digambarkan oleh Hegel lewat Nalar dalam Sejarah (penerjemah Shalahuddien Gz, 2005)—lebih banyak menghasilkan hati “yang terluka” ketimbang hati “yang tersembuhkan”, atau lebih sering melahirkan “rasa benci” daripada “rasa kasih”.

Konsep ketuhanan seperti yang melatari Perang Salib, bagi saya, hanyalah fanatisme buta akibat terbiusnya setiap penganut agama pada daya tarik “jihad” dan mengabaikan keberhargaan nyawa manusia dalam konsep ketuhanan di sisi yang lain. Anehnya, cara pandang seperti itu tetap langgeng hingga sekarang dengan metode yang berbeda, terorisme misalnya.

Pada Akhirnya
Bagi saya, membaca Kilatan Pedang Tuhan adalah petualangan spiritual. Perjalanan indah tentang bagaimana semestinya berkhidmat pada “cinta”, termasuk cinta kepada yang diimani. Dan, Pasha menunjukkan hal itu dengan cara yang indah. Anda layak membacanya!

Ragunan, Januari 2010

Judul                 : Kilatan Pedang Tuhan
Judul Asli           : Shadow of the Swords, and Epic Novel of the Crusades
Pengarang        : Kamran Pasha
Penerjemah      : Fahmy Yamani
Penyunting       : Muhammad Husnil
Penerbit           : Zaman
Cetakan           : I, 2011
Tebal               : 580 halaman

Menciptakan Sosok Imajinatif dalam Cerita

Menciptakan Sosok Imajinatif dalam Cerita:
Pengantar Perbincangan


Pernahkah Anda bayangkan bagaimana bisa Karl May menciptakan “sosok imajinatif” yang sedemikian kental nuansa Indian-nya, padahal ia belum pernah bertemu dengan orang Indian? Tahukah Anda bahwa Jules Verne menciptakan tokoh-tokoh dalam Kapten Nemo dan bertutur tentang kehidupan bawah laut dan kapal selam, padahal Verne belum pernah bertemu dengan teknisi pembuat kapal selam dan belum pernah menyelam ke dasar laut? Bahkan saya sendiri mengisahkan “tokoh bissu”—lelaki menyerupai perempuan—dalam cerpen “Arajang” sebelum saya dipersuakan oleh ruang dan waktu dengan komunitas yang jumlahnya semakin menyusut itu.
Akan tetapi, menciptakan “tokoh”—termasuk penokohan—bukan hal yang gampang bagi saya. Kenapa? Karena itu akan berkaitan dengan karakter, cara bicara (dalam cerita akan berbentuk dialog), dan ihwal lain yang akan sangat menentukan kualitas cerita dan penceritaan. Bahkan Saut Poltak Tambunan, kabarnya, sangat berhati-hati dalam memilih nama tokoh-tokoh imajinatifnya. Artinya, cara kita menciptakan tokoh akan sangat mempengaruhi bangunan cerita. Maka tidaklah berlebihan jika banyak prosais—sebut saja pencerita—yang sangat memperhatikan “tokoh” dan “penokohan” yang ia ciptakan.
Suatu ketika seorang teman Facebook menanyakan tentang bagaimana cara saya menciptakan sosok imajinatif dalam cerita. Jujur saja, pertanyaan tentang “mengapa” dan “bagaimana” adalah soal paling sulit bagi saya. Kenapa? Karena bangunan cerita saya—termasuk alur, dan tokoh—selalu bersentuhan dengan “rasa”, sesuatu yang selalu sukar untuk ditunjukkan cara penciptaannya. Namun bukan berarti tidak bisa. Baiklah, saya bocorkan kebiasaan yang kerap saya lakukan sebelum menciptakan “tokoh rekaan”.
Pada mulanya, setelah ide dan kerangka cerita saya temukan, hal yang suka saya lakukan adalah mencari tokoh di sekeliling saya—baik di masa lalu apalagi di masa kini—yang mendekati gambaran tokoh yang saya inginkan. Saya simak gaya tuturnya, gerak tubuhnya, bahkan hal sepele yang kerap dilakukannya—semisal mengedikkan bahu atau memegang ujung hidung setiap hendak berhenti bicara. Hasil amatan itu saya pindahkan ke dalam cerita. Meskipun tidak terlalu rinci, cara itu sangat membantu saya dalam menggarap satu cerita.
Selepas lelaku amatan itu, saya akan memikirkan latar belakang tokoh rekaan itu, misalnya jenis kelaminnya (yang pasti akan berbeda cara tutur dan sikap antara lelaki dan perempuan), pendidikan, strata sosial, dan hal lainnya. Ini sangat membantu saya dalam meracik cerita sekaligus merampungkannya. Betapapun tokoh dan penokohan adalah hal yang sangat penting dalam keutuhan sebuah cerita, karenanya saya sangat berhati-hati.
Lantas, bagaimana dengan Anda? Saya yakin Anda pasti punya teknik tertentu dalam menciptakan “tokoh imajinatif”. Dan, jika Anda sudi berbagi di sini, tentulah itu sangat berharga bagi teman-teman yang lain sebagai pembanding. Apalagi jika Anda berkenan berbagi teori atau pengalaman sendiri, sesuatu yang sangat berharga. Ditunggu dengan takzim.

Rumah Kata,
Khrisna Pabichara  

[PUISI] Ziarah Sunyi


Aku ingin bergelap-gelap di matamu
menanam benih-benih kehangatan
sesuatu yang dulu kamu sebut rindu

Aku ingin berlama-lama di hatimu
menanting ranting-ranting kedekatan
sesuatu yang kini kamu namai semu

Bogor, Pebruari 2009

Jumat, 21 Januari 2011

[PUISI] Makrifat Rindu

Tiba-tiba aku sangat merinduimu. Rindu yang tak kukenali 
kenapa dan karena apa. Rindu yang bertunas dari benih 
kesunyian dan kejauhan. Rindu yang berpasrah 
pada keterpisahan tapi menolak kehilangan. Rindu yang 
berpilin di senandung mazmur dan puncak keheningan. Rindu
yang berharap dapat bersua dengan Nasib Mujur: bertemu 
dengan Mu.


Ragunan, Januari 2011

Kamis, 20 Januari 2011

[PUISI] Rumah Cinta


Aku ingin membangun rumah di matamu,
dengan kolam renang di tengahnya,
tempat kita berlengang-senang di dinginnya.

Jakarta, November 2008

Rabu, 19 Januari 2011

[RESENSI NOVEL] REPUBLIK KORUPSI

Catatan: Terima kasih kepada Endah Sulwesi dan Penerbit Serambi yang telah mempercayakan novel "Korupsi" untuk saya baca. Salam takzim.


Republik Korupsi
Oleh Khrisna Pabichara

"Kekayaan adalah sesuatu yang tanpa itu kita bisa tetap hidup."
John Roger dan Peter McWilliams


Berhentilah mencari letak Republik Korupsi di sejumlah peta, karena negeri itu tidak berada di antara lima benua besar yang selama ini kita ketahui. Padahal negeri itu benar-benar ada, sangat nyata, bahkan—boleh jadi—di sanalah kita lahir dan bertumbuh. Di negeri itu, orang-orang beramai-ramai menyembah berhala (harta) dan karena itu segala cara untuk meraupnya didapuk sebagai budaya, termasuk korupsi.

Dari mana cikal Republik Korupsi itu bermuasal? Bermula dari sebuah novel dengan latar Maroko—yang pada pelbagai sisi persis Indonesia—berjudulKorupsi  karangan Tahar Ben Jelloun, novelis kelahiran Maroko peraih Hadiah Sastra Prix Gouncourt. Berangkat dari perbandingan antara yang sedikit denganyang banyak atau yang kaya dengan yang miskin, pengarang yang pada awal 1990-an sempat bertandang ke Indonesia untuk menemui Pramoedya Ananta Toer ini berkisah tentang penderitaan batin Murad—sang tokoh yang bertahan ditelikung ironi budaya korupsi—karena teror istri dan mertuanya yang setiap hari membandingkannya dengan Haji Hamid (asistennya) atau kerabat istrinya yang memiliki harta berlimpah ruah. Akan tetapi, Murad memilih bertahan pada kejujuran hatinya meski harus menjadi bulan-bulanan cibiran dan cacian. Ia mengasingkan diri dari lingkaran korupsi yang menggurita di kalangan pejabat—dari yang kecil hingga yang besar—tempatnya mengabdi.

Merujuk pada kisah Murad, kekayaan memang sering dianggap sebagai satu-satunya kunci untuk membuka pintu kebahagiaan. Banyak yang mengirakebahagiaan itu dibungkus oleh kekayaan, maka segala cara pun dilakukan untuk mendapatkan “pembungkus” itu. Ada yang tega menyikut orangtua atau kerabat sendiri, ada pula yang menyikat milik teman atau lembaga atau bahkan milik negara. Yang haram disabet, apalagi yang halal.

Manakala seseorang bertahan agar tak terbelit gurita korupsi, sebutan “aneh” atau “bodoh” segera diterakan kepadanya, seperti nasib yang menimpa Murad. Bahkan, tak jarang sengaja dirancang muslihat keji guna menjatuhkan pejabat bermoral seperti itu untuk membunuh nuraninya, mematikan masa depannya, atau digalikan lubang—untuk kemudian dijorongkan dan ditimbun di sana—agar tak menghalangi lelaku korup yang dilangsungkan secara berjamaah itu.

Jebakan itu pula yang akhirnya sukses menjerumuskan Murad ke dalam penyesalan tak berujung, tak berhingga. Sejak semula Murad mencoba bertahan dengan moral dan kecintaan pada negeri sebagai bentengnya, tapi rongrongan hidup yang seolah mendukung rekayasa sejawat di kantornya telah melemahkan ketahanan benteng itu. Alkisah Murad pun tergoda menandatangani dokumen proyek tanpa terlebih dahulu memeriksanya dengan teliti, seperti hari-hari sebelumnya, karena amplop berisi dollar yang sangat menggiurkan dan dipastikan akan menolong biaya sekolah anak sulung dan operasi putri keduanya.

Ya, akhirnya Murad kalah (atau dikalahkan?) dan takluk karena terjangan tuntutan hidup, dan perjuangan melawan korupsi menjadi sesuatu yang sia-sia. Penolakan-penolakan yang telah lama mengakar di hatinya, akhirnya dicerabut oleh keinginan-keinginan atau hasrat-hasrat atau nafsu-nafsu duniawi yang tak terhitung jumlahnya. Dan, penyesalan terbesar bagi Murad ketika pertama kali melakukan penyelewengan atas wewenang yang dimilikinya adalah karena ia telah mengkhianati hatinya. Penyesalan itu pula yang mengalihkan wajahnya pada perempuan lain—yang bukan istrinya—untuk mencari penghibur luka yang tak tersua lagi di wajah istrinya.

Sejatinya, Korupsi adalah simbol atau tamsil yang dihadirkan oleh Tahar ke hadapan kita. Meskipun latarnya terjadi di Maroko, ini adalah kenyataan pahit yang dihadapkan kepada kita sebagai senjata mematikan yang tak terelakkan. Semacam cermin yang memantulkan sosok ibu pertiwi kita yang sedang terhuyung, terpelecat ke ngarai kehancuran akibat perilaku bejat dan serakah dari anak-anaknya yang “lupa diri”. Coba kita lihat sejenak saja berita-berita di media massa, yang tersaji di hadapan kita adalah kabar bupati, walikota, gubernur, polisi, jaksa, menteri, anggota dewan—baik yang sudah mantan apalagi yang masih menjabat—yang berwajah tenang setelah mengemplang uang rakyat. Bahkan sandiwara Gayus seolah sinetron terpanjang yang tak pernah tamat ditayangkan setiap hari. Sebut pula kasus Bank Century yang pelakunya seolah tuyul  karena hingga kini tak diketahui siapa biangnya.

Tak heran jika pertanyaan sederhana berdentum setiap hari: Bagaimana bisa seorang tahanan melancong ke sana-sini, bahkan ke luar negeri? Bagaimanacaranya uang triliunan bisa raib begitu saja tanpa ketahuan rimbanya? Bagaimana ini, bagaimana itu?

Bila kita menyelam lebih dalam, dapat dikatakan Korupsi adalah sebuah nyanyian, elegi yang memiuh ulu hati. Nyanyian sumbang yang tak henti merajam hati lewat liriknya yang lirih. Atau, sebut saja, elegi dari negeri ironi. Elegi yang juga alegori, kebenaran yang tersembunyi di balik kebohongan yang indah. Elegi tentang pertarungan emosi dalam jangka yang lama, pertempuran klasik antara keyakinan yang terdalam melawan kebutuhan hidup. Pertarungan itulah yang menjadi kenyataan batin di hadapan diri sendiri, sebelum akhirnya menjadi kenyataan lahir yang menghubungkan Murad dengan orang lain. Keyakinan dan perilaku batiniah yang kemudian dibenturkan dengan hasutan lingkungan, dan akhirnya berulu pada peperangan sengit antara “yang baik” melawan “yang buruk”. Peperangan itu terjadi setiap hari di sekitar kita karena korupsi bukan lagi bahaya tersembunyi yang bergerak secara laten, melainkan virus ganas yang menjalari seluruh jaringan birokrasi. 

Inilah elegi tentang Republik Korupsi yang, entah, berada di sini atau di sana! (*)

Judul            : Korupsi
Judul Asli      : L’Homme Rompu
Pengarang   : Tahar Ben Jelloun
Penerjemah : Okke K.S. Zaimar
Penyerasi    : Anton Kurnia
Penerbit      : Serambi, Jakarta
Cetakan      : I, November 2010
Tebal           : 236 halaman


Parung, Januari 2011

Jumat, 07 Januari 2011

[PUISI] Persilangan Spiritual

Persilangan Spiritual


Sejatinya, aku berhajat mencari kehangatan lewat kedekatan kita. Tetapi, tersebabkan niat bawah sadar, yang tercipta ialah jarak. Sesuatu yang asing memunculkan kilatan pengalaman perpisahan dan kenangan menyakitkan. Aku coba menarik diri dari deras arus bawah sadar itu, namun energi—yang kuduga menawarkan reaksi indah—ternyata belum sempurna suguhkan kelahiran ruh perindu yang benar-benar Cinta. Ada banyak bilangan laba-rugi yang mengguratkan kepahitan sepanjang tualang kita. Dan, sungguh, itukah Cinta?

Sejatinya, aku mencari pembimbing jiwa bernama Cinta yang bermukim di hatimu. Tetapi, misteri kesadaran dan tanggung jawab hanya mengenal amanat dan khianat, dan kusadari sesekali Benci mengilat, di hatiku dan hatimu. Betapapun, aku berharap pernikahan kita adalah persilangan spiritual tempat Benci dan Cinta bersitegang dengan khidmat, bukan medan kehendak yang memaknai hakikat kebebasan semau kita saja. Ada banyak hitungan perniagaan yang mempengaruhi siklus pilihan dan, sesungguhnya, sesekali kita hadirkan Benci agar kita sadari keberadaan Cinta.   

Bogor, November 2010

[PUISI] Suatu Malam Ketika Aku Merindumu

Suatu Malam Ketika Aku Merindumu


Tak seperti perindu lainnya,
aku takkan mencarimu.
Karena kamu telah kutemukan di hatiku,
tempat yang sarat hanya olehmu.

Bogor, Juli 2010

Rabu, 05 Januari 2011

[PUISI] Ibu

Ibu


Dulu engkau mengajariku cara melarung risau
dan, o, tertolak selalu

Hari ini, lihatlah, aku asingkan hatiku darinya
dan, o, risau itu

Depok, Pebruari 2009

Selasa, 04 Januari 2011

[PUISI] Hikayat Cinta Perakit Roket [2]

Hikayat Cinta Perakit Roket [2]
—kepada Atik Bintoro

Dulu aku manusia juga. Sungguh. Seorang lelaki, benar-benar lelaki. Tapi itu dulu, dulu sekali, jauh sebelum aku kenal dirimu dan terowong angin melantakkan roket kesadaranku. Lalu lambai tanganmu makin lemah dan kamu makin jauh, makin tak terjangkau, seperti pelangi yang bernyanyi sebelum hujan kenang datang mengepung mataku, laki-lakiku. Dan senja diam-diam menguburnya bersama remuk doa.

Dulu aku manusia juga. Sungguh. Seorang lelaki, benar-benar lelaki. Tapi itu dulu, jauh sebelum matamu berkeredip dan cahaya mengelam di sana. Lalu senyummu melambaikan luka serupa sendu seruling gembala. Yang rapuh, yang lepuh. Dan kamu ialah jarak dan rentang dari harapan yang tergenang di mataku. Benar aku mendambamu seolah manusia pencinta hujan yang lupa warna-warni awan, hingga kabut bernama takdir turut menggenapi lukisan hidupku lewat sapuannya yang ganjil.

Sekarang, kamu adalah hujan yang datang merubung jiwaku.

Jakarta, Desember 2008

Senin, 03 Januari 2011

[PUISI] Ziarah Sunyi

Ziarah Sunyi


Aku ingin bergelap-gelap di matamu
menanam benih-benih kehangatan
sesuatu yang dulu kamu sebut rindu

Aku ingin berlama-lama di hatimu
menanting ranting-ranting kedekatan
sesuatu yang kini kamu namai semu

Bogor, Pebruari 2009